Title
: Stupid Girl - Kyungsoo Day
Writer : Candle Light
Rate : PG-13
Main
Cast : Song Ji-Soo (OC) | Do
Kyung Soo
Other
Cast : Kim Hyori (OC) | EXO Member | Song
Joongki | Lee
Ji-Eun
(IU) |
Genre
: Fluff
Duration
: 4.136
words
Release
Date : January 12, 2015. 15.00 WIB.
Length
: Oneshoot
=====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
09.00 KST
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
09.00 KST
Baiklah
... ini adalah hari minggu. Seorang gadis yang hampir tidak pernah menginjakkan
kakinya di dapur untuk waktu yang lama selain untuk makan atau minum kini telah
berkutat di dalam dapur dari sebelum matahari terbit. Ya Tuhan ... apa yang
akan dilakukannya sekarang? Apa dia sedang mencoba untuk membuat kue? Lihatlah
bagaimana partikel tepung itu tercecer di mana-mana termasuk di wajah
cantiknya.
Gadis
itu, Song Jisoo. Dia memang sedang berusaha membuat kue ulang tahun untuk
kekasihnya tercinta. Do Kyungsoo. Yah, besok adalah dua belas januari yang
artinya itu adalah hari di mana sang kekasih terlahir ke dunia ini. sebenarnya
dia bisa saja pergi ke toko kue dan membeli kue terbaik di toko itu untuk di
berikan kepada sang kekasih. Tapi dia ingin tahun ini memiliki kesan yang
berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah
calon istri yang baik yang tidak hanya bisa makan masakan orang. Yah, walau pun pada kenyataannya memang seperti
itu. Lihatlah bagaimana usahanya dari jam lima pagi hingga sekarang yang masih
belum mendapatkan hasil satu pun.
“Ya
Tuhan ... kenapa selalu seperti ini? Apa ada yang salah dengan resepnya? Apa
tepung ini sudah kadaluarsa?” tanyanya seraya melihat label expired pada bungkus tepung yang di
gunakannya.
“Tidak,
batas waktu penggunaannya masih tahun depan. Lalu apa yang salah? Kenapa
hasilnya selalu seperti ini?” keluh Jisoo untuk kesekian kalinya melihat kue
hasil buatannya yang selalu hangus, keras dan terlalu mengembang. Ditambah dengan
rasanya yang benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Aku
rasa orang yang membuat resep ini salah menuliskan sesuatu. Jika tidak, maka
aku takkan terus-terusan gagal membuatnya,” tuduhnya seraya melemparkan majalah
masakan yang dibacanya baru saja ke
sembarang arah.
“Bodo
ah, aku takkan memasak lagi.” Celetuknya kemudian
melepas celemek yang di pakainya dan bergegas membersihkan itu semua.
Jisoo
memasuki kamarnya setelah membersihkan kekacauan yang dibuatnya di dapur tadi.
Diambilnya pakaian dari dalam lemarinya dan meletakkannya di atas ranjang
tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.
-o-
“Hyori-ya
... neo eodiga?” tanyanya pada seseorang yang berada di seberang telepone.
“Lotte World bersama Luhan,” jawab Hyori singkat.
“Lotter
World? Bersama Luhan? Kalian sedang berkencan? Woah ....”
“Hmm ... apa ada yang salah? Bukankah ini
hari minggu dan tidak ada kegiatan selain berkencan? Jangan bilang kau ingin
menggangguku.”
“Baiklah
... baiklah ... aku takkan mengganggumu walau pun aku sangat membutuhkan
bantuanmu sekarang.”
“Bantuan?
Memang apa yang kau inginkan dariku?”
“Benarkah
kau mau membantuku? Ini tentang ulang tahun pangeranku besok.”
“Aku
tidak berkata ingin membantu,”
“Woah
... nona Kim kau jahat sekali. Bukankah aku adalah sahabatmu? Kenapa kau selalu
bersikap seperti ini? Apa kau tidak ingin membuatku bahagia sekali saja?”
“Apa,
apa? Apa kau sedang bingung untuk membeli kue ulang tahun? Apa kau sedang
bingung memilih hadiah? Atau ... apa kau sedang bingung untuk menyiapkan
kejutan?” tanya Hyori gemas.
“Woah
... kau memang sahabat terbaikku, bagaimana kau bisa membaca semua isi
pikiranku? Apa kau memiliki kekuatan telepati? Bagaimana kau bisa menjadi
secerdas ini? Aku bahkan belum menyebutkannya sama sekali.”
“Diamlah
bodoh, kau benar-benar mengganggu acara kencanku,” cetus Hyori.
“Hei!
Sekali lagi kau mengatai aku bodoh, aku takkan meneleponmu lagi!”
“Aku
bersyukur jika kau tidak
lagi melakukannya.”
“Hei!”
“Apa?”
“Kau
menjengkelkan sekali, aku membencimu.”
Tut
Jisoo
mengakhiri telepone-nya sepihak dengan umpat-an kecil yang terus terlontar dari
bibirnya. Mereka berdua selalu seperti itu. Hyori adalah orang yang dingin dan
pelit bicara sedangkan Jisoo adalah orang yang hangat dan sangat berisik.
Mereka berdua terlihat seperti Tom and
Jerry yang sering bertengkar, namun juga menjadi perumpamaan dari kertas
dan lem yang tidak bisa di pisahkan.
Baru
beberapa langkah Jisoo meninggalkan apartementnya, tiba-tiba ponsel yang berada
dalam tasnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Jisoo kemudian
menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya dan
melihat siapa yang telah mengiriminya pesan.
*****
From
: Hyori Kim
“Pergilah
ke Ice
Skating Rink Grand Hyatt Hotel Seoul. Kau bisa memesan meja di sana untuk acara candle light dinner besok malam. Di sana
juga menyediakan kue ulang tahun yang sangat lezat. Kau juga dapat
berseluncur di atas es, karena ini adalah musim dingin. Tempat itu benar-benar
sangat indah dan romantis. Untuk
hadiah, belilah sesuatu yang sangat ia butuhkan. Dengan begitu dia akan terus
memakainya. Tidak perlu sesuatu yang mahal selama itu memiliki manfaat bagi
penggunanya. Kau mengerti? Maaf membuatmu kesal hari ini.”
*****
Lihatkan?
Bagaimana sangat perhatiannya seorang Kim Hyori dibalik sifat dingin dalam
dirinya. Jisoo memang sangat beruntung memiliki sahabat menyebalkan sepertinya.
Jisoo
kemudian melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti dengan senyum
mengembang di wajahnya dan pergi menuju tempat yang disarankan Hyori kepadanya.
Tunggu ... dia tidak sedang berencana untuk membelikan Kyungsoo restauran-kan?
Mengingat beberapa hari yang lalu Kyungsoo berkata ingin membuka sebuah
restauran yang akan dikelolahnya sendiri di masa depan. Tidak ... semoga saja
tidak. Itu terlalu berlebihan. Kyungsoo takkan menyukainya, walau pun Jisoo
membeli itu dengan uangnya sendiri.
-o-
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
22.00 KST
Gadis
itu, Song Ji-Soo terus memondar mandirkan langkah kakinya di ruang tengah
apartement-nya sambil menggigiti kuku jari tangannya. Menggerutu kecil, itu
yang dilakukannya sekarang.
“Ah
... aku benar-benar tidak sabar menunggu jam dua belas malam,” ungkapnya seraya
melirik jam dinding yang terpasang di ruangannya.
“Tunggu
... lalu jika jam dua belas sudah tiba, apa aku hanya akan mengatakan selamat
ulang tahun untuknya lewat telepone? Bukankah itu terlalu biasa? Haruskah aku
pergi ke apartement-nya sekarang?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Jisoo
kemudian masuk ke dalam kamarnya mengambil blazer berwarna cokelat dan
memakainya.
Tinggal
beberapa langkah ia hendak menggapai pintu apartement-nya namun langkahnya
terhenti dan kembali bergumam, “Apa aku hanya akan pergi ke sana tanpa membawa
apa pun? Bukankah ini memalukan?” tanyanya lalu kembali masuk ke dalam
kamarnya, mengambil dompet dan kunci mobil yang terletak di atas nakas samping
tempat tidurnya.
Apa
dia akan membeli kue ulang tahun? Bukankah ini terlalu larut untuk
mendapatkannya? Benar-benar gadis bodoh. Kenapa tidak memikirkannya sejak sore
tadi?
-o-
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
23.50 KST
Jisoo
telah tiba di depan apartement Kyungsoo tanpa membawa apa pun. Tentu saja,
adakah toko roti yang masih buka hingga selarut ini? Jisoo memencet bel yang
terpasang di pintu apartement Kyungsoo berkali-kali, namun tak juga ada
seseorang yang berusaha membukanya. Ayolah ... sudah se-jam dia berdiri di
sana, dia pasti sudah sangat bosan mendapati kakinya terus beridiri seperti
itu.
Jisoo
pun akhirnya memutuskan untuk membuka apartement itu dan masuk ke dalamnya.
Tunggu ... bukankah itu artinya dia mengetahui password apartement Kyungsoo?
Lalu apa yang dia pikirkan berdiri selama satu jam lebih di sana dan tidak
segera masuk? Benar-benar gadis bodoh.
“Kyungsoo-ya
... apa kau sudah tidur? Apa kau tidak ingin merayakan ulang tahunmu
bersamaku?” panggil Jisoo seraya melangkahkan kakinya menuju kamar tidur
Kyungsoo.
Dilihatnya
seorang pria sedang tertidur pulas di atas ranjang ukuran sedang dengan selimut
putih bersihnya.
“Aku
menunggumu di luar selama lebih dari satu jam dan kau malah tertidur pulas
seperti ini? Apa kau tahu bagaimana aku berusaha memberimu kejutan? Benar-benar
menyebalkan!” gerutu Jisoo seraya mendekati ranjang tempat Kyungsoo tertidur.
Hoam ....
Jisoo
menguap yang manandakan bahwa ia sudah sangat mengantuk. Tentu saja, sudah
lewat jam satu pagi dia belum juga mengistirahatkan tubuhnya. Dia pasti sangat
lelah dan mengantuk.
“Apa
aku harus tidur di sini? Tentu saja, aku tidak ingin pulang dan hanya ingin
menghabiskan malam ini berdua dengannya.” Ujarnya lalu menyelinap masuk ke
dalam selimut putih Kyungsoo.
=====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 12, 2015.
05:00 KST
Kyungsoo
membuka matanya saat merasakan ada makhluk lain selain dirinya berada di balik
selimut yang sama dengannya. Seingatnya semalam, tidak ada satu pun orang yang
bermalam di apartementnya. Kyungsoo lalu menyingkap selimut putih miliknya dan
menemui Jisoo masih tertidur pulas di sana.
“Ya
Tuhan ... bagaimana dia bisa berada di sini sepagi ini?” tanyanya dengan masih
menatapi wajah Jisoo.
Kyungsoo
lalu mengusap lembut pipi Jisoo dengan sesekali menciuminya. Menyingkirkan
beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Jisoo.
“Chagia
... bangulah ....” perintah Kyungsoo dengan masih mengusap lembut puncak kepala
Jisoo.
Tapi
sepertinya Jisoo benar-benar masih sangat mengantuk, mengingat dia baru bisa
tidur jam satu lebih pagi tadi. Melihat tak ada respon sedikit pun dari Jisoo,
Kyungsoo lalu beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Membersihkan diri.
-o-
06:05 KST
“Hei
... Song Jisoo ... apa kau tidak akan bangun, eoh? Ini sudah lewat jam enam
pagi. Apa kau tidak akan pergi bekerja?” tanya Kyungsoo sambil memasang kancing
kemeja putih yang dipakainya.
Kyungsoo
memperhatikan gadisnya itu dari pantulan kaca rias yang berada di hadapannya
seraya memakaikan dasi berwarna hitam pada krah kemejanya. Namun masih sama.
Putri tidur itu tak juga membuka matanya dan masih tertidur pulas di atas
ranjang milik Kyungsoo. Entahlah ... ini karena suara Kyungsoo yang terlalu
lembut membangunkannya dan terdengar seperti musik klasik yang membuatnya semakin
terlelap atau karena dia memang tidur menyamai orang mati. Hingga tidak dapat
mendengar suara atau merasakan sentuhan apa pun yang berusaha membangunkannya.
“Aku
bisa ketinggalan pesawat jika seperti ini,” gumam Kyungsoo lalu melangkahkan
kakinya menuju dapur.
Dia
menyiapkan beberapa sarapan untuk dirinya dan gadis yang masih tertidur di
dalam kamarnya. Setelah selesai, Kyungsoo lalu kembali melangkahkan kakinya
masuk ke dalam kamarnya yang masih sama seperti sebelum ia tinggal. Gadis itu
masih tertidur pulas di sana tanpa ada keinginan untuk bangun atau sekedar
menyapanya.
“Ya
Tuhan ... gadis ini. Sebenarnya apa yang dilakukannya semalam hingga dia
menjadi sesusah ini untuk dibangunkan? Aku benar-benar bisa telat jika
menunggunya bangun seperti ini,” gerutu Kyungsoo lalu mendekati ranjang tempat
Jisoo tertidur.
“Baiklah
... aku rasa kau lebih baik cuti hari ini,” gumam Kyungsoo seraya menaikkan
selimut putihnya menutupi tubuh Jisoo.
Kyungsoo
lalu menuliskan sebuah pesan singkat di atas pos-it berwarna kuning dan
menempelkannya pada ponsel milik Jisoo.
*Aku sudah menyiapkan sarapan pagi
untukmu, makanlah ketika kau bangun. Jangan berpikir akan langsung pergi dari
sini tanpa menghabiskan makananmu, kau mengerti? – Do Kyungsoo –*
Kyungsoo
pun pergi meninggalkan Jisoo yang masih sibuk mengarungi dunia mimpinya setelah
mengecup singkat kedua mata gadisnya itu.
Baru
beberapa langkah Kyungsoo melangkahkan kakinya meninggalkan apartement,
kemudian berhenti dan kembali masuk setelah melihat sebuah pesan yang
diterimanya semalam.
***
From
: Cheonsa
-o-
“Aku berada di depan apartementmu
sekarang, apa kau tidak ingin membukakannya untukku?”
“Sudah sejam aku berdiri di sini, tapi
kau tetap tak membukanya.”
“Aku berpikir untuk masuk begitu saja,
tapi aku ingin memberimu kejutan.”
“Aku benar-benar sudah sangat lelah, jadi
bolehkah aku masuk begitu saja? Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang
tahun, setelah itu aku akan pulang.”
-o-
Yaps
... Kyungsoo melupakan hari ini. Kyungsoo lupa jika hari ini dia sedang
berulang tahun. Kyungsoo kembali ke dalam kamarnya dan masih mendapati gadisnya
itu tertidur pulas di sana. Kyungsoo mendekati ranjang gadis itu lalu duduk di
sampingnya.
“Bukankah
biasanya kau akan masuk begitu saja tanpa mendapat ijinku terlebih dahulu?
Kenapa menyiksa dirimu sendiri seperti ini? Aku bahkan tidak ingat jika hari
ini adalah hari ulang tahunku. Apa kau benar-benar begitu mencintaiku hingga
melakukan semua ini, eoh?” tanya Kyungsoo dengan membelai lembut wajah Jisoo.
“Jika
saja aku tidak mendapat tugas untuk pergi ke Jepang bersama kakakmu hari ini,
mungkin aku akan mengajakmu berkencan nanti malam. Tapi tenang saja, aku akan
menggantinya setelah kembali dari sana, okay? Aku harus pergi sekarang,
sajangnim pasti sudah menungguku di bandara.” Ucapnya lagi kemudian mengecup
singkat bibir Jisoo.
“Saranghae
....” ucap Kyungsoo setelah melepaskan tautan singkat bibirnya.
Kyungsoo
pun benar-benar pergi dan menghilang dari balik pintu apartementnya. Pesawatnya
akan lepas landas pukul tujuh pagi ini. Joongki sudah menunggunya di bandara
Gimpo International Airport.
-o-
09:30 KST
*
Someone call the doctor nal butjapgo
malhaejwo
Sarangeun gyeolguk jungdok overdose
Sigani jinalsurok tongjedo himdeureojyeo
Jeomjeom gipsugi ppajyeoganda
Oh too much neoya your love igeon
overdose
Too much neoya your love igeon overdose
*
Suara
nada dering dari ponsel itu terus berbunyi berkali-kali hingga membuat
pemiliknya benar-benar keluar dari alam mimpinya. Dengan mata masih tertutup
dirabanya asal bunyi itu hingga tangannya menggapai sebuah benda tipis persegi
panjang yang berada di atas nakas samping ranjang tempat ia tertidur. Dia lalu
menempelkan benda persegi itu pada telinganya. Tanpa menghiraukan ada sebuah
note kecil terpasang di sana.
*
“Yeoboseyo?”
“Hei Song
Jisoo, kau dimana?”
“Hyori-ya
... aku ....” Jisoo menghentikan kalimatnya lalu membuka matanya dan
mengedarkan pandangannya pada setiap sudut kamar itu. Dia ingat betul jika
semalam dia tidak pulang ke apartementnya sendiri dan dia sedang memastikan ingatannya
sekarang. “Aku berada di kamar kekasihku, wae?”
“Ah
... begitu? Aku rasa kau sudah mengetahuinya, baiklah ... aku tutup
telepone-nya.”
“Tunggu
... mengetahuinya? Apa maksudmu?”
“Bukankah
hari ini sajangnim dan kekasihmu pergi ke Jepang?”
“APA??”
“Kau
tidak tahu? Bukankah kau berkata sedang berada di apartement Kyungsoo sekarang?
Apa Kyungsoo tidak memberitahumu? Dia akan tinggal di sana selama dua hari ke
depan,” jelas Hyori.
“Apa?
Hei!! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”
“Aku
juga mengetahuinya baru saja dari Yixing panjang-nim.
Kau kekasihnya dan kau adalah anak dari pemilik perusahaan ini, kenapa kau
malah tidak mengetahuinya? Dasar bodoh,” ungkap Hyori.
“Ash
... menyebalkan sekali, lalu bagaimana dengan semua acara yang telah aku
siapkan?”
“Jangan
bertanya padaku, aku tidak ingin ikut pusing bersamamu. Baiklah ... aku hanya
ingin memberitahumu itu, aku banyak pekerjaan. Bye ....”
“Hei
... Hyori-ya ... hei ... hei ....” teriak Jisoo namun sambungan telepone-nya
sudah terlanjur diputus oleh Hyori.
*
“Apa
yang harus ku lakukan sekarang? Bagaimana dengan semua acara yang telah aku
persiapkan untuk nanti malam? Apa aku harus membatalkan semuanya? Ah,
menyebalkan sekali!” desahnya kemudian turun dari ranjang tempat tidur
Kyungsoo.
Dia
berjalan dengan terburu-buru menuju pintu keluar apartement Kyungsoo. Namun
langkahnya terhenti ketika merasakan ada sebuah note kecil yang terpasang di
bagian belakang ponsel pintarnya.
-o-
“Dia
bahkan tidak memberitahuku sebelumnya jika akan pergi ke Jepang dan sekarang
dia berani memerintahku seperti ini? Apa dia pikir aku akan melakukannya? Tidak
tentu saja tidak!” gerutu gadis itu seraya memutar kembali langkah kakinya
menuju meja makan di apartement itu.
Di
lihatnya beberapa potong roti bakar beserta segelas susu putih terhidang di
atas sana. Jisoo pun mendudukkan dirinya di salah satu kursi samping meja itu,
lalu memakan sarapan yang dibuatkan oleh Kyungsoo untuknya. Memang dasar gadis
aneh. Bukankah baru saja dia berkata tidak ingin diperintah? Lalu apa yang dia
lakukan sekarang? Menghabiskan makanannya? Tetap saja dia tidak akan berani
untuk tidak menuruti ucapan kekasihnya walau pun sekarang dia sangat marah
kepadanya.
“Apa
dia pikir dengan membuatkanku sarapan seperti ini aku akan berhenti marah
kepadanya? Bagaimana bisa dia tidak membangunkanku tadi pagi dan malah
meninggalkanku begitu saja? Apa dia sengaja melakukan ini? Aku bahkan telah
menyiapkan semua kejutan untuknya, apa dia tidak tahu itu? Ash … ini
benar-benar menyebalkan! Lihat saja, aku akan menyusulnya ke Jepang hari ini!”
gerutunya di sela-sela sarapan paginya.
Tidak
membangunkan? Hei … Song Jisoo … kau saja yang tidur menyerupai orang mati. Dia
bahkan sudah membangunkanmu lebih dari tiga kali dan kau sama sekali tidak ada
niatan untuk membuka matamu. Lalu kau masih menyalahkannya atas hal ini?
Benar-benar gadis bodoh. Dan lagi, tentu saja dia tidak akan tahu jika kau
menyiapkan kejutan untuknya. Jika dia tahu, maka itu bukan lagi kejutan
namanya.
Taesan
Corp.
#505 Seoco
Town Trapalace,
1327
Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 12, 2014
10:15 KST
“Hei
Song Jisoo .... apa yang kau lakukan dengan berpakaian seperti itu dan datang
kemari?” komentar Yixing saat mendapati adik sepupunya itu hanya mengenakan
celana jeans dengan kaos putih berbalut blazer berwarna coklat.
“Diamlah
Ge, kau sangat berisik sepagi ini,” jawabnya acuh seraya terus melangkahkan kakinya memasuki
perusahaan milik sang ayah.
Dari
arah berlawanan Jisoo melihat sang ayah bersama beberapa orang di belakangnya sedang
berjalan
dan terlihat sibuk
membicarakan sesuatu.
“Appa
....” teriak Jisoo seraya berlari menghampiri ayahnya yang membuat semua orang
berhenti melangkah termasuk tuan Song.
“Jaga
sikapmu! Apa yang kau lakukan dengan berpakaian seperti itu datang kemari hah?”
“Aku
sedang cuti, jadi ayah bukan atasanku hari ini! Dan aku bebas memakai apa pun
datang kemari.”
“Gadis
nakal ....” ucap tuan Song seraya menepuk pelan puncak kepala putrinya.
“Appa
... aku harus pergi ke Jepang
sekarang!”
“Apa?”
“Bukankah
ayah menugaskan kekasihku untuk pergi ke sana? Aku ingin pergi ke sana
menyusulnya.”
“Tidak!”
“Appa
... aku ingin menyusulnya ke sana. Aku hanya butuh pasporku yang ayah sita. Aku
takkan meminta uang ayah untuk membelikanku tiket pesawat!”
“Aku
katakan tidak!”
“Ayolah
ayah … aku berjanji takkan membuat masalah di sana.”
“Apa
kau tidak mendengarnya? Tidak!!”
“Appa
... jebalyo ....”
“Bukankah
besok dia sudah kembali kemari? Apa kau tidak bisa menunggu hingga besok?”
“Apa
ayah tidak tahu jika hari ini dia berulang tahun? Aku bahkan belum memberinya
ucapan sedikit pun.”
“Kau
bisa mengatakannya lewat telepone atau nanti setelah dia pulang.”
“Tidak
ayah ... aku ingin mengatakannya secara langsung dan hari ini. Harus hari ini!
Berikan pasporku dan biarkan aku pergi ke sana.” Pinta Jisoo dengan
menengadahkan tangannya di hadapan sang ayah.
“Sudah
ku katakan tidak!”
“Ayah
... aku mohon ....” rengek Jisoo dengan matanya
yang mulai berkaca-kaca.
“Gadis
ini ... sudah ayah katakan tidak ya tidak!” tegas tuan Song lalu melanjutkan
langkahnya meninggalkan putrinya itu.
“Appa
... jebal ... Appa ....” teriak Jisoo tanpa mendapati tanggapan apa pun dari
ayahnya.
Jisoo
hanya dapat menangis di tempatnya, melihat sang ayah begitu mengabaikannya.
Sebenarnya tuan Song ingin mengabulkan permintaan putrinya itu, tapi tuan Song
juga memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Mengingat beberapa bulan
lalu saat Jisoo pergi berlibur ke Singapore bersama teman-temannya dan berakhir
tersesat di sana, hingga membuat ayahnya harus membayar beberapa orang untuk
menemukannya.
Ini
bukan masalah berapa banyak uang
yang harus dikeluarkan untuk membayar orang mencarinya, tapi bagiamana jika hal
yang buruk terjadi dengannya di sana? Semisal diperkosa, dibunuh atau sebagainya? Orang tua waras mana yang menginginkan
kejadian seperti itu terjadi pada salah satu buah hatinya? Tentu saja tidak
ada.
Gadis
itu tidak cukup pintar dalam berbahasa Inggris apalagi berbahasa Jepang. Dia bahkan sangat ceroboh
dengan semua sikap polosnya. Dia terlalu mudah untuk dibohongi, bahkan oleh
seseorang yang baru dikenalnya. Tuan Song tidak ingin kejadian itu terulang
lagi, apalagi ini di Jepang.
Di negara yang jauh lebih ramai dan lebih luas dari pada Singapore. Kyungsoo
dan Joongki mungkin memang akan menjaganya, tapi mereka punya urusan yang lebih
penting di sana. Mereka harus menandatangani kontrak kerjasama dengan salah
satu perusahaan Elektronik di
Jepang.
Jisoo
kemudian melangkahkan kakinya ke luar dari gedung perusahaan dan pergi meninggalkan tempat itu.
Wajahnya masih basah dengan air mata dan suara isakan tangis yang sesekali
keluar dari bibirnya. Tentu saja dia sangat frustasi sekarang. Dia bahkan sudah
menyewa tempat untuk acara makan malamnya nanti malam. Dia juga sudah
menyiapkan hadiah yang seharian kemarin sibuk dipilihnya. Dan sekarang, semua
bayangan tentang makan malam romantis hari
ini sudah hancur berkeping-keping tanpa sisa. Ditambah lagi dengan
angan-angannya yang sedari tadi ia rangkai untuk melakukan candle light dinner di Jepang juga ikut musnah begitu saja. Benar-benar gadis
yang malang.
-o-
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 12, 2015.
11:30 KST
Jisoo
memasuki apartementnya kemudian menuju ke arah kamar tidurnya dan menjatuhkan
dirinya di atas ranjang king size miliknya. Dia benar-benar marah dan merasa
frustasi. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Dia tidak bisa menyusul kekasihnya
tanpa memiliki paspor dan dia pun tidak bisa melawan ayahnya. Dia hanya bisa
merengek dan memohon, jika itu tidak berhasil di lakukannya, maka yang tersisa
hanyalah tangisan yang keluar dari bibirnya.
“Aku bersumpah tidak akan bertemu
denganmu lagi, aku membencimu!” tulisnya dalam sebuah pesan yang baru saja
di kirimkannya.
=====
Ibis Tokyo Shinjuku Hotel
7-10-5 Nishishinjuku, Shinjuku, Tokyo
160-0023, Japan
12:00 KST
Kyungsoo
dan Joongki baru saja keluar dari ruang pertemuan bersama dengan segerombolan
orang berdasi. Proposal yang mereka ajukan telah diterima dan akan mulai
mengerjakannya pada maret mendatang. Rencananya besok mereka akan kembali ke Korea
karena pada malam harinya mereka harus memenuhi jamuan makan malam yang
diadakan oleh perusahaan Jepang.
Kyungsoo
dan Joongki tiba di hotel tempat mereka akan bermalam hari ini. Kyungsoo
merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk hotel itu. Sekilas pikirannya
teringat akan gadis yang ditinggalkannya di kamarnya pagi tadi.
“Apa
yang akan di lakukannya ketika tahu aku berada di Jepang?” tanya Kyungsoo pada
dirinya sendiri lalu mengeluarkan benda persegi panjang dari dalam saku
celananya.
Dihidupkannya
layar datar nan tipis itu hingga menampakkan wallpaper dua orang manusia yang
saling mempoutkan bibirnya. Benar-benar sangat imut dan menggemaskan. Kyungsoo
sengaja menonaktifkan ponselnya. Dia tahu jika Jisoo akan sangat mengganggu
setelah mengetahui jika dia tidak sedang berada di Korea. Dan benar saja, saat
ponselnya telah hidup, banyak pesan masuk yang bertubi-tubi mengisi layar
datarnya.
*
From
: Cheonsa
“Kau pergi ke Jepang dan tidak mengatakan
kepadaku sebelumnya?”
“Aku bahkan berada dalam
kamar dan tempat tidur yang sama denganmu, tapi kau pergi begitu saja tanpa
membangunkanku? Woah ….”
“Setelah meninggalkanku seperti ini apa kau pikir aku akan menuruti
perintahmu? Aku takkan memakannya.”
“Apa kau pikir dengan membuatkanku sarapan seperti ini aku akan berhenti marah kepadamu? Jangan
harap.”
“Aku akan menyusulmu ke Jepang. Lihat saja, aku membunuhmu di sana.”
“Jangan berpikir untuk bisa lolos dariku kali ini.”
“Tunggu saja hingga ayah mengembalikan pasporku, aku akan benar-benar
menghajarmu tanpa ampun.”
“Ayah tidak mengijinkanku pergi ke sana, ayah tidak mau
mengembalikan pasporku.”
“Ayah bahkan tidak menghiraukanku meski aku menangis di depannya.”
“Aku meridukanmu, aku ingin melihatmu. Tidak bisa kah kita pergi
berkencan malam ini? Aku bahkan sudah memesan sebuah meja di restaurant yang
sangat romantis untuk merayakan ulang
tahunmu.”
“Kenapa kau terus mengabaikan pesanku?”
“Apa kau tidak ingin membalas satu pun pesanku?”
“Kau sama saja dengan ayah, kau menyebalkan!”
“Aku bersumpah tidak
akan bertemu denganmu lagi, aku membencimu!”
=====
Melihat
semua pesan yang di terimanya, senyum kecil tergores di bibir Kyungsoo. Mungkin
bagi pasangan lain ini adalah hal yang mengkhawatirkan karena bisa berpengaruh
buruk pada hubungan mereka, tapi tidak dengan Kyungsoo. Dia sudah sangat hafal
bagaimana sifat dan tingkah laku gadisnya itu.
*
To :
Cheonsa
“Apa kau benar-benar merindukanku? Aku
akan mengganti semuanya besok ketika aku kembali,” tulis Kyungsoo pada benda berlayar
datarnya itu lalu mengirimkannya.
1 menit
5 menit
30 menit
1 jam
2 jam
Tak
ada satu pun balasan yang diterimanya. Hanya sebuah tanda centang yang berarti
pesannya telah dibaca.
“Apa
dia benar-benar marah kali?” gumam Kyungsoo pelan
Kyungsoo
lalu mengetikkan beberapa angka pada ponselnya dan menghubungi sesorang yang
sedang mengganggu pikirannya sekarang. Namun nihil tak ada jawaban atau respon
apa pun dari seseorang yang ditujunya.
“Ah …
kau benar-benar membuatku gemas,” lirih Kyungsoo.
“Wae?”
Tanya Joongki tiba-tiba.
“Eoh
… Gwaenchanha ….” jawab Kyungsoo dengan senyuman kikuknya.
“Apa
gadis itu berulah lagi? Apa yang dilakukannya sekarang?”
“Aku
rasa dia akan membunuhku ketika aku pulang nanti, haha ….”
“Tetap
saja, tingkah kekanak-kanakannya tidak pernah berubah.”
“Tapi
aku menyukainya Hyung … adikmu begitu menggemaskan,” tutur Kyungsoo lalu
melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
=====
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 12, 2015.
22:10 KST
Ceklek ….
Suara pintu terbuka itu membuat gadis yang sedari tadi terus
memindah-mindahkan chanel televisi seketika beranjak untuk melihat siapa yang
datang. Gadis itu Song Jisoo.
“Hyori-ya ... aku tau kau akan datang walau pun kau berkata ti ....”
kalimatnya terhenti saat mendapati bukan seseorang yang di panggilnya baru saja
yang berdiri di depan pintu.
“Annyeong ....” sapa pria yang baru saja selesai menutup pintu apartement
itu dengan senyuman manis yang terbentuk di bibirnya.
“Ash ... menyebalkan sekali,” decak Jisoo lalu kembali memutar langkah
kakinya ke arah ruang tengah.
“Woah ... pantaskah seseorang yang baru saja
datang dari perjalanan jauh di sambut seperti itu? Apa kau tak merindukanku?
Bukankah kau berkata sangat ingin bertemu denganku?” tanya pria itu yang baru
saja selesai melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal dalam ruangan.
“Diamlah atau kau ingin aku membunuhmu sekarang?” tanya Jisoo.
“Aku bahkan bersedia mati kapan pun selama itu di tanganmu.”
“Ash ... menyebalkan!”
“Aku tahu jika aku sangat tampan, maka berhentilah memujiku seperti itu.”
“Hei!!”
“Kemarilah sayang ... Bukankah hari ini adalah hari ulang tahunku? Tidakkah
kau ingin memberiku hadiah? Atau sekedar ucapan?”
“Aku sudah menggadaikan semuanya di toko emas, jadi pergilah. Tak ada satu
pun yang tersisa untukmu di sini.” Jelas Jisoo dengan masih melangkahkan
kakinya menuju sofa di depan televisi.
“Tapi aku merindukan kekasihku.”
“Aku tidak peduli.”
“Aku sangat-sangat merindukannya!”
“Sudah ku katakan aku tidak peduli.”
“Aku ingin menghabiskan malam ini berdua dengannya!”
“Hei!! Kenapa kau berisik sekali?” bentak Jisoo seraya melemparkan bantalan
sofa ke arah Kyungsoo.
Kyungsoo terkekeh geli melihat Jisoo bersikap seperti itu. Direntangkan
kedua tangannya agar Jisoo mendekat dan memeluknya.
“Apa kau tidak ingin memelukku? Aku bahkan tidak bisa menikmati jamuan
makan malamku dengan tenang karena terus memikirkanmu.” Ungkap Kyungsoo dengan
masih merentangkan kedua tangannya.
“Aku tidak peduli,” jawab Jisoo lagi seraya berjalan mendekati Kyungsoo
lalu memeluknya.
Kyungsoo tersenyum lalu membalas pelukan Jisoo dan mendekapnya sangat erat.
“Saengil chukhae uri wangja-nim,” lirih Jisoo masih dalam dekapan Kyungsoo.
“Uhm ... gomawo uri cheonsa,” jawab Kyungsoo lalu menciumi puncak kepala
gadisnya itu.
END!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar