Jumat, 06 Maret 2015

Stupid Girl [2Soo Story]


Title : Stupid Girl - Kyungsoo Day
Writer  : Candle Light
Rate : PG-13
Main Cast : Song Ji-Soo (OC) | Do Kyung Soo
Other Cast : Kim Hyori (OC) | EXO Member | Song Joongki | Lee Ji-Eun (IU) |
Genre : Fluff
Duration : 4.136 words
Release Date : January 12, 2015. 15.00 WIB.
Length : Oneshoot


=====

Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu,
서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
0
9.00 KST

Baiklah ... ini adalah hari minggu. Seorang gadis yang hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur untuk waktu yang lama selain untuk makan atau minum kini telah berkutat di dalam dapur dari sebelum matahari terbit. Ya Tuhan ... apa yang akan dilakukannya sekarang? Apa dia sedang mencoba untuk membuat kue? Lihatlah bagaimana partikel tepung itu tercecer di mana-mana termasuk di wajah cantiknya.

Gadis itu, Song Jisoo. Dia memang sedang berusaha membuat kue ulang tahun untuk kekasihnya tercinta. Do Kyungsoo. Yah, besok adalah dua belas januari yang artinya itu adalah hari di mana sang kekasih terlahir ke dunia ini. sebenarnya dia bisa saja pergi ke toko kue dan membeli kue terbaik di toko itu untuk di berikan kepada sang kekasih. Tapi dia ingin tahun ini memiliki kesan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah calon istri yang baik yang tidak hanya bisa makan masakan orang. Yah, walau pun pada kenyataannya memang seperti itu. Lihatlah bagaimana usahanya dari jam lima pagi hingga sekarang yang masih belum mendapatkan hasil satu pun.

“Ya Tuhan ... kenapa selalu seperti ini? Apa ada yang salah dengan resepnya? Apa tepung ini sudah kadaluarsa?” tanyanya seraya melihat label expired pada bungkus tepung yang di gunakannya.
“Tidak, batas waktu penggunaannya masih tahun depan. Lalu apa yang salah? Kenapa hasilnya selalu seperti ini?” keluh Jisoo untuk kesekian kalinya melihat kue hasil buatannya yang selalu hangus, keras dan terlalu mengembang. Ditambah dengan rasanya yang benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Aku rasa orang yang membuat resep ini salah menuliskan sesuatu. Jika tidak, maka aku takkan terus-terusan gagal membuatnya,” tuduhnya seraya melemparkan majalah masakan yang dibacanya baru saja ke sembarang arah.

“Bodo ah, aku takkan memasak lagi.” Celetuknya kemudian melepas celemek yang di pakainya dan bergegas membersihkan itu semua.

Jisoo memasuki kamarnya setelah membersihkan kekacauan yang dibuatnya di dapur tadi. Diambilnya pakaian dari dalam lemarinya dan meletakkannya di atas ranjang tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi.

-o-

“Hyori-ya ... neo eodiga?” tanyanya pada seseorang yang berada di seberang telepone.
“Lotte World bersama Luhan,” jawab Hyori singkat.
“Lotter World? Bersama Luhan? Kalian sedang berkencan? Woah ....”
“Hmm ... apa ada yang salah? Bukankah ini hari minggu dan tidak ada kegiatan selain berkencan? Jangan bilang kau ingin menggangguku.”
“Baiklah ... baiklah ... aku takkan mengganggumu walau pun aku sangat membutuhkan bantuanmu sekarang.”
“Bantuan? Memang apa yang kau inginkan dariku?”
“Benarkah kau mau membantuku? Ini tentang ulang tahun pangeranku besok.”
“Aku tidak berkata ingin membantu,”
“Woah ... nona Kim kau jahat sekali. Bukankah aku adalah sahabatmu? Kenapa kau selalu bersikap seperti ini? Apa kau tidak ingin membuatku bahagia sekali saja?”
“Apa, apa? Apa kau sedang bingung untuk membeli kue ulang tahun? Apa kau sedang bingung memilih hadiah? Atau ... apa kau sedang bingung untuk menyiapkan kejutan?” tanya Hyori gemas.
“Woah ... kau memang sahabat terbaikku, bagaimana kau bisa membaca semua isi pikiranku? Apa kau memiliki kekuatan telepati? Bagaimana kau bisa menjadi secerdas ini? Aku bahkan belum menyebutkannya sama sekali.”
“Diamlah bodoh, kau benar-benar mengganggu acara kencanku,” cetus Hyori.
“Hei! Sekali lagi kau mengatai aku bodoh, aku takkan meneleponmu lagi!”
“Aku bersyukur jika kau tidak lagi melakukannya.”
“Hei!”
“Apa?”
“Kau menjengkelkan sekali, aku membencimu.”

Tut

Jisoo mengakhiri telepone-nya sepihak dengan umpat-an kecil yang terus terlontar dari bibirnya. Mereka berdua selalu seperti itu. Hyori adalah orang yang dingin dan pelit bicara sedangkan Jisoo adalah orang yang hangat dan sangat berisik. Mereka berdua terlihat seperti Tom and Jerry yang sering bertengkar, namun juga menjadi perumpamaan dari kertas dan lem yang tidak bisa di pisahkan.

Baru beberapa langkah Jisoo meninggalkan apartementnya, tiba-tiba ponsel yang berada dalam tasnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Jisoo kemudian menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil ponsel dari dalam tasnya dan melihat siapa yang telah mengiriminya pesan.

*****
From : Hyori Kim
“Pergilah ke Ice Skating Rink Grand Hyatt Hotel Seoul. Kau bisa memesan meja di sana untuk acara candle light dinner besok malam. Di sana juga menyediakan kue ulang tahun yang sangat lezat. Kau juga dapat berseluncur di atas es, karena ini adalah musim dingin. Tempat itu benar-benar sangat indah dan romantis. Untuk hadiah, belilah sesuatu yang sangat ia butuhkan. Dengan begitu dia akan terus memakainya. Tidak perlu sesuatu yang mahal selama itu memiliki manfaat bagi penggunanya. Kau mengerti? Maaf membuatmu kesal hari ini.”
*****

Lihatkan? Bagaimana sangat perhatiannya seorang Kim Hyori dibalik sifat dingin dalam dirinya. Jisoo memang sangat beruntung memiliki sahabat menyebalkan sepertinya.

Jisoo kemudian melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti dengan senyum mengembang di wajahnya dan pergi menuju tempat yang disarankan Hyori kepadanya. Tunggu ... dia tidak sedang berencana untuk membelikan Kyungsoo restauran-kan? Mengingat beberapa hari yang lalu Kyungsoo berkata ingin membuka sebuah restauran yang akan dikelolahnya sendiri di masa depan. Tidak ... semoga saja tidak. Itu terlalu berlebihan. Kyungsoo takkan menyukainya, walau pun Jisoo membeli itu dengan uangnya sendiri.

-o-

Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
22.00 KST

Gadis itu, Song Ji-Soo terus memondar mandirkan langkah kakinya di ruang tengah apartement-nya sambil menggigiti kuku jari tangannya. Menggerutu kecil, itu yang dilakukannya sekarang.

“Ah ... aku benar-benar tidak sabar menunggu jam dua belas malam,” ungkapnya seraya melirik jam dinding yang terpasang di ruangannya.
“Tunggu ... lalu jika jam dua belas sudah tiba, apa aku hanya akan mengatakan selamat ulang tahun untuknya lewat telepone? Bukankah itu terlalu biasa? Haruskah aku pergi ke apartement-nya sekarang?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Jisoo kemudian masuk ke dalam kamarnya mengambil blazer berwarna cokelat dan memakainya.

Tinggal beberapa langkah ia hendak menggapai pintu apartement-nya namun langkahnya terhenti dan kembali bergumam, “Apa aku hanya akan pergi ke sana tanpa membawa apa pun? Bukankah ini memalukan?” tanyanya lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, mengambil dompet dan kunci mobil yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.

Apa dia akan membeli kue ulang tahun? Bukankah ini terlalu larut untuk mendapatkannya? Benar-benar gadis bodoh. Kenapa tidak memikirkannya sejak sore tadi?

-o-

Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 11, 2015.
23.50 KST

Jisoo telah tiba di depan apartement Kyungsoo tanpa membawa apa pun. Tentu saja, adakah toko roti yang masih buka hingga selarut ini? Jisoo memencet bel yang terpasang di pintu apartement Kyungsoo berkali-kali, namun tak juga ada seseorang yang berusaha membukanya. Ayolah ... sudah se-jam dia berdiri di sana, dia pasti sudah sangat bosan mendapati kakinya terus beridiri seperti itu.

Jisoo pun akhirnya memutuskan untuk membuka apartement itu dan masuk ke dalamnya. Tunggu ... bukankah itu artinya dia mengetahui password apartement Kyungsoo? Lalu apa yang dia pikirkan berdiri selama satu jam lebih di sana dan tidak segera masuk? Benar-benar gadis bodoh.

“Kyungsoo-ya ... apa kau sudah tidur? Apa kau tidak ingin merayakan ulang tahunmu bersamaku?” panggil Jisoo seraya melangkahkan kakinya menuju kamar tidur Kyungsoo.

Dilihatnya seorang pria sedang tertidur pulas di atas ranjang ukuran sedang dengan selimut putih bersihnya.

“Aku menunggumu di luar selama lebih dari satu jam dan kau malah tertidur pulas seperti ini? Apa kau tahu bagaimana aku berusaha memberimu kejutan? Benar-benar menyebalkan!” gerutu Jisoo seraya mendekati ranjang tempat Kyungsoo tertidur.

Hoam ....

Jisoo menguap yang manandakan bahwa ia sudah sangat mengantuk. Tentu saja, sudah lewat jam satu pagi dia belum juga mengistirahatkan tubuhnya. Dia pasti sangat lelah dan mengantuk.

“Apa aku harus tidur di sini? Tentu saja, aku tidak ingin pulang dan hanya ingin menghabiskan malam ini berdua dengannya.” Ujarnya lalu menyelinap masuk ke dalam selimut putih Kyungsoo.

=====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 12, 2015.
05:00 KST

Kyungsoo membuka matanya saat merasakan ada makhluk lain selain dirinya berada di balik selimut yang sama dengannya. Seingatnya semalam, tidak ada satu pun orang yang bermalam di apartementnya. Kyungsoo lalu menyingkap selimut putih miliknya dan menemui Jisoo masih tertidur pulas di sana.

“Ya Tuhan ... bagaimana dia bisa berada di sini sepagi ini?” tanyanya dengan masih menatapi wajah Jisoo.

Kyungsoo lalu mengusap lembut pipi Jisoo dengan sesekali menciuminya. Menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Jisoo.

“Chagia ... bangulah ....” perintah Kyungsoo dengan masih mengusap lembut puncak kepala Jisoo.

Tapi sepertinya Jisoo benar-benar masih sangat mengantuk, mengingat dia baru bisa tidur jam satu lebih pagi tadi. Melihat tak ada respon sedikit pun dari Jisoo, Kyungsoo lalu beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. Membersihkan diri.

-o-
06:05 KST

“Hei ... Song Jisoo ... apa kau tidak akan bangun, eoh? Ini sudah lewat jam enam pagi. Apa kau tidak akan pergi bekerja?” tanya Kyungsoo sambil memasang kancing kemeja putih yang dipakainya.

Kyungsoo memperhatikan gadisnya itu dari pantulan kaca rias yang berada di hadapannya seraya memakaikan dasi berwarna hitam pada krah kemejanya. Namun masih sama. Putri tidur itu tak juga membuka matanya dan masih tertidur pulas di atas ranjang milik Kyungsoo. Entahlah ... ini karena suara Kyungsoo yang terlalu lembut membangunkannya dan terdengar seperti musik klasik yang membuatnya semakin terlelap atau karena dia memang tidur menyamai orang mati. Hingga tidak dapat mendengar suara atau merasakan sentuhan apa pun yang berusaha membangunkannya.

“Aku bisa ketinggalan pesawat jika seperti ini,” gumam Kyungsoo lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.

Dia menyiapkan beberapa sarapan untuk dirinya dan gadis yang masih tertidur di dalam kamarnya. Setelah selesai, Kyungsoo lalu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya yang masih sama seperti sebelum ia tinggal. Gadis itu masih tertidur pulas di sana tanpa ada keinginan untuk bangun atau sekedar menyapanya.

“Ya Tuhan ... gadis ini. Sebenarnya apa yang dilakukannya semalam hingga dia menjadi sesusah ini untuk dibangunkan? Aku benar-benar bisa telat jika menunggunya bangun seperti ini,” gerutu Kyungsoo lalu mendekati ranjang tempat Jisoo tertidur.

“Baiklah ... aku rasa kau lebih baik cuti hari ini,” gumam Kyungsoo seraya menaikkan selimut putihnya menutupi tubuh Jisoo.

Kyungsoo lalu menuliskan sebuah pesan singkat di atas pos-it berwarna kuning dan menempelkannya pada ponsel milik Jisoo.

*Aku sudah menyiapkan sarapan pagi untukmu, makanlah ketika kau bangun. Jangan berpikir akan langsung pergi dari sini tanpa menghabiskan makananmu, kau mengerti? – Do Kyungsoo –*

Kyungsoo pun pergi meninggalkan Jisoo yang masih sibuk mengarungi dunia mimpinya setelah mengecup singkat kedua mata gadisnya itu.

Baru beberapa langkah Kyungsoo melangkahkan kakinya meninggalkan apartement, kemudian berhenti dan kembali masuk setelah melihat sebuah pesan yang diterimanya semalam.

***
From : Cheonsa
-o-
“Aku berada di depan apartementmu sekarang, apa kau tidak ingin membukakannya untukku?”

“Sudah sejam aku berdiri di sini, tapi kau tetap tak membukanya.”

“Aku berpikir untuk masuk begitu saja, tapi aku ingin memberimu kejutan.”

“Aku benar-benar sudah sangat lelah, jadi bolehkah aku masuk begitu saja? Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, setelah itu aku akan pulang.”
-o-

Yaps ... Kyungsoo melupakan hari ini. Kyungsoo lupa jika hari ini dia sedang berulang tahun. Kyungsoo kembali ke dalam kamarnya dan masih mendapati gadisnya itu tertidur pulas di sana. Kyungsoo mendekati ranjang gadis itu lalu duduk di sampingnya.

“Bukankah biasanya kau akan masuk begitu saja tanpa mendapat ijinku terlebih dahulu? Kenapa menyiksa dirimu sendiri seperti ini? Aku bahkan tidak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunku. Apa kau benar-benar begitu mencintaiku hingga melakukan semua ini, eoh?” tanya Kyungsoo dengan membelai lembut wajah Jisoo.

“Jika saja aku tidak mendapat tugas untuk pergi ke Jepang bersama kakakmu hari ini, mungkin aku akan mengajakmu berkencan nanti malam. Tapi tenang saja, aku akan menggantinya setelah kembali dari sana, okay? Aku harus pergi sekarang, sajangnim pasti sudah menungguku di bandara.” Ucapnya lagi kemudian mengecup singkat bibir Jisoo.

“Saranghae ....” ucap Kyungsoo setelah melepaskan tautan singkat bibirnya.

Kyungsoo pun benar-benar pergi dan menghilang dari balik pintu apartementnya. Pesawatnya akan lepas landas pukul tujuh pagi ini. Joongki sudah menunggunya di bandara Gimpo International Airport.

-o-
09:30 KST
*
Someone call the doctor nal butjapgo malhaejwo
Sarangeun gyeolguk jungdok overdose
Sigani jinalsurok tongjedo himdeureojyeo
Jeomjeom gipsugi ppajyeoganda
Oh too much neoya your love igeon overdose
Too much neoya your love igeon overdose
*

Suara nada dering dari ponsel itu terus berbunyi berkali-kali hingga membuat pemiliknya benar-benar keluar dari alam mimpinya. Dengan mata masih tertutup dirabanya asal bunyi itu hingga tangannya menggapai sebuah benda tipis persegi panjang yang berada di atas nakas samping ranjang tempat ia tertidur. Dia lalu menempelkan benda persegi itu pada telinganya. Tanpa menghiraukan ada sebuah note kecil terpasang di sana.

*
“Yeoboseyo?”
“Hei Song Jisoo, kau dimana?”
“Hyori-ya ... aku ....” Jisoo menghentikan kalimatnya lalu membuka matanya dan mengedarkan pandangannya pada setiap sudut kamar itu. Dia ingat betul jika semalam dia tidak pulang ke apartementnya sendiri dan dia sedang memastikan ingatannya sekarang. “Aku berada di kamar kekasihku, wae?”
“Ah ... begitu? Aku rasa kau sudah mengetahuinya, baiklah ... aku tutup telepone-nya.”
“Tunggu ... mengetahuinya? Apa maksudmu?”
“Bukankah hari ini sajangnim dan kekasihmu pergi ke Jepang?”
“APA??”
“Kau tidak tahu? Bukankah kau berkata sedang berada di apartement Kyungsoo sekarang? Apa Kyungsoo tidak memberitahumu? Dia akan tinggal di sana selama dua hari ke depan,” jelas Hyori.
“Apa? Hei!! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”
“Aku juga mengetahuinya baru saja dari Yixing panjang-nim. Kau kekasihnya dan kau adalah anak dari pemilik perusahaan ini, kenapa kau malah tidak mengetahuinya? Dasar bodoh,” ungkap Hyori.
“Ash ... menyebalkan sekali, lalu bagaimana dengan semua acara yang telah aku siapkan?”
“Jangan bertanya padaku, aku tidak ingin ikut pusing bersamamu. Baiklah ... aku hanya ingin memberitahumu itu, aku banyak pekerjaan. Bye ....”
“Hei ... Hyori-ya ... hei ... hei ....” teriak Jisoo namun sambungan telepone-nya sudah terlanjur diputus oleh Hyori.
*

“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Bagaimana dengan semua acara yang telah aku persiapkan untuk nanti malam? Apa aku harus membatalkan semuanya? Ah, menyebalkan sekali!” desahnya kemudian turun dari ranjang tempat tidur Kyungsoo.

Dia berjalan dengan terburu-buru menuju pintu keluar apartement Kyungsoo. Namun langkahnya terhenti ketika merasakan ada sebuah note kecil yang terpasang di bagian belakang ponsel pintarnya.

-o-

“Dia bahkan tidak memberitahuku sebelumnya jika akan pergi ke Jepang dan sekarang dia berani memerintahku seperti ini? Apa dia pikir aku akan melakukannya? Tidak tentu saja tidak!” gerutu gadis itu seraya memutar kembali langkah kakinya menuju meja makan di apartement itu.

Di lihatnya beberapa potong roti bakar beserta segelas susu putih terhidang di atas sana. Jisoo pun mendudukkan dirinya di salah satu kursi samping meja itu, lalu memakan sarapan yang dibuatkan oleh Kyungsoo untuknya. Memang dasar gadis aneh. Bukankah baru saja dia berkata tidak ingin diperintah? Lalu apa yang dia lakukan sekarang? Menghabiskan makanannya? Tetap saja dia tidak akan berani untuk tidak menuruti ucapan kekasihnya walau pun sekarang dia sangat marah kepadanya.

“Apa dia pikir dengan membuatkanku sarapan seperti ini aku akan berhenti marah kepadanya? Bagaimana bisa dia tidak membangunkanku tadi pagi dan malah meninggalkanku begitu saja? Apa dia sengaja melakukan ini? Aku bahkan telah menyiapkan semua kejutan untuknya, apa dia tidak tahu itu? Ash … ini benar-benar menyebalkan! Lihat saja, aku akan menyusulnya ke Jepang hari ini!” gerutunya di sela-sela sarapan paginya.

Tidak membangunkan? Hei … Song Jisoo … kau saja yang tidur menyerupai orang mati. Dia bahkan sudah membangunkanmu lebih dari tiga kali dan kau sama sekali tidak ada niatan untuk membuka matamu. Lalu kau masih menyalahkannya atas hal ini? Benar-benar gadis bodoh. Dan lagi, tentu saja dia tidak akan tahu jika kau menyiapkan kejutan untuknya. Jika dia tahu, maka itu bukan lagi kejutan namanya.

Taesan Corp.
#505 Seoco Town Trapalace,
1327 Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 12, 2014
10:15 KST

“Hei Song Jisoo .... apa yang kau lakukan dengan berpakaian seperti itu dan datang kemari?” komentar Yixing saat mendapati adik sepupunya itu hanya mengenakan celana jeans dengan kaos putih berbalut blazer berwarna coklat.

“Diamlah Ge, kau sangat berisik sepagi ini,” jawabnya acuh seraya terus melangkahkan kakinya memasuki perusahaan milik sang ayah.

Dari arah berlawanan Jisoo melihat sang ayah bersama beberapa orang di belakangnya sedang berjalan dan terlihat sibuk membicarakan sesuatu.

“Appa ....” teriak Jisoo seraya berlari menghampiri ayahnya yang membuat semua orang berhenti melangkah termasuk tuan Song.
“Jaga sikapmu! Apa yang kau lakukan dengan berpakaian seperti itu datang kemari hah?”
“Aku sedang cuti, jadi ayah bukan atasanku hari ini! Dan aku bebas memakai apa pun datang kemari.”
“Gadis nakal ....” ucap tuan Song seraya menepuk pelan puncak kepala putrinya.
“Appa ... aku harus pergi ke Jepang sekarang!”
“Apa?”
“Bukankah ayah menugaskan kekasihku untuk pergi ke sana? Aku ingin pergi ke sana menyusulnya.”
“Tidak!”
“Appa ... aku ingin menyusulnya ke sana. Aku hanya butuh pasporku yang ayah sita. Aku takkan meminta uang ayah untuk membelikanku tiket pesawat!”
“Aku katakan tidak!”
“Ayolah ayah … aku berjanji takkan membuat masalah di sana.”
“Apa kau tidak mendengarnya? Tidak!!”
“Appa ... jebalyo ....”
“Bukankah besok dia sudah kembali kemari? Apa kau tidak bisa menunggu hingga besok?”
“Apa ayah tidak tahu jika hari ini dia berulang tahun? Aku bahkan belum memberinya ucapan sedikit pun.”
“Kau bisa mengatakannya lewat telepone atau nanti setelah dia pulang.”
“Tidak ayah ... aku ingin mengatakannya secara langsung dan hari ini. Harus hari ini! Berikan pasporku dan biarkan aku pergi ke sana.” Pinta Jisoo dengan menengadahkan tangannya di hadapan sang ayah.
“Sudah ku katakan tidak!”
“Ayah ... aku mohon ....” rengek Jisoo dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
“Gadis ini ... sudah ayah katakan tidak ya tidak!” tegas tuan Song lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan putrinya itu.
“Appa ... jebal ... Appa ....” teriak Jisoo tanpa mendapati tanggapan apa pun dari ayahnya.

Jisoo hanya dapat menangis di tempatnya, melihat sang ayah begitu mengabaikannya. Sebenarnya tuan Song ingin mengabulkan permintaan putrinya itu, tapi tuan Song juga memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Mengingat beberapa bulan lalu saat Jisoo pergi berlibur ke Singapore bersama teman-temannya dan berakhir tersesat di sana, hingga membuat ayahnya harus membayar beberapa orang untuk menemukannya.

Ini bukan masalah berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membayar orang mencarinya, tapi bagiamana jika hal yang buruk terjadi dengannya di sana? Semisal diperkosa, dibunuh atau sebagainya? Orang tua waras mana yang menginginkan kejadian seperti itu terjadi pada salah satu buah hatinya? Tentu saja tidak ada.

Gadis itu tidak cukup pintar dalam berbahasa Inggris apalagi berbahasa Jepang. Dia bahkan sangat ceroboh dengan semua sikap polosnya. Dia terlalu mudah untuk dibohongi, bahkan oleh seseorang yang baru dikenalnya. Tuan Song tidak ingin kejadian itu terulang lagi, apalagi ini di Jepang. Di negara yang jauh lebih ramai dan lebih luas dari pada Singapore. Kyungsoo dan Joongki mungkin memang akan menjaganya, tapi mereka punya urusan yang lebih penting di sana. Mereka harus menandatangani kontrak kerjasama dengan salah satu perusahaan Elektronik di Jepang.

Jisoo kemudian melangkahkan kakinya ke luar dari gedung perusahaan dan pergi meninggalkan tempat itu. Wajahnya masih basah dengan air mata dan suara isakan tangis yang sesekali keluar dari bibirnya. Tentu saja dia sangat frustasi sekarang. Dia bahkan sudah menyewa tempat untuk acara makan malamnya nanti malam. Dia juga sudah menyiapkan hadiah yang seharian kemarin sibuk dipilihnya. Dan sekarang, semua bayangan tentang makan malam romantis hari ini sudah hancur berkeping-keping tanpa sisa. Ditambah lagi dengan angan-angannya yang sedari tadi ia rangkai untuk melakukan candle light dinner di Jepang juga ikut musnah begitu saja. Benar-benar gadis yang malang.

-o-
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 12, 2015.
11:30 KST

Jisoo memasuki apartementnya kemudian menuju ke arah kamar tidurnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang king size miliknya. Dia benar-benar marah dan merasa frustasi. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Dia tidak bisa menyusul kekasihnya tanpa memiliki paspor dan dia pun tidak bisa melawan ayahnya. Dia hanya bisa merengek dan memohon, jika itu tidak berhasil di lakukannya, maka yang tersisa hanyalah tangisan yang keluar dari bibirnya.

Aku bersumpah tidak akan bertemu denganmu lagi, aku membencimu!” tulisnya dalam sebuah pesan yang baru saja di kirimkannya.

=====
Ibis Tokyo Shinjuku Hotel
7-10-5 Nishishinjuku, Shinjuku, Tokyo 160-0023, Japan
12:00 KST

Kyungsoo dan Joongki baru saja keluar dari ruang pertemuan bersama dengan segerombolan orang berdasi. Proposal yang mereka ajukan telah diterima dan akan mulai mengerjakannya pada maret mendatang. Rencananya besok mereka akan kembali ke Korea karena pada malam harinya mereka harus memenuhi jamuan makan malam yang diadakan oleh perusahaan Jepang.

Kyungsoo dan Joongki tiba di hotel tempat mereka akan bermalam hari ini. Kyungsoo merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk hotel itu. Sekilas pikirannya teringat akan gadis yang ditinggalkannya di kamarnya pagi tadi.

“Apa yang akan di lakukannya ketika tahu aku berada di Jepang?” tanya Kyungsoo pada dirinya sendiri lalu mengeluarkan benda persegi panjang dari dalam saku celananya.

Dihidupkannya layar datar nan tipis itu hingga menampakkan wallpaper dua orang manusia yang saling mempoutkan bibirnya. Benar-benar sangat imut dan menggemaskan. Kyungsoo sengaja menonaktifkan ponselnya. Dia tahu jika Jisoo akan sangat mengganggu setelah mengetahui jika dia tidak sedang berada di Korea. Dan benar saja, saat ponselnya telah hidup, banyak pesan masuk yang bertubi-tubi mengisi layar datarnya.

*
From : Cheonsa
“Kau pergi ke Jepang dan tidak mengatakan kepadaku sebelumnya?”

 “Aku bahkan berada dalam kamar dan tempat tidur yang sama denganmu, tapi kau pergi begitu saja tanpa membangunkanku? Woah ….”

 “Setelah meninggalkanku seperti ini apa kau pikir aku akan menuruti perintahmu? Aku takkan memakannya.”

 “Apa kau pikir dengan membuatkanku sarapan seperti  ini aku akan berhenti marah kepadamu? Jangan harap.”

 “Aku akan menyusulmu ke Jepang. Lihat saja, aku membunuhmu di sana.”

 “Jangan berpikir untuk bisa lolos dariku kali ini.”

 “Tunggu saja hingga ayah mengembalikan pasporku, aku akan benar-benar menghajarmu tanpa ampun.”

 “Ayah tidak mengijinkanku pergi ke sana, ayah tidak mau mengembalikan pasporku.”

 “Ayah bahkan tidak menghiraukanku meski aku menangis di depannya.”

 “Aku meridukanmu, aku ingin melihatmu. Tidak bisa kah kita pergi berkencan malam ini? Aku bahkan sudah memesan sebuah meja di restaurant yang sangat romantis untuk  merayakan ulang tahunmu.”

 “Kenapa kau terus mengabaikan pesanku?”

 “Apa kau tidak ingin membalas satu pun pesanku?”

 “Kau sama saja dengan ayah, kau menyebalkan!”

 Aku bersumpah tidak akan bertemu denganmu lagi, aku membencimu!

=====

Melihat semua pesan yang di terimanya, senyum kecil tergores di bibir Kyungsoo. Mungkin bagi pasangan lain ini adalah hal yang mengkhawatirkan karena bisa berpengaruh buruk pada hubungan mereka, tapi tidak dengan Kyungsoo. Dia sudah sangat hafal bagaimana sifat dan tingkah laku gadisnya itu.

*
To : Cheonsa
“Apa kau benar-benar merindukanku? Aku akan mengganti semuanya besok ketika aku kembali,” tulis Kyungsoo pada benda berlayar datarnya itu lalu mengirimkannya.

1 menit
5 menit
30 menit
1 jam
2 jam

Tak ada satu pun balasan yang diterimanya. Hanya sebuah tanda centang yang berarti pesannya telah dibaca.

“Apa dia benar-benar marah kali?” gumam Kyungsoo pelan

Kyungsoo lalu mengetikkan beberapa angka pada ponselnya dan menghubungi sesorang yang sedang mengganggu pikirannya sekarang. Namun nihil tak ada jawaban atau respon apa pun dari seseorang yang ditujunya.

“Ah … kau benar-benar membuatku gemas,” lirih Kyungsoo.
“Wae?” Tanya Joongki tiba-tiba.
“Eoh … Gwaenchanha ….” jawab Kyungsoo dengan senyuman kikuknya.
“Apa gadis itu berulah lagi? Apa yang dilakukannya sekarang?”
“Aku rasa dia akan membunuhku ketika aku pulang nanti, haha ….”
“Tetap saja, tingkah kekanak-kanakannya tidak pernah berubah.”
“Tapi aku menyukainya Hyung … adikmu begitu menggemaskan,” tutur Kyungsoo lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

=====

Olympic Park Apartement424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 12, 2015.
22:10 KST

Ceklek ….

Suara pintu terbuka itu membuat gadis yang sedari tadi terus memindah-mindahkan chanel televisi seketika beranjak untuk melihat siapa yang datang. Gadis itu Song Jisoo.

“Hyori-ya ... aku tau kau akan datang walau pun kau berkata ti ....” kalimatnya terhenti saat mendapati bukan seseorang yang di panggilnya baru saja yang berdiri di depan pintu.
“Annyeong ....” sapa pria yang baru saja selesai menutup pintu apartement itu dengan senyuman manis yang terbentuk di bibirnya.
“Ash ... menyebalkan sekali,” decak Jisoo lalu kembali memutar langkah kakinya ke arah ruang tengah.
“Woah ... pantaskah seseorang yang baru saja datang dari perjalanan jauh di sambut seperti itu? Apa kau tak merindukanku? Bukankah kau berkata sangat ingin bertemu denganku?” tanya pria itu yang baru saja selesai melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal dalam ruangan.
“Diamlah atau kau ingin aku membunuhmu sekarang?” tanya Jisoo.
“Aku bahkan bersedia mati kapan pun selama itu di tanganmu.”
“Ash ... menyebalkan!”
“Aku tahu jika aku sangat tampan, maka berhentilah memujiku seperti itu.”
“Hei!!”
“Kemarilah sayang ... Bukankah hari ini adalah hari ulang tahunku? Tidakkah kau ingin memberiku hadiah? Atau sekedar ucapan?”
“Aku sudah menggadaikan semuanya di toko emas, jadi pergilah. Tak ada satu pun yang tersisa untukmu di sini.” Jelas Jisoo dengan masih melangkahkan kakinya menuju  sofa di depan televisi.
“Tapi aku merindukan kekasihku.”
“Aku tidak peduli.”
“Aku sangat-sangat merindukannya!”
“Sudah ku katakan aku tidak peduli.”
“Aku ingin menghabiskan malam ini berdua dengannya!”
“Hei!! Kenapa kau berisik sekali?” bentak Jisoo seraya melemparkan bantalan sofa ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo terkekeh geli melihat Jisoo bersikap seperti itu. Direntangkan kedua tangannya agar Jisoo mendekat dan memeluknya.

“Apa kau tidak ingin memelukku? Aku bahkan tidak bisa menikmati jamuan makan malamku dengan tenang karena terus memikirkanmu.” Ungkap Kyungsoo dengan masih merentangkan kedua tangannya.
“Aku tidak peduli,” jawab Jisoo lagi seraya berjalan mendekati Kyungsoo lalu memeluknya.

Kyungsoo tersenyum lalu membalas pelukan Jisoo dan mendekapnya sangat erat.

“Saengil chukhae uri wangja-nim,” lirih Jisoo masih dalam dekapan Kyungsoo.
“Uhm ... gomawo uri cheonsa,” jawab Kyungsoo lalu menciumi puncak kepala gadisnya itu.


END!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar