Jumat, 06 Maret 2015

Study Hard


Title : Study Hard
Writer : Candle Light
Story Idea : Lavuorenji
Rate : PG-13
Main Cast : Han Eun Ri (OC) | Do Kyungsoo
Genre : Fluff | School life | Romance
Length : Vignette | Oneshoot | 2.705 words
Release Date : February 02, 2015.

==============


***

Langit pagi berwarna biru dengan balutan-balutan awan putih bersih seputih kapas yang terlihat seakan mengambang di bawah atap bumi itu. Sepanjang jalan masih terlihat bahwa tanah itu tidak menyerap air dengan sempurna. Karena masih terdapat genangan-genangan air yang dapat memantulkan apa pun yang seakan menjadikannya cermin.

Mawar merah yang baru akan melebarkan kelopaknya terlihat begitu segar, indah dan anggun. Dikelilingi oleh dua kupu-kupu berwarna biru muda dan kuning yang saling berebut untuk menghisap madunya.

Cekrek ...

Suara bidikan kamera itu sukses menangkap dua ekor kupu-kupu yang singgap tepat di atas kelopak  bunga mawar itu. Disertai pemandangan langit yang sangat indah di dalam lensa bundar berwarna putih mangkak.

“Woah ... gyeopta ....” Puji sang pemilik kamera setelah membuka dan melihat hasil jepretannya. “Kkaja ... aku akan menunjukkan ini kepada semua orang.” Ucapnya kemudian sebelum memasukkan kameranya ke dalam tasnya.

Gadis itu berjalan dengan perasaan bahagianya. Menyusuri jalan setapak taman dengan langkah kaki yang terlihat begitu ringan.

=====

Pada sebuah papan pengumuman di sekolah besar itu, terlihat segerombolan murid sedang berdesakan untuk dapat melihat hasil dari ujian yang mereka lakukan seminggu yang lalu. Berbeda halnya dengan seorang gadis yang baru saja tiba di sekolah ini. Dengan sebuah kamera yang masih setia dalam genggaman tangannya, dia malah memotret kerumuan orang-orang itu. Mengabadikan moment itu menggunakan lensa bundarnya. Tidak peduli dengan hasil ujiannya, mungkin pernyataan itu yang lebih pantas baginya.

Gadis itu ... Han Eun Ri. Yah, dia adalah aku. Seorang siswa yang tidak pintar dan hanya akan melakukan hal-hal yang aku suka. Tidak peduli dengan apa yang akan orang-orang katakan tentangku. Aku hanya ingin menjadi aku. Tidak ingin menjadi orang lain yang hanya bisa bersembunyi di balik kepalsuan.

Kulihat orang-orang yang sedari tadi memenuhi papan pengumuman itu berangsur sepi. Kini giliranku, melihat seperti apa kejutan nilai yang akan aku dapatkan kali ini. ‘Berharap mendapat nilai yang tidak buruk’ tentu saja aku masih memiliki harapan itu. Dari seratus tujuh puluh lima siswa yang duduk di kelas tiga senior high school, aku adalah satu-satunya siswa yang menempati posisi terakhir pada papan pengumuman itu. Ini adalah kabar buruk. Tentu saja, untuk pertama kalinya aku dinobatkan sebagai siswa terbodoh di sekolah ini. Benar-benar membuatku gila. Bagaimana aku bisa menjelaskan itu kepada orang tuaku?

Dengan wajah tertunduk malu kulangkahkan kakiku berjalan menjauhi papan pengumuman itu. Aku berharap tidak akan bertemu hal yang lebih buruk lagi dari ini. Aku benar-benar bisa gila memikirkannya.

Tanpa sadar langkah kakiku terhenti ketika seseorang berdiri di hadapanku dan berusaha untuk menghalangi jalanku. “Hei ... nona ... bagaimana bisa kau mendapatkan nilai seburuk itu, eoh?” tanya laki-laki itu seraya menggidikkan dagunya ke arah papan pengumuman. Ini menjengkelkan sekali ketika seseorang berusaha mencampuri urusanku. Bukankah itu nilaiku? Lalu apa hubungannya dengan orang ini? Aku tak menjawabnya dan malah melempar tatapan tajamku padanya.

Laki-laki itu sedikit memiringkan kepalanya, “Apa kau bahkan tidak pernah belajar walau  pun hanya seperempat menit?” tanya laki-laki itu ingin tahu.

Kulihat tag nama yang terpasang pada dada bagian kanannya. “Do Kyungsoo” Sebutku dalam suaraku yang terdengar seakan berbisik.

“Ya, itu namaku.” Laki-laki tadi menegaskan.

Ya Tuhan ... apa dia bahkan memiliki pendengaran infrasonik yang berada di bawah frekuensi ’20 Hz’? Ajaib sekali. “Setidaknya itu nilaiku, apa kau pantas ikut campur?” jawabku sinis kemudian berlalu dari hadapannya.

Baru selangkah aku melaluinya, kurasakan ada sesuatu mengait pada krah bajuku di bagian belakang. Tentu saja tangan itu tangannya. Entahlah apa yang diinginkannya dariku, aku bahkan tak mengenalnya sama sekali.

“Hei! Apa yang sedang kau coba lakukan?” bentakku kasar.

“Menurut saja nona Han Eun Ri, kau akan tahu setelah ini.” jawab laki-laki dengan nama Do Kyungsoo itu.

Han Eun Ri? Yah, dia baru saja menyebut namaku. Dari mana dia tahu? Aku bahkan tidak menggunakan name tag milikku seperti yang ia gunakan. Dan ini ... kenapa dia berani sekali menggenggam tanganku seperti ini? Kemana dia akan membawaku pergi? Aku merasa ada hawa tidak baik setelah ini. Kejutan apalagi yang akan aku terima sekarang? Apa belum cukup papan nilai itu membuat moodku begitu buruk di pagi hari? Menyebalkan sekali.

Laki-laki itu, maksudku Kyungsoo. Apa yang akan dilakukannya membawaku ke dalam perpustakaan? Apa dia akan menjadi guru privatku? Yang benar saja, oh Tuhan ....

“Baiklah ... kita mulai dari matematika.” Ucapnya ketika baru saja memaksaku duduk pada salah satu bangku di perpustakaan itu. Apa ini? Apa dia benar-benar akan menjadi guru privatku? Atas dasar apa dia akan mengajariku? Aku bahkan tidak memintanya dan aku tidak punya niatan sedikit pun untuk belajar padanya.

“Hei! Apa aku memintamu untuk mengajariku?” Tanyaku kemudian beranjak dari tempat dudukku.

“Diamlah, nona! Kau sedang berada di perpustakaan sekarang! Atau kau ingin petugas itu memarahimu dan mengusir kita dari sini?”

I don’t care! I don’t know you, and you know ... mathematics is not my style!”

“Aku tahu kau tidak suka matematika, maka dari itu aku akan membuatmu menyukai matematika.”

Whatever”

Kulangkahkan kakiku meninggalkan meja itu, entah apa yang akan dilakukannya setelah ini padaku. Perasaanku benar-benar buruk sekarang, setelah bertemu dengannya.

----888----

“Eun, kau dari mana?” Itu suara ayah yang telah menungguku di depan pintu.
“Ayah tidak melihat pakaianku? Aku dari sekolah ayah. Putrimu ini sangat rajin!” Jawabku kemudian berlalu melewati ayah yang berdiri di depan pintu.
“Apa dengan menduduki urutan terakhir kau masih bisa menyebut dirimu siswa rajin?”

Ucapan ayah baru saja terasa seperti cambuk yang membuatku mau tidak mau harus membalikkan tubuhku dan kembali menghadap ayah. Ayah tak mau kalah dengan mengeluarkan selembar kertas putih yang berada di tangannya. Oh God! It’s so bad! Apa yang akan terjadi setelah ini? lagi-lagi pertanyaan itu yang bersemayam dalam otakku. Aku benar-benar merasakan ada hawa buruk mengelilingiku sekarang.

“Aku akan belajar lebih keras, ayah!”
“Tentu, putri ayah harus belajar lebih keras dan membuat ayah bangga!”

Aku pun menganggukkan kepalaku dan kembali membalikkan tubuhku, hendak meneruskan langkah kakiku yang sempat terhenti.

“Eun Ri-ya ... tunggu!”

Suara ayah lagi-lagi menghentikan langkah kakiku. Mau tidak mau aku harus kembali memposisikan diriku menghadap ayah.

“Ya, ayah? Ada apa?”
“Boleh ayah pinjam kameramu?”

Deg

Hawa buruk itu benar-benar terjadi. Ayah tentu tak ‘kan meminjamnya sehari dua hari bukan? Ini akan lama, mungkin ... hingga ujianku selesai. Atau akan menjadi selamanya jika nilaiku tidak juga membaik.

“Tapi ayah ....”
“Ayah hanya meminjamnya sebentar, sementara kau fokus dengan sekolahmu dan ujian di depanmu, biarkan ayah menyimpankannya sementara untukmu, oke?”
“Baiklah ....” Jawabku penuh dengan keputusasaan.

Aku pun berjalan mendekati ayah dan menyerahkan belahan hidupku kepadanya. Yah, kamera itu ... belahan hidupku. Aku bahkan tidak menyukai apa pun selain memotret. Yah, memotret! Mengabadikan setiap hal yang aku temui. Aku sangat menyukai itu. Tapi kali ini? kekasihku satu-satunya harus rela aku lepaskan untuk sementara waktu. Aku tahu ini demi kebaikanku, tapi hatiku merasa sakit sekarang. Lebih sakit dari pada nilai buruk yang aku dapatkan tadi pagi.

“Eun Ri-ya ....” Ayah memanggilku lagi.
“Apalagi ayah?” Keluhku karena masih kecewa dengan keputusan yang ayah ambil.
“Ada seseorang yang menunggumu!” Tutur ayah seraya menggidikkan dagunya ke arah sofa di ruang tamu.

Kualihkan pandanganku mengikuti arah pandang ayah. “Oh God! What it is?” pekikku begitu keras. “Jangan berkata ayah memintanya untuk menjadi guru privatku. I am going crazy, dad!”

“Dia akan mulai mengajarimu hari ini, tidak ada penolakan, tidak ada bantahan, tidak ada keluhan! Atau kau ingin benda ini tidak dapat kau lihat selamanya?”

Ayah mengancamku dengan belahan jiwaku. Benar! Laki-laki bermata bulat itu adalah orang suruhan ayah. Lebih buruk lagi karena dia berada dalam satu sekolah denganku. Itu artinya ayah akan memonitoring semua hal yang aku lakukan setelah ini. benar-benar menjengkelkan!

“Baiklah ... kau bisa naik sekarang. Bersihkan dirimu kemudian turun. Setelah itu dia akan mulai mengajarimu selama dua jam penuh tanpa jeda, atau alasan apa pun yang akan kau keluarkan karena merasa sangat bosan dengan tulisan-tulisan yang menurutmu menyebalkan, oke?”

“Di sini? Aku harus belajar di sini?” tanyaku.
“Ya!”

“Sekali ini saja ayah, turuti keinginanku! Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan suara bising dan sejenisnya. Atau hal apa pun yang mengganggu penglihatanku, jadi ... biarkan aku belajar di kamar saja! Aku tak ‘kan main-main lagi, sungguh!”

“Kau berjanji?”
“Ya! Putri ayah berjanji!”

----888----

“Hey! Kenapa kau selalu salah mengerjakannya? Seharusnya seperti ini, kenapa kau malah menggunakan rumus yang tidak jelas seperti itu?” Tegur Kyungsoo seraya menunjukkan cara penyelesaian soal matematika yang benar kepadaku.

“Jika aku sudah pintar mengerjakannya dan tidak menemukan kesalahan lagi, lalu apa gunanya kau berada di sini? Menyebalkan sekali!” Gerutuku kemudian memperhatikan buku yang disodorkannya ke hadapanku.


Yah, beginilah hidupku sekarang! Hampir setiap waktu selalu diisi dengan pelajaran. Aku benar-benar sudah sangat bosan dan merindukan kekasihku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menggunakannya untuk membidik gambar.


Setiap hari aku bertemu dengannya. Pria bermata bulat yang begitu ahli dalam setiap pelajaran. Dan ini ... sudah berjalan selama tiga bulan lebih. Perlahan aku mulai merasa nyaman, itu yang aku rasakan saat ini. Memang, butuh beberapa bulan untukku menyesuaikan diri dengan ini semua. Termasuk orang baru yang masuk dalam kehidupanku. Tapi sepertinya ... mulai ada yang tidak biasa antara aku dengannya. Setiap kali manik mata kami bertemu, itu membuat jantungku berpacu dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Laki-laki dengan Heart shaped lips itu selalu membiusku dengan senyuman terindahnya. Ya Tuhan ... ini benar-benar membuatku gila!


Suatu hari, entah apa yang terjadi antara aku dengannya. Tatapan mata kami saling mengunci satu sama lain. Begitu lama dan begitu lekat. Dia bahkan tidak terlihat sedikit pun ingin mengalihkan pandangannya dariku, begitu pun denganku. Ada sesuatu yang berbeda kali ini. Sekali lagi, jantungku terus berdetak dengan kencang. Tanpa ada jeda untuk memperlambat gerakannya meski pun sejenak. Perlahan ... wajah kami saling mendekat, hingga dua  pasang benda kenyal yang berlainan pemilik itu saling bersentuhan. Sebuah perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Rasanya manis. Lebih manis dari apa pun yang pernah aku cicipi di dunia ini.


Seduhan lembut kurasakan dari ujung bibirku. Ini terasa begitu menggelitik di perutku. Aku bahkan tidak sadar jika tangannya sudah beralih menangkup wajahku. Tidak ingin melepaskan tautan bibir kami, mungkin itu tujuannya. Tanpa aku pungkiri, aku menyukainya. Aku bahkan mencengkeram erat t-shirt yang sedang dikenakannya. Berusaha untuk tidak terlihat gugup, kaku atau sejenisnya. Menetralkan detak jantung yang sedang berpacu dengan cepat, itu yang aku usahakan sekarang. Baiklah ... ini adalah yang pertama, ciuman pertama yang baru aku rasakan selama tujuh belas tahun aku hidup di dunia ini. Dia orang pertama yang mendapatkannya. Dan satu-satunya yang membuat hatiku berdebar kencang seperti ini.


Tiba-tiba, sebuah deringan ponsel mengakhiri segalanya. Aku tertunduk malu, tentu saja. Bahkan warna pipiku perlahan memerah, terlihat seperti buah delima yang hendak mematang.


“Eun Ri-ya ....” suaranya lirih memanggilku.
“Eoh? Ada apa?”


Kyungsoo menggidikkan dagunya ke arah datangnya suara yang memecah keheningan beberapa saat yang lalu. Ah ... itu ponselku, aku bahkan tidak mengenali suara nada deringku sendiri karena perasaan gugup bercampur malu itu.


Beberapa menit kemudian aku menutup telepone-ku dan kembali pada tempat dudukku. Rasa canggung itu masih ada, tak ada satu pun dari kami yang membuka suara. Keheningan itu menyelimuti, menutup rapat masing-masing alat pengecap agar tidak menimbulkan kebisingan. Namun itu tidak bertahan lama, ketika seseorang selainku di ruangan ini mulai bersuara.


“Bisakah ... kau menjadi kekasihku?” Suara lembutnya kembali memecah keheningan.


Sekali lagi, jantungku berdetak dengan kencang. Aku menyukainya, aku tidak dapat memungkiri perasaanku ini. Tapi, entah apa yang membuatku tidak bisa menerimanya untuk sekarang. Begitu berat rasanya untuk sekedar menjawab iya. Aku hanya bisa diam tak bergeming sedikit pun. Dia menatapku, menunggu jawaban yang akan aku berikan untuknya.


Tidakkah kau juga menyukaiku? Tanyanya ketika aku terus diam tak menjawab apa pun. Aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Hati dan otakku benar-benar tidak sejalan. Aku bahkan tidak bisa menyuarakan apa yang sedang kurasakan. Otakku begitu sulit untuk mengiyakan apa kata hati.


Eun Ri-ya ... kenapa kau hanya diam saja dan tak menjawab apa pun? Apa kau tak menyukaiku? lirihnya dalam diamku.


Kugelengkan kepalaku cepat yang saat itu juga membuat wajahnya terlihat sedikit lega. Mungkin aku bisa menebak apa yang dirasakannya sekarang. Bahagia karena aku tidak membencinya? mungkin sejenis itu.


“Bisakah ... kau menungguku hingga ujian akhir selesai dan pengumuman kelulusan dikeluarkan? Aku akan menjawabnya ketika saat itu tiba, pintaku.


Sekilas sebuah senyuman indah mengembang pada wajah tampannya. Dia menganggukkan kepalanya. Dan sekali lagi, aku terbius olehnya.


==========


Tiga bulan telah berlalu dan pengumuman kelulusan sudah aku dapatkan. Seperti yang diharapkan, aku berhasil lulus dengan nilai yang bisa dikatakan sangat jauh dibandingkan dengan setengah tahun yang lalu. Menempati posisi dalam deretan sepuluh besar, itu adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.


Tentu saja, ini semua bisa aku dapatkan karena jasanya. Do Kyungsoo. Seseorang yang hingga saat ini masih mengisi hatiku dan tidak pernah tergantikan. Aku menyukainya dan aku sangat merindukannya. Sudah satu bulan lebih kita tidak saling bertatap muka, lebih tepatnya ketika dia sudah tidak lagi memberiku pelajaran tambahan. Dia tidak lagi datang ke rumahku semenjak saat itu. Dan aku pun sangat jarang pergi ke sekolah karena sudah tidak ada kegiatan.


Aku masih mengingat janji itu, sebuah jawaban yang akan aku berikan ketika kelulusan telah tiba. Tapi apa yang harus aku lakukan? Dia mungkin telah lupa jika pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya. Jadi untuk apa aku mengingatkannya akan hal itu jika pada kenyataannya dia sudah tidak lagi mengharapakanku?


Sementara menunggu wisuda dan pengumuman masuk universitas, aku hanya akan pergi keluar bersama belahan hidupku yang ayah kembalikan seminggu yang lalu. Aku berpikir jika rasa itu akan menghilang dengan seiringnya jarum jam yang melangkah maju. Atau setiap jepretan gambar yang memenuhi memori kameraku. Tapi aku salah, jujur saja rasa itu semakin dalam dan rinduku semakin membelenggu. Membuatku merasa sesak setiap otak ini memutar ulang kenangan bersamanya. Aku tidak cukup gantle untuk pergi menemuinya dan menyatakan perasaanku. Bukankah aku hanya bisa diam dan menikmati setiap detik rasa rindu itu perlahan membunuhku? Tentu saja, hanya itu yang bisa aku lakukan.


Hari itu aku pergi ke taman yang berada tak jauh dari rumahku. Taman tempat aku mengabadikan gambar-gambar lukisan Tuhan yang begitu menawan. Seperti biasa, lensa kameraku akan bekerja dengan sangat baik untuk menangkap gambar-gambar indah itu. Ini benar-benar sangat memuaskan. Tanganku kembali terangkat dan menempatkan benda kesayanganku itu kembali menutupi sebagian wajahku. Ujung jari telunjukku sudah bersiap untuk menekan tombol kecil yang berada di pojok kanan atas kameraku. Namun terhenti ketika bayangan seseorang tiba-tiba menghalangi objekku.


Laki-laki dengan poster tubuh yang tidak begitu tinggi itu, tiba-tiba tersenyum ke arahku yang membuat tanganku reflek melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti baru saja. `Cekrek` begitulah bunyi kameraku yang berhasil menangkap bayangan wajah tampannya dan mengisi satu tempat pada memori kameraku.


Woah ... nona, seharusnya kau katakan jika ingin menjadikanku model objek bidikanmu.” Cicitnya masih dalam posisi yang sama.


Tch ... Apa yang kau lakukan di sini? Kau membuatku kaget dengan kehadiranmu secara tiba-tiba. ujarku setelah menurunkan kameraku.

Aku merindukanmu.” Ungkapnya kemudian yang seakan membuat desiran darahku seketika berhenti saat itu juga.

Apa dia masih memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan sekarang? itulah pertanyaan yang melintas bebas dalam otakku.

Aku terdiam, tak bergeming sedikit pun untuk membalas ucapannya. Tentu saja, aku ingin mengatakan hal yang sama, seperti yang ia katakan kepadaku. Tapi, lagi-lagi hati dan pikiranku tidak sejalan.

Eunri-ya ... kau tidak lupa janjimu `kan? tanyanya kemudian berjalan mendekat ke arahku.

Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku waktu itu. Bersediakah kau menjadi kekasihku? tanyanya lagi seraya menggenggam tanganku.


Entah apa yang membuatku tidak bisa melafalkan kata iya.  Begitu berat dan terasa sangat sulit. Mungkin karena ini yang pertama bagiku. Dan aku belum terbiasa dengan ungkapan-ungkapan cinta seperti itu. Aku mencintainya dan tidak ingin kehilangannya untuk kedua kalinya, kupaksakan lidahku untuk berucap, tapi tetap gagal. Akhirnya kuanggukkan kepalaku pelan kemudian tersenyum kepadanya. Jika tidak bisa mengungkapnnya dengan ucapan, maka aku akan mengungkapkannya dengan perbuatan. Kalimat itulah yang terus terngiang dalam benakku. Dia membalasku dengan senyum yang selalu menghangatkan dan membuatku merasa nyaman. Sama seperti beberapa waktu yang lalu ketika dia terus melakukannya di depanku.


Perlahan dia menghapus jarak di antara kami. Tidak menyisakan ruang sedikit pun ketika tubuhnya telah mendekap tubuh kecilku. Memelukku begitu erat dan enggan untuk melepaskannya. Begitu pun denganku, menautkan kedua tanganku dengan membentuk huruf O di tubuhnya. Membiarkan rasa rindu yang aku pendam selama ini terlampiaskan.


Beberapa saat kemudian, dia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Beralih menatap wajahku lekat dan menangkupnya dengan kedua tangannya. Sekali lagi, kejadian itu terulang. Ini untuk kedua kalinya, rasa manis itu menyeruak dalam rongga mulutku. The second kiss I've ever tasted. My first love, my first kiss, I am Your’s! Do Kyungsoo.

END.

1 komentar: