Title : Study Hard
Writer : Candle Light
Story Idea : Lavuorenji
Rate : PG-13
Main Cast : Han Eun Ri (OC) | Do Kyungsoo
Genre : Fluff | School life | Romance
Length : Vignette | Oneshoot |
2.705 words
==============
***
Langit pagi
berwarna biru dengan balutan-balutan awan putih bersih seputih kapas yang
terlihat seakan mengambang di bawah atap bumi itu. Sepanjang jalan masih
terlihat bahwa tanah itu tidak menyerap air dengan sempurna. Karena masih terdapat genangan-genangan air yang
dapat memantulkan apa pun yang seakan menjadikannya
cermin.
Mawar merah
yang baru akan melebarkan kelopaknya terlihat begitu segar, indah dan anggun.
Dikelilingi oleh dua kupu-kupu berwarna biru muda dan kuning yang
saling berebut untuk menghisap madunya.
Cekrek ...
Suara
bidikan kamera itu sukses menangkap dua ekor kupu-kupu yang singgap tepat di
atas kelopak bunga mawar itu. Disertai
pemandangan langit yang sangat indah di dalam lensa bundar berwarna putih
mangkak.
“Woah ... gyeopta ....” Puji sang pemilik kamera
setelah membuka dan melihat hasil jepretannya. “Kkaja ... aku akan menunjukkan ini kepada semua orang.” Ucapnya
kemudian sebelum memasukkan kameranya ke dalam tasnya.
Gadis itu
berjalan dengan perasaan bahagianya. Menyusuri jalan setapak taman dengan
langkah kaki yang terlihat begitu ringan.
=====
Pada sebuah
papan pengumuman di sekolah besar itu, terlihat segerombolan murid sedang
berdesakan untuk dapat melihat hasil dari ujian yang mereka lakukan seminggu
yang lalu. Berbeda halnya dengan seorang gadis yang baru saja tiba di sekolah
ini. Dengan sebuah kamera yang masih setia dalam genggaman tangannya, dia malah
memotret kerumuan orang-orang itu. Mengabadikan moment itu menggunakan lensa
bundarnya. Tidak peduli dengan hasil
ujiannya, mungkin pernyataan itu yang lebih pantas baginya.
Gadis itu
... Han Eun Ri. Yah, dia adalah aku. Seorang siswa yang
tidak pintar dan hanya akan melakukan hal-hal yang aku suka. Tidak peduli
dengan apa yang akan orang-orang katakan tentangku. Aku hanya ingin menjadi
aku. Tidak ingin menjadi orang lain yang hanya bisa bersembunyi di balik
kepalsuan.
Kulihat
orang-orang yang sedari tadi memenuhi papan pengumuman itu berangsur sepi. Kini
giliranku, melihat seperti apa kejutan nilai yang akan aku dapatkan kali ini. ‘Berharap mendapat nilai yang tidak buruk’
tentu saja aku masih memiliki harapan itu. Dari seratus tujuh puluh lima siswa
yang duduk di kelas tiga senior high school, aku adalah satu-satunya siswa yang
menempati posisi terakhir pada papan pengumuman itu. Ini adalah kabar buruk. Tentu saja, untuk pertama kalinya aku
dinobatkan sebagai siswa terbodoh di sekolah ini. Benar-benar membuatku gila.
Bagaimana aku bisa menjelaskan itu kepada orang tuaku?
Dengan wajah
tertunduk malu kulangkahkan kakiku berjalan menjauhi papan pengumuman itu. Aku
berharap tidak akan bertemu hal yang lebih buruk lagi dari ini. Aku benar-benar
bisa gila memikirkannya.
Tanpa sadar
langkah kakiku terhenti ketika seseorang berdiri di hadapanku dan berusaha
untuk menghalangi jalanku. “Hei ... nona ... bagaimana bisa kau mendapatkan nilai
seburuk itu, eoh?” tanya laki-laki itu seraya menggidikkan dagunya ke arah
papan pengumuman. Ini menjengkelkan sekali ketika seseorang berusaha mencampuri
urusanku. Bukankah itu nilaiku? Lalu apa hubungannya dengan orang ini? Aku tak
menjawabnya dan malah melempar tatapan tajamku padanya.
Laki-laki
itu sedikit memiringkan kepalanya, “Apa kau bahkan tidak pernah belajar
walau pun hanya seperempat menit?” tanya
laki-laki itu ingin tahu.
Kulihat tag
nama yang terpasang pada dada bagian kanannya. “Do Kyungsoo” Sebutku dalam suaraku yang terdengar seakan
berbisik.
“Ya, itu
namaku.” Laki-laki tadi menegaskan.
Ya Tuhan ...
apa dia bahkan memiliki pendengaran infrasonik
yang berada di bawah frekuensi ’20 Hz’?
Ajaib sekali. “Setidaknya itu nilaiku, apa kau pantas ikut campur?” jawabku
sinis kemudian berlalu dari hadapannya.
Baru
selangkah aku melaluinya, kurasakan ada sesuatu mengait pada krah bajuku di
bagian belakang. Tentu saja tangan itu tangannya. Entahlah apa yang
diinginkannya dariku, aku bahkan tak mengenalnya sama sekali.
“Hei! Apa
yang sedang kau coba lakukan?” bentakku kasar.
“Menurut
saja nona Han Eun Ri, kau akan tahu setelah ini.” jawab laki-laki dengan nama
Do Kyungsoo itu.
Han Eun Ri? Yah, dia baru saja menyebut
namaku. Dari mana dia tahu? Aku bahkan tidak menggunakan name tag milikku
seperti yang ia gunakan. Dan ini ... kenapa dia berani sekali menggenggam
tanganku seperti ini? Kemana dia akan membawaku pergi? Aku merasa ada hawa
tidak baik setelah ini. Kejutan apalagi yang akan aku terima sekarang? Apa
belum cukup papan nilai itu membuat moodku begitu buruk di pagi hari? Menyebalkan
sekali.
Laki-laki
itu, maksudku Kyungsoo. Apa yang akan dilakukannya membawaku ke dalam
perpustakaan? Apa dia akan menjadi guru privatku? Yang benar saja, oh Tuhan
....
“Baiklah ...
kita mulai dari matematika.” Ucapnya ketika baru saja memaksaku duduk pada
salah satu bangku di perpustakaan itu. Apa ini? Apa dia benar-benar akan
menjadi guru privatku? Atas dasar apa dia akan mengajariku? Aku bahkan tidak
memintanya dan aku tidak punya niatan sedikit pun untuk belajar padanya.
“Hei! Apa aku
memintamu untuk mengajariku?” Tanyaku kemudian beranjak dari
tempat dudukku.
“Diamlah,
nona! Kau sedang berada di perpustakaan sekarang! Atau kau ingin petugas itu
memarahimu dan mengusir kita dari sini?”
“I don’t care! I don’t know you, and you know
... mathematics is not my style!”
“Aku tahu
kau tidak suka matematika, maka dari itu aku akan membuatmu menyukai
matematika.”
“Whatever”
Kulangkahkan
kakiku meninggalkan meja itu, entah apa yang akan dilakukannya setelah ini
padaku. Perasaanku benar-benar buruk sekarang, setelah bertemu dengannya.
----888----
“Eun, kau
dari mana?” Itu suara ayah yang telah menungguku di depan pintu.
“Ayah tidak
melihat pakaianku? Aku dari sekolah ayah. Putrimu ini sangat rajin!” Jawabku kemudian berlalu melewati ayah yang
berdiri di depan pintu.
“Apa dengan
menduduki urutan terakhir kau masih bisa menyebut dirimu siswa rajin?”
Ucapan ayah
baru saja terasa seperti cambuk yang membuatku mau tidak mau harus membalikkan
tubuhku dan kembali menghadap ayah. Ayah tak mau kalah dengan mengeluarkan
selembar kertas putih yang berada di tangannya. Oh God! It’s so bad! Apa yang
akan terjadi setelah ini? lagi-lagi pertanyaan itu yang bersemayam dalam
otakku. Aku benar-benar merasakan ada hawa buruk mengelilingiku sekarang.
“Aku akan
belajar lebih keras, ayah!”
“Tentu,
putri ayah harus belajar lebih keras dan membuat ayah bangga!”
Aku pun
menganggukkan kepalaku dan kembali membalikkan tubuhku, hendak meneruskan
langkah kakiku yang sempat terhenti.
“Eun Ri-ya ... tunggu!”
Suara ayah
lagi-lagi menghentikan langkah kakiku. Mau tidak mau aku harus kembali
memposisikan diriku menghadap ayah.
“Ya, ayah?
Ada apa?”
“Boleh ayah
pinjam kameramu?”
Deg
Hawa buruk
itu benar-benar terjadi. Ayah tentu tak ‘kan meminjamnya sehari dua hari bukan?
Ini akan lama, mungkin ... hingga ujianku selesai. Atau akan menjadi selamanya
jika nilaiku tidak juga membaik.
“Tapi ayah
....”
“Ayah hanya
meminjamnya sebentar, sementara kau fokus dengan sekolahmu dan ujian di
depanmu, biarkan ayah menyimpankannya sementara untukmu, oke?”
“Baiklah ....”
Jawabku penuh dengan keputusasaan.
Aku pun
berjalan mendekati ayah dan menyerahkan belahan hidupku kepadanya. Yah, kamera
itu ... belahan hidupku. Aku bahkan tidak menyukai apa pun selain memotret.
Yah, memotret! Mengabadikan setiap hal yang aku temui. Aku sangat menyukai itu.
Tapi kali ini? kekasihku satu-satunya harus rela aku lepaskan untuk sementara
waktu. Aku tahu ini demi kebaikanku, tapi hatiku merasa sakit sekarang. Lebih
sakit dari pada nilai buruk yang aku dapatkan tadi pagi.
“Eun Ri-ya ....” Ayah memanggilku lagi.
“Apalagi
ayah?” Keluhku karena masih kecewa dengan keputusan yang ayah ambil.
“Ada
seseorang yang menunggumu!” Tutur ayah seraya menggidikkan dagunya ke arah sofa
di ruang tamu.
Kualihkan pandanganku
mengikuti arah pandang ayah. “Oh God!
What it is?” pekikku begitu keras. “Jangan berkata ayah memintanya untuk
menjadi guru privatku. I am going crazy,
dad!”
“Dia akan
mulai mengajarimu hari ini, tidak ada penolakan, tidak ada bantahan, tidak ada
keluhan! Atau kau ingin benda ini tidak dapat kau lihat selamanya?”
Ayah
mengancamku dengan belahan jiwaku. Benar! Laki-laki bermata bulat itu adalah
orang suruhan ayah. Lebih buruk lagi karena dia berada dalam satu sekolah
denganku. Itu artinya ayah akan memonitoring
semua hal yang aku lakukan setelah ini. benar-benar menjengkelkan!
“Baiklah ...
kau bisa naik sekarang. Bersihkan dirimu kemudian turun. Setelah itu dia akan
mulai mengajarimu selama dua jam penuh tanpa jeda, atau alasan apa pun yang akan
kau keluarkan karena merasa sangat bosan dengan tulisan-tulisan yang menurutmu
menyebalkan, oke?”
“Di sini? Aku
harus belajar di sini?” tanyaku.
“Ya!”
“Sekali ini
saja ayah, turuti keinginanku! Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan suara
bising dan sejenisnya. Atau hal apa pun yang mengganggu penglihatanku, jadi ...
biarkan aku belajar di kamar saja! Aku tak ‘kan main-main lagi, sungguh!”
“Kau
berjanji?”
“Ya! Putri
ayah berjanji!”
----888----
“Hey! Kenapa
kau selalu salah mengerjakannya? Seharusnya seperti ini, kenapa kau malah
menggunakan rumus yang tidak jelas seperti itu?” Tegur Kyungsoo seraya
menunjukkan cara penyelesaian soal matematika yang benar kepadaku.
“Jika aku
sudah pintar mengerjakannya dan tidak menemukan kesalahan lagi, lalu apa gunanya
kau berada di sini? Menyebalkan sekali!” Gerutuku kemudian memperhatikan buku
yang disodorkannya ke hadapanku.
Yah, beginilah hidupku sekarang! Hampir setiap
waktu selalu diisi dengan pelajaran. Aku benar-benar sudah sangat bosan dan
merindukan kekasihku. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku
menggunakannya untuk membidik gambar.
Setiap hari
aku bertemu dengannya. Pria bermata bulat yang begitu ahli dalam setiap
pelajaran. Dan ini ... sudah berjalan selama tiga bulan lebih. Perlahan aku mulai
merasa nyaman, itu yang aku rasakan saat ini. Memang, butuh beberapa bulan
untukku menyesuaikan diri dengan ini semua. Termasuk orang baru yang masuk
dalam kehidupanku. Tapi sepertinya ... mulai ada yang tidak biasa antara aku
dengannya. Setiap kali manik mata kami bertemu, itu membuat jantungku berpacu
dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Laki-laki dengan Heart shaped lips itu selalu membiusku dengan senyuman terindahnya.
Ya Tuhan ... ini benar-benar membuatku gila!
Suatu hari,
entah apa yang terjadi antara aku dengannya. Tatapan mata kami saling mengunci
satu sama lain. Begitu lama dan begitu lekat. Dia bahkan tidak terlihat sedikit
pun ingin mengalihkan pandangannya dariku, begitu pun denganku. Ada sesuatu
yang berbeda kali ini. Sekali lagi, jantungku terus berdetak dengan kencang.
Tanpa ada jeda untuk memperlambat gerakannya meski pun sejenak. Perlahan ...
wajah kami saling mendekat, hingga dua
pasang benda kenyal yang berlainan pemilik itu saling bersentuhan.
Sebuah perasaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Rasanya manis. Lebih
manis dari apa pun yang pernah aku cicipi di dunia ini.
Seduhan
lembut kurasakan dari ujung bibirku. Ini terasa begitu menggelitik di perutku.
Aku bahkan tidak sadar jika tangannya sudah beralih menangkup wajahku. Tidak
ingin melepaskan tautan bibir kami, mungkin itu tujuannya. Tanpa aku pungkiri,
aku menyukainya. Aku bahkan mencengkeram erat t-shirt yang sedang dikenakannya. Berusaha untuk tidak terlihat
gugup, kaku atau sejenisnya. Menetralkan detak jantung yang sedang berpacu
dengan cepat, itu yang aku usahakan sekarang. Baiklah ... ini adalah yang
pertama, ciuman pertama yang baru aku rasakan selama tujuh belas tahun aku
hidup di dunia ini. Dia orang pertama yang mendapatkannya. Dan satu-satunya
yang membuat hatiku berdebar kencang seperti ini.
Tiba-tiba,
sebuah deringan ponsel mengakhiri segalanya. Aku tertunduk malu, tentu saja.
Bahkan warna pipiku perlahan memerah, terlihat seperti buah delima yang hendak
mematang.
“Eun Ri-ya ....” suaranya lirih memanggilku.
“Eoh? Ada
apa?”
Kyungsoo
menggidikkan dagunya ke arah datangnya suara yang memecah keheningan beberapa
saat yang lalu. Ah ... itu ponselku, aku bahkan tidak mengenali suara nada
deringku sendiri karena perasaan gugup bercampur malu itu.
Beberapa
menit kemudian aku menutup telepone-ku dan kembali pada tempat dudukku. Rasa canggung itu masih
ada, tak ada satu pun dari kami yang membuka suara. Keheningan itu menyelimuti,
menutup rapat masing-masing alat pengecap agar tidak menimbulkan kebisingan.
Namun itu tidak bertahan lama, ketika seseorang selainku di ruangan ini mulai
bersuara.
“Bisakah ...
kau menjadi kekasihku?” Suara lembutnya kembali memecah keheningan.
Sekali lagi,
jantungku berdetak dengan kencang. Aku menyukainya, aku tidak dapat memungkiri
perasaanku ini. Tapi, entah apa yang membuatku tidak bisa menerimanya untuk
sekarang. Begitu berat rasanya untuk sekedar menjawab iya. Aku hanya bisa diam tak bergeming
sedikit pun. Dia menatapku, menunggu jawaban yang akan aku berikan untuknya.
“Tidakkah kau juga menyukaiku?” Tanyanya ketika aku terus
diam tak menjawab apa pun. Aku masih tidak tahu
apa yang harus aku lakukan saat ini. Hati dan otakku benar-benar tidak sejalan.
Aku bahkan tidak bisa menyuarakan apa yang sedang kurasakan. Otakku begitu sulit untuk
mengiyakan apa kata hati.
“Eun Ri-ya
... kenapa kau hanya diam saja dan tak menjawab apa pun? Apa kau tak
menyukaiku?” lirihnya dalam diamku.
Kugelengkan
kepalaku cepat yang saat itu juga membuat wajahnya terlihat sedikit lega.
Mungkin aku bisa menebak apa yang dirasakannya sekarang. Bahagia karena aku tidak
membencinya? mungkin
sejenis itu.
“Bisakah ...
kau menungguku hingga ujian akhir selesai dan pengumuman kelulusan dikeluarkan?
Aku akan menjawabnya ketika saat itu tiba,” pintaku.
Sekilas
sebuah senyuman indah mengembang pada wajah tampannya. Dia menganggukkan
kepalanya. Dan sekali lagi, aku terbius olehnya.
==========
Tiga bulan
telah berlalu dan pengumuman kelulusan sudah aku dapatkan. Seperti yang
diharapkan, aku berhasil lulus dengan nilai yang bisa dikatakan sangat jauh
dibandingkan dengan setengah tahun yang lalu. Menempati posisi dalam deretan
sepuluh besar, itu adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.
Tentu saja,
ini semua bisa aku dapatkan karena jasanya. Do Kyungsoo. Seseorang yang hingga
saat ini masih mengisi hatiku dan tidak pernah tergantikan. Aku menyukainya dan
aku sangat merindukannya. Sudah satu bulan lebih kita tidak saling
bertatap muka, lebih
tepatnya ketika dia sudah tidak lagi memberiku pelajaran tambahan. Dia tidak
lagi datang ke rumahku semenjak saat itu. Dan aku pun sangat jarang pergi ke
sekolah karena sudah tidak ada kegiatan.
Aku masih
mengingat janji itu, sebuah jawaban yang akan aku berikan ketika kelulusan
telah tiba. Tapi apa yang harus aku lakukan? Dia mungkin telah lupa jika pernah
memintaku untuk menjadi kekasihnya. Jadi untuk apa aku mengingatkannya akan hal
itu jika pada kenyataannya dia sudah tidak lagi mengharapakanku?
Sementara
menunggu wisuda dan pengumuman masuk universitas, aku hanya akan pergi keluar
bersama belahan hidupku yang ayah kembalikan seminggu yang lalu. Aku berpikir
jika rasa itu akan menghilang dengan seiringnya jarum jam yang melangkah maju.
Atau setiap jepretan gambar yang memenuhi memori kameraku. Tapi aku salah, jujur
saja rasa itu semakin dalam dan rinduku semakin membelenggu. Membuatku merasa
sesak setiap otak ini
memutar ulang kenangan bersamanya.
Aku tidak cukup gantle untuk pergi
menemuinya dan menyatakan perasaanku. Bukankah aku hanya bisa diam dan
menikmati setiap detik rasa rindu itu perlahan membunuhku? Tentu saja, hanya
itu yang bisa aku lakukan.
Hari itu aku
pergi ke taman yang berada tak jauh dari rumahku. Taman tempat aku mengabadikan
gambar-gambar lukisan Tuhan yang begitu menawan. Seperti biasa, lensa kameraku
akan bekerja dengan sangat baik untuk menangkap gambar-gambar indah itu. Ini
benar-benar sangat memuaskan. Tanganku kembali terangkat dan menempatkan benda
kesayanganku itu kembali menutupi sebagian wajahku. Ujung jari telunjukku sudah
bersiap untuk menekan tombol kecil yang berada di pojok kanan atas kameraku. Namun
terhenti ketika bayangan seseorang tiba-tiba menghalangi objekku.
Laki-laki
dengan poster tubuh yang tidak begitu tinggi itu, tiba-tiba tersenyum ke arahku
yang membuat tanganku reflek melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti baru
saja. `Cekrek` begitulah bunyi
kameraku yang berhasil menangkap bayangan wajah tampannya dan mengisi satu
tempat pada memori kameraku.
“Woah ... nona, seharusnya kau katakan jika
ingin menjadikanku model objek bidikanmu.” Cicitnya masih dalam posisi yang
sama.
“Tch ... Apa yang kau lakukan di sini? Kau
membuatku kaget dengan kehadiranmu secara tiba-tiba.” ujarku setelah menurunkan kameraku.
“Aku merindukanmu.” Ungkapnya kemudian yang seakan
membuat desiran darahku seketika berhenti saat itu juga.
Apa dia masih memiliki perasaan yang sama
seperti yang aku rasakan sekarang?
itulah pertanyaan yang melintas bebas dalam otakku.
Aku terdiam,
tak bergeming sedikit pun untuk membalas ucapannya. Tentu saja, aku ingin
mengatakan hal yang sama, seperti yang ia katakan kepadaku. Tapi, lagi-lagi
hati dan pikiranku tidak sejalan.
“Eunri-ya
... kau tidak lupa janjimu `kan?” tanyanya kemudian berjalan
mendekat ke arahku.
“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku waktu
itu. Bersediakah kau menjadi kekasihku?” tanyanya lagi seraya menggenggam tanganku.
Entah apa
yang membuatku tidak bisa melafalkan kata iya. Begitu berat dan terasa sangat
sulit. Mungkin karena ini yang pertama bagiku. Dan aku belum terbiasa dengan
ungkapan-ungkapan cinta seperti itu. Aku mencintainya dan tidak ingin
kehilangannya untuk kedua kalinya, kupaksakan lidahku untuk berucap, tapi tetap
gagal. Akhirnya kuanggukkan
kepalaku pelan kemudian tersenyum kepadanya. Jika tidak bisa
mengungkapnnya dengan ucapan, maka aku akan mengungkapkannya dengan perbuatan. Kalimat itulah yang
terus terngiang dalam benakku. Dia
membalasku dengan senyum yang selalu menghangatkan dan membuatku merasa nyaman.
Sama seperti beberapa waktu yang lalu ketika dia terus melakukannya di depanku.
Perlahan dia
menghapus jarak di antara kami. Tidak menyisakan ruang sedikit pun ketika
tubuhnya telah mendekap tubuh kecilku. Memelukku begitu erat dan enggan untuk
melepaskannya. Begitu pun denganku, menautkan kedua tanganku dengan membentuk
huruf O di tubuhnya. Membiarkan rasa rindu yang aku pendam selama ini
terlampiaskan.
Beberapa
saat kemudian, dia melepaskan pelukannya dari tubuhku. Beralih menatap wajahku
lekat dan menangkupnya dengan kedua tangannya. Sekali lagi, kejadian itu
terulang. Ini untuk kedua kalinya, rasa manis itu menyeruak dalam rongga
mulutku. The second kiss I've ever tasted. My first love, my first kiss, I am Your’s! Do Kyungsoo.
END.

wah ... keren!
BalasHapus