Jumat, 06 Maret 2015

INSOMNIA [2Soo Story]


Title : INSOMNIA
Writer  : Candle Light
Rate : PG-15
Main Cast : Song Ji-Soo (OC) | Do Kyung Soo
Other Cast : Kim Hyori (OC) | EXO Member | Song Joongki |
Genre : Fluff | Romance |
Duration :
Release Date :
Length : Oneshoot | Series



====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu,
서울특별시 South Korea
January 17, 2015.
23.00 KST

Di tengah dinginnya udara malam Seoul, seorang gadis dengan hanya mengenakan t-shirt berwarna biru dan celana jeans hitam keluar dari kamar apartemennya. Berjalan menyusuri lorong lantai dua belas apartement Olimpic Park hingga langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu yang berada di ujung lorong lantai itu. Gadis itu lalu mengetikkan beberapa angka pada papan pasword yang terletak pada gagang pintu apartement.

Ceklek ....

Pintu itu terbuka dan gadis itu pun masuk ke dalamnya. Berjalan ke arah kamar tidur satu-satunya di apartement itu, tanpa lupa mengganti alas kakinya. Tangannya memutar knop pintu itu pelan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Menuju ranjang berukuran king size dengan selimut putih tebal yang berpenghuni.

“Kyungsoo-ya ... irona ... jebal irona ....” pinta gadis itu kepada seorang pria yang baru terlelap sekitar sejam yang lalu dengan mengguncang-guncangkan tubuh pria itu pelan.

Pria yang dipanggil Kyungsoo itu perlahan membuka matanya dan mendudukkan dirinya dengan selimut putih yang masih menutupi sebagian tubuhnya. Mengucek pelan kelopak mata kanannya dan berusaha menyatukan kembali nyawa dan raganya.

“Jisoo-ya ... wae?” tanya pria itu lalu melirik jam weker yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya.
“Aku lapar ....”

Kyungsoo mengerutkan keningnya.

“Aku bahkan baru saja selesai memakan makanan pesan antar yang aku pesan. Tapi aku masih lapar. Aku sudah berusaha untuk memesannya lagi, tapi tempat itu tidak mau mengantarkannya dengan alasan ini sudah malam. Aku takut untuk pergi keluar dan mencari makanan di luar sana,” ujar gadis yang dipanggil Jisoo itu panjang lebar.
“Jelas saja cheonsa … ini sudah jam sebelas malam. Mereka juga butuh istirahat, tidak hanya akan terus bekerja sepanjang hari.” Jelas Kyungsoo mengusap pelan puncak kepala gadis yang berada di depannya itu.

Dengan wajah memelas, Jisoo berusaha untuk meminta kekasihnya itu memasakkan beberapa makanan untuknya. Kyungsoo kemudian menyingkap selimut yang masih menutupi separuh tubuhnya dan turun dari ranjang tempat tidurnya.

“Baiklah ... ayo ....” ajak Kyungsoo seraya menggandeng tangan Jisoo berjalan menuju dapur. Dibukanya lemari es yang menyimpan beberapa bahan mentah untuk dimasak lalu mengeluarkannya dari dalam sana.

Kyungsoo berencana untuk memasakkan Jisoo omurise dengan hanya berisi sayuran dan daging sapi cincang yang sudah siap saji. Karena hanya makanan itu yang bisa dimasaknya dengan cepat.

Kyungsoo meminta Jisoo untuk duduk dan menunggunya di kursi meja makan. Setengah jam kemudian Kyungsoo telah selesai memasaknya dan menghidangkannya di atas piring, lalu meletakkannya tepat di hadapan Jisoo. Tidak lupa dengan segelas susu sapi putih kesukaan Jisoo.

Kyungsoo kemudian mendudukkan dirinya pada kursi yang berhadapan dengan Jisoo, menemani gadis itu menghabiskan makanannya walau pun dia tidak ikut makan bersamanya. Diperhatikannya wajah Jisoo lekat-lekat. Tergores sebuah senyuman kecil di wajah Kyungsoo saat melihat bagaimana gadis di depannya itu begitu lahap menghabiskan makanannya. Yah, Kyungsoo memang menyukai seorang gadis yang terlihat senang ketika sedang makan. Salah satunya adalah dengan lahap menghabiskan makanannya.

Setelah selesai memakan semuanya makanannya dan menghabiskan segelas susu putihnya, Jisoo beranjak dari tempat duduknya. Berniat untuk membersihkan peralatan makannya namun tangan Kyungsoo menghentikannya dan memintanya hanya duduk manis di tempatnya. Jisoo pun menurut lalu kembali duduk. Kyungsoo tak berniat untuk membersihkan semuanya sekarang. Dia hanya menyingkirkannya sedikit jauh dari hadapan mereka.

Kyungsoo melipat kedua tangannya di depan dada dengan menandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Sedangkan Jisoo menangkup wajahnya dengan kedua tangannya yang iya letakkan di atas meja. Sesekali melempar senyuman ke arah Kyungsoo yang terus memperhatikannya. Tak ada yang mereka lakukan selain hanya berdiam diri dan saling menatap wajah satu sama lain. Kyungsoo menatap wajah Jisoo intens, meneliti setiap lekuk wajah Jisoo yang menggemaskan menurutnya.

Lebih dari sejam mereka berdua hanya mematung seperti itu. Tanpa suara dan tanpa perubahan apa pun. Jisoo yang biasanya sangat berisik dan tidak bisa diam, sekarang seakan tersihir oleh tatapan mata Kyungsoo yang melumpuhkannya. Tak ada satu pun dari keduanya yang berusaha untuk membuka percakapan dan hanya membiarkan diri mereka terus seperti itu.

“Apa kau tidak ingin pulang?” tanya Kyungsoo mengawali pembicaraan.

Jisoo menggelengkan kepalanya cepat lalu kembali pada posisinya semula.

“Wae? Apa kau tidak mengantuk? Ini sudah sangat larut,” saran Kyungsoo padanya.
“Aku tidak merasa mengantuk sedikit pun. Jadi bisakah aku hanya tinggal di sini hingga besok?” tanya Jisoo.

Mendengar itu, Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya.

“Jika kau sudah mengantuk, kau bisa tidur lagi. Aku hanya akan di sini dan tak melakukan apa pun. Maaf sudah membuatmu terbangun,” ungkap Jisoo kemudian.
“Apa kau tidak bisa tidur?” tanya Kyungsoo yang dibalas anggukan pelan oleh Jisoo.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Tidakkah kau ingin bercerita kepadaku?” tanya Kyungsoo lagi yang dibalas gelengan cepat kepala Jisoo.
Kyungsoo tersenyum sejenak, “Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu aneh hari ini? Tidak biasanya kau setenang ini,” tanya Kyungsoo yang masih tak mendapat jawaban sedikit pun dari gadis yang berada di depannya itu.
“Hei!! Jangan memasang wajah seperti itu, apa kau lupa jika ini sudah malam? Aku bisa menghabisimu tanpa ampun,” ujar Kyungsoo merasa sangat gemas karena Jisoo menggembungkan kedua pipinya dan menatapnya dengan tatapan teduh.

Mendengar kata-kata Kyungsoo baru saja, Jisoo dengan sigap menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya cepat. Melihat itu Kyungsoo terkekeh geli lalu memindahkan posisinya yang semula bersandar, menjadi meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan masih melipatnya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini, eoh? Aku sudah mulai mengantuk,” terang Kyungsoo.

Jisoo terdiam tak menjawab pertanyaan Kyungsoo. Dia masih sibuk memandangi wajah Kyungsoo yang berada tepat di hadapannya sekarang. Kemudian mengarahkan jari telunjukkan menunjuk setiap bagian pada wajah Kyungsoo. Mulai berbicara panjang lebar dan berakhir dengan menggemaskan.

“Woah ... betapa tampannya pangeranku. Lihatlah semua lukisan Tuhan pada wajahnya, begitu sempurna. Bentuk wajah yang sedemikian rupa dengan alis yang indah, mata yang lebar, hidung yang mancung dan ....” perkataannya terhenti tepat ketika jari telunjuknya menyentuh bibir Kyungsoo. “Apa kau menggunakan lip ice di malam hari? Kenapa bibirmu terasa lembab dan ... warnanya sedikit merah?” tanya Jisoo dengan polosnya seraya menggosok pelan jari telunjuk dengan ibu jarinya. Merasakan sesuatu yang sedikit lembab pada jari-jarinya.

Mendengar itu Kyungsoo membelalakkan matanya, “Hei!! Apa kau pernah melihatku memakai hal semacam itu? Menjijikkan sekali,” ujar Kyungsoo yang hanya dibalas senyuman dan tatapan polos pada wajah Jisoo.
“Tunggu ... bukankah bibir ini berbentuk hati? Bagaimana bisa? Apa kau melakukan operasi plastik sebelum bertemu denganku dan mengenalku?” tanya Jisoo lagi yang seketika mendapatkan pukulan gratis dari Kyungsoo yang tepat mengenai kepalanya.
“Apha ... tch ... menyebalkan sekali. Bukankah aku hanya bercanda?” rengek Jisoo dengan memegangi puncak kepalanya.
“Jika kau masih mengatakan hal yang tidak masuk akal, aku akan memukulmu lagi dengan ujung sendok ini, kau mengerti?” ancam Kyungsoo yang kemudian dibalas anggukan cepat oleh Jisoo.

Kyungsoo yang semula sedikit mengantuk menjadi melupakan tidurnya, karena ulah lucu dan menggemaskan Jisoo. Mereka terus bercanda seperti itu sepanjang malam. Membuat sebuah candaan yang membuat keduanya tertawa lepas. Dan Kyungsoo akan sangat suka jika membuat kekasihnya itu sedikit kesal karena perlakuannya. Sebuah candaan yang selalu berakhir dengan omelan panjang lebar dari Jisoo, Kyungsoo begitu menyukainya. Tak ada satu pun dari keduanya yang mengistirahatkan tubuh mereka hingga mentari pagi menembus kaca jendela apartement Kyungsoo.

“Woah ... lihatlah ... kau benar-benar membuatku tidak tidur semalam suntuk,” keluh Kyungsoo.
“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur lebih dulu? Kau sendiri yang ingin menemaniku bukan?” tanya Jisoo.
“Baiklah ... karena ini adalah hari minggu, maka aku hanya akan tidur setelah ini dan kau pulanglah.”

Jisoo menggelengkan kepalanya,

“Hei!!”
“Karena ini hari minggu, aku ingin pergi berkencan denganmu. Bukankah kita akan selalu pergi berkencan setiap hari minggu?” tanya Jisoo.
Kyungsoo mendesah pelan, “Cheonsa ... aku benar-benar sangat mengantuk. Kau tahu kan jika semalam aku tidak tidur sama sekali?”

Lagi-lagi Jisoo memasang wajah memelasnya dengan tatapan teduh yang hampir tidak pernah gagal untuk merayu Kyungsoo.

“Ash … baiklah .... kita akan berkencan,” Kyungsoo menggantung ucapannya, melihat ekspresi Jisoo yang begitu senang. “Seharian penuh di apartement.”
“Mwoya ....” desah Jisoo kecewa sedang Kyungsoo hanya terkekeh geli melihatnya seperti itu.
“Aku benar-benar mengantuk dan tidak bisa menuruti permintaanmu sekarang, jadi tunggulah hingga aku terbangun nanti, oke? Aku akan tidur sebentar.” Jelas Kyungsoo yang dijawab anggukan kepala Jisoo.
“Apa kau ingin makan lagi? Aku akan membuatkannya sebelum aku tidur,” tanya Kyungsoo tapi Jisoo menggelengkan kepalanya.
“Baiklah ....” Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang terpasang di ruangan itu. “Biarkan aku tidur tiga jam saja, nanti setelah pukul sepuluh baru kita akan pergi kemana pun yang kau inginkan. Kau setuju?” tanya Kyungsoo dan untuk kesekian kalinya Jisoo mengangguk.

Kyungsoo mencubit gemas kedua pipi Jisoo sebelum beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar tidurnya. Jisoo masih terdiam di sana, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruang tengah apartement Kyungsoo. Merebahkan dirinya di atas sofa depan televisi lalu menyalakannya. Seperti biasa, ketika dia sudah mulai bosan dia akan terus memindah-mindahkan chanel televisi tanpa henti.

Jisoo terus melirik jam dinging yang terpasang tepat di atas televisi. Baru satu jam sejak Kyungsoo meninggalkannya tadi. Namun dia sudah sangat tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi. Jisoo lalu beranjak dari tidurnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Dilihatnya pria itu masih tertidur nyenyak di atas ranjangnya. Dia berjalan mendekati ranjang Kyungsoo lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang yang ditempati Kyungsoo. Dia berencana untuk membangunkannya, tapi melihat wajah damai Kyungsoo, dia mengurungkan niatnya.

Tanpa sadar dia merebahkan dirinya tepat di samping Kyungsoo. Namun sudah lebih dari sejam dia tak juga dapat memejamkan matanya. Sebenarnya dia sudah sangat lelah dan ingin ikut tidur bersama Kyungsoo. Namun matanya tak juga terpejam walau pun dia telah berusaha untuk menidurkan dirinya. Entah kenapa walau pun sudah tiga hari ini dia tidak tidur sama sekali, matanya tidak juga merasakan ngantuk. Hanya tubuhnya yang merasakan lelah tidak dengan kedua matanya.

“Kyungsoo-ya ....” panggilnya ketika Kyungsoo masih sibuk mengarungi alam mimpinya.
“Kyungsoo-ssi ....” panggilnya lagi tak lama kemudian, namun lelaki di sampingnya itu tak juga membuka matanya. Sepertinya dia benar-benar sangat mengantuk karena semalam suntuk terus terjaga.

Hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang Kyungsoo tak juga membuka matanya. Jisoo benar-benar sudah sangat bosan. Dia ingin membangunkan Kyungsoo tapi dia juga tidak tega. Akhirnya Jisoo pun memutuskan untuk pergi ke rumah Hyori dan membatalkan rencana kencannya.

Dia menuliskan sebuah pesan pada note yang dia tempelkan di depan kaca rias Kyungsoo sebelum meninggalkan apartement itu. “Aku rasa kau sangat mengantuk karena ulahku semalam, jadi aku putuskan untuk membatalkan kencan kita. Aku akan pergi ke rumah Hyori dan mengunjungi ibuku. Kau tak perlu mencariku meski kau sangat merindukanku, arraseo?” tulis Jisoo pada note itu.

SKIP

Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu,
서울특별시 South Korea
January 18, 2015.
18.00 KST


Jisoo kembali ke apartement Kyungsoo setelah pulang dari mengunjungi ibunya dan Hyori. Dia baru saja selesai mengganti sandalnya dengan sandal ruangan di apartemen Kyungsoo. Jisoo melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement itu. Dilihatnya sang kekasih sedang sibuk dengan beberapa file yang berada di atas meja kerjanya. Jisoo mengerutkan keningnya dan semakin mendekati keberadaan Kyungsoo.

“Tch ... kau bahkan tidak berniat menyapaku atau pun sekedar melihat kedatanganku? Menyebalkan sekali,” ucapnya lalu kembali meninggalkan Kyungsoo dan menuju sofa ruang tengah.

Mendengar perkataan Jisoo baru saja, Kyungsoo hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Kyungsoo kembali fokus pada tumpukan-tumpukan kertas yang berada di depannya.

Melihat Kyungsoo yang begitu mengacuhkannya, Jisoo memperkeras volume televisi yang sedang ditontonnya.

“Hei!! Song Jisoo! Bisakah kau sedikit mengecilkan suaranya? Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dengan itu,” teriak Kyungsoo dari tempatnya berada.

Jisoo kemudian mengecilkan suaranya dan kembali menontonnya dengan tenang. Yah, gadis itu sengaja melakukan hal tersebut. Karena sedari tadi sejak kedatangannya kemari, Kyungsoo belum mengucapkan sepatah kata pun padanya. Memang dasar gadis aneh, bagaimana bisa dia begitu kekanak-kanakan pada umurnya yang sudah mencapai dua puluh satu tahun?

-o-

Hingga jam sepuluh malam Kyungsoo tak juga menyudahi pekerjaannya. Dia terus saja berkutat dengan laptop dan seluruh kertas yang berada di depannya. Dan itu benar-benar membuat Jisoo sangat kesal.

“Dasar mata bulat!! Bagaimana dia bisa mengabaikanku seperti ini? Menyebalkan sekali,” gerutunya kemudian beranjak dari tempatnya dan mematikan televisinya.

Jisoo mendekati meja kerja Kyungsoo, menutup laptop yang berada di depan Kyungsoo tiba-tiba.

“Hei!! Apa yang kau lakukan?” bentak Kyungsoo mendapati perlakuan Jisoo seperti itu.
“Apa kau tidak akan tidur? Ini sudah malam,” ucap Jisoo.

Kyungsoo berdengus kesal kemudian merapikan semua pekerjaannya. “Arraseo!” ucap Kyungsoo.

Jisoo masih berdiri di depan Kyungsoo dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Memperhatikan pria yang sedang sibuk membereskan semua pekerjaannya itu.

“Apa dia bahkan tidak berniat untuk menyapaku walau pun hanya sekali?” batin Jisoo karena mendapati kekasihnya terus mengacuhkannya seperti itu.

Kontak matanya masih tidak beralih dari tempat di mana dia terus memperhatikan Kyungsoo. Jisoo berharap setidaknya sekali saja pria di depannya itu akan menyapanya, menyadari kehadirannya.

“Kenapa kau hanya berdiri di sana? Apa kau tidak akan kembali ke apartementmu?” tanya Kyungsoo yang seketika membuat Jisoo membulatkan matanya sempurna.
“Mwo?” tanya Jisoo masih dengan ekspresi terkejutnya mendapati pertanyaan Kyungsoo yang seperti itu.
“Ada apa dengan ekspresimu? Apa ada yang salah denganku?” tanya Kyungsoo lagi yang masih sibuk membereskan pekerjaannya.
“Ani ... aku hanya tidak sengaja melakukannya.” Jawaban bodoh yang diberikan Jisoo sebelum akhirnya meninggalkan Kyungsoo melangkahkan kaki menuju pintu keluar apartement itu. Yah, dia sedang berbohong bahwa dia sangat kecewa dengan perlakuan Kyungsoo seharian ini. Dia bahkan sudah merelakan kencan mingguannya dan membiarkan Kyungsoo menikmati tidurnya. Tapi kekasihnya itu masih juga tidak bisa peka dengan perasaannya. Jisoo yang memang dasarnya gadis manja yang selalu ingin di perhatikan itu, mendadak menjadi gadis dewasa yang berusaha untuk mengerti posisi dan keadaan Kyungsoo.

Jisoo melangkahkan kakinya cepat menuju pintu keluar apartement Kyungsoo. Terus mengerucutkan bibirnya dengan mengeluarkan umpatan-umpatan kecil yang hampir tidak terdengar. Langkah kakinya terus beradu mendekati pintu apartement tanpa mempedulikan apa pun yang terjadi di belakangnya.

Beberapa saat setelah kepergian Jisoo, Kyungsoo terdiam. Mengingat hal-hal yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ketika Jisoo masuk ke apartementnya dan perlahan mengusik ketenangannya. Ketika Jisoo berusaha mencari perhatiannya, namun dia tidak memedulikannya. Ketika Jisoo mulai menunjukkan kekecewaannya namun dia tidak juga peka. Dia baru sadar jika dia sudah sangat mengabaikan gadis itu. Kyungsoo lalu melangkahkan kakinya cepat mengejar Jisoo. Berusaha meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya sejak tadi kepada gadisnya itu.

Kyungsoo mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya dia dapat menggapai tubuh Jisoo. Memeluk tubuh Jisoo dari belakang dan menumpukan kepalanya pada pundak Jisoo. Terus mempererat pelukannya tanpa ada keinginan untuk melepaskannya sejenak. Membuat Jisoo sedikit merasakan sesak karena pelukan Kyungsoo yang bisa dibilang begitu posesif.

“Bukankah aku begitu keterlaluan mengabaikanmu seperti tadi? Kenapa kau hanya diam saja dan tidak berulah seperti biasanya? Bukankah setiap kali aku mulai melupakanmu kau akan terus menggangguku hingga aku kembali memperhatikanmu? Kenapa kau tidak melakukannya lagi, eoh?” tanya Kyungsoo perlahan melepas dekapannya dan beralih menatap wajah gadisnya itu.

Jisoo masih tidak menjawab dan mematung di tempatnya. Kyungsoo lalu kembali memeluk gadisnya itu. menyembunyikan wajah Jisoo pada ceruk lehernya. Mendekapnya begitu erat dan membelai rambutnya sayang.

“Apa aku begitu menyakitimu seharian ini? Maaf ... aku minta maaf ....” pinta Kyungsoo pada gadisnya itu.

Perlahan gadis itu melingkarkan tangannya pada tubuh Kyungsoo. Membalas pelukan Kyungsoo dengan sangat erat. Tak lama kemudian terdengar suara tangis sesenggukan yang berusaha untuk ditutupinya. Kyungsoo dapat merasakannya. Wajah gadis yang bersembunyi di balik ceruk lehernya perlahan membasahi kaos putih yang dikenakannya.

Kyungsoo semakin mempererat pelukannya pada tubuh Jisoo. Membelai rambut panjang Jisoo. “Bohong jika aku berkata tak berniat menyakitimu, tapi semua pekerjaan itu terus memintaku untuk menyelesaikannya hingga membuatku begitu mengabaikanmu. Aku minta maaf,” lirih Kyungsoo dengan masih mempertahankan pelukannya.

“Hei! Kau benar-benar tidak akan mengatakan apa pun padaku?” tanya Kyungsoo setelah melepas pelukannya dan menatap wajah Jisoo yang sudah basah akan air mata.

Kyungsoo lalu menangkup wajah basah itu dan menyeka air mata yang tumpah dari pelupuk matanya.

Cup

Kyungsoo mengecup singkat bibir gadis yang berada di depannya itu. Membuat Jisoo seketika berhenti terisak. Menatap wajah Kyungsoo dengan begitu dalam.

“Wae? Apa ada yang salah? Apa aku tidak boleh mencium kekasihku?” tanya Kyungsoo yang dibalas gelengan kepala Jisoo.

Kyungsoo tersenyum lalu kembali menangkup wajah Jisoo. Dihapusnya bulir-bulir air mata yang masih membasahi wajah Jisoo. “Lihatlah ... wajah cheonsa-ku sangat buruk jika seperti ini,” ucap Kyungsoo.

Dengan mata yang masih sembab Jisoo menatap wajah Kyungsoo, pandangan mereka bertemu dan mengunci keduanya untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya Kyungsoo kembali menempelkan bibirnya pada bibir Jisoo. Menikmati benda kenyal yang sangat menggoda baginya. Membuat gadis itu sedikit kesulitan bernapas karena tuntutan bibir Kyungsoo yang terus meminta hal yang lebih darinya.

Beberapa saat kemudian Kyungsoo melepaskan tautan bibirnya, kembali menatap wajah gadis di depannya itu lalu membelai rambut panjang Jisoo. Wajah yang damai, itulah yang dirasakannya sekarang.

Kyungsoo kembali memeluk tubuh Jisoo erat seakan tidak ingin kehilangan gadis itu walau pun sesaat. “Apa kau sudah makan?” tanya Kyungsoo masih dalam posisi yang sama.
“Aku tidak lapar,” jawaban singkat Jisoo sebelum akhirnya cacing yang berada dalam perutnya berbunyi dan terdengar oleh Kyungsoo.

Kyungsoo terkekeh geli saat mendengar suara perut Jisoo yang sudah tidak sabar untuk segera diisi. Benar-benar berlawanan dengan apa yang dituturkan oleh gadisnya itu baru saja.

“Apa kau tidak tahu jika aku sangat malu? Jangan menertawakanku seperti itu, menyebalkan sekali.” Keluh Jisoo dengan wajahnya yang perlahan memerah.
“Baiklah ... baiklah ... ayo ... aku akan memasakkan nasi goreng kesukaanmu. Aku juga belum makan sejak sore tadi,” ujar Kyungsoo seraya menuntun tangan gadisnya itu untuk ikut bersamanya, menuju dapur apartementnya.

-o-

23:10 KST

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Kyungsoo meminta Jisoo untuk pulang dan kembali ke apartementnya. Tapi Jisoo menggelengkan kepalanya dan meminta untuk tinggal di sini, bersamanya.

-o-

Kyungsoo melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya dengan diikuti Jisoo di belakangnya. Gadis itu terus membuntutinya kemana pun Kyungsoo pergi, kecuali ke kamar mandi.

“Apa kau akan memakai pakaian itu tidur di sini? Bukankah kau sudah mengenakannya seharian ini?” tanya Kyungsoo ketika Jisoo sudah membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya dengan kemeja berwarna merah muda yang sudah dipakainya seharian ini.
“Apa ada yang salah?” dengan polosnya gadis itu bertanya lalu mencium bau badannya sendiri. “Ini bahkan masih sangat wangi dan tidak bau,” tutur gadis itu.

Kyungsoo lalu menghembuskan nafasnya pelan dan membuka lemari pakaiannya. Di ambilnya kemeja berwarna putih dan melemparnya ke arah Jisoo. “Pakai ini dan bersihkan tubuhmu, aku tidak ingin tidurku terganggu karena bau badan yang menyeruak dari tubuhmu.”

Jisoo berdecak sebal mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo padanya baru saja. “Dasar menyebalkan, apa kau pernah mencium bau badanku yang tidak enak? Kau bahkan tidak jijik memelukku dan menciumiku walau pun keringatku terus mengalir dari tubuhku. Dan sekarang kau mengatakan hal itu dalam keadaanku tubuhku yang baik-baik saja? Heol ... kau benar-benar menyebalkan.

Mendengar itu, Kyungsoo hanya terkekeh geli dengan masih mengeringkan rambut kepalanya dengan handuk. Tapi beginilah Jisoo, dia tetap akan melakukan apa pun yang diperintahkan Kyungsoo kepadanya, walau dia berkata tidak akan melakukannya. Jisoo mengambil kemeja putih yang diberikan Kyungsoo padanya lalu berjalan menuju kamar mandi.

-o-

Setelah membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian yang diberikan Kyungsoo untuknya, Jisoo kembali menaiki ranjang Kyungsoo. Ikut merebahkan dirinya pada ranjang besar itu. Kyungsoo belum berniat untuk tidur dengan cepat, karena hampir seharian ini yang dia lakukan hanya tidur tanpa ada Jisoo yang mengganggunya. Kyungsoo membuka sebuah buku bacaan dan membacanya.

Sedangkan Jisoo terus mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Memandangi langit-langit kamar Kyungsoo yang sedikit menenangkan menurutnya. Berbeda jauh dengan kamarnya, walau pun mereka mendesign-nya sama persis, termasuk dalam pemilihan warna dan sebagainya.

Mereka berdua hidup dalam satu ranjang tetapi seakan terpisah dalam dunia yang berbeda. Lihatlah, dua manusia itu seakan sibuk dengan dunianya masing-masing. Hingga salah satu di antaranya mulai merasa bosan dan membuka percakapan.

“Kyungsoo-ya ....” panggil Jisoo menatap wajah pria yang sedang sibuk dengan aktifitas membacanya itu.
“Uhm ....” jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.
“Kyungsoo-ssi ....” panggil Jisoo lagi mulai terdengar manja.
“Apa?” tanya Kyungsoo mengalihkan pandangannya menatap Jisoo, namun Jisoo malah diam.

Kyungsoo lalu menutup buku yang dibacanya dan meletakkannya pada tempat di mana ia mengambilnya tadi. Jisoo menatap wajah Kyungsoo dengan tatapan sendunya.

“Apa kau ingin aku memelukmu? Kemarilah ....” saran Kyungsoo lalu Jisoo pun mendekatkan dirinya pada tubuh Kyungsoo. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kyungsoo yang terasa begitu nyaman baginya.

Kyungsoo mengusap lembut puncak kepala kekasihnya itu dengan sesekali menciuminya.

“Aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku sangat lelah dan ingin tidur. Tapi mataku tidak juga mau terpejam walau pun aku sudah sangat mengantuk,” ujar Jisoo dalam pelukan Kyungsoo.
“Insomnia-mu kambuh?” tanya Kyungsoo yang dibalas dengan anggukan kepala Jisoo.
“Apa kau sudah pergi ke rumah sakit?” tanya Kyungsoo lagi, Jisoo menggelengkan kepalanya.
“Wae?”
Minseok Oppa sudah memberiku obat yang biasa aku konsumsi, tapi walau pun aku sudah meminumnya, aku tetap tidak bisa tidur,” ujar Jisoo.

Kyungsoo lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Jisoo dan beralih menangkup wajah gadisnya itu. Diperhatikannya wajah Jisoo lekat-lekat. Dia baru sadar jika ada perubahan pada wajah gadis itu. Terlihat sedikit redup dan pucat, tidak seperti biasanya.

“Aku kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini. Maafkan aku,” pinta Kyungsoo yang dibalas anggukan kepala Jisoo.

Kyungsoo lalu mengecup kedua mata gadis yang berada di depannya itu, seperti yang sering dia lakukan. Sesaat kemudian Kyungsoo melepaskan tangkupan wajahnya. Tanpa sengaja pandangan matanya tertuju pada kemeja yang dikenakan Jisoo.

“Bangunlah ....” pinta Kyungsoo.
“Uhm?”
“Bangun sebentar,” pinta Kyungsoo lagi.

Jisoo lalu merubah posisinya yang setengah tertidur menjadi sepenuhnya duduk.

“Jika kau bersama pria lain, mungkin kau akan habis setelah ini.” Ucap Kyungsoo seraya memasang dua kancing tengah kemeja Jisoo yang terbuka. Tentu saja Kyungsoo dapat melihat apa yang berada di balik kemeja itu.

Jisoo hanya melongokan wajahnya dengan bola matanya yang seakan ingin keluar. Lalu pandangan matanya mengarah pada tangan Kyungsoo yang tengah memasang kancing kemeja yang dikenakannya. Merutuki kecerobohannya sendiri. Dasar gadis bodoh, bagaimana dia bisa tidak tahu jika kancing kemejanya sedang terbuka? Untung saja kekasihnya itu bukan laki-laki cabul seperti kebanyakan pria pada umumnya.

“Jangan ceroboh seperti ini lagi. Aku tidak ingin ada laki-laki lain yang menyentuhmu selainku, apa kau mengerti?” tanya Kyungsoo yang dibalas anggukan kepala Jisoo.
“Kyungsoo-ya ....” panggil Jisoo lagi.
“Uhm ....”
“Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang?” tanya Jisoo seraya memandang wajah Kyungsoo.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya seraya menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Jisoo, “Memang apa yang sedang kau pikirkan, eoh?” tanya Kyungsoo.
“Kadang aku merasa takut, jika esok hari ... aku tidak akan pernah bangun lagi,” ujar Jisoo yang seketika menghentikan tangan Kyungsoo yang sedang membelai rambutnya.
“Jangan mengatakan hal seperti itu, apa kau tidak tahu jika ini membuatku takut?” ungkap Kyungsoo.
“Tapi akhir-akhir ini aku selalu merasa seperti itu. Aku takut, aku takut jika setelah ini aku tidak bisa bangun lagi. Semua hal mengerikan itu terus datang dan menghantuiku,” Jisoo kembali meneteskan air matanya.
“Sssstttt ... sudah aku katakan jangan mengatakan hal yang seperti itu. Apa kau tidak tahu, bahwa aku benar-benar bisa gila bahkan walau pun hanya sekedar membayangkannya, eoh?”

Kyungsoo kembali memeluk gadis  di depannya itu begitu erat, sangat erat. Tangannya lalu beralih menangkup wajah basah Jisoo karena air mata dan mengecup bibir gadis itu. Untuk sepersekian menit bibir mereka bertemu sebelum akhirnya Kyungsoo melepasnya. Memandangi wajah Jisoo, lalu kembali melumat bibir basah Jisoo dengan lembut dan penuh hati-hati. Berusaha menenangkan perasaan kekasihnya yang sedang kacau itu.

Beberapa saat kemudian Kyungsoo melepaskan tautan bibirnya, mengakhiri ciuman mereka. Dilihatnya gadis itu masih memejamkan kedua matanya. Kyungsoo kembali mengecup singkat kedua kelopak mata Jisoo, lalu membersihkan sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah cantik Jisoo.

“Sejak kapan insomnia-mu kambuh? Apa sejak tadi malam?” tanya Kyungsoo.
Jisoo menggelengkan kepalanya, “Sudah tiga hari ini aku bahkan tidak tidur sama sekali,” ungkap Jisoo.
“Apa? Kenapa kau tidak memberitahuku? tanya Kyungsoo.
“Aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri, tapi aku gagal.”
“Apa yang kau pikirkan untuk mengatasinya sendiri, eoh? Bukankah ada aku yang akan selalu di sampingmu? Bukankah ada aku yang akan selalu membantumu? Jangan berpikir untuk mengatasi ini sendiri lagi, apa kau mengerti?” tanya Kyungsoo yang dibalas anggukan kepala Jisoo.

Kyungsoo lalu kembali membawa gadisnya itu ke dalam pelukannya. Meletakkan kepala Jisoo pada dada bidangnya. Mengusap lembut rambut kepala Jisoo. Berharap agar gadis itu bisa tertidur dan menghilangkan segala kecemasannya.

Kyungsoo sejenak mengalihkan pandangannya pada sebuah remot kontrol yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia meraihnya lalu mengarahkannya pada alat pemutar suara yang berada tak begitu jauh darinya. Memainkan sebuah musik pop slow yang sering di dengarkannya saat dia bersama gadis yang berada dalam pelukannya saat ini.

Alunan tuts piano yang mengiringi musik itu perlahan merambat pada indra pendengaran keduanya. Membuat Jisoo semakin menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Kyungsoo. Pria itu pun semakin mempererat pelukannya pada tubuh kecil gadis yang di dekapnya itu. Sedikit bersenandung mengikuti amy lee dengan lagunya yang berjudul My Immortal. Yah, lagu dari album ketiga Evanescene–Fallen yang memiliki arti begitu mendalam.

I'm so tired of being here
(Aku sangat letih berada di sini)
Suppressed by all my childish fears
(Tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan)
And if you have to leave
(Dan jika kau harus pergi)
I wish that you would just leave
(Kuharap engkau pergi saja)
'Cause your presence still lingers here
(Karena kehadiranmu masih berbekas di sini)
And it won't leave me alone
(Dan bayangmu takkan meninggalkanku)

These wounds won't seem to heal
(Luka ini takkan pernah sembuh)
This pain is just too real
(Rasa sakit ini memang nyata)
There's just too much that time cannot erase
(Terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu)

Kyungsoo menepuk-nepuk pelan punggung Jisoo. Menginstruksi gadisnya itu untuk melepaskan keletihannya dan menghilangkan semua ketakutannya. Seakan memberi isyarat bahwa meski pun ia telah tiada, dia akan selalu bersamanya. Menemaninya walau pun hanya bayangannya yang tersisa. Bahkan meski pun sakit yang akan dirasakannya nanti tidak akan pernah sembuh, atau pun terhapus seiring berjalannya waktu. Dia akan selalu bersamanya. Menemaninya dalam sepi dan kesendiriannya.

When you cried I'd wipe away all of your tears
(Saat kau menangis, kan kuseka semua air matamu)
When you'd scream I'd fight away all of your fears
(Saat kau ingin teriak, kan kuusir semua ketakutanmu)
I held your hand through all of these years
(Kugenggam tanganmu sepanjang tahun ini)
But you still have all of me
(Namun kau masih memiliki diriku)
You used to captivate me
(Dulu kau memikat hatiku)
By your resonating light
(Dengan cahayamu yang menggetarkan)
Now I'm bound by the life you left behind
(Kini aku terikat pada hidup yang kau tinggalkan)
Your face it haunts
(Wajahmu menghantui)
My once pleasant dreams
(Mimpi-mimpiku yang dulu menyenangkan)
Your voice it chased away
(Suaramu menghalau)
All the sanity in me
(Kewarasan dalam diriku)

Jisoo perlahan memejamkan matanya. Merasakan kehangatan yang Kyungsoo berikan untuknya. Perasaan damai yang beberapa hari ini hilang darinya perlahan telah kembali. Membuatnya kembali percaya bahwa pria yang berada dalam dekapannya itu akan selalu menjaganya. Menenangkannya dalam setiap ketakutannya. Menghapus air matanya dalam setiap tangisannya. Dan mendekapnya setiap kali hal mengerikan itu datang menghantuinya. Membuatnya kembali yakin jika dia masih memilikinya yang akan selalu mencintainya. Bahkan hanya dengan mendengar suaranya, dia akan terlelap tanpa harus menggunakan obat-obatan yang akan membuatnya ketergantungan.

Kyungsoo terus memeluk Jisoo dalam dekapannya. Membiarkan gadis itu tertidur dengan tenang di sana. Berharap agar kali ini dia benar-benar bisa terlelap dan menghilangkan insomnianya. Melihat Jisoo yang sudah benar-benar tenang dan memejamkan matanya, Kyungsoo lalu merebahkan tubuh gadis itu di sampingnya. Menarik selimut putih miliknya untuk menutupi tubuh Jisoo. Masih dengan belaian sayangnya, Kyungsoo terus mengusap lembut kepala Jisoo. Menatap lekat wajah sendu gadis itu. Untuk beberapa saat sebuah senyuman pada bibirnya terbentuk.

Kyungsoo lalu ikut merebahkan dirinya menyamai Jisoo. Menumpukan kepalanya pada lengan kanannya. Hanya mengarahkan pandangannya pada wajah Jisoo yang tidak pernah membuatnya bosan. Lalu kemudian dia pun ikut terlelap bersama kekasihnya itu. Bersama pergi ke alam bawah sadarnya dan melepas semua keletihannya.

I've tried so hard to tell myself that you're gone
(Tlah berusaha keras kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau tlah tiada)
But though you're still with me
(Namun meski kau masih bersamaku)
I've been alone all along
(Selama ini aku tlah sendiri)

FIN!
See you again in next Couple Soo story.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar