Title : INSOMNIA
Writer
: Candle Light
Rate : PG-15
Main Cast : Song Ji-Soo (OC) | Do Kyung Soo
Other Cast : Kim Hyori (OC) | EXO Member | Song Joongki |
Genre : Fluff | Romance |
Duration :
Release Date :
Length : Oneshoot
| Series
====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 17, 2015.
23.00 KST
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 17, 2015.
23.00 KST
Di
tengah dinginnya udara malam Seoul, seorang gadis dengan hanya mengenakan
t-shirt berwarna biru dan celana jeans hitam keluar dari kamar apartemennya.
Berjalan menyusuri lorong lantai dua belas apartement Olimpic Park hingga
langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu yang berada di ujung lorong
lantai itu. Gadis itu lalu mengetikkan beberapa angka pada papan pasword yang
terletak pada gagang pintu apartement.
Ceklek ....
Pintu
itu terbuka dan gadis itu pun masuk ke dalamnya. Berjalan ke arah kamar tidur
satu-satunya di apartement itu, tanpa lupa mengganti alas kakinya. Tangannya
memutar knop pintu itu pelan dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Menuju
ranjang berukuran king size dengan selimut putih tebal yang berpenghuni.
“Kyungsoo-ya
... irona ... jebal irona ....” pinta gadis itu kepada seorang pria yang baru
terlelap sekitar sejam yang lalu dengan mengguncang-guncangkan tubuh pria itu
pelan.
Pria
yang dipanggil Kyungsoo itu perlahan membuka matanya dan mendudukkan dirinya
dengan selimut putih yang masih menutupi sebagian tubuhnya. Mengucek pelan kelopak
mata kanannya dan berusaha menyatukan kembali nyawa dan raganya.
“Jisoo-ya
... wae?” tanya pria itu lalu melirik jam weker yang berada di atas nakas
samping tempat tidurnya.
“Aku
lapar ....”
Kyungsoo
mengerutkan keningnya.
“Aku
bahkan baru saja selesai memakan makanan pesan antar yang aku pesan. Tapi aku
masih lapar. Aku sudah berusaha untuk memesannya lagi, tapi tempat itu tidak
mau mengantarkannya dengan alasan ini sudah malam. Aku takut untuk pergi keluar
dan mencari makanan di luar sana,” ujar gadis yang dipanggil Jisoo itu panjang
lebar.
“Jelas
saja cheonsa … ini sudah jam sebelas malam. Mereka juga butuh istirahat, tidak
hanya akan terus bekerja sepanjang hari.” Jelas Kyungsoo mengusap pelan puncak
kepala gadis yang berada di depannya itu.
Dengan
wajah memelas, Jisoo berusaha untuk meminta kekasihnya itu memasakkan beberapa
makanan untuknya. Kyungsoo kemudian menyingkap selimut yang masih menutupi
separuh tubuhnya dan turun dari ranjang tempat tidurnya.
“Baiklah
... ayo ....” ajak Kyungsoo seraya menggandeng tangan Jisoo berjalan menuju
dapur. Dibukanya lemari es yang menyimpan beberapa bahan mentah untuk dimasak lalu
mengeluarkannya dari dalam sana.
Kyungsoo
berencana untuk memasakkan Jisoo omurise dengan hanya berisi sayuran dan daging
sapi cincang yang sudah siap saji. Karena hanya makanan itu yang bisa
dimasaknya dengan cepat.
Kyungsoo
meminta Jisoo untuk duduk dan menunggunya di kursi meja makan. Setengah jam
kemudian Kyungsoo telah selesai memasaknya dan menghidangkannya di atas piring,
lalu meletakkannya tepat di hadapan Jisoo. Tidak lupa dengan segelas susu sapi
putih kesukaan Jisoo.
Kyungsoo
kemudian mendudukkan dirinya pada kursi yang berhadapan dengan Jisoo, menemani
gadis itu menghabiskan makanannya walau pun dia tidak ikut makan bersamanya.
Diperhatikannya wajah Jisoo lekat-lekat. Tergores sebuah senyuman kecil di
wajah Kyungsoo saat melihat bagaimana gadis di depannya itu begitu lahap
menghabiskan makanannya. Yah, Kyungsoo memang menyukai seorang gadis yang
terlihat senang ketika sedang makan. Salah satunya adalah dengan lahap
menghabiskan makanannya.
Setelah
selesai memakan semuanya makanannya dan menghabiskan segelas susu putihnya,
Jisoo beranjak dari tempat duduknya. Berniat untuk membersihkan peralatan
makannya namun tangan Kyungsoo menghentikannya dan memintanya hanya duduk manis
di tempatnya. Jisoo pun menurut lalu kembali duduk. Kyungsoo tak berniat untuk
membersihkan semuanya sekarang. Dia hanya menyingkirkannya sedikit jauh dari
hadapan mereka.
Kyungsoo
melipat kedua tangannya di depan dada dengan menandarkan tubuhnya pada punggung
kursi. Sedangkan Jisoo menangkup wajahnya dengan kedua tangannya yang iya
letakkan di atas meja. Sesekali melempar senyuman ke arah Kyungsoo yang terus
memperhatikannya. Tak ada yang mereka lakukan selain hanya berdiam diri dan
saling menatap wajah satu sama lain. Kyungsoo menatap wajah Jisoo intens,
meneliti setiap lekuk wajah Jisoo yang menggemaskan menurutnya.
Lebih
dari sejam mereka berdua hanya mematung seperti itu. Tanpa suara dan tanpa perubahan
apa pun. Jisoo yang biasanya sangat berisik dan tidak bisa diam, sekarang
seakan tersihir oleh tatapan mata Kyungsoo yang melumpuhkannya. Tak ada satu
pun dari keduanya yang berusaha untuk membuka percakapan dan hanya membiarkan
diri mereka terus seperti itu.
“Apa
kau tidak ingin pulang?” tanya Kyungsoo mengawali pembicaraan.
Jisoo
menggelengkan kepalanya cepat lalu kembali pada posisinya semula.
“Wae?
Apa kau tidak mengantuk? Ini sudah sangat larut,” saran Kyungsoo padanya.
“Aku
tidak merasa mengantuk sedikit pun. Jadi bisakah aku hanya tinggal di sini
hingga besok?” tanya Jisoo.
Mendengar
itu, Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya.
“Jika
kau sudah mengantuk, kau bisa tidur lagi. Aku hanya akan di sini dan tak
melakukan apa pun. Maaf sudah membuatmu terbangun,” ungkap Jisoo kemudian.
“Apa
kau tidak bisa tidur?” tanya Kyungsoo yang dibalas anggukan pelan oleh Jisoo.
“Apa
ada yang mengganggu pikiranmu? Tidakkah kau ingin bercerita kepadaku?” tanya
Kyungsoo lagi yang dibalas gelengan cepat kepala Jisoo.
Kyungsoo
tersenyum sejenak, “Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu aneh hari ini? Tidak
biasanya kau setenang ini,” tanya Kyungsoo yang masih tak mendapat jawaban
sedikit pun dari gadis yang berada di depannya itu.
“Hei!!
Jangan memasang wajah seperti itu, apa kau lupa jika ini sudah malam? Aku bisa
menghabisimu tanpa ampun,” ujar Kyungsoo merasa sangat gemas karena Jisoo
menggembungkan kedua pipinya dan menatapnya dengan tatapan teduh.
Mendengar
kata-kata Kyungsoo baru saja, Jisoo dengan sigap menutup mulutnya dengan kedua
tangannya sambil menggelengkan kepalanya cepat. Melihat itu Kyungsoo terkekeh
geli lalu memindahkan posisinya yang semula bersandar, menjadi meletakkan kedua
tangannya di atas meja dengan masih melipatnya.
“Sampai
kapan kau akan seperti ini, eoh? Aku sudah mulai mengantuk,” terang Kyungsoo.
Jisoo
terdiam tak menjawab pertanyaan Kyungsoo. Dia masih sibuk memandangi wajah
Kyungsoo yang berada tepat di hadapannya sekarang. Kemudian mengarahkan jari telunjukkan
menunjuk setiap bagian pada wajah Kyungsoo. Mulai berbicara panjang lebar dan
berakhir dengan menggemaskan.
“Woah
... betapa tampannya pangeranku. Lihatlah semua lukisan Tuhan pada wajahnya,
begitu sempurna. Bentuk wajah yang sedemikian rupa dengan alis yang indah, mata
yang lebar, hidung yang mancung dan ....” perkataannya terhenti tepat ketika
jari telunjuknya menyentuh bibir Kyungsoo. “Apa kau menggunakan lip ice di malam hari? Kenapa bibirmu
terasa lembab dan ... warnanya sedikit merah?” tanya Jisoo dengan polosnya
seraya menggosok pelan jari telunjuk dengan ibu jarinya. Merasakan sesuatu yang
sedikit lembab pada jari-jarinya.
Mendengar
itu Kyungsoo membelalakkan matanya, “Hei!! Apa kau pernah melihatku memakai hal
semacam itu? Menjijikkan sekali,” ujar Kyungsoo yang hanya dibalas senyuman dan
tatapan polos pada wajah Jisoo.
“Tunggu
... bukankah bibir ini berbentuk hati? Bagaimana bisa? Apa kau melakukan
operasi plastik sebelum bertemu denganku dan mengenalku?” tanya Jisoo lagi yang
seketika mendapatkan pukulan gratis dari Kyungsoo yang tepat mengenai
kepalanya.
“Apha
... tch ... menyebalkan sekali. Bukankah aku hanya bercanda?” rengek Jisoo
dengan memegangi puncak kepalanya.
“Jika
kau masih mengatakan hal yang tidak masuk akal, aku akan memukulmu lagi dengan
ujung sendok ini, kau mengerti?” ancam Kyungsoo yang kemudian dibalas anggukan
cepat oleh Jisoo.
Kyungsoo
yang semula sedikit mengantuk menjadi melupakan tidurnya, karena ulah lucu dan
menggemaskan Jisoo. Mereka terus bercanda seperti itu sepanjang malam. Membuat
sebuah candaan yang membuat keduanya tertawa lepas. Dan Kyungsoo akan sangat
suka jika membuat kekasihnya itu sedikit kesal karena perlakuannya. Sebuah
candaan yang selalu berakhir dengan omelan panjang lebar dari Jisoo, Kyungsoo
begitu menyukainya. Tak ada satu pun dari keduanya yang mengistirahatkan tubuh
mereka hingga mentari pagi menembus kaca jendela apartement Kyungsoo.
“Woah
... lihatlah ... kau benar-benar membuatku tidak tidur semalam suntuk,” keluh
Kyungsoo.
“Bukankah
aku sudah menyuruhmu untuk tidur lebih dulu? Kau sendiri yang ingin menemaniku
bukan?” tanya Jisoo.
“Baiklah
... karena ini adalah hari minggu, maka aku hanya akan tidur setelah ini dan
kau pulanglah.”
Jisoo
menggelengkan kepalanya,
“Hei!!”
“Karena
ini hari minggu, aku ingin pergi berkencan denganmu. Bukankah kita akan selalu
pergi berkencan setiap hari minggu?” tanya Jisoo.
Kyungsoo
mendesah pelan, “Cheonsa ... aku benar-benar sangat mengantuk. Kau tahu kan
jika semalam aku tidak tidur sama sekali?”
Lagi-lagi
Jisoo memasang wajah memelasnya dengan tatapan teduh yang hampir tidak pernah
gagal untuk merayu Kyungsoo.
“Ash
… baiklah .... kita akan berkencan,” Kyungsoo menggantung ucapannya, melihat
ekspresi Jisoo yang begitu senang. “Seharian penuh di apartement.”
“Mwoya
....” desah Jisoo kecewa sedang Kyungsoo hanya terkekeh geli melihatnya seperti
itu.
“Aku
benar-benar mengantuk dan tidak bisa menuruti permintaanmu sekarang, jadi
tunggulah hingga aku terbangun nanti, oke? Aku akan tidur sebentar.” Jelas
Kyungsoo yang dijawab anggukan kepala Jisoo.
“Apa
kau ingin makan lagi? Aku akan membuatkannya sebelum aku tidur,” tanya Kyungsoo
tapi Jisoo menggelengkan kepalanya.
“Baiklah
....” Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada jam dinding yang terpasang di
ruangan itu. “Biarkan aku tidur tiga jam saja, nanti setelah pukul sepuluh baru
kita akan pergi kemana pun yang kau inginkan. Kau setuju?” tanya Kyungsoo dan
untuk kesekian kalinya Jisoo mengangguk.
Kyungsoo
mencubit gemas kedua pipi Jisoo sebelum beranjak dari tempat duduknya dan
menuju kamar tidurnya. Jisoo masih terdiam di sana, sebelum akhirnya
melangkahkan kakinya menuju ruang tengah apartement Kyungsoo. Merebahkan
dirinya di atas sofa depan televisi lalu menyalakannya. Seperti biasa, ketika
dia sudah mulai bosan dia akan terus memindah-mindahkan chanel televisi tanpa
henti.
Jisoo
terus melirik jam dinging yang terpasang tepat di atas televisi. Baru satu jam
sejak Kyungsoo meninggalkannya tadi. Namun dia sudah sangat tidak sabar untuk
menunggu lebih lama lagi. Jisoo lalu beranjak dari tidurnya dan melangkahkan
kakinya masuk ke dalam kamar Kyungsoo. Dilihatnya pria itu masih tertidur
nyenyak di atas ranjangnya. Dia berjalan mendekati ranjang Kyungsoo lalu mendudukkan
dirinya di tepi ranjang yang ditempati Kyungsoo. Dia berencana untuk
membangunkannya, tapi melihat wajah damai Kyungsoo, dia mengurungkan niatnya.
Tanpa
sadar dia merebahkan dirinya tepat di samping Kyungsoo. Namun sudah lebih dari
sejam dia tak juga dapat memejamkan matanya. Sebenarnya dia sudah sangat lelah
dan ingin ikut tidur bersama Kyungsoo. Namun matanya tak juga terpejam walau
pun dia telah berusaha untuk menidurkan dirinya. Entah kenapa walau pun sudah
tiga hari ini dia tidak tidur sama sekali, matanya tidak juga merasakan
ngantuk. Hanya tubuhnya yang merasakan lelah tidak dengan kedua matanya.
“Kyungsoo-ya
....” panggilnya ketika Kyungsoo masih sibuk mengarungi alam mimpinya.
“Kyungsoo-ssi
....” panggilnya lagi tak lama kemudian, namun lelaki di sampingnya itu tak
juga membuka matanya. Sepertinya dia benar-benar sangat mengantuk karena
semalam suntuk terus terjaga.
Hingga
jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang Kyungsoo tak juga membuka matanya. Jisoo
benar-benar sudah sangat bosan. Dia ingin membangunkan Kyungsoo tapi dia juga
tidak tega. Akhirnya Jisoo pun memutuskan untuk pergi ke rumah Hyori dan
membatalkan rencana kencannya.
Dia
menuliskan sebuah pesan pada note yang dia tempelkan di depan kaca rias
Kyungsoo sebelum meninggalkan apartement itu. “Aku rasa kau sangat mengantuk
karena ulahku semalam, jadi aku putuskan untuk membatalkan kencan kita. Aku
akan pergi ke rumah Hyori dan mengunjungi ibuku. Kau tak perlu mencariku meski
kau sangat merindukanku, arraseo?” tulis Jisoo pada note itu.
SKIP
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 18, 2015.
18.00 KST
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 18, 2015.
18.00 KST
Jisoo
kembali ke apartement Kyungsoo setelah pulang dari mengunjungi ibunya dan
Hyori. Dia baru saja selesai mengganti sandalnya dengan sandal ruangan di
apartemen Kyungsoo. Jisoo melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement itu.
Dilihatnya sang kekasih sedang sibuk dengan beberapa file yang berada di atas
meja kerjanya. Jisoo mengerutkan keningnya dan semakin mendekati keberadaan
Kyungsoo.
“Tch
... kau bahkan tidak berniat menyapaku atau pun sekedar melihat kedatanganku?
Menyebalkan sekali,” ucapnya lalu kembali meninggalkan Kyungsoo dan menuju sofa
ruang tengah.
Mendengar
perkataan Jisoo baru saja, Kyungsoo hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Kyungsoo kembali fokus pada
tumpukan-tumpukan kertas yang berada di depannya.
Melihat
Kyungsoo yang begitu mengacuhkannya, Jisoo memperkeras volume televisi yang
sedang ditontonnya.
“Hei!!
Song Jisoo! Bisakah kau sedikit mengecilkan suaranya? Aku benar-benar tidak
bisa berkonsentrasi dengan itu,” teriak Kyungsoo dari tempatnya berada.
Jisoo
kemudian mengecilkan suaranya dan kembali menontonnya dengan tenang. Yah, gadis
itu sengaja melakukan hal tersebut. Karena sedari tadi sejak kedatangannya
kemari, Kyungsoo belum mengucapkan sepatah kata pun padanya. Memang dasar gadis
aneh, bagaimana bisa dia begitu kekanak-kanakan pada umurnya yang sudah
mencapai dua puluh satu tahun?
-o-
Hingga
jam sepuluh malam Kyungsoo tak juga menyudahi pekerjaannya. Dia terus saja
berkutat dengan laptop dan seluruh kertas yang berada di depannya. Dan itu
benar-benar membuat Jisoo sangat kesal.
“Dasar
mata bulat!! Bagaimana dia bisa mengabaikanku seperti ini? Menyebalkan sekali,”
gerutunya kemudian beranjak dari tempatnya dan mematikan televisinya.
Jisoo
mendekati meja kerja Kyungsoo, menutup laptop yang berada di depan Kyungsoo
tiba-tiba.
“Hei!!
Apa yang kau lakukan?” bentak Kyungsoo mendapati perlakuan Jisoo seperti itu.
“Apa
kau tidak akan tidur? Ini sudah malam,” ucap Jisoo.
Kyungsoo
berdengus kesal kemudian merapikan semua pekerjaannya. “Arraseo!” ucap
Kyungsoo.
Jisoo
masih berdiri di depan Kyungsoo dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Memperhatikan pria yang sedang sibuk membereskan semua pekerjaannya itu.
“Apa
dia bahkan tidak berniat untuk menyapaku walau pun hanya sekali?” batin Jisoo
karena mendapati kekasihnya terus mengacuhkannya seperti itu.
Kontak
matanya masih tidak beralih dari tempat di mana dia terus memperhatikan
Kyungsoo. Jisoo berharap setidaknya sekali saja pria di depannya itu akan
menyapanya, menyadari kehadirannya.
“Kenapa
kau hanya berdiri di sana? Apa kau tidak akan kembali ke apartementmu?” tanya
Kyungsoo yang seketika membuat Jisoo membulatkan matanya sempurna.
“Mwo?”
tanya Jisoo masih dengan ekspresi terkejutnya mendapati pertanyaan Kyungsoo
yang seperti itu.
“Ada
apa dengan ekspresimu? Apa ada yang salah denganku?” tanya Kyungsoo lagi yang
masih sibuk membereskan pekerjaannya.
“Ani
... aku hanya tidak sengaja melakukannya.” Jawaban bodoh yang diberikan Jisoo sebelum
akhirnya meninggalkan Kyungsoo melangkahkan kaki menuju pintu keluar apartement
itu. Yah, dia sedang berbohong bahwa dia sangat kecewa dengan perlakuan
Kyungsoo seharian ini. Dia bahkan sudah merelakan kencan mingguannya dan
membiarkan Kyungsoo menikmati tidurnya. Tapi kekasihnya itu masih juga tidak
bisa peka dengan perasaannya. Jisoo yang memang dasarnya gadis manja yang
selalu ingin di perhatikan itu, mendadak menjadi gadis dewasa yang berusaha
untuk mengerti posisi dan keadaan Kyungsoo.
Jisoo
melangkahkan kakinya cepat menuju pintu keluar apartement Kyungsoo. Terus
mengerucutkan bibirnya dengan mengeluarkan umpatan-umpatan kecil yang hampir
tidak terdengar. Langkah kakinya terus beradu mendekati pintu apartement tanpa
mempedulikan apa pun yang terjadi di belakangnya.
Beberapa
saat setelah kepergian Jisoo, Kyungsoo terdiam. Mengingat hal-hal yang terjadi
beberapa jam yang lalu. Ketika Jisoo masuk ke apartementnya dan perlahan
mengusik ketenangannya. Ketika Jisoo berusaha mencari perhatiannya, namun dia
tidak memedulikannya. Ketika Jisoo mulai menunjukkan kekecewaannya namun dia
tidak juga peka. Dia baru sadar jika dia sudah sangat mengabaikan gadis itu. Kyungsoo
lalu melangkahkan kakinya cepat mengejar Jisoo. Berusaha meminta maaf atas apa
yang telah dilakukannya sejak tadi kepada gadisnya itu.
Kyungsoo
mempercepat langkah kakinya hingga akhirnya dia dapat menggapai tubuh Jisoo.
Memeluk tubuh Jisoo dari belakang dan menumpukan kepalanya pada pundak Jisoo.
Terus mempererat pelukannya tanpa ada keinginan untuk melepaskannya sejenak.
Membuat Jisoo sedikit merasakan sesak karena pelukan Kyungsoo yang bisa
dibilang begitu posesif.
“Bukankah
aku begitu keterlaluan mengabaikanmu seperti tadi? Kenapa kau hanya diam saja
dan tidak berulah seperti biasanya? Bukankah setiap kali aku mulai melupakanmu
kau akan terus menggangguku hingga aku kembali memperhatikanmu? Kenapa kau
tidak melakukannya lagi, eoh?” tanya Kyungsoo perlahan melepas dekapannya dan
beralih menatap wajah gadisnya itu.
Jisoo
masih tidak menjawab dan mematung di tempatnya. Kyungsoo lalu kembali memeluk
gadisnya itu. menyembunyikan wajah Jisoo pada ceruk lehernya. Mendekapnya
begitu erat dan membelai rambutnya sayang.
“Apa
aku begitu menyakitimu seharian ini? Maaf ... aku minta maaf ....” pinta
Kyungsoo pada gadisnya itu.
Perlahan
gadis itu melingkarkan tangannya pada tubuh Kyungsoo. Membalas pelukan Kyungsoo
dengan sangat erat. Tak lama kemudian terdengar suara tangis sesenggukan yang
berusaha untuk ditutupinya. Kyungsoo dapat merasakannya. Wajah gadis yang
bersembunyi di balik ceruk lehernya perlahan membasahi kaos putih yang
dikenakannya.
Kyungsoo
semakin mempererat pelukannya pada tubuh Jisoo. Membelai rambut panjang Jisoo.
“Bohong jika aku berkata tak berniat menyakitimu, tapi semua pekerjaan itu
terus memintaku untuk menyelesaikannya hingga membuatku begitu mengabaikanmu.
Aku minta maaf,” lirih Kyungsoo dengan masih mempertahankan pelukannya.
“Hei!
Kau benar-benar tidak akan mengatakan apa pun padaku?” tanya Kyungsoo setelah
melepas pelukannya dan menatap wajah Jisoo yang sudah basah akan air mata.
Kyungsoo
lalu menangkup wajah basah itu dan menyeka air mata yang tumpah dari pelupuk
matanya.
Cup
Kyungsoo
mengecup singkat bibir gadis yang berada di depannya itu. Membuat Jisoo
seketika berhenti terisak. Menatap wajah Kyungsoo dengan begitu dalam.
“Wae?
Apa ada yang salah? Apa aku tidak boleh mencium kekasihku?” tanya Kyungsoo yang
dibalas gelengan kepala Jisoo.
Kyungsoo
tersenyum lalu kembali menangkup wajah Jisoo. Dihapusnya bulir-bulir air mata
yang masih membasahi wajah Jisoo. “Lihatlah ... wajah cheonsa-ku sangat buruk
jika seperti ini,” ucap Kyungsoo.
Dengan
mata yang masih sembab Jisoo menatap wajah Kyungsoo, pandangan mereka bertemu
dan mengunci keduanya untuk beberapa detik. Sebelum akhirnya Kyungsoo kembali
menempelkan bibirnya pada bibir Jisoo. Menikmati benda kenyal yang sangat
menggoda baginya. Membuat gadis itu sedikit kesulitan bernapas karena tuntutan
bibir Kyungsoo yang terus meminta hal yang lebih darinya.
Beberapa
saat kemudian Kyungsoo melepaskan tautan bibirnya, kembali menatap wajah gadis
di depannya itu lalu membelai rambut panjang Jisoo. Wajah yang damai, itulah
yang dirasakannya sekarang.
Kyungsoo
kembali memeluk tubuh Jisoo erat seakan tidak ingin kehilangan gadis itu walau
pun sesaat. “Apa kau sudah makan?” tanya Kyungsoo masih dalam posisi yang sama.
“Aku
tidak lapar,” jawaban singkat Jisoo sebelum akhirnya cacing yang berada dalam
perutnya berbunyi dan terdengar oleh Kyungsoo.
Kyungsoo
terkekeh geli saat mendengar suara perut Jisoo yang sudah tidak sabar untuk
segera diisi. Benar-benar berlawanan dengan apa yang dituturkan oleh gadisnya
itu baru saja.
“Apa
kau tidak tahu jika aku sangat malu? Jangan menertawakanku seperti itu,
menyebalkan sekali.” Keluh Jisoo dengan wajahnya yang perlahan memerah.
“Baiklah
... baiklah ... ayo ... aku akan memasakkan nasi goreng kesukaanmu. Aku juga
belum makan sejak sore tadi,” ujar Kyungsoo seraya menuntun tangan gadisnya itu
untuk ikut bersamanya, menuju dapur apartementnya.
-o-
23:10 KST
Setelah
menyelesaikan makan malamnya, Kyungsoo meminta Jisoo untuk pulang dan kembali
ke apartementnya. Tapi Jisoo menggelengkan kepalanya dan meminta untuk tinggal
di sini, bersamanya.
-o-
Kyungsoo
melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya dengan diikuti Jisoo di belakangnya.
Gadis itu terus membuntutinya kemana pun Kyungsoo pergi, kecuali ke kamar
mandi.
“Apa
kau akan memakai pakaian itu tidur di sini? Bukankah kau sudah mengenakannya
seharian ini?” tanya Kyungsoo ketika Jisoo sudah membaringkan tubuhnya di
ranjang miliknya dengan kemeja berwarna merah muda yang sudah dipakainya
seharian ini.
“Apa
ada yang salah?” dengan polosnya gadis itu bertanya lalu mencium bau badannya
sendiri. “Ini bahkan masih sangat wangi dan tidak bau,” tutur gadis itu.
Kyungsoo
lalu menghembuskan nafasnya pelan dan membuka lemari pakaiannya. Di ambilnya
kemeja berwarna putih dan melemparnya ke arah Jisoo. “Pakai ini dan bersihkan
tubuhmu, aku tidak ingin tidurku terganggu karena bau badan yang menyeruak dari
tubuhmu.”
Jisoo
berdecak sebal mendengar apa yang
dikatakan Kyungsoo padanya baru
saja. “Dasar
menyebalkan, apa kau pernah mencium bau badanku yang tidak enak? Kau bahkan
tidak jijik memelukku dan menciumiku walau pun keringatku terus mengalir dari
tubuhku. Dan sekarang kau mengatakan hal itu dalam keadaanku tubuhku yang
baik-baik saja? Heol
... kau benar-benar menyebalkan.”
Mendengar itu, Kyungsoo hanya terkekeh geli dengan masih mengeringkan
rambut kepalanya dengan handuk. Tapi beginilah Jisoo, dia tetap akan melakukan apa pun yang
diperintahkan Kyungsoo kepadanya, walau dia berkata tidak akan melakukannya. Jisoo mengambil kemeja putih
yang diberikan Kyungsoo padanya lalu berjalan menuju kamar mandi.
-o-
Setelah
membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian yang diberikan Kyungsoo untuknya,
Jisoo kembali menaiki ranjang Kyungsoo. Ikut merebahkan dirinya pada ranjang
besar itu. Kyungsoo belum berniat untuk tidur dengan cepat, karena hampir
seharian ini yang dia lakukan hanya tidur tanpa ada Jisoo yang mengganggunya.
Kyungsoo membuka sebuah buku bacaan dan membacanya.
Sedangkan Jisoo terus mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
Memandangi langit-langit kamar Kyungsoo yang sedikit menenangkan menurutnya.
Berbeda jauh dengan kamarnya, walau pun mereka mendesign-nya sama persis,
termasuk dalam pemilihan warna dan sebagainya.
Mereka
berdua hidup dalam satu ranjang tetapi seakan terpisah dalam dunia yang
berbeda. Lihatlah, dua manusia itu seakan sibuk dengan dunianya masing-masing. Hingga salah satu di
antaranya mulai merasa bosan dan membuka percakapan.
“Kyungsoo-ya
....” panggil Jisoo menatap wajah pria yang sedang sibuk dengan aktifitas membacanya itu.
“Uhm
....” jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.
“Kyungsoo-ssi ....” panggil Jisoo lagi
mulai terdengar manja.
“Apa?”
tanya Kyungsoo mengalihkan pandangannya menatap Jisoo, namun Jisoo malah diam.
Kyungsoo
lalu menutup buku yang dibacanya dan meletakkannya pada tempat di mana ia
mengambilnya tadi. Jisoo menatap wajah Kyungsoo dengan tatapan sendunya.
“Apa
kau ingin aku memelukmu? Kemarilah ....” saran Kyungsoo lalu Jisoo pun
mendekatkan dirinya pada tubuh Kyungsoo. Menyandarkan kepalanya pada dada
bidang Kyungsoo yang terasa begitu nyaman baginya.
Kyungsoo
mengusap lembut puncak kepala kekasihnya itu dengan sesekali menciuminya.
“Aku
tidak bisa memejamkan mataku. Aku sangat lelah dan ingin tidur. Tapi mataku tidak
juga mau terpejam walau pun aku sudah sangat mengantuk,” ujar Jisoo dalam
pelukan Kyungsoo.
“Insomnia-mu
kambuh?” tanya Kyungsoo yang dibalas dengan anggukan kepala Jisoo.
“Apa
kau sudah pergi ke rumah sakit?” tanya Kyungsoo lagi, Jisoo menggelengkan
kepalanya.
“Wae?”
“Minseok Oppa sudah memberiku obat yang
biasa aku konsumsi, tapi walau pun aku sudah meminumnya, aku tetap tidak bisa
tidur,” ujar Jisoo.
Kyungsoo
lalu melepaskan pelukannya pada tubuh Jisoo dan beralih menangkup wajah
gadisnya itu. Diperhatikannya wajah Jisoo lekat-lekat. Dia baru sadar jika ada perubahan
pada wajah gadis itu. Terlihat sedikit redup dan pucat, tidak seperti
biasanya.
“Aku
kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini. Maafkan aku,” pinta Kyungsoo yang dibalas
anggukan kepala Jisoo.
Kyungsoo
lalu mengecup kedua mata gadis yang berada di depannya itu, seperti yang sering
dia lakukan. Sesaat kemudian Kyungsoo melepaskan tangkupan wajahnya. Tanpa sengaja pandangan
matanya tertuju pada kemeja yang dikenakan Jisoo.
“Bangunlah
....” pinta Kyungsoo.
“Uhm?”
“Bangun
sebentar,” pinta Kyungsoo lagi.
Jisoo
lalu merubah posisinya yang setengah tertidur menjadi sepenuhnya duduk.
“Jika
kau bersama pria lain, mungkin kau akan habis setelah ini.” Ucap Kyungsoo
seraya memasang dua kancing tengah kemeja Jisoo yang terbuka. Tentu saja
Kyungsoo dapat melihat apa yang berada di balik kemeja itu.
Jisoo hanya melongokan wajahnya dengan bola matanya yang seakan ingin
keluar. Lalu pandangan matanya
mengarah pada tangan Kyungsoo yang tengah memasang kancing kemeja yang
dikenakannya. Merutuki
kecerobohannya sendiri. Dasar gadis bodoh, bagaimana dia bisa tidak tahu jika kancing
kemejanya sedang terbuka? Untung saja kekasihnya itu bukan laki-laki cabul seperti
kebanyakan pria pada umumnya.
“Jangan
ceroboh seperti ini lagi. Aku tidak ingin ada laki-laki lain yang menyentuhmu
selainku, apa kau mengerti?” tanya Kyungsoo yang dibalas anggukan kepala Jisoo.
“Kyungsoo-ya
....”
panggil Jisoo lagi.
“Uhm
....”
“Kau
tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang?” tanya Jisoo seraya memandang wajah Kyungsoo.
Kyungsoo menggelengkan
kepalanya seraya menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Jisoo, “Memang
apa yang sedang kau pikirkan, eoh?” tanya Kyungsoo.
“Kadang
aku merasa takut, jika esok hari ... aku tidak akan pernah bangun lagi,” ujar
Jisoo yang seketika menghentikan tangan Kyungsoo yang sedang membelai
rambutnya.
“Jangan
mengatakan hal seperti itu, apa kau tidak tahu jika ini membuatku takut?” ungkap Kyungsoo.
“Tapi
akhir-akhir ini aku selalu merasa seperti itu. Aku takut, aku takut jika setelah ini aku
tidak bisa bangun lagi. Semua hal mengerikan itu terus datang dan
menghantuiku,” Jisoo kembali meneteskan air matanya.
“Sssstttt ... sudah aku katakan jangan mengatakan hal yang seperti itu. Apa
kau tidak tahu, bahwa aku benar-benar bisa gila bahkan walau pun hanya sekedar
membayangkannya, eoh?”
Kyungsoo
kembali memeluk gadis di depannya itu
begitu erat, sangat erat. Tangannya lalu beralih menangkup wajah basah Jisoo karena
air mata dan mengecup bibir gadis itu. Untuk sepersekian menit bibir mereka
bertemu sebelum akhirnya Kyungsoo melepasnya. Memandangi wajah Jisoo, lalu
kembali melumat bibir basah Jisoo dengan lembut dan penuh hati-hati. Berusaha menenangkan
perasaan kekasihnya
yang sedang kacau itu.
Beberapa
saat kemudian Kyungsoo melepaskan tautan bibirnya, mengakhiri
ciuman
mereka.
Dilihatnya gadis itu masih memejamkan kedua matanya. Kyungsoo kembali mengecup
singkat kedua kelopak mata Jisoo, lalu membersihkan sisa-sisa air mata yang
masih membasahi wajah cantik Jisoo.
“Sejak
kapan insomnia-mu kambuh? Apa sejak tadi malam?” tanya Kyungsoo.
Jisoo
menggelengkan kepalanya, “Sudah tiga hari ini aku bahkan tidak tidur sama sekali,”
ungkap Jisoo.
“Apa? Kenapa kau tidak
memberitahuku?” tanya Kyungsoo.
“Aku pikir aku bisa mengatasinya sendiri, tapi aku gagal.”
“Apa yang kau pikirkan untuk mengatasinya sendiri, eoh? Bukankah ada aku
yang akan selalu di sampingmu? Bukankah ada aku yang akan selalu membantumu? Jangan
berpikir untuk mengatasi ini sendiri lagi, apa kau mengerti?” tanya Kyungsoo
yang dibalas anggukan kepala Jisoo.
Kyungsoo
lalu kembali membawa gadisnya itu ke dalam pelukannya. Meletakkan kepala Jisoo
pada dada bidangnya. Mengusap lembut rambut kepala Jisoo. Berharap agar gadis
itu bisa tertidur dan menghilangkan segala kecemasannya.
Kyungsoo
sejenak mengalihkan pandangannya pada sebuah remot kontrol yang terletak di
atas nakas samping tempat tidurnya. Ia meraihnya lalu mengarahkannya pada alat
pemutar suara yang berada tak begitu jauh darinya. Memainkan sebuah musik pop
slow yang sering di dengarkannya saat dia bersama gadis yang berada dalam
pelukannya saat ini.
Alunan
tuts piano yang mengiringi musik itu perlahan merambat pada indra pendengaran
keduanya. Membuat Jisoo semakin menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher
Kyungsoo. Pria itu pun semakin mempererat pelukannya pada tubuh kecil gadis
yang di dekapnya itu. Sedikit bersenandung mengikuti amy lee dengan lagunya yang berjudul My Immortal. Yah, lagu dari album ketiga Evanescene–Fallen yang memiliki arti begitu mendalam.
I'm
so tired of being here
(Aku sangat letih berada di sini)
Suppressed by all my childish fears
(Tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan)
And if you have to leave
(Dan jika kau harus pergi)
I wish that you would just leave
(Kuharap engkau pergi saja)
'Cause your presence still lingers here
(Karena kehadiranmu masih berbekas di sini)
And it won't leave me alone
(Dan bayangmu takkan meninggalkanku)
These wounds won't seem to heal
(Luka ini takkan pernah sembuh)
This pain is just too real
(Rasa sakit ini memang nyata)
There's just too much that time cannot erase
(Terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu)
(Aku sangat letih berada di sini)
Suppressed by all my childish fears
(Tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan)
And if you have to leave
(Dan jika kau harus pergi)
I wish that you would just leave
(Kuharap engkau pergi saja)
'Cause your presence still lingers here
(Karena kehadiranmu masih berbekas di sini)
And it won't leave me alone
(Dan bayangmu takkan meninggalkanku)
These wounds won't seem to heal
(Luka ini takkan pernah sembuh)
This pain is just too real
(Rasa sakit ini memang nyata)
There's just too much that time cannot erase
(Terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu)
Kyungsoo
menepuk-nepuk pelan punggung Jisoo. Menginstruksi gadisnya itu untuk melepaskan
keletihannya dan menghilangkan semua ketakutannya. Seakan memberi isyarat bahwa
meski pun ia telah tiada, dia akan selalu bersamanya. Menemaninya walau pun
hanya bayangannya yang tersisa. Bahkan meski pun sakit yang akan dirasakannya
nanti tidak akan pernah sembuh, atau pun terhapus seiring berjalannya waktu.
Dia akan selalu bersamanya. Menemaninya dalam sepi dan kesendiriannya.
When
you cried I'd wipe away all of your tears
(Saat kau menangis, kan kuseka semua air matamu)
When you'd scream I'd fight away all of your fears
(Saat kau ingin teriak, kan kuusir semua ketakutanmu)
I held your hand through all of these years
(Kugenggam tanganmu sepanjang tahun ini)
But you still have all of me
(Namun kau masih memiliki diriku)
You used to captivate me
(Dulu kau memikat hatiku)
By your resonating light
(Dengan cahayamu yang menggetarkan)
Now I'm bound by the life you left behind
(Kini aku terikat pada hidup yang kau tinggalkan)
Your face it haunts
(Wajahmu menghantui)
My once pleasant dreams
(Mimpi-mimpiku yang dulu menyenangkan)
Your voice it chased away
(Suaramu menghalau)
All the sanity in me
(Kewarasan dalam diriku)
(Saat kau menangis, kan kuseka semua air matamu)
When you'd scream I'd fight away all of your fears
(Saat kau ingin teriak, kan kuusir semua ketakutanmu)
I held your hand through all of these years
(Kugenggam tanganmu sepanjang tahun ini)
But you still have all of me
(Namun kau masih memiliki diriku)
You used to captivate me
(Dulu kau memikat hatiku)
By your resonating light
(Dengan cahayamu yang menggetarkan)
Now I'm bound by the life you left behind
(Kini aku terikat pada hidup yang kau tinggalkan)
Your face it haunts
(Wajahmu menghantui)
My once pleasant dreams
(Mimpi-mimpiku yang dulu menyenangkan)
Your voice it chased away
(Suaramu menghalau)
All the sanity in me
(Kewarasan dalam diriku)
Jisoo perlahan memejamkan matanya. Merasakan kehangatan yang
Kyungsoo berikan untuknya. Perasaan damai yang beberapa hari ini hilang darinya
perlahan telah kembali. Membuatnya kembali percaya bahwa pria yang berada dalam
dekapannya itu akan selalu menjaganya. Menenangkannya dalam setiap
ketakutannya. Menghapus air matanya dalam setiap tangisannya. Dan mendekapnya
setiap kali hal mengerikan itu datang menghantuinya. Membuatnya kembali yakin
jika dia masih memilikinya yang akan selalu mencintainya. Bahkan hanya dengan
mendengar suaranya, dia akan terlelap tanpa harus menggunakan obat-obatan yang
akan membuatnya ketergantungan.
Kyungsoo terus memeluk Jisoo dalam dekapannya. Membiarkan
gadis itu tertidur dengan tenang di sana. Berharap agar kali ini dia
benar-benar bisa terlelap dan menghilangkan insomnianya. Melihat Jisoo yang
sudah benar-benar tenang dan memejamkan matanya, Kyungsoo lalu merebahkan tubuh
gadis itu di sampingnya. Menarik selimut putih miliknya untuk menutupi tubuh
Jisoo. Masih dengan belaian sayangnya, Kyungsoo terus mengusap lembut kepala
Jisoo. Menatap lekat wajah sendu gadis itu. Untuk beberapa saat sebuah senyuman
pada bibirnya terbentuk.
Kyungsoo lalu ikut merebahkan dirinya menyamai Jisoo.
Menumpukan kepalanya pada lengan kanannya. Hanya mengarahkan pandangannya pada
wajah Jisoo yang tidak pernah membuatnya bosan. Lalu kemudian dia pun ikut
terlelap bersama kekasihnya itu. Bersama pergi ke alam bawah sadarnya dan
melepas semua keletihannya.
I've
tried so hard to tell myself that you're gone
(Tlah berusaha keras kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau tlah tiada)
But though you're still with me
(Namun meski kau masih bersamaku)
I've been alone all along
(Selama ini aku tlah sendiri)
(Tlah berusaha keras kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau tlah tiada)
But though you're still with me
(Namun meski kau masih bersamaku)
I've been alone all along
(Selama ini aku tlah sendiri)
FIN!
See
you again in next Couple Soo story.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar