Title :
Tears In Your Eyes
Author :
Chandle Light
Genre : SAD
Main Cast :
Park Hee Gi (OC) | Lu Han
Other Cast :
Kim Hyo Ri (OC) | Do Kyungsoo
Length : One
Shoot
======
Summary ======
Kesedihan
itu tidak selalu terlihat, kesedihan itu tidak selalu disertai dengan air mata.
Kesedihan dapat dirasakan dengan jelas apabila kita menatap mata seseorang
dengan sangat lekat, begitu dalam dan berusaha mengetahui apa yang sedang
terjadi didalamnya.
Air mata
kebanyakan memang menjadi symbol kesedihan, tapi juga banyak yang
mengeluarkannya karna perasaan yang terlalu bahagia. Untuk membedakan apa itu
air mata kesedihan atau kebahagiaan, kau hanya perlu menatapnya dengan sangat
dalam, dan kau akan tahu, apa dia bahagia, atau sedang terluka.
Tertawa dan
tersenyum, jika kalian melihat seseorang melakukannya, kalian pasti akan
berpikir dia sedang bahagia. Yah, tertawa dan tersenyum adalah lambang
kebahagiaan. Tapi tidak boleh kita lupakan, jika bisa saja itu hanya senyum
palsu yang sengaja dibuatnya untuk menutupi kesedihan, untuk menutupi
penderitaan, dan untuk menutupi segala hal yang dia tidak ingin orang lain tau.
Ingatlah,
bahwa hanya dengan berusaha menyatu bersama prasaan orang itu, baru kalian akan
tau apa yang sebenarnya dia rasakan. Benar-benar tangisan kesedihan, tangisan
kebahagiaan, tangisan yang sengaja dibuat-buat, tertawa bahagia, tersenyum
senang, atau semua itu hanya topeng untuk menutupi keadaannya yang sebenarnya.
======Happy
Reading======
Pagi yang
sangat cerah, aku berjalan menapakkan kakiku satu persatu dan memasuki ruang
kelas yang sudah penuh dengan siswa-siswi yang saling bersenda gurau. Dari jauh
kulihat seorang laki-laki bermata rusa duduk bersama seorang gadis ulzang
cantik. Ya, dia adalah Lu Han dan Hyo Ri. Sejenak aku berhenti, berfikir apa
yang Luhan lakukan disini.
“bukankah
ini bukan kelasnya? Bukankah seharusnya dia berada dikelas sebelah bersama lay
oppa, dan yang lain? Kenapa dia disini?”
Aku kembali
berjalan menghampiri mereka, kemudian aku duduk disamping Luhan (posisi Luhan
berada di tengah, diantara aku dan Hyori).
“oppa! Apa
yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak masuk kekelasmu?”
Dia hanya
menolehkan wajahnya kearahku sekilas lalu kembali tertunduk.
“oppa!! Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau
hanya diam? Kenapa kau tidak menjawabku?”
Lu Han tetap
bungkam, dan tak bergerak sedikitpun.
“oppa!!
kenapa kau tidak menjawabku? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Apa ada
yang salah dengaku hari ini? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tidak berbicara
denganku seperti biasanya?”
Dia hanya
menatap tajam kearahku dengan air mata yang mulai menggenangi bola matanya.
Aku melihat
kesedihan dari raut wajahnya, begitu sedih hingga tanpa sadar air mataku
menetes begitu saja karna melihat genangan air mata dimatanya.
“Hyori-ya…
apa kau tidak tau apa yang sedang terjadi dengannya? Kenapa kalian hanya diam
saja? Kenapa tak ada yang menjawabku?”
Namun tetap
sama, Hyori tak berkata apapun. Dia ikut bungkam, menutup mulutnya rapat-rapat
sama seperti Luhan.
“hei!!
Jangan diam seperti ini, kalian membuatku benar-benar khawatir”.
Tapi tetap
saja, tak ada satupun dari mereka yang mau menjawabku. Kemudian aku beranjak
dari tempat dudukku dan berlari kearah meja guru didepan kelas. Disana ada
Kyungsoo yang sedang sibuk dengan laptop dihadapannya.
“Kyungsoo
ya... apa kau tau apa yang terjadi dengan mereka?” tanyaku padanya, seraya
mengarahkan jari telunjukku kearah Luhan dan Hyori.
“apa aku
harus tau?”
“tentu saja!
Bukankah kau temannya? Bukankah kau sahabat mereka? Dan kau berada disini
sebelum aku datang, seharusnya kau tau!!”
“hei!!
Berhentilah mengurusi urusan orang lain! Kenapa kau hanya bertanya tentang
mereka? Apa kau tidak ingin tau apa yang terjadi denganku dan sekolah ini?”
Aku terdiam
sejenak, memikirkan maksud perkataannya.
“apa
maksudmu?”
“kau tidak
akan pernah mengerti”
“jelas saja
aku tidak mengerti jika kau tidak memberitahuku”
“kemarilah”
Dia menarik
tanganku dan menunjukkan sesuatu yang berada dilayar laptopnya.
“ini tidak
mungkin” ucapku setelah melihatnya.
“apa dia
seperti itu karna ini? Jika itu keputusannya, lalu kenapa dia harus bersedih
seperti ini?”
Yah, hal
yang baru saja Kyungsoo tunjukkan kepadaku adalah berita gugatan Luhan yang
memutuskan untuk keluar dari sekolah ini. Dia memutuskan untuk kembali ke China
dan tinggal bersama dengan keluarganya disana. Air mataku kembali mengalir
deras dan aku kembali berlari kearah Luhan dan Hyori.
“oppa! Apa
berita itu benar? Apa kau benar-benar akan meninggalkan kami? Apa kau
benar-benar akan keluar dari sekolah ini dan kembali ke China? Oppa! Bagaimana
bisa kau tidak memikirkan perasaan kami disini? Kami membutuhkanmu, dan aku...
aku tidak bisa berada jauh darimu, bukankah kau berkata jika kau akan menjadi
kakakku selamanya? Bukankah kau berkata akan menjagaku? Lalu bagaimana bisa kau
akan meninggalkanku seperti ini?”
Luhan masih
tetap diam dengan air matanya yang sudah pecah dan mengalir dipipinya. Bola
matanya terlihat sangat merah menandakan bahwa dia sudah menahan air matanya
sejak tadi.
“jangan
seperti ini, aku tidak bisa oppa!! Kau satu-satunya kakak kelas yang begitu
menyayangiku disekolah ini, jangan meninggalkanku!” ucapku seraya menangis
sambil berlutut disamping meja belajarnya.
Beberapa
saat kemudian kurasakan tangannya mengusap lembut puncak kepalaku dan mulai
kudengar suara lirihnya mengatakan sesuatu.
“kita memang
akan jauh dan tidak akan saling melihat satu sama lain, tapi.. kau masih bisa
menyapaku lewat SNS, aku akan selalu ada untukmu, aku akan menjagamu dari sana
dengan doaku. Tuhan akan selalu melindungimu”.
“tapi
oppa... aku tidak bisa! Jangan meninggalkanku!”
“jangan
seperti ini! Aku sudah cukup sedih dengan semua keputusan yang aku ambil. Aku
sudah cukup tersiksa dengan perasaan berat hatiku meninggalkanmu dan yang lain
disini. Tapi tetap saja, bersedia atau tidak, aku tetap harus pergi dari sini”.
“oppa!!”
tangisku semakin menjadi.
“kemarilah...
jangan menangis lagi, dan berjanjilah akan selalu bahagia. Aku juga berjanji
akan selalu bahagia disana, sama seperti yang kalian rasakan. Yang harus kau
tau hanyalah bahwa aku mencintai kalian semua dimanapun aku dan kalian berada,
sejauh apapun jarak kita” dia memelukku dan menenangkanku dengan semua ucapan
yang dia katakan padaku.
Kuanggukkan
pelan kepaku lalu membalas pelukannya, sangat erat, dan aku enggan untuk
melepasnya, karna mungkin ini adalah pelukan terakhir kami sebelum akhirnya dia
pergi.
======
“kenapa kau
memakai baju olah raga?” ucapku pada Luhan ketika dia hendak keluar kelas
dengan kaos olah raga yang ia kenakan.
“aku akan
bermain basket bersama mereka untuk yang terakhir kalinya, ini adalah ucapan
salam perpisahanku untuk mereka” ucapnya dengan sedikit senyum yang terlukis
dibibirnya.
Deg!
Seketika aku
merasa sesak saat mendengarnya berbicara seperti itu. Senyum itu, itu bukan
suatu kebahagiaan, tapi sebuah kesedihan yang berusaha ia kubur dan sembunyikan
sedalam mungkin. Aku tau dia sedang mencoba untuk terlihat baik-baik saja
dengan ekspresi bahagia yang berusaha ia tunjukkan. Tapi tetap saja, bola
matanya tidak bisa membohongiku. Bibirnya mungkin tersenyum, tapi aku melihat
air mata yang terbendung didalam pelupuk matanya yang berusaha ia tahan agar
tidak keluar.
Aku tau kau
sedih Luhan, aku tau kau tidak ingin meninggalkan kami, dan aku tau jika
posisimu sangat sulit sekarang. Aku tau kau bukan tipe orang yang akan meninggalkan
teman dan sahabatmu begitu saja, aku tau kau orang yang sangat solid dalam
persahabatan, dan aku tau rasa sayangmu kepada kami begitu besar hingga membuat
kami tidak terlihat seperti orang lain untukmu, tapi lebih kepada saudara yang
akan kau jaga seperti kau berusaha menjaga dirimu sendiri. Aku tau kau orang
yang seperti itu, jadi tetaplah kuat seperti ini, dan jangan pernah menunjukkan
kelemahanmu. Aku akan selalu bersamamu, aku akan selalu mendukungmu, dimanapun
kau berada. Aku akan mencintaimu seperti yang kau katakan padaku, dimanapun
kita tinggal, sejauh apapun jarak kita, kita akan selalu bersama didalam hati
dan pikiran.
Kurasakan
alarm handphoneku berdering begitu keras hingga membuatku membuka mata, dan
sekarang aku melihat apa yang ada didepanku.
====END===
Itulah
mimpiku beberapa hari yang lalu, tepatnya hari senin malam selasa tanggal 20 –
21 Oktober 2014. Aku terbangun sebelum mimpi itu selesai, dan melihat
wajah-wajah tampan mereka terpampang begitu jelas didinding kamarku, POSTER!!
Terimakasih
sudah membaca cerita yang tidak jelas, yang dikarang berdasarkan mimpi dengan
ditambah beberapa bahan pelengkap dan mengurangi beberapa hal yang tidak perlu
untuk dikatakan. Ini adalah hasil jalan-jalanku diatas kasur pada malam hari
menjelang subuh.
REVIEW!
REVIEW! REVIEW!
Jika kalian
tidak meninggalkan jejak sedikitpun, aku doakan gak bisa baca dan nemuin FF
bagus seumur hidup! Biarin aja, biar hanya bisa baca FF yang gak jelas dan
semrawut seperti ini! :P

Tidak ada komentar:
Posting Komentar