Jumat, 06 Maret 2015

Missing You


Title : Missing You
Writer : Candle Light
Rate : -
Main Cast :Zang Yixing (Lay) | Nam Ra Ra (OC)
Genre : Fluff | Romance | Angst
Length : Vignette | Songfic | 2.330 Words
Release Date : January 26, 2014.


====
Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
05:15 KST.


Pria itu baru saja terbangun dari tidurnya. Langkah kakinya menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian pria itu telah keluar dengan handuk putih yang melilit pada sebagian tubuhnya. Pusar hingga lutut. Langkah kakinya terhenti tak kala melihat potret seorang wanita, tersenyum cantik pada bingkai photo berukuran besar di kamarnya. Sebuah lengkungan kecil pada ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman di wajah tampannya.

-o-

Pria itu, Zang Yixing. Atau lebih dikenal dengan sebutan Lay. Yah, dia memang berasal dari China, tepatnya Changsa. Dia menetap di Korea semenjak dia berumur lima tahun. Dan kini dia telah lulus dari Hanyang University dengan menyandang gelar dokter spesialis saraf (Sp.S). Yixing bekerja pada salah satu rumah sakit terkemuka di Korea. Asan Medical Center. Tahun ini adalah tahun ketiganya menjadi dokter di rumah sakit itu.

-o-

“Kita akan bertemu hari ini,” gumamnya lirih lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaian dan membukanya. Diambilnya sebuah kemeja bermotive catur dengan warna dominan hitam putih. Senyumnya kembali mengembang saat otaknya mengingat siapa yang memberinya pakaian itu. Wanita itu, wanita yang tersenyum cantik pada bingkai photo di dinding kamarnya, dia adalah orangnya.


=======

 

Seoul Grand Park

102 Daegongwongwangjang-ro
Gwacheon-si, Gyeonggi-do
South Korea
September 12, 2014
09:00 KST


 “Kau di mana?” Tanya seorang wanita berambut hitam panjang pada seseorang di seberang sana. Seseorang yang suaranya bisa sampai di telinganya dengan bantuan alat persegi panjang berwarna putih, yang berada dalam genggaman tangannya itu.

“…..”

“Baiklah ….”

-o-

Wanita itu lalu menurunkan lengannya dan kembali memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam saku blazernya. Diliriknya jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya. ‘lima belas menit lagi,’ batinnya. Ia lalu mendudukkan dirinya pada kursi panjang berwarna putih di taman itu.


=======

Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
06:45 KST.


“Yixing-ah … apa kau sudah bangun, sayang?” panggil seorang wanita separuh baya seraya mengetuk pintu kamar milik seseorang yang bernama Yixing itu.

Ye, Eomma … aku baru saja selesai mandi,” jawab pria itu dari dalam kamarnya.

“Baiklah … Eomma menunggumu di bawah, kita sarapan pagi bersama. Cepatlah turun,” pinta wanita itu kemudian berlalu dari depan pintu kamar putranya. Kembali ke dapur untuk menuntaskan aktivitas rutin paginya.

Yixing berjalan menuju meja rias di kamarnya. Memandangi penampilannya pada pantulan kaca besar yang memuat hampir sepertiga dari tubuhnya. Sekilas senyuman terukir pada wajahnya yang juga membentuk sebuah lesung pipi yang semakin membuatnya terlihat sangat tampan.


=======

 

Seoul Grand Park

102 Daegongwongwangjang-ro
Gwacheon-si, Gyeonggi-do
South Korea
September 12, 2014
09:30 KST


Pria dengan kemeja motive catur itu meletakkan kepalanya pada pangkuan seorang wanita. Suasana taman kota itu terlihat sedikit sepi, tidak begitu ramai pengunjung hari ini. Senyumnya terus saja mengembang pada wajah tampannya. Tanpa henti pria itu melafalkan nama wanita yang tengah memangkunya. Bahkan walau pun tak ada hal yang ingin dia bicarakan. “Rara-ya ... Nam Ra Ra ....” panggilnya untuk kesekian kalinya dan wanita itu selalu tersenyum cantik ke arahnya.


“Rara-ya.” Panggil Yixing yang mungkin sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali dia memanggilnya seperti itu hari ini.
“Uhm ....” wanita itu mengarahkan pandangannya pada pria yang berada di pangkuannya itu. Tidak lupa senyum cantik terlukis pada wajahnya.
“Apa kau bahagia bersamaku?” Tanya pria itu yang kemudian mendapat ciuman singkat pada keningnya.
“Kenapa kau tidak menjawabnya dan malah mencium keningku?” keluh pria itu.

“Bukankah dengan itu jawabanku sudah cukup jelas Yixing-ssi? Apa kau masih tidak mengerti maksudku?” balas tanya wanita itu dengan senyum cerah yang selalu terpancar dari wajah cantiknya.

Pria yang di panggil Yixing itu membalas senyumannya kemudian kembali melanjutkan pertanyaannya. “Rara-ya ... maukah kau berjanji untuk selamanya hidup bersamaku? Maukan kau berjanji untuk selalu di sisiku dan takkan pergi kemana pun meninggalkanku?”

Wanita yang di panggil Rara itu sejenak tersenyum, lalu melontarkan sebuah ungkapan yang membuat pria di pangkuannya itu semakin mengembangkan senyumannya. “Aku akan selalu di sisimu. Kita akan selalu bersama, tidak peduli apa pun yang terjadi.” Ungkap wanita itu.

Dan untuk kesekian kalinya, lesung pipi itu menghiasi wajah Yixing. Pria itu perlahan memejaman kedua matanya dalam pangkuan sang kekasih. Bukan bermaksud untuk tidur, tapi dia sedang berusaha menikmati dan mengenang moment yang terjadi hari ini.

=====

Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
07 : 30 KST.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya, “Aku telah selesai, Eomma ….” Tuturnya lalu membungkukkan tubuhnya hormat dan melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya.


Yixing kembali melihat pantulan dirinya pada cermin rias di dalam kamarnya, memastikan bahwa penampilannya benar-benar telah perfect. Dia lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu kamarnya. Tak lupa juga diambilnya kunci mobil yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.


“Aku merindukanmu Nam Rara ….” Ungkapnya dengan senyum cerah pada wajah tampannya.


=====

Banpo Bridge – Han River
Banpo Daero – Seoul, South Korea
December 17, 2014
19:00 KST


“Yixing-ssi … mungkin setelah ini kita tidak akan bisa bertemu lagi, maaf jika telah mengingkari janjiku.” Tutur seorang wanita yang berdiri di depan pria itu.

“Rara-ya … apa yang bicarakan? Kau akan pergi kemana?” Tanya Yixing ingin tahu. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian partikel air dengan rasa sedikit asin jatuh dari pelupuk matanya. Membuat pria yang berada di depannya itu memeluknya dan menengkannya.

“Jangan mengatakan hal seperti ini lagi, aku tidak menyukainya. Apa kau mengerti?” tanya Yixing yang dibalas anggukan pelan Rara.

Maafkan aku, tapi jangan menungguku dan tetaplah berjalan ke depan bersama takdirmu.Gumam wanita itu begitu pelan. Sangat pelan sehingga membuat Yixing tak dapat mendengarnya walau pun jarak mereka begitu dekat.


=====

Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
09:00 KST.


“Yixing-ah … kau akan pergi ke mana sepagi ini?” Tanya seorang wanita separuh baya menghentikan langkah putranya yang berjalan menuju pintu keluar rumahnya.

“Ah … Eomma … hari ini aku ada janji,” tutur pria itu lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.

“Xing-ah … tunggu … kau akan bertemu siapa? Bukankah kau masih cuti hari ini?” Tanya wanita separuh baya yang dipanggilnya Eomma itu berusaha menghentikan langkah kaki Yixing yang beradu sedikit cepat.

Yixing menghentikan langkahnya lalu menghembuskan napasnya kasar. “Dengan kekasihku Eomma, siapa lagi? Aku tidak akan pergi ke rumah sakit,” jelas pria itu lalu kembali melangkahkan kakinya cepat dan menggapai gagang pintu.

“Sampai kapan kau akan seperti ini, sayang? Rara sudah pergi, dia takkan pernah kembali lagi kepadamu. Kenapa kau tidak juga mengerti?” Keluh wanita itu yang membuat putranya, Yixing, langsung membalikkan badannya seratus delapan puluh derajat menghadapnya.

“Rara sudah pergi, aku melupakannya lagi.” Gumam pria itu yang seketika membuat senyuman di wajahnya pudar. Berganti dengan genangan air mata yang perlahan memenuhi pelupuk matanya. “Maafkan aku Eomma ... aku pasti sangat menyusahkanmu dengan kebodohanku ini,” ujar Yixing lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.

“Xing-ah ....” panggil wanita itu yang membuat langkah kaki Yixing berhenti saat itu juga. “Sayang ... sampai kapan kau tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya seperti ini? Biarkan dia tenang dalam peristirahatan terakhirnya. Dia tidak akan menyukai ini, dia tidak akan suka jika kau terus seperti ini. Rara akan bahagia jika kau bisa bangkit dan melanjutkan hidupmu.”

Yixing terdiam untuk beberapa saat mendengar penuturan ibunya baru saja. Dia tidak berkata apa pun dan hanya menundukkan wajahnya. Membiarkan air matanya jatuh mengenai dasar pijakan kakinya. Sejenak kembali melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kamarnya.


======= Flashback =======

Asan Medical Center
Poongnap-dong, Songpa-gu, Seoul, Korea.
December 02, 2014.
10:00 KST

“Rara-ya ... kau harus segera melakukan operasi, pertumbuhan tumor di otakmu semakin hari semakin ganas, jika tidak ....”
“Aku bisa mati? Lalu jika aku melakukan operasi apa dokter bisa menjamin kesembuhanku? Apa dokter bisa menjamin bahwa tumor itu akan benar-benar hilang dan tidak akan tumbuh lagi? Apa dokter bisa menjamin jika penyakitku benar-benar bisa sembuh secara total?” tanya gadis yang dipanggil Rara itu memotong ucapan dokter yang sedang berusaha menasehatinya.
“Memang aku tidak bisa menjamin semua itu, karena aku hanya dokter dan aku bukan Tuhan. Tapi Rara-ya ... setidaknya kau harus berusaha terlebih dahulu, seperti apa pun hasilnya nanti. Setidaknya walau pun kemungkinan hidupmu hanya satu persen, kau harus berusaha. Kau tidak boleh mati sia-sia.”
“Tidak dok, aku tetap tidak akan melakukannya. Dokter sendiri yang mengatakan kepadaku, jika operasi itu bisa menghilangkan semua ingatanku, aku tidak ingin itu terjadi.”
“Tapi itu hanya kemungkinan yang kami buat Rara ... itu belum tentu akan terjadi!”
“Memang itu belum tentu akan terjadi, tapi kemungkinan yang dokter berikan itu adalah kemungkinan terbaiknya, sedangkan kemungkinan terburuknya adalah kematian. Apa dokter lupa hal itu? Aku tidak ingin kehilangan semua memoriku bersama kekasihku. Biarkan aku akan membawa semua kenangan indah ini hingga aku mati.”
“Rara-ya ....”
“Aku mohon dok, aku telah siap dengan semua ini. Aku telah siap dengan kemungkinan terburukku. Aku hanya tinggal menunggu waktuku bukan? Jadi biarkan aku seperti ini, aku hanya ingin menghabiskan sisa-sisa waktuku bersamanya, jadi tolong mengertilah ....”

Dokter itu menghembuskan napasnya pasrah menghadapi sifat keras kepala pasiennya itu. Tapi memang semua yang dikatakan Rara ada benarnya. Bahkan walau pun operasi itu berhasil, dia belum tentu bisa hidup normal seperti semula. Dia belum tentu bisa kembali menikmati kebahagiaan yang dulu dia rasakan. Dia akan kehilangan semuanya, dia akan menjadi orang baru dan merasa sangat asing. Lalu apa bedanya itu dengan kematian? Sedangkan jika operasi itu gagal, dia harus merelakan napasnya menghilang lebih cepat. Alangkah lebih baiknya jika dia menggunakan waktu yang tersisa untuk terus bersama sang kekasih. Itulah yang ada pada pikirannya.

“Aku permisi dok. Dan seperti biasa, aku mohon ... rahasiakan ini dari Yixing. Aku akan memberitahunya sendiri nanti. Ya, nanti ... ketika waktuya telah tiba.” Ucap Rara lalu meninggalkan ruang prakter dokter spesialis tumor yang sudah tiga bulan terakhir ini selalu dia kunjungi. Bukan untuk mengkonsulltasikan tentang penyakitnya, tapi untuk memastikan jika dokter itu masih setia menjaga rahasianya dari sang kekasih.

Rara tidak ingin Yixing tahu tentang penyakitnya. Rara tidak ingin membuat Yixing khawatir tentang keadaannya. Yang ingin dia lihat hanyalah senyuman pada wajah kekasihnya itu. Dia tidak ingin melihat sang kekasih bersedih atau bahkan menangis ketika tahu tentang keadaannya. Itulah yang terus terngiang dalam otaknya hingga membuatnya menjadi keras kepala seperti ini.

========

Banpo Bridge – Han River
Banpo Daero – Seoul, South Korea
December 17, 2014
19:00 KST

“Yixing-ssi ....” panggil Rara seraya melepaskan pelukan Yixing kepadanya.
“Uhm ....?”
“Bisakah kita duduk di sana? Aku rasa pemandangan air mancur lebih terlihat indah jika kita melihatnya dari sana.” Pinta Rara seraya menunjuk sebuah tempat duduk yang tak jauh dari tempat mereka berada.

Yixing menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan Rara menuju tempat duduk itu. mereka pun duduk di sana, bersama dengan pasangan-pasangan lain yang juga sedang berkencan malam ini. Rara menyandarkan kepalanya pada bahu Yixing, menikmati pemandangan air mancur warna warni yang berada tepat di hadapan mereka.

“Yixing-ah ....” panggil Rara. Dan untuk pertama kalinya dia memanggil nama Yixing seperti itu.
“Uhm? Apa ada yang ingin kau katakan?” tanya Yixing seraya mengalihkan pandangan matanya melirik Rara yang bersandar di bahunya.
“Aku lelah ... bolehkah aku tidur di sini?”
“Tentu saja, mengapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kita sudah sering melakukannya?”

Rara terdiam tak menjawab pertanyaan Yixing. Rasanya ingin sekali dia menumpahkan air matanya sekarang juga. Tapi dia masih keras kepala untuk tidak memberitahu kekasihnya itu tentang keadaannya.

“Xing-ah ... boleh aku meminta satu hal darimu?” tanya Rara kemudian.
“Uhm ... mintalah apa pun yang kau inginkan, selama aku bisa, aku akan memberikannya.” Terang Yixing.
“Bisakah kau tidak menangis karena aku apa pun yang terjadi nanti?”

Yixing terdiam, mencerna perkataan kekasihnya baru saja. “Rara-ya ... apa maksudmu? Aku tidak mengerti, menangis karenamu? Aku bahkan selalu bahagia bersamamu, jadi bagaimana aku bisa menangis karenamu?” tanya Yixing.

“Ah ... benar ... kau akan selalu bahagia bukan? Kau akan selalu menampakkan lesung pipimu yang membuatmu terlihat semakin tampan. Tentu saja, kau takkan menangis. Kau akan selalu bahagia, selamanya aku ingin melihat kau selalu tersenyum seperti itu.” Jelas Rara dengan menahan tangis yang benar-benar ingin pecah dari bibirnya. “Yixing-ah ... bolehkah aku tidur sekarang? Aku sudah sangat lelah. Kelopak mataku benar-benar tidak mau bersembunyi lagi, jadi bolehkah?” tanya Rara lagi.

“Apa kau ingin kita pulang saja? Kau bisa beristirahat di rumah,” saran Yixing namun Rara menggelengkan kepalanya.

“Di sini saja, aku ingin di sini bersamamu. Aku ingin menghabiskan malam ini di sini, hanya denganmu, apa tidak apa-apa?” tanya Rara, Yixing menganggukkan kepalanya.

“Tidurlah ... aku akan selalu bersamamu di sini. Aku akan pastikan kau tetap akan melihatku setelah kau bangun nanti. Aku tidak akan pergi kemana pun, jadi kau tidak perlu khawatir.” Ungkap Yixing berusaha menenangkan kekasihnya itu dan Rara pun mengangguk mengerti.

‘Yixing-ah ... mungkin aku tidak akan bangun lagi setelah ini. Tersenyumlah ... tersenyumlah meski pun itu menyakitkan, aku tidak ingin melihat kau menangis. Jadi bahagialah ... aku mohon demi aku kau harus bahagia. meski pun aku tak di sampingmu lagi, meski pun kau tak lagi bisa melihatku setelah ini, di hatiku kau tidak akan pernah berubah. Aku akan mencintaimu hingga takdirku berhenti.’ Batin Rara kemudian mulai memejamkan kedua matanya dan seketika itu pula air mata menetes dari sudut matanya. Bersama dengan iringan musik yang di perdengarkan melalui alat pengeras suara di tempat itu.

Ijen gutaega anirago haedo
Animyeon nal kamahge ijesseodo
Neon danji nege jigan saramirado
Tonight is just one night
Neoreul irhgi jeon cheoreom

[Meskipun aku berusaha meyakinkan diri ini, tetap saja semua tidak sama seperti dulu
Meskipun kau berusaha melupakanku seutuhnya
Meskipun kau menganggapku hanya seseorang yang baru saja berlalu
Setiap malam – malam ku tetap sama,
Seperti saat kau belum meninggalkanku]


Neol dashi gago sipeun nae maeumeun
Wae geureohke miryeon suroeun geonji?
Niga eobneun nal injeong halsuga eobneun
Tonight is just one night
Neoreul irhgi jeon cheoreom

[Hatiku berontak untuk menemukanmu kembali
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?
Sulit menjalani hidup ini tanpa kehadiranmu
Setiap malam–malamku tetap sama,
Seperti saat kau belum meninggalkanku]


Raut wajah Rara perlahan berubah memutih bersama dengan hembusan napas terakhirnya. Wajah cantiknya menjadi begitu pucat karena jantungnya yang sudah tidak berdetak lagi. Hidupnya sudah berakhir. Dia sudah dalam perjalanan bertemu Tuhan.

Di bahu pria itu, kekasihnya. Zang Yixing. Wanita itu menutup matanya. Bersama dengan tangisan yang tidak terdengar dan kebahagiaan yang tidak terlihat, dia tidak akan membuka matanya lagi. Membawa kesedihan dan kebahagiaan pergi bersamanya. Meninggalkan dunia ini, meninggalkan seseorang yang begitu dicintainya.

END.

Fly To the Sky – Missing You
Cover : Ryeowook (SJ) & D.O (EXO)


Hanbeonman nae mameul deurojwo
Everyday evernight i am missing you
Nae gyeote eobseodo, ijen beorsu eobsodo
Eonjena nae mameun tto gateun neo ingeol
Neol dashi gago sipeun nae maeumeun
Wae geurohke miryeon suroeun geonji?

[Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meski pun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meski pun kau tak disampingku lagi
Meski pun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah
Hatiku berontak untuk menemukanmu kembali
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?]

-o-

Niga eobneun nal shirgan halsuga eobneun
Tonight is just one night
Noreul irhgi jeon cheoreom
Hanbaeonman nae mameul deurojwo
Everyday everynight i am missing you
Nae gyeote eobseodo
Dashi beorsu eobseodo
Eonjena nae mameun tto gateun neo ingeol

[Sulit menerima kenyataan kau bukan miliku lagi
Setiap malam – malam ku tetap sama,
Seperti saat kau belum meninggalkanku
Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah]

-o-

Neol gidae hajanha dashi naege wondago
Eonjena nae mameun ni ane gatchingeol oh yeah yeah yeah yeah

[Aku tidak mengharapkan agar kau kembali padaku
Hatiku masih terperangkap jauh didalam dirimu]

-o-

Hanbeonman nae mameul deurojwo
(Neol beorsu eobneun nan)

[Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
(Untukku yang tidak bisa memiliki mu lagi)]

-o-

Everyday every night i am missing you.. oh..
Nae gyeote eobseodo,
Dashi beorsu eobseodo
Eonjena nae mameun
Because i’m loving you and missing you

Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Hati ku akan selalu…
Karena aku Mencintaimu dan sangat merindukanmu


-o-


Hanbeonman nae mameul deurojwo
Everyday everynight I am missing you
Nae gyeote eobseodo,
dashi beorsu eobseodo,
Eonjena nae mameun tto gateun neo ingeol
Naegen ne manheun tto gateun neo ingeol

[Tolong dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah
Bagiku, kau akan tetap sama..

REVIEW WAJIB!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar