Title : Missing You
Writer : Candle Light
Rate : -
Main Cast :Zang Yixing (Lay) | Nam
Ra Ra (OC)
Genre : Fluff | Romance | Angst
Length : Vignette |
Songfic | 2.330 Words
Release Date : January 26, 2014.
====
Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
05:15 KST.
Pria itu baru
saja terbangun dari tidurnya. Langkah kakinya menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar
mandi dan membersihkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian pria itu telah keluar dengan
handuk putih yang melilit pada sebagian tubuhnya. Pusar hingga lutut. Langkah kakinya
terhenti tak kala melihat potret seorang wanita, tersenyum cantik pada bingkai
photo berukuran besar di kamarnya. Sebuah lengkungan kecil pada ujung bibirnya membentuk
sebuah senyuman di wajah tampannya.
-o-
Pria itu, Zang Yixing. Atau lebih dikenal dengan sebutan Lay. Yah, dia memang
berasal dari China, tepatnya Changsa. Dia menetap di Korea semenjak
dia berumur lima tahun. Dan kini dia
telah lulus dari Hanyang University
dengan menyandang gelar dokter spesialis
saraf (Sp.S). Yixing bekerja pada salah satu
rumah sakit terkemuka di Korea. Asan
Medical Center. Tahun ini adalah tahun ketiganya menjadi dokter di rumah
sakit itu.
-o-
“Kita akan bertemu
hari ini,” gumamnya lirih lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaian
dan membukanya. Diambilnya sebuah kemeja bermotive catur dengan warna dominan hitam
putih. Senyumnya kembali mengembang saat otaknya mengingat siapa yang
memberinya pakaian itu. Wanita itu, wanita yang tersenyum cantik pada bingkai
photo di dinding kamarnya, dia adalah orangnya.
=======
Seoul Grand Park
102 Daegongwongwangjang-ro
Gwacheon-si, Gyeonggi-do
South Korea
September 12, 2014
09:00 KST
“Kau di mana?” Tanya seorang wanita berambut hitam
panjang pada seseorang di seberang sana. Seseorang yang suaranya bisa sampai di
telinganya dengan bantuan alat persegi panjang berwarna putih, yang berada dalam
genggaman tangannya itu.
“…..”
“Baiklah ….”
-o-
Wanita itu lalu
menurunkan lengannya dan kembali memasukkan benda persegi panjang itu ke dalam saku
blazernya. Diliriknya jam tangan yang melingkar pada tangan kirinya. ‘lima belas menit lagi,’ batinnya. Ia lalu
mendudukkan dirinya pada kursi panjang berwarna putih di taman itu.
=======
Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
06:45 KST.
“Yixing-ah … apa kau sudah bangun, sayang?”
panggil seorang wanita separuh baya seraya mengetuk pintu kamar milik seseorang
yang bernama Yixing itu.
“Ye, Eomma
… aku baru saja selesai mandi,” jawab pria itu dari dalam kamarnya.
“Baiklah … Eomma menunggumu di bawah, kita sarapan pagi
bersama. Cepatlah turun,” pinta wanita itu kemudian berlalu dari depan pintu kamar
putranya. Kembali ke
dapur untuk menuntaskan aktivitas rutin paginya.
Yixing berjalan
menuju meja rias di kamarnya. Memandangi penampilannya pada pantulan kaca besar
yang memuat hampir sepertiga dari tubuhnya. Sekilas senyuman terukir pada wajahnya
yang juga membentuk sebuah lesung pipi yang semakin membuatnya terlihat sangat tampan.
=======
Seoul Grand Park
102 Daegongwongwangjang-ro
Gwacheon-si, Gyeonggi-do
South Korea
September 12, 2014
09:30 KST
Pria dengan kemeja
motive catur itu meletakkan kepalanya pada pangkuan seorang wanita. Suasana taman kota itu
terlihat sedikit sepi, tidak begitu ramai pengunjung hari ini. Senyumnya terus saja
mengembang pada wajah tampannya. Tanpa henti pria itu melafalkan nama wanita
yang tengah memangkunya. Bahkan walau pun tak ada hal yang ingin dia bicarakan.
“Rara-ya ... Nam Ra Ra ....”
panggilnya untuk kesekian kalinya dan wanita itu selalu tersenyum cantik ke arahnya.
“Rara-ya ….” Panggil Yixing yang mungkin sudah tidak bisa dihitung
lagi berapa kali dia memanggilnya seperti itu hari ini.
“Uhm ....”
wanita itu mengarahkan pandangannya pada pria yang berada di pangkuannya itu.
Tidak lupa senyum cantik terlukis pada wajahnya.
“Apa kau bahagia bersamaku?” Tanya pria itu
yang kemudian mendapat ciuman singkat pada keningnya.
“Kenapa kau tidak
menjawabnya dan malah mencium keningku?” keluh pria itu.
“Bukankah dengan
itu jawabanku sudah cukup jelas Yixing-ssi?
Apa kau masih tidak mengerti maksudku?” balas tanya wanita itu dengan senyum cerah
yang selalu terpancar dari wajah cantiknya.
Pria yang di
panggil Yixing itu membalas senyumannya kemudian kembali melanjutkan
pertanyaannya. “Rara-ya ... maukah
kau berjanji untuk selamanya hidup bersamaku? Maukan kau berjanji untuk selalu
di sisiku dan takkan pergi kemana pun meninggalkanku?”
Wanita yang
di panggil Rara itu sejenak tersenyum, lalu melontarkan sebuah ungkapan yang
membuat pria di pangkuannya itu semakin mengembangkan senyumannya. “Aku akan
selalu di sisimu. Kita akan selalu bersama, tidak peduli apa pun yang terjadi.”
Ungkap wanita itu.
Dan untuk
kesekian kalinya, lesung pipi itu menghiasi wajah Yixing. Pria itu perlahan
memejaman kedua matanya dalam pangkuan sang kekasih. Bukan bermaksud untuk
tidur, tapi dia sedang berusaha menikmati dan mengenang moment yang terjadi
hari ini.
=====
Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
07 : 30 KST.
Pria itu beranjak
dari tempat duduknya, “Aku telah selesai, Eomma
….” Tuturnya lalu membungkukkan tubuhnya hormat dan melangkahkan kakinya kembali
menuju kamarnya.
Yixing kembali
melihat pantulan dirinya pada cermin rias di dalam kamarnya, memastikan bahwa penampilannya
benar-benar telah perfect. Dia lalu melangkahkan
kakinya berjalan menuju pintu kamarnya. Tak lupa juga diambilnya kunci mobil
yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
“Aku merindukanmu
Nam Rara ….” Ungkapnya dengan senyum cerah pada wajah tampannya.
=====
Banpo
Bridge – Han River
Banpo
Daero – Seoul, South Korea
December 17, 2014
19:00 KST
“Yixing-ssi … mungkin setelah ini kita tidak
akan bisa bertemu lagi, maaf jika telah mengingkari janjiku.” Tutur seorang wanita
yang berdiri di depan pria itu.
“Rara-ya … apa yang bicarakan? Kau akan pergi kemana?”
Tanya Yixing ingin tahu. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian partikel
air dengan rasa sedikit asin jatuh dari pelupuk matanya. Membuat pria yang
berada di depannya itu memeluknya dan menengkannya.
“Jangan
mengatakan hal seperti ini lagi, aku tidak menyukainya. Apa kau mengerti?” tanya Yixing yang dibalas anggukan
pelan Rara.
‘Maafkan aku, tapi jangan menungguku dan tetaplah
berjalan ke depan bersama takdirmu.’ Gumam wanita itu begitu pelan.
Sangat pelan sehingga membuat Yixing tak dapat mendengarnya walau pun jarak mereka
begitu dekat.
=====
Samhaksa-ro
Songpa-gu, Seoul, South Korea
January 22, 2015.
09:00 KST.
“Yixing-ah … kau akan pergi ke mana sepagi ini?”
Tanya seorang wanita separuh baya menghentikan langkah putranya yang berjalan menuju
pintu keluar rumahnya.
“Ah … Eomma … hari ini aku ada janji,” tutur pria
itu lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.
“Xing-ah … tunggu … kau akan bertemu siapa?
Bukankah kau masih cuti hari ini?” Tanya wanita separuh baya
yang dipanggilnya Eomma itu berusaha menghentikan
langkah kaki Yixing yang beradu sedikit cepat.
Yixing menghentikan
langkahnya lalu menghembuskan napasnya kasar. “Dengan kekasihku Eomma, siapa lagi? Aku tidak akan pergi
ke rumah sakit,” jelas pria itu lalu kembali melangkahkan kakinya cepat dan menggapai
gagang pintu.
“Sampai kapan
kau akan seperti ini, sayang? Rara sudah pergi, dia takkan pernah kembali lagi
kepadamu. Kenapa kau tidak juga mengerti?” Keluh wanita itu yang membuat putranya,
Yixing, langsung membalikkan badannya seratus delapan puluh derajat menghadapnya.
“Rara sudah pergi,
aku melupakannya lagi.” Gumam pria itu yang seketika membuat senyuman di
wajahnya pudar. Berganti dengan genangan air mata yang perlahan memenuhi
pelupuk matanya. “Maafkan aku Eomma
... aku pasti sangat menyusahkanmu dengan kebodohanku ini,” ujar Yixing lalu kembali
melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
“Xing-ah ....” panggil wanita itu yang membuat
langkah kaki Yixing berhenti saat itu juga. “Sayang ... sampai kapan kau tidak
bisa mengikhlaskan kepergiannya seperti ini? Biarkan dia tenang dalam
peristirahatan terakhirnya. Dia tidak akan menyukai ini, dia tidak akan suka jika kau terus seperti ini. Rara akan bahagia
jika kau bisa bangkit dan melanjutkan hidupmu.”
Yixing
terdiam untuk beberapa saat mendengar penuturan ibunya baru saja. Dia tidak
berkata apa pun dan hanya menundukkan wajahnya. Membiarkan air matanya jatuh
mengenai dasar pijakan kakinya. Sejenak kembali melangkahkan kakinya dan masuk
ke dalam kamarnya.
=======
Flashback =======
Asan Medical
Center
Poongnap-dong, Songpa-gu, Seoul, Korea.
December 02, 2014.
10:00 KST
“Rara-ya ... kau harus segera melakukan operasi,
pertumbuhan tumor di otakmu semakin hari semakin ganas, jika tidak ....”
“Aku bisa
mati? Lalu jika aku melakukan operasi apa dokter bisa menjamin kesembuhanku?
Apa dokter bisa menjamin bahwa tumor itu akan benar-benar hilang dan tidak akan
tumbuh lagi? Apa dokter bisa menjamin jika penyakitku benar-benar bisa sembuh
secara total?” tanya gadis yang dipanggil Rara itu memotong ucapan dokter yang
sedang berusaha menasehatinya.
“Memang aku
tidak bisa menjamin semua itu, karena aku hanya dokter dan aku bukan Tuhan. Tapi
Rara-ya ... setidaknya kau harus
berusaha terlebih dahulu, seperti apa pun hasilnya nanti. Setidaknya walau pun
kemungkinan hidupmu hanya satu persen, kau harus berusaha. Kau tidak boleh mati
sia-sia.”
“Tidak dok,
aku tetap tidak akan melakukannya. Dokter sendiri yang mengatakan kepadaku,
jika operasi itu bisa menghilangkan semua ingatanku, aku tidak ingin itu
terjadi.”
“Tapi itu
hanya kemungkinan yang kami buat Rara ... itu belum tentu akan terjadi!”
“Memang itu
belum tentu akan terjadi, tapi kemungkinan yang dokter berikan itu adalah
kemungkinan terbaiknya, sedangkan kemungkinan terburuknya adalah kematian. Apa
dokter lupa hal itu? Aku tidak ingin kehilangan semua memoriku bersama
kekasihku. Biarkan aku akan membawa
semua kenangan indah ini hingga aku mati.”
“Rara-ya ....”
“Aku mohon
dok, aku telah siap dengan semua ini. Aku telah siap dengan kemungkinan
terburukku. Aku hanya tinggal menunggu waktuku bukan? Jadi biarkan aku seperti
ini, aku hanya ingin menghabiskan sisa-sisa waktuku bersamanya, jadi tolong
mengertilah ....”
Dokter itu
menghembuskan napasnya pasrah menghadapi sifat keras kepala pasiennya itu. Tapi
memang semua yang dikatakan Rara ada benarnya. Bahkan walau pun operasi itu
berhasil, dia belum tentu bisa hidup normal seperti semula. Dia belum tentu
bisa kembali menikmati kebahagiaan yang dulu dia rasakan. Dia akan kehilangan
semuanya, dia akan menjadi orang baru dan merasa sangat asing. Lalu apa bedanya
itu dengan kematian? Sedangkan jika operasi itu gagal, dia harus merelakan
napasnya menghilang lebih cepat. Alangkah lebih baiknya jika dia menggunakan
waktu yang tersisa untuk terus bersama sang kekasih. Itulah yang ada pada
pikirannya.
“Aku permisi
dok. Dan seperti biasa, aku mohon ... rahasiakan ini dari Yixing. Aku akan
memberitahunya sendiri nanti. Ya, nanti ... ketika waktuya telah tiba.” Ucap
Rara lalu meninggalkan ruang prakter dokter spesialis tumor yang sudah tiga
bulan terakhir ini selalu dia kunjungi. Bukan untuk mengkonsulltasikan tentang
penyakitnya, tapi untuk memastikan jika dokter itu masih setia menjaga
rahasianya dari sang kekasih.
Rara tidak
ingin Yixing tahu tentang penyakitnya. Rara tidak ingin membuat Yixing khawatir
tentang keadaannya. Yang ingin dia lihat hanyalah senyuman pada wajah
kekasihnya itu. Dia tidak ingin melihat sang kekasih bersedih atau bahkan
menangis ketika tahu tentang keadaannya. Itulah yang terus terngiang dalam
otaknya hingga membuatnya menjadi keras kepala seperti ini.
========
Banpo
Bridge – Han River
Banpo
Daero – Seoul, South Korea
December 17, 2014
19:00 KST
“Yixing-ssi ....” panggil Rara seraya melepaskan
pelukan Yixing kepadanya.
“Uhm ....?”
“Bisakah
kita duduk di sana? Aku rasa pemandangan air mancur lebih terlihat indah jika
kita melihatnya dari sana.” Pinta Rara seraya menunjuk sebuah tempat duduk yang
tak jauh dari tempat mereka berada.
Yixing
menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng tangan Rara menuju tempat duduk
itu. mereka pun duduk di sana, bersama dengan pasangan-pasangan lain yang juga
sedang berkencan malam ini. Rara menyandarkan kepalanya pada bahu Yixing,
menikmati pemandangan air mancur warna warni yang berada tepat di hadapan
mereka.
“Yixing-ah ....” panggil Rara. Dan untuk pertama
kalinya dia memanggil nama Yixing seperti itu.
“Uhm? Apa
ada yang ingin kau katakan?” tanya Yixing seraya mengalihkan pandangan matanya
melirik Rara yang bersandar di bahunya.
“Aku lelah
... bolehkah aku tidur di sini?”
“Tentu saja,
mengapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kita sudah sering melakukannya?”
Rara terdiam
tak menjawab pertanyaan Yixing. Rasanya ingin sekali dia menumpahkan air
matanya sekarang juga. Tapi dia masih keras kepala untuk tidak memberitahu
kekasihnya itu tentang keadaannya.
“Xing-ah ... boleh aku meminta satu hal
darimu?” tanya Rara kemudian.
“Uhm ...
mintalah apa pun yang kau inginkan, selama aku bisa, aku akan memberikannya.”
Terang Yixing.
“Bisakah kau
tidak menangis karena aku apa pun yang terjadi nanti?”
Yixing
terdiam, mencerna perkataan kekasihnya baru saja. “Rara-ya ... apa maksudmu? Aku tidak mengerti, menangis karenamu? Aku
bahkan selalu bahagia bersamamu, jadi bagaimana aku bisa menangis karenamu?”
tanya Yixing.
“Ah ...
benar ... kau akan selalu bahagia bukan? Kau akan selalu menampakkan lesung
pipimu yang membuatmu terlihat semakin tampan. Tentu saja, kau takkan menangis.
Kau akan selalu bahagia, selamanya aku ingin melihat kau selalu tersenyum
seperti itu.” Jelas Rara dengan menahan tangis yang benar-benar ingin pecah
dari bibirnya. “Yixing-ah ...
bolehkah aku tidur sekarang? Aku sudah sangat lelah. Kelopak mataku benar-benar
tidak mau bersembunyi lagi, jadi bolehkah?” tanya Rara lagi.
“Apa kau
ingin kita pulang saja? Kau bisa beristirahat di rumah,” saran Yixing namun
Rara menggelengkan kepalanya.
“Di sini
saja, aku ingin di sini bersamamu. Aku ingin menghabiskan malam ini di sini,
hanya denganmu, apa tidak apa-apa?” tanya Rara, Yixing menganggukkan kepalanya.
“Tidurlah
... aku akan selalu bersamamu di sini. Aku akan pastikan kau tetap akan
melihatku setelah kau bangun nanti. Aku tidak akan pergi kemana pun, jadi kau
tidak perlu khawatir.” Ungkap Yixing berusaha menenangkan kekasihnya itu dan
Rara pun mengangguk mengerti.
‘Yixing-ah ... mungkin aku tidak akan bangun
lagi setelah ini. Tersenyumlah ... tersenyumlah meski pun itu menyakitkan, aku
tidak ingin melihat kau menangis. Jadi bahagialah ... aku mohon demi aku kau
harus bahagia. meski pun aku tak di sampingmu lagi, meski pun kau tak lagi bisa
melihatku setelah ini, di hatiku kau tidak akan pernah berubah. Aku akan
mencintaimu hingga takdirku berhenti.’ Batin Rara kemudian mulai memejamkan
kedua matanya dan seketika itu pula air mata menetes dari sudut matanya.
Bersama dengan iringan musik yang di
perdengarkan melalui alat pengeras suara di tempat itu.
Ijen gutaega anirago
haedo
Animyeon nal kamahge
ijesseodo
Neon danji nege jigan
saramirado
Tonight is just one
night
Neoreul irhgi jeon cheoreom
Neoreul irhgi jeon cheoreom
[Meskipun aku
berusaha meyakinkan diri ini, tetap saja semua tidak sama seperti dulu
Meskipun kau berusaha melupakanku seutuhnya
Meskipun kau menganggapku hanya seseorang yang baru saja berlalu
Setiap malam – malam ku tetap sama,
Meskipun kau berusaha melupakanku seutuhnya
Meskipun kau menganggapku hanya seseorang yang baru saja berlalu
Setiap malam – malam ku tetap sama,
Seperti saat kau belum
meninggalkanku]
Neol dashi gago
sipeun nae maeumeun
Wae geureohke miryeon
suroeun geonji?
Niga eobneun nal
injeong halsuga eobneun
Tonight is just one
night
Neoreul irhgi jeon
cheoreom
[Hatiku berontak untuk
menemukanmu kembali
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?
Sulit menjalani hidup ini tanpa kehadiranmu
Setiap malam–malamku tetap sama,
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?
Sulit menjalani hidup ini tanpa kehadiranmu
Setiap malam–malamku tetap sama,
Seperti saat kau belum
meninggalkanku]
Raut wajah
Rara perlahan berubah memutih bersama dengan hembusan napas terakhirnya. Wajah
cantiknya menjadi begitu pucat karena jantungnya yang sudah tidak berdetak lagi.
Hidupnya sudah berakhir. Dia sudah dalam perjalanan bertemu Tuhan.
Di bahu pria
itu, kekasihnya. Zang Yixing. Wanita itu menutup matanya. Bersama dengan tangisan
yang tidak terdengar dan kebahagiaan yang tidak terlihat, dia tidak akan
membuka matanya lagi. Membawa kesedihan dan kebahagiaan pergi bersamanya.
Meninggalkan dunia ini, meninggalkan seseorang yang begitu dicintainya.
END.
Fly To the Sky – Missing You
Cover : Ryeowook (SJ) & D.O
(EXO)
Hanbeonman nae mameul
deurojwo
Everyday evernight i
am missing you
Nae gyeote eobseodo,
ijen beorsu eobsodo
Eonjena nae mameun
tto gateun neo ingeol
Neol dashi gago
sipeun nae maeumeun
Wae geurohke miryeon
suroeun geonji?
[Tolong dengarkanlah jeritan
hatiku ini, meski pun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meski pun kau tak disampingku lagi
Meski pun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meski pun kau tak disampingku lagi
Meski pun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah
Hatiku berontak untuk
menemukanmu kembali
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?]
Mengapa semua ini tidak cepat berlalu?]
-o-
Niga eobneun nal
shirgan halsuga eobneun
Tonight is just one
night
Noreul irhgi jeon
cheoreom
Hanbaeonman nae
mameul deurojwo
Everyday everynight i
am missing you
Nae gyeote eobseodo
Dashi beorsu eobseodo
Eonjena nae mameun
tto gateun neo ingeol
[Sulit menerima kenyataan
kau bukan miliku lagi
Setiap malam – malam ku tetap sama,
Setiap malam – malam ku tetap sama,
Seperti saat kau belum
meninggalkanku
Tolong dengarkanlah jeritan
hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah]
Setiap hari dan malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau tidak akan pernah berubah]
-o-
Neol gidae hajanha
dashi naege wondago
Eonjena nae mameun ni
ane gatchingeol oh yeah yeah yeah yeah
[Aku tidak mengharapkan agar
kau kembali padaku
Hatiku masih terperangkap jauh didalam dirimu]
Hatiku masih terperangkap jauh didalam dirimu]
-o-
Hanbeonman nae mameul
deurojwo
(Neol beorsu eobneun
nan)
[Tolong dengarkanlah jeritan
hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
(Untukku yang tidak bisa memiliki mu lagi)]
(Untukku yang tidak bisa memiliki mu lagi)]
-o-
Everyday every night
i am missing you.. oh..
Nae gyeote eobseodo,
Dashi beorsu eobseodo
Eonjena nae mameun
Because i’m loving
you and missing you
Setiap hari dan malam yang
kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Hati ku akan selalu…
Meskipun kau tak disampingku lagi
Meskipun aku tak mampu melihatmu sekarang
Hati ku akan selalu…
Karena aku Mencintaimu dan
sangat merindukanmu
-o-
Hanbeonman nae mameul deurojwo
Everyday everynight I am missing you
Nae gyeote eobseodo,
dashi beorsu eobseodo,
Eonjena nae mameun tto gateun neo ingeol
Naegen ne manheun tto
gateun neo ingeol
[Tolong
dengarkanlah jeritan hatiku ini, meskipun hanya sekali saja
Setiap hari dan
malam yang kulalui, aku merasa kehilanganmu
Meskipun kau tak
disampingku lagi
Meskipun aku tak
mampu melihatmu sekarang
Dihatiku kau
tidak akan pernah berubah
Bagiku, kau akan tetap
sama..
REVIEW WAJIB!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar