Title : Unfaithful
Writer
: Candle Light
Rate : PG-15
Main Cast : Song Ji-Soo (OC) | Do Kyung Soo
Other Cast : Lee Hyun Bi (OC) | Kim Hyori
(OC) | EXO Member | Song Joongki |
Genre : Fluff | Hurt
Release Date : February 08, 2015.
Length : Series | 2Soo Story
====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January 23, 2015.
07.00 KST.
Jarum
jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi gadis itu masih setia bergulung di
bawah selimut biru bermotive Frozen-nya. Bahkan suara dering alarm yang
berbunyi selama satu jam penuh tak mampu membuatnya keluar dari alam mimpinya.
Entahlah ... dia benar-benar tidur atau sedang latihan mati. Bagaimana bisa ada
seorang gadis sepertinya di dunia ini? Ya Tuhan ....
Tiba-tiba
saja sebuah percikan kecil yang terasa dingin menyentuh kulit wajahnya. Tentu
saja, sedang ada seseorang yang berusaha membangunkannya sekarang.
“Hei!!
Sleeping Beauty! Apa kau tidak akan
bangun, hah?” Decak Hyori seraya memercikkan air tepat di atas wajah Jisoo.
Jisoo
merasakan sapuan kecil air itu di wajahnya. Akhirnya gadis itu pun membuka
matanya dan tersenyum cantik ke arah Hyori yang berada di hadapannya itu.
“Hyori-ya ... Annyeong ....” sapanya
dengan wajah innocentnya.
“Ya
Tuhan ... apa kau tidak tahu ini jam berapa? Kenapa kau masih bermalasan
seperti ini?”
Jisoo
memicingkan matanya, “Wae? Bukankah
ini hari sabtu? Dan aku bebas melakukan apa pun hari ini, termasuk tidur
sepuasku.”
Hyori
mendengus kesal, “Apa kau mengalami amnesia?
Ini masih hari jum’at dan kita ada meeting
pukul delapan pagi.”
“Hyori-ya ... jangan membodohiku, ini sudah
hari sabtu!”
Hyori
kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan menekan ikon kalender, menunjukkannya
tepat di hadapan wajah Ji-Soo. Jisoo membelalakkan matanya sempurna, dia bahkan
belum sepenuhnya menyatukan nyawa dan raganya dalam satu tempat.
“AAAH
... eotttokhae?”
“Apa
yang bagaimana? Kenapa kau tidak segera bangun dan membersihkan tubuhmu?”
“Ah
... kau benar!” Jisoo kemudian turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar
mandi.
Gadis
itu benar-benar sangat menyusahkan. Bagaimana dia bahkan bisa lupa hari seperti
itu? Apa yang ada di otaknya hanyalah tidur dan makan? Ya Tuhan ....
=======
“Hyori-ya ... kenapa kau datang kemari?” Tanya
Jisoo ketika baru saja keluar dari kamar mandi dan membuka lemarinya, mengambil
setelen yang akan dikenakannya untuk kerja.
“Apa
tidak boleh?” jawab Hyori datar.
“Tidak
... bukan seperti itu, tapi ini cukup pagi untukmu datang kemari.”
“Apa
kau bahkan tidak bisa mengiranya?”
“Apa?”
“Aku
datang kemari untuk membangunkanmu, bodoh!”
“Hei!
Jangan memanggil aku bodoh! Aku bahkan lebih pintar darimu!” decak Jisoo sebal.
Dalam
sekejap Hyori bungkam. Memang benar, walau pun Jisoo terlihat seperti gadis
bodoh, tapi dia cukup pintar dalam semua mata pelajarannya, kecuali bahasa
mancanegara. Dia bahkan meraih penghargaan sebagai salah satu dari sepuluh
lulusan siswa terbaik di universitas tempatnya menimba ilmu. Tentu saja,
ayahnya adalah seorang direktur perusahaan besar yang terkenal kecerdasaannya
dalam berbisnis. Demikian pun juga dengan kakaknya, Song Joong Ki. Dan ibunya
adalah seorang wanita yang juga memiliki pendidikan yang tidak bisa dipandang remeh. Beliau bahkan menyelesaikan
program study S1-nya hanya dalam waktu tiga tahun. Jadi tidak heran jika gadis
aneh itu menuruni kecerdasan keluarganya.
“Lalu
selain membangunkanku, apa kau tidak memiliki tujuan lain?” tanya Jisoo
kemudian.
“Tidak!”
“Benarkah?
Woah ... aku sangat terharu dengan perhatianmu! Kau memang teman terbaikku!”
“Hentikan
ocehan tidak masuk akalmu itu! Jika bukan karena mata bulat itu, aku tidak akan
datang ke sini sepagi ini.”
“Namanya
Kyungsoo!”
“Aku
tahu!”
“Kenapa
dia menyuruhmu datang kemari?”
“Sudah
kukatakan untuk membangunkanmu!”
“Ash
... kenapa dia tidak datang sendiri membangunkanku? Omo ... tidak! Dia tidak akan keluar negeri lagi ‘kan?” Tanya Jisoo
lalu bergegas mencari ponselnya. “Dimana ponselku? Hei! Dimana ponselku?” Gadis
itu bertanya dengan sedikit berteriak. Itu benar-benar sangat berisik.
Sekali
lagi Hyori mendengus kesal melihat tingkah sahabatnya itu. “Hei! Kenapa kau tidak
hanya mengganti pakaianmu dengan cepat? Kyungsoo tidak akan pergi kemana pun!
Dia memintaku membangunkanmu karena dia harus menyiapkan acara meeting pagi ini.”
Ji-Soo
membalikkan tubuhnya kemudian berjalan ke arah Hyori. “Kau ... tidak sedang
membohongiku ‘kan?” Tanya Jisoo mendekatkan wajahnya pada wajah Hyori. Berusaha
menemukan kebohongan di balik manik mata itu.
Hyori
mendorong kening Jisoo dengan telunjuknya. “Tidak, cantik! Kau bisa
memastikannya ketika di kantor nanti! Maka dari itu cepat selesaikan
dandananmu! Aku tidak ingin gajiku di potong karena terlambat menunggumu!”
“Ah
... Arraseo!” ujar Jisoo.
=======
Taesan
Corp.
#505 Seoco
Town Trapalace,
1327
Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 23, 2015
11:00 KST.
Terlihat
seluruh pegawai baru saja keluar dari ruang meeting.
Mereka semua bergegas menuju ruang kerjanya masing-masing. Tapi tidak dengan
Jisoo yang masih setia duduk pada kursinya tanpa bergeming sedikit pun. Melihat
seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya begitu sibuk dengan seluruh
dokumen hasil meeting pagi ini.
“Lihatlah
... betapa baiknya dia sebagai seorang suami.” Lirih Jisoo kemudian terkekeh
geli dengan perkataannya sendiri.
“Apa
kau tidak akan kembali ke ruanganmu?” Tanya Kyungsoo menyadarkan lamunan Jisoo.
“Ah
... tentu!” Jawab Jisoo
kemudian berlari menghampiri Kyungsoo. Mereka pun melangkahkan kakinya bersama
keluar dari ruang meeting. “Kyungsoo-ya ....” panggil Jisoo.
“Umh
... ada apa?”
“Bisakah
besok kita pergi jalan-jalan? Aku ingin pergi berkencan denganmu.”
“Besok?”
“Uhm
....” Jisoo mengangguk.
“Baiklah
... ayo kita pergi besok!”
=========
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January
24, 2014.
08:00
KST
Jisoo
berjalan keluar dari pintu apartementnya dan melangkahkan kakinya menuju
apartement Kyungsoo. Pakaiannya sudah rapi dengan blazer merah selututnya dan shall
putih yang menutupi lehernya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai dengan
tas selempang kecil yang memiliki warna senada dengan shall-nya.
Jisoo
memasukkan kode password apartement
Kyungsoo hingga menimbulkan bunyi ‘klik’ dan apartement itu pun terbuka. Gadis
itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan langsung menuju kamar milik
Kyungsoo.
“Apa
kau sudah siap?” Tanya Jisoo saat melihat Kyungsoo telah berada di depan kaca
rias membenarkan dasinya. “Hei! Kenapa kau berpakaian serapi ini? Kita bukan
akan pergi bekerja!”
“Ah
... aku lupa mengatakannya, maaf sayang! Sepertinya kita harus membatalkan
kencan hari ini. Ada urusan mendadak di kantor dan aku harus ke sana sekarang
juga.”
“Mwo?”
“Aku
benar-benar minta maaf, kita ganti saja besok, bagaimana?” Tanya Kyungsoo
kemudian mengecup kening Jisoo dan berjalan melewati gadisnya itu. Mengambil
file-file pekerjaan yang sudah ia siapkan di atas ranjangnya.
Jisoo
membelalakkan matanya terkejut mendengar penuturan Kyungsoo baru saja. Sudah
pasti dia akan merasa sangat kecewa. Dia bahkan sudah berdandan begitu cantik
hari ini. Dan tanpa diduga Kyungsoo membatalkan acara mereka begitu saja. Tapi
apa boleh buat? Ini tentang pekerjaan, Jisoo tahu jika Kyungsoo orang yang
begitu bertanggung jawab akan pekerjaannya. Tentu saja gadis itu hanya akan
merelakannya walau pun hatinya masih belum ikhlas. Toh sekali pun Jisoo
merengek untuk tetap melanjutkan acara mereka, Kyungsoo tidak akan mungkin
merubah pikirannya. Apalagi jika itu benar-benar urusan yang sangat penting.
Jisoo
mendesah kecewa, “Baiklah … besok saja jika seperti itu, aku akan pergi
mengunjungi ibu hari ini.” Jawab Jisoo kemudian melangkahkan kakinya berjalan
keluar dari kamar Kyungsoo.
Baru
beberapa langkah gadis itu meninggalkan kamar Kyungsoo, dirasakannya tangan
seseorang menahan pergelangan tangannya. “Apa lagi?” Tanya Jisoo tanpa
membalikkan tubuhnya.
“Apa
kau marah?” tanya Kyungsoo.
Jisoo
membalikkan tubuhnya kemudian tersenyum, “Tidak, besok saja.” Jawabnya seraya
menggelengkan kepalanya.
Cup
Pria
itu mengecup singkat bibir merah Jisoo lalu berkata, “Jangan menangis di luar
sana, kau mengerti?”
Jisoo
memicingkan matanya, “Aku tidak akan menangis, Ahjussi! Kau tenang saja.” Jawab gadis itu kemudian terkekeh
sendiri dengan ucapannya baru saja.
Kyungsoo
lalu mengusap puncak kepalanya pelan, “Baiklah … ayo ….” ajak Kyungsoo.
“Umm
… kemana?”
“Aku
akan mengantarkanmu pulang.”
Jisoo
menggeleng cepat, “Aku bawa mobilku sendiri!”
“Kau
yakin?”
“Uhm
… aku akan membelikan ibu bunga tulip kesayangannya. Jadi aku bawa mobil sendiri saja,
bukankah kau berkata harus segera pergi ke kantor?”
Kyungsoo
mengangguk lalu menggandeng tangan Jisoo keluar apartementnya menuju area
parkir mobil di lantai dasar gedung apartement itu.
=======
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
January
24, 2014.
19:00
KST
“Sayang
kau dimana?” Tanya Jisoo kepada seseorang yang berada di telephone-nya.
[Aku masih di kantor, kenapa?]
“Pantas
saja aku mencarimu keseluruh ruangan ini tidak ada.”
[Apa kau sedang berada di apartementku?]
“Uhm
… apa aku harus menyusulmu ke kantor?”
[Tidak perlu, aku akan pulang setelah
ini.]
“Baiklah
… aku akan menunggumu di sini.”
[Uhm ….]
Tut
Jisoo
mengakhiri panggilannya dan bergegas menuju ruang tengah apartement Kyungsoo.
Seperti kebiasaannya sebelumnya, dia hanya akan tiduran di sofa sambil menonton
televisi. Namun tanpa sadar Jisoo memejamkan matanya di sana. Tertidur hingga
pagi menyambutnya. Lalu bagaimana dengan Kyungsoo? Pria itu bahkan tidak pulang
ke apartemennya semalam penuh. Dia masih
berada di kantornya dan menyelesaikan laporan pajak yang membuat kepalanya
benar-benar ingin pecah. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba pemerintah
perpajakan mengirimkan surat pemberitahuan bahwa ada beberapa data yang tidak
sesuai dengan yang dilaporkan.
Jisoo
membuka matanya dan menemui sang mentari telah bersinar terang di balik tirai
ruangan itu. Dilihatnya jam tangan yang masih melingkar pada pergelangan tangan
kanannya. “Mwo? Jam sepuluh?” Jisoo
membelalakkan matanya terkejut. Gadis itu beranjak dari tidurnya mencari sang
pemilik apartement yang tak juga ditemuinya. “Apa dia tidak pulang semalam?”
tanyanya lirih.
Jisoo
kemudian kembali berjalan ke ruang tengah. Diambilnya ponsel miliknya yang ia
letakkan di atas meja semalam. Menekan beberapa nomor kemudian menempelkan
benda persegi itu di telinganya.
“Kyungsoo-ya … kau tidak pulang semalam?”
[Ah … maafkan aku Cheonsa, aku tidak
sempat mengabarimu. Pekerjaanku masih belum selesai bahkan sampai sekarang.]
“Apa
kau ingin aku membantumu?”
[Tidak, tidak perlu … aku bisa sendiri!]
“Benarkah?”
[Uhm … kau istirahat saja hari ini, oke?]
“Kencan
kita?”
[Tidak apa-apa ‘kan jika harus menundanya
lagi? Aku benar-benar tidak bisa melakukannya sekarang.]”
“Baiklah
….”
Jisoo
menurunkan ponselnya dan bergegas menuju apartementnya sendiri. Dia bermaksud
untuk menyusul Kyungsoo ke kantornya meski pun Kyungsoo melarangnya tadi.
=====
Taesan
Corp.
#505 Seoco
Town Trapalace,
1327
Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 25, 2015
11:30 KST.
“Kyungsoo-ya ....” Teriak gadis itu berlari mendekati meja
kerja kekasihnya.
“Kau
datang? Bukankah aku sudah mengatakan tidak perlu?”
“Apa
kau tahu jika aku tidak bisa tidur tanpa melihatmu sehari saja?” Lagi-lagi
gadis itu terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Apa kau sudah makan?” tanyanya
kemudian.
“Aku
tidak bisa memikirkan makanan untuk saat ini,” Sahut pria itu lalu kembali fokus pada
komputer dan seluruh pekerjaan di depannya.
“Lihatlah
... betapa mengenaskan sekali nasib kekasihku.” Cicit Jisoo kemudian kembali
berlalu dari ruang kerja Kyungsoo. Gadis itu bermaksud untuk membeli makanan
untuk ia makan bersama sang kekasih.
-o-
12:15
“Tada!!
Ayo kita makan!” Ajak Jisoo dengan dua buah bungkusan plastik di tangannya.
“Kau
makanlah dulu,” jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan tatapannya bahkan untuk
sekedar melihat usaha kekasihnya.
Sekali
lagi Jisoo mendesah kesal melihat Kyungsoo seperti itu. “Pekerjaan itu akan
membunuhmu jika seperti ini.” Ucap Jisoo kemudian melangkahkan kakinya mendekati
meja kerja Kyungsoo. Jisoo mulai menata makan siang mereka di meja kerja
Kyungsoo. Setelah semuanya selesai, gadis itu hanya berdiam diri dan tidak
segera memakan makanannya. Dia menunggu Kyungsoo untuk memakannya bersama.
Namun hingga satu jam berlalu, Kyungsoo tak juga mengalihkan pandangannya dari
seluruh pekerjaannya. Bahkan dia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan
semua makanan yang terhidang di hadapannya itu.
Jisoo
memangku wajah dengan kedua tangannya. Menatap pria yang begitu dicintainya itu
iba. “Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.” Batinnya kemudian mulai
menyumpit makan siangnya.
“Aaaa
....” Perintah Jisoo mengarahkan bulgogi
yang disumpitnya baru saja ke mulut Kyungsoo.
“Aku
masih tidak lapar, sayang!”
“Aaaa
....” Perintah Jisoo lagi tidak menghiraukan ucapan Kyungsoo baru saja. Dengan
terpaksa pria di depannya itu akhirnya membuka mulut dan memakan makanan yang
disuapkan Jisoo untuknya. “Aku tidak akan memintamu untuk berhenti bekerja,
karena itu adalah hal yang mustahil. Jadi, hanya makan saja selama aku mau
menyuapimu, kau mengerti?” tanya Jisoo.
Kyungsoo
lalu menghentikan pekerjaannya dan mengarahkan pandangannya menatap gadis yang
sedang duduk di depannya itu. Menyelesaikan kunyahannya kemudian menelannya.
“Woah ... bagaiman kau bisa menjadi sedewasa ini sekarang, eoh?” Tanya Kyungsoo mengacak pelan
rambut Jisoo.
“Diamlah
... apa kau pikir aku hanya akan diam saja melihatmu seperti ini? Aaaa ....”
Jisoo kembali memasukkan daging sapi panggang yang sebelumnya telah ia celupkan
ke dalam saus sedap manis ciri khas makanan bulgogi.
=========
Gangnam-Gu - Seoul, South Korea
[Rumah
keluarga Song]
January 25, 2015
18:30 KST.
“Appa ....” teriak Jisoo begitu memasuki
ruang kerja Ayahnya.
“Ah
... Jisoo-ya ... kemarilah, Ayah
sangat merindukanmu!” perintah tuan Song.
Jisoo
kemudian berlari mendekati sang Ayah, memeluknya dari belakang dan mencium
pipinya. Itu terlihat seperti ... anak TK yang sedang bergelayut manja untuk
minta dibelikan mainan. Ya Tuhan ... dia benar-benar melupakan umurnya. Jisoo kemudian melepaskan
pelukannya dan beralih memijat pundak sang Ayah.
“Ah
... sepertinya aku harus melakukan sesuatu setelah ini.” Cicit tuan Song ketika
merasakan telapak tangan putrinya mulai memijatnya pelan.
“Woah
... lihatlah ... presdir memang sangat jenius.” Decak Jisoo sambil terkekeh
pelan.
“Katakan
saja, apa yang harus Ayah lakukan kali ini untukmu, hemh? Tapi ... jangan
meminta untuk keluar negeri atau sejenisnya! Kau tahu jika Ayah tidak akan
pernah mengabulkan hal itu?”
“Tidak
Ayah, bukan itu, Ayah tenang saja.”
“Lalu?”
“Emh
... bolehkah ... bolehkan ....”
“Kenapa
kau menjadi kagok begitu? Katakan saja,”
“Bisakah
Ayah memberikan Kyungsoo seorang asisten pribadi?” Gadis itu bahkan berbicara
dengan begitu cepat tanpa jeda sedikit pun. Seperti seseorang yang sedang dikejar
anjing galak dan tidak ingin berhenti karena takut diterkam.
“APA?”
“Aku
mohon Ayah ... karena semua pekerjaan itu, aku kehilangan beberapa waktuku
untuk bersamanya. Dia bahkan melupakan makan dan tidurnya. Apa Ayah ingin
memiliki calon menantu yang kesehatannya memburuk karena terus bekerja seperti
itu?”
“Tapi
Jisoo-ya ... dia hanya kepala manager
keuangan. Akan aneh rasanya jika Ayah harus memberikannya seorang asisten
sementara kepala manager bagian yang lain tidak.” Jelas tuan Song kepada
putrinya.
“Aku
mohon Ayah ... apa gunanya aku tinggal di apartement itu jika dia jarang pulang
seperti sekarang. Dan apa gunanya juga aku bekerja di kantor Ayah jika pada
akhirnya dia mengacuhkanku seperti itu, karena terlalu sibuk dengan
pekerjaannya?”
Mendengar
permintaan putrinya yang seperti itu, tuan Song hanya dapat menghembuskan
napasnya kasar. Bagaimana tidak? Dia harus bersikap sedikit tidak adil kepada
pegawainya yang lain hanya karena sang putri. Tapi, jika menolaknya, itu pun
tidak mungkin, mengingat jika pria separuh baya itu begitu menyayangi putri
satu-satunya. Lagi pula permintaannya kali ini begitu masuk akal dan tak
membahayakannya. Itulah yang ada dalam pikiran tuan Song kali ini.
Yang
menjadi pertanyaan adalah kenapa Jisoo
tidak menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi asisten pribadi Kyungsoo?
Bukankah dengan begitu dia akan selalu melihatnya dan mereka akan terus
bersama-sama? Tentu saja itu tidak akan terjadi. Jisoo membenci segala hal yang
berhubungan dengan keuangan. Meski pun gadis itu begitu menyukai matematika,
tapi pekerjaan yang paling dibencinya adalah akuntan. Atau segala jenis
pekerjaan yang bertugas membukukan keuangan.
“Baiklah
... Ayah akan memikirkannya nanti.”
“Sekarang
Ayah!”
“Hey ... Song Ji Soo!”
“Jebal ....” gadis itu mulai merengek.
Lagi-lagi
tuan Song hanya bisa meng-iyakan kemauan putrinya. Beliau pun akhirnya memanggil
asistennya, untuk mencarikan seseorang yang pantas untuk dijadikan asisten
pribadi seperti yang diminta Jisoo.
“Aku
mencintaimu, Ayah!” Gadis itu kemudian memeluk pria paruh baya itu erat.
=======
Taesan
Corp.
#505 Seoco
Town Trapalace,
1327
Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 26, 2015
12:00 KST.
Kyungsoo
berjalan dengan langkah cepat menuju sebuah ruangan yang tidak hanya dihuni
oleh satu orang seperti ruangannya. Langkahnya terhenti tepat pada sebuah meja
yang entah kemana pemiliknya pergi.
“Hyung .... apa yang kau lakukan di
sini?” suara Sehun menyapanya.
“Jisoo
... Eodiga?”
“Nuna? Aku melihatnya pergi keluar
bersama Hyori Nuna baru saja.”
“Kemana?”
“Entahlah.”
Sehun mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.
“Ah
... baiklah, terima kasih Sehun-ah.”
Kyungsoo kemudian berlalu keluar dari ruangan itu seraya mengeluarkan ponsel
dari dalam saku celananya.
“Kau
dimana?”
[Di atap bersama Hyori,]
“Tunggu
aku di sana.”
[Uhm ....]
=======
“Hyori-ya, bisakah kau meninggalkan kami
berdua? Aku ingin berbicara dengannya.” Pinta Kyungsoo yang kemudian dibalas
anggukan kepala Hyori.
Beberapa
saat setelah Hyori menghilang di balik pintu atap gedung itu, Kyungsoo pun
mulai berbicara dengan kekasihnya itu.
“Ada
apa? Kenapa terlihat seperti sangat serius?” tanya Jisoo.
“Apa
kau meminta presdir untuk memberiku asisten pribadi?”
“Eoh,
apa dia sudah mulai bekerja hari ini? Baguslah ....”
“Apa
yang kau pikirkan dengan meminta presdir memberiku seorang asisten? Apa kau
pikir aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku sendiri?” Tanya Kyungsoo yang
dibalas dengan gelengan kepala Jisoo. “Lalu apa? Apa kau ingin mempermalukanku
di hadapan karyawan lainnya?”
Sekali
lagi Jisoo hanya menggelengkan kepalanya. “Aku hanya tidak tega melihatmu
begitu menderita dengan semua pekerjaan itu. Aku juga merasa sedikit tersiksa
ketika terus tidak bisa melihatmu karena kau begitu sibuk. Apa kau tidak tahu
itu?”
“Jisoo-ya ... kau tahu ‘kan jika aku hanya
kepala manager keuangan? Apa
pantas aku mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu sementara karyawan yang
lain tidak? Kau tidak tahu bagaimana karyawan yang lain terus berbicara
tentangku hari ini? Aku sangat malu dengan semua itu.”
Jisoo
kemudian mengangkat tangannya dan meletakkannya di telinga Kyungsoo. Menutupnya
rapat-rapat kemudian berkata, “Jangan dengarkan mereka, hanya tutup saja
seperti ini. Terus bekerjalah seperti tidak sedang terjadi apa-apa, kau
mengerti?”
Kyungsoo
kemudian menurunkan tangan Jisoo dari telinganya, “Ini berbeda sayang, aku
berbeda denganmu, aku tidak bisa sepertimu yang tidak akan mengabaikan semua
hal itu. Kau tahu ‘kan?”
“Tapi
Soo-ya ... aku juga tidak bisa jika
terus berjauhan denganmu seperti sekarang, kau tahu jika aku begitu tersiksa
dengan semua itu?”
“Ini
hanya sementara, ini tak ‘kan lama. Ketika semua pekerjaan ini selesai, lalu
kita bisa kembali seperti
dulu.”
“Jika
begitu, biarkan saja dia bekerja sementara waktu hingga semua laporan pajak itu
selesai. Setelah semuanya selesai, aku akan meminta Ayah untuk tak
mempekerjakannya lagi, ya?”
Kyungsoo
mendengus sedikit kesal mendengar semua perkataan Jisoo yang sangat keras
kepala itu. Mau tidak mau, dia pun akhirnya setuju dengan semua hal yang
dikatakan Jisoo.
========
Sudah
lebih dari dua minggu laporan pajak itu belum juga mendapat titik terang untuk
terselesaikan. Hubungan antara mereka berdua perlahan merenggang. Meski pun
Kyungsoo telah memiliki asisten pribadi, dia tetap saja masih sangat sibuk
dengan pekerjaannya. Dia bahkan sangat jarang sekali pulang jika tidak untuk
mengambil pakaian ganti. Bertemu dengan Jisoo pun itu bisa dihitung berapa kali
seminggu, walau pun mereka berada dalam satu perusahaan. Mirisnya lagi, walau
pun mereka telah bertemu, mereka hampir tidak pernah menghabiskan waktu lebih
dari satu jam untuk bersama. Akhir-akhir ini Kyungsoo benar-benar sangat sibuk.
Dia harus keluar masuk kantor pajak untuk melakukan revisi berulang kali dengan
ditemani asistennya.
Ini
benar-benar menjadi sangat buruk untuk hubungan mereka berdua. Untunglah Jisoo
dapat mengerti hal itu. Gadis itu menghilangkan kebosanannya dengan pergi
keluar bersama teman-temannya. Berusaha bersenang-senang bersama mereka. Yah,
walau pun hatinya sangat menginginkan moment-moment manis seperti yang
dirasakannya dulu bersama sang kekasih terjadi lagi. Hanya lewat telepone yang
terjadi tidak lebih dari dua kali dalam sehari dia masih bisa bernapas lega
dengan itu. Setidaknya, dia masih bisa mendengarkan suara sang kekasih dari
sana.
=======
Pagi
ini, Jisoo terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan di mejanya. Dia bahkan sudah
benar-benar bisa beradaptasi dengan keadaan itu. Hingga suatu saat, Baekyun
datang menghubunginya.
[Jisoo-ya ... bisakah aku bertemu
denganmu hari ini?]
Tanya Baekhyun dari seberang telepone.
“Eoh,
ada apa, Sunbae? Apa ada sesuatu yang
penting hingga kau menghubungiku seperti ini?” tanya Jisoo.
[Aku rasa, kita sebaiknya berbicara
langsung.]
“Baiklah,
dimana kita akan bertemu, Sunbae?”
[Nanti, setelah makan siang, di restauran
Flower, dekat tempat kerjamu. Bagaimana?”
“Baiklah,
Sunbae. Nanti ketika istirahat aku akan menemuimu di sana. Kita juga bisa sekalian
makan siang bersama.”
[Uhm ... aku tutup dulu telepone-nya.]
“Oke,
sampai jumpa nanti siang.”
Tut
Jisoo
mengakhiri panggilannya kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda
itu. Yah, Baekhyun adalah kakak kelas Jisoo ketika mereka berada pada tingkat
perguruan tinggi. Mereka memang begitu dekat semenjak mereka masih kecil.
Bahkan mereka juga berada dalam satu universitas yang sama. Selain karena
jurusan mereka yang sama, perusahaan keluarga Baekhyun adalah salah satu
perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan keluarga Jisoo. Dan mereka tidak
jarang ikut dalam pertemuan-pertemuan antar relasi perusahaan. Itulah yang
membuat mereka begitu dekat hingga sekarang, walau pun mereka sangat jarang
bertemu beberapa tahun terakhir ini. Karena Baekhyun harus mengambil alih
perusahaan ayahnya dan itu membuatnya benar-benar sangat sibuk.
-o-
Waktu
istirahat tiba. Jisoo hendak pergi ke tempat yang telah disepakatinya untuk
bertemu Baekhyun. Dia pun keluar dari kantor dan menuju area parkir. Dilihatnya
sang kekasih baru saja tiba di sana dan memarkirkan mobilnya kemudian turun.
Jisoo berjalan mendekati Kyungsoo, tapi baru beberapa langkah kakinya menapak,
gadis itu menghentikan langkahnya ketika
melihat kekasihnya itu membukakan pintu mobilnya untuk asisten pribadinya.
Sempat
ada pikiran bodoh yang melintasi otaknya, tapi Jisoo langsung menepisnya
jauh-jauh. Karena Kyungsoo memang tipikal orang yang sangat ramah dan perhatian
terhadap semua orang. Gadis itu pun melanjutkan langkah kakinya mendekati
Kyungsoo.
“Kyungsoo-ya ...” Panggil Jisoo dengan sedikit
berlari ke arah Kyungsoo.
“Jisoo-ya ....” Sebuah senyuman terlukis di
wajah tampan Kyungsoo. Pria itu kemudian meminta asistennya untuk masuk
terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.
Kyungsoo
lalu melebarkan lengannya ketika Jisoo semakin dekat ke arahnya. Pria itu lalu
mendekap gadisnya itu erat seraya menciumi puncak kepalanya.
“Apa
kau begitu merindukanku hingga menungguku di sini?” tanya Kyungsoo.
“Aku
memang merindukanmu, tapi aku di sini tidak menunggumu.”
“Benarkah?”
“Uhm
... aku ada janji makan siang di luar dengan teman lamaku, ayo kita pergi makan
siang bersama,” ajak Jisoo.
“Woah
... bukankah itu tawaran yang sangat bagus? Tapi sayang sekali, aku tidak bisa,
sayang. Masih banyak yang harus kukerjakan, lagi pula aku sudah makan siang
tadi sepulang dari kantor pajak.”
“Benarkah?
Woah ... aku benar-benar kehilangan waktu berhargaku bersamamu.” Keluh Jisoo
dengan wajah memelasnya.
Kyungsoo
kemudian kembali memeluknya dan mengecup singkat bibir gadis itu, memintanya
untuk lebih bersabar hingga seluruh pekerjaannya terselesaikan dengan baik.
Jisoo pun mengangguk dan melepaskan pelukannya dari sang kekasih.
“Aku
harus segera pergi, seseorang menungguku,” ungkap Jisoo.
“Baiklah
... kau hati-hati di jalan, mengerti?” saran Kyungsoo.
Jisoo
pun menganggukkan kepalanya kemudian segera berlalu menuju mobilnya dan pergi
meninggalkan tempat itu.
-o-
Jisoo
tiba di restauran dan segera masuk ke dalam sana. Dilihatnya Baekhyun sudah
menunggunya pada sebuah meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Gadis itu lalu menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati Baekhyun. Dia
pun mendudukkan dirinya pada kursi yang tersedia.
“Kau
sudah lama, Sunbae? Maaf membuatmu
menunggu,” pinta Jisoo.
“Tidak,
aku juga baru saja sampai. Kau ingin makan apa?”
“Apa
saja, asalkan dapat membuatku merasa kenyang.”
“Woah
... nafsu makanmu sepertinya tidak berkurang sedikit pun. Masih begitu lahap,
haha ....” Sindir Baekhyun kemudian memanggil seorang waiters untuk memesan makanan.
“Tentu
saja, aku bahkan memanfaatkan hidupku sebaik-baiknya untuk menikmati semua
jenis makanan yang ada. Haha ....” Balas Jisoo dengan tawa renyahnya. “Tapi,
ada apa Sunbae ingin bertemu denganku
seperti ini?”
“Apa
aku tidak boleh bertemu dengan kerabat lama?”
“Tidak,
bukan seperti itu, tapi sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin Sunbae bicarakan denganku. Ada masalah
apa hingga Sunbae harus repot-repot
mengajakku bertemu langsung seperti ini?”
“Apa
kau masih bersama Kyungsoo?” tanya Baekhyun.
“Yah,
aku masih bersamanya dan aku tidak ingin berpisah dengannya. Memangnya kenapa?”
“Bagaimana
hubungan kalian akhir-akhir ini?”
“Hubungan
kami? Baik-baik saja, memangnya kenapa?”
“Kau
yakin?” Tanya Baekyun penuh penekanan pada suaranya.
“Uhm
... memangnya ada apa? Sunbae
bertanya seperti ini membuatku sangat penasaran dengan apa yang akan Sunbae katakan.”
“Aku
tanya sekali lagi, apa kau yakin hubungan kalian baik-baik saja?”
“Tentu
saja, bahkan sebelum pergi kemari tadi aku bertemu dengannya di tempat parkir.”
Jisoo sejenak menyudahi kata-katanya. “Memang akhir-akhir ini kami jarang
bersama, karena dia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya apa yang ingin
Sunbae katakan?”
“Aku
melihatnya bersama gadis lain kemarin.”
“Ah
... itu asistennya Sunbae. Aku yang
meminta ayah untuk memberinya asisten agar dapat membantu pekerjaannya.”
“Kau
yakin hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan?” tanya Baekhyun meyakinkan.
“Sunbae, sebenarnya apa maksudmu? Jangan
berbelit-belit seperti ini. Aku tidak mengerti.”
“Jisoo-ya ... hubungan mereka tidak terlihat
seperti manager dan asistennya, lebih dari itu. Aku sering melihat mereka makan
bersama dan berpegangan tangan. Itu benar-benar aneh menurutku.”
“Hey!
Apa kau datang kemari hanya untuk memfitnah kekasihku? Aku menghargaimu sebagai
kakak kelasku dan juga kerabat kerja ayahku. Tapi jangan mengatakan hal yang
buruk tentangnya seperti ini. Kau kira aku percaya? Kyungsoo tidak akan pernah
melakukan hal itu. Dia sangat mencintaiku. Jika mereka makan bersama, itu wajar
karena mereka sering pergi keluar kantor untuk
menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan untuk pegangan tangan, mungkin saja
itu tidak sengaja atau mereka saling membantu untuk membawa sesuatu. Jadi
hentikan semua omong kosong ini.”
“Jisoo-ya ... apa kau kira aku berbohong? Aku
melihatnya sendiri dengan kedua mataku. Mereka memang ada apa-apa, percayalah.
Aku mengatakan ini, karena aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku.
Sungguh ....”
“Hentikan
Sunbae! Hentikan! Jika kau datang
menemuiku karena untuk mengatakan semua ini, percuma saja. Aku tidak akan
mempercayainya. Aku lebih percaya kekasihku, aku yakin dia tidak akan melakukan
hal itu di belakangku. Aku permisi, tidak ada gunanya aku di sini.”
“Hey,
Song Jisoo! Jisoo-ya ....”
Namun
gadis itu tetap melangkahkan kakinya pergi meninggalkan restauran itu tanpa
memedulikan panggilan Baekhyun. Dia benar-benar tidak dapat menerima semua hal
yang dikatakan Baekhyun kepadanya baru saja. Jisoo lalu segera memasuki mobinya
dan melajukannya untuk kembali ke kantornya.
Yah,
gadis itu memang begitu percaya kepada sang kekasih. Dia sangat yakin jika
Kyungsoo begitu mencintainya dan tak mungkin mengkhianatinya. Tapi di belakang itu,
semua keyakinannya sia-sia. Karena pada kenyataannya semua yang di katakan
Baekhyun padanya adalah benar. Kyungsoo memang tidak sebaik seperti yang Jisoo
katakan. Memang Kyungsoo begitu mencintainya, tapi selama beberapa minggu
mereka tidak bersama, itu membuat hubungan mereka benar-benar merenggang.
Ditambah lagi dengan kehadiran seorang gadis lain yang selalu ada di sisi
Kyungsoo, itu membuatnya begitu nyaman, bahkan walau pun tanpa Jisoo di
sampingnya. Kenyamanan itu perlahan membuatnya sedikit demi sedikit mengabaikan
gadisnya itu. Dia perlahan mulai menyukai asistennya dan benar saja, mereka
sering pergi keluar bersama, bergandengan tangan, makan malam, bahkan tidak
jarang pergi berkencan dengan menggunakan alasan pekerjaan. Kyungsoo-ya ... kau benar-benar sangat
keterlaluan. Apa kau tidak tahu jika ini benar-benar akan menyakiti hatinya?
Gadis itu bahkan sangat mencintaimu, Jisoo sangat mempercayaimu seratus persen
tanpa ragu.
Hari
kembali berlalu, hubungan mereka tetap sama tanpa perubahan. Jisoo masih sangat
sulit untuk mengajak Kyungsoo pergi berkencan atau sekedar makan bersamanya.
Ditambah lagi dengan Kyungsoo yang sangat jarang pulang ke apartemennya, yang
membuat Jisoo memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya karena merasa sangat
kesepian sendiri di apartement itu.
Suatu
hari, Tao datang kepadanya dengan tergesa-gesa.
“Hey,
Song Jisoo!” panggil Tao.
“Eoh,
ada apa tuan Huang?”
“Jangan
memanggilku seperti itu!”
“Hehe,
iya ... ada apa Tao-ya?”
“Apa
kau sudah tahu itu?”
“Maksudmu?”
“Tentang
hubungan Kyungsoo Hyung dengan asistennya, apa kau sudah tahu?”
“Hey!
Berhenti mengatakan omong kosong seperti itu. Mereka tidak ada hubungan spesial
apa pun. Kenapa kau bahkan tertular seperti mereka? Bukankah kau mengenal
Kyungsoo begitu lama? Tidakkah kau berpikir bahwa dia pria yang sangat setia
dan tidak akan mengkhianatiku?”
“Tapi
aku mendengar semua orang membicarakannya Jisoo-ya ... semua orang sudah tahu itu.”
“Tao-ya ... jika kau hanya mendengarnya, aku juga
mendengarnya. Apa kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Tidak kan? Kau
hanya mendengar dari mulut
orang
lain. Bisa saja
mereka mengatakan itu karena iri dengan Kyungsoo. Bukankah hanya Kyungsoo
satu-satunya manager yang memiliki asisten di perusahaan ini? Mereka hanya iri
kepadanya, percayalah ....”
Tao
mendengus kesal mendengar perkataan Jisoo baru saja. Dia memang tidak melihat
mereka melakukan hal aneh di depan matanya, tapi mendengar semua orang
berbicara seperti itu beserta Kyungsoo yang terlihat begitu dekat dengan
asistennya, Tao berpikir itu mungkin saja terjadi. Tapi harus bagaimana lagi?
Jisoo benar-benar keras kepala dan tidak mau mempercayai siapa pun yang
berbicara buruk tentang
kekasihnya. Bahkan walau pun itu Hyori, sahabat yang begitu dekat dengannya dan
sangat dipercayainya. Tapi kali ini, semua yang dikatakan Hyori pun seperti
angin lalu yang masuk kemudian keluar lagi dari telinganya. Jisoo tetap tidak
mempercayainya dan kokoh dengan pendirian beserta keyakinannya semu-nya.
Tidak
berhenti sampai di situ. Hyori tetap berusaha untuk mengumpulkan bukti agar
Jisoo mempercayai ucapannya. Hyori bahkan meminta Luhan, kekasihnya untuk
membantunya. Mengungkapkan kebenaran tentang Kyungsoo kepada sahabatnya itu.
Hingga tibalah saatnya ketika bukti itu datang. Hyori mengajak Jisoo pergi
keluar dengan alasan dia sedang ingin
melepaskan pikiran suntuknya. Jisoo pun menyetujuinya dan mereka pun bergegas
untuk menuju sebuah tempat yang telah diberitahukan Luhan kepada Hyori tadi.
“Hyori-ya ... kenapa kau mengajakku kemari?
Bukankah kau bilang ingin bersenang-senang? Kenapa malah ke tempat ini?” tanya
Jisoo.
“Ikut
saja, jangan banyak bertanya. Nanti kau akan tahu sendiri.” Ungkap Hyori seraya
terus memegang pergelangan tangan Jisoo. Membawanya berjalan dengan sedikit
berlari agar segera sampai.
“Kau
akan membawaku kemana? Ini apartemen siapa?” Jisoo bertanya lagi namun kali ini
Hyori tak menjawabnya.
Luhan
sudah menunggunya di depan sebuah pintu dengan menggenggam sebuah kunci
apartemen di tangannya. Yah, kunci apartemen milik Hyun Bi yang sekarang sedang
dihuni oleh dua orang di dalamnya. Kalian tahu bagaimana cara Luhan untuk
mendapatkannya? Tentu saja dengan pikiran cerdiknya. Bukankah dia benar-benar
cerdas dalam urusan seperti ini? Luhan mengambilnya dari dalam tas Hyun Bi
ketika gadis itu masuk ke dalam toilet. Oh tidak, Luhan sangat berani memasuki
toilet perempuan itu hanya untuk menyadarkan Jisoo. Benar-benar nekat. Apa dia
tidak takut di panggil mesum atau bahkan dipukuli karena hal itu? Entahlah ...
Luhan tidak berpikiri ke sana. Di pikirannya hanyalah bagaimana agar bisa
mendapatkan kunci apartemen itu tanpa ketahuan. Dan untunglah dia berhasil.
Hyun
Bi bahkan tidak menyadari jika kunci apartemennya menghilang, karena dia hampir
tidak pernah lagi menggunakannya. Dia sudah sangat menghafal passwordnya jadi
dia tidak membutuhkan kunci itu lagi.
Beberapa
saat kemudian Jisoo dan Hyori sampai di depan pintu apartemen itu, dimana Luhan
menunggu mereka. Tanpa basa basi Luhan langsung membukanya dan Hyori langsung
menyeret Jisoo masuk ke dalam sana. Benar saja semua yang diperkirakan Luhan
jika Kyungsoo dan asistennya itu ada di dalam sana. Kali ini, dengan mata
kepalanya sendiri, Jisoo dapat melihat sang kekasih sedang bermesraan dengan
selingkuhannya di depan matanya.
“Kyungsoo-ya ... ige mwo?” Dengan wajah yang perlahan memucat, Jisoo berusaha
untuk tetap menata hatinya dan menahan dirinya agar tidak ambruk di sana.
“Jisoo-ya ... ba ... bagaimana bisa?”
Bruakkk
Itu
suara hantaman tangan Luhan yang membuat Kyungsoo jatuh tersungkur di lantai.
“Kau
berengsek!!” Luhan kembali memukul wajah Kyungsoo.
“Oppa hentikah! Jangan memukulnya seperti
itu, nanti dia bisa terluka.” Pinta Jisoo tapi Luhan tak menggubrisnya dan
tetap memukuli Kyungsoo.
“Oppa! Sudah aku bilang hentikan! Jangan
membuatnya terluka seperti itu, OPPA!
HENTIKAN!!” Teriak Jisoo yang membuat Luhan menahan pukulannya.
Jisoo
menatap wajah Kyungsoo nanar. Gadis itu tidak menangis walau pun wajahnya
benar-benar memucat. Entahlah, apa yang sedang dirasakannya sekarang. Dia
bahkan masih memikirkan kekasihnya itu yang sudah jelas-jelas mengkhianatinya.
Jisoo-ya ... sebegitu besarkah
cintamu untuk pria itu hingga kau menjadi seperti ini? Apa kau bahkan tidak
dapat merasakan sakit karena terlalu mencintainya?
Jisoo
kemudian berajalan mendekati Kyungsoo yang masih merintih kesakitan karena
pukulan Luhan. Mengusap lembut darah yang keluar dari sudut bibir pria itu.
Menangkup wajah luka kekasihnya kemudian mengecup bibir Kyungsoo. Untuk
beberapa saat dia menahannya dalam posisi itu. Entahlah apa yang sedang berada
dalam pikirannya, apa dia benar-benar tidak merasakan sakit? Ya Tuhan ...
Jisoo-ya ... malang sekali nasibmu.
Semua
yang ada dalam ruangan itu tercengang kaget, tidak percaya melihat apa yang
dilakukan Jisoo sekarang. Ingin rasanya Hyori menyeret gadis itu dan memakinya
habis-habisan karena sudah sangat bodoh melakukan hal itu. Tetap mencintai pria
yang bahkan sudah jelas-jelas mengkhianatinya di depan matanya sendiri. Tapi,
Hyori tak dapat melakukannya karena Luhan menahan tangannya kuat.
Beberapa
saat kemudian, Jisoo melepaskan tautan bibirnya. Gadis itu beranjak berdiri
kemudian meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa pun. Mempercepat langkah
kakinya dengan berlari untuk segera sampai di mobilnya. Air mata itu, sudah
tidak tahan ingin keluar dan jatuh dari pelupuk matanya. Hyori dan Luhan yang
melihat itu segera berlari mengejarnya namun mobil Jisoo lebih cepat
meninggalkan mereka. Luhan dan Hyori terus mengejarnya, tapi gadis itu
benar-benar sudah sangat gila melajukan mobilnya dengan begitu cepat dan
membuat mereka kehilangan jejaknya.
Jisoo
menghentikan mobilnya di suatu tempat, menjerit keras di sana. Bahkan tubuhnya
seperti tak merasakan dingin sedikit pun walau pun angin malam kota Seoul
seakan menusuk tulangnya. Dia benar-benar terlihat sangat menderita dengan
semua itu. Jisoo kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan
tempat itu, pulang kembali ke rumahnya.
Setibanya
di rumah, Jisoo melihat kakaknya berdiri di ruang tamu rumahnya. Song Joong Ki
yang melihat wajah adiknya begitu buruk seperti itu berjalan mendekati gadis
itu. Memeluknya erat tanpa menanyakan apa yang sedang terjadi. Tapi, memang
Joongki sudah tahu semua ceritanya karena Hyori menghubunginya dan
memberitahunya tadi.
Jisoo
mendekap tubuh kakaknya itu erat, menyembunyikan wajah penuh deritanya di bawah
ceruk leher Joongki. Isakan tangisnya bahkan masih terdengar begitu jelas di
sana. Ibu dan ayahnya yang baru saja pulang dari makan malam bersama dengan client
perusahaan, terlihat sangat kaget melihat keadaan putrinya seperti itu. Mereka hendak
bertanya apa yang sedang terjadi, namun Joongki buru-buru meletakkan jari
telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan kepada kedua orang tuanya itu agar
tidak mengatakan apa pun. Mereka pun mengangguk mengerti, kemudian melangkahkan
kakinya meninggalkan kedua anaknya itu di ruang tamu rumah besar mereka.
Sementara tuan Song ingin sekali memeluk putrinya itu, tapi kali ini ia harus
mengalah kepada putranya karena melihat Joongki yang lebih tahu masalah adiknya.
Perlahan
isakan tangis itu terhenti bersama dengan tubuh Jisoo yang melemas dan tak
sadarkan diri dalam pelukan kakaknya. Suhu tubuhnya mulai terasa panas ketika
Joongki menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.
Joongki
segera meminta pelayan di rumahnya untuk membawakannya baskom berisi air,
dengan handuk bersih untuk mengkompres tubuh Jisoo agar demamnya turun. Joongki
sangat mengerti dengan apa yang sedang dirasakan adiknya itu. Beberapa saat
kemudian kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar Jisoo untuk melihat keadaan
putrinya.
“Sebenarnya
apa yang terjadi? Kenapa dia menjadi seperti ini?” Tanya wanita separuh baya
yang tak lain adalah ibu mereka berdua.
“Eomonim tidak perlu khawatir, dia akan
baik-baik saja.” Ungkap Joongki berusaha menenangkan ibunya.
“Tidakkah
sebaiknya kita membawanya rumah sakit?” Tanya tuan Song.
“Tidak
perlu Ayah, biar aku yang merawatnya sendiri. Dia hanya demam, nanti juga akan
membaik setelah meminum obat penurun panasnya.”
Tuan
Song mengangguk mengerti kemudian mengajak istrinya keluar dari sana.
Membiarkan putri mereka beristirahat.
“Ayah
....” Suara Joongki kembali menghentikan langkah kedua orang tuanya. “Jangan
melakukan apa pun terhadapanya. Kita tunggu hingga Jisoo sadar dan bertanya apa
yang diinginkannya,” jelas Joongki. Tuan Song mengangguk mengerti kemudian
kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Jisoo.
Yah,
sebenarnya mereka sudah dapat menebaknya, kenapa Jisoo menjadi seperti itu.
Tentu saja, semua pasti ada hubungannya dengan kekasihnya. Mengingat putrinya
itu begitu mencintai sang kekasih.
Hari
berganti. Pagi itu Jisoo membuka kedua matanya dan mendapati sang kakak
tertidur di sampingnya. “Oppa ....”
panggilnya kemudian.
Joongki
kemudian ikut membuka matanya dan tersenyum kepada adiknya itu. Memeriksa
kening Jisoo untuk memastikan demamnya sudah turun atau belum. “Kau masih
panas, apa kita perlu pergi ke dokter?” tanya Joongki.
Jisoo
menggelengkan kepalanya cepat, “Tidak perlu Oppa,
aku akan baik-baik saja.”
Joongki
mengangguk, “Apa kau ingin makan bubur?” tanyanya.
Sekali
lagi Jisoo menggelengkan kepalanya. “Oppa
... bisakah kau meminta Ayah untuk mengirimku keluar negeri? Aku ingin
melanjutkan kuliahku. Kemana saja, selama itu tidak di Korea.”
Joongki
terdiam mendengar permintaan adiknya itu. “Jisoo-ya ... kau tahu jika Ayah tidak akan pernah melakukan hal itu? Kau
lupa kejadian sebelumnya?” Joongki bertanya.
Jisoo
menggelengkan kepalanya cepat. “Aku tahu Oppa,
aku ingat itu. Aku tahu Ayah begitu mengkhawatirkanku, tapi aku mohon Oppa ... bantulah aku untuk berbicara
dengannya. Aku tidak ingin
berada di Korea untuk sementara waktu. Biarkan aku menata hatiku. Jika Ayah
benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu denganku, Ayah bisa menyewa seseorang
untuk menjagaku. Aku berjanji tidak akan membuat ulah yang dapat membuatnya
khawatir, sungguh.” Pinta Jisoo dengan wajah memelasnya. Matanya bahkan masih
bengkak karena tangisannya semalam.
Joongki
kemudian mengusap puncak kepala Jisoo. “Baiklah ... Oppa akan mencoba berbicara dengan Ayah.” Jisoo menganggukkan kepalanya
mengerti.
========
“Jisoo-ya ... kau yakin dengan keputusanmu
ini?” Tanya Hyori ketika membantu Jisoo mengepaki barang-barangnya.
Jisoo
mengangguk mantap. “Kau tahu jika aku begitu menyukainya? Aku masih belum bisa
menerima semuanya sekarang. Seseorang yang begitu aku percaya. Aku bahkan masih
sangat mencintainya. Terlalu menyakitkan bahkan hanya sekedar untuk melihat
wajahnya, aku rasa aku benar-benar akan gila jika terus berada di sini.”
“Lalu
apa ini artinya hubungan kalian berakhir?” tanya Hyori lagi.
Jisoo
menggelengkan kepalanya. Air matanya kembali terjatuh membasahi pipinya yang
sedikit terlihat tirus. “Aku bahkan masih belum yakin jika aku bisa melakukan
ini Hyori-ya ... aku begitu
mencintainya, tapi di sini masih terasa sangat sakit. Ketika kemarin dia datang
kemari mencariku, aku bahkan masih ingin berlari dan memeluknya, tapi aku tidak
bisa. Semua ingatan itu cukup menyakitkan untukku.” Jelas Jisoo dengan
tangisannya yang benar-benar telah pecah. Hyori kemudian memeluk sahabatnya
itu, membiarkan Jisoo menangis sesenggukan dalam pelukannya.
“Apa
tidak lebih baik aku saja yang menemanimu di sana?” Tanya Hyori ketika Jisoo
sudah menghentikan tangisannya.
Jisoo
menggelengkan kepalanya. “Kau memiliki keluarga di sini, kau juga memiliki
Luhan Oppa yang akan sangat
membutuhkanmu. Aku tidak akan kembali ke Korea untuk waktu yang cepat, mungkin
hingga study S2-ku selesai di sana. Jadi
tetaplah di sini, aku tidak ingin menyusahkanmu.”
Hyori
mengangguk mengerti, kemudian membantu Jisoo membawa kopernya keluar dari sana.
mengantarkan sahabatnya itu ke bandara bersama dengan seluruh keluarga Jisoo.
Gadis itu bahkan masih belum terlihat membaik, tapi dia bersikeras untuk tetap
pergi. Semua orang sudah menunggunya di luar sana, kakak, ayah dan ibunya.
Mereka sudah bersiap-siap untuk pergi mengatarkan putrinya ke bandara.
“Kau
hati-hati, Eun Hye
akan menjemputmu di bandara ketika kau tiba
di sana. Jangan pergi kemana pun tanpa seijinnya, kau mengerti?” saran Joongki.
“Arraseo Oppa ... aku akan menuruti semua
hal yang dikatakan kekasihmu itu.” Jisoo mencoba tersenyum ceria di hadapan
semua orang, menyembunyikan lukanya seorang diri dan tak membiarkan siapa pun
mengetahuinya.
Jisoo
kemudian berjalan mendekati sang ayah dan memeluknya. “Aku akan sangat
merindukan Ayah, bagaimana ini? Aku mungkin akan mati jika terlalu lama tidak
dapat melihat wajah pria tua ini,” tutur Jisoo.
“Aigoo-ya ... apa ayah benar-benar setua
itu? Haha ... Ayah akan mengunjungimu setiap bulan, kau tidak perlu khawatir,
kau mengerti?” Tuan Song sedikit mengajak canda putrinya untuk mencairkan suasana agar
tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Jisoo
menganggukkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya memeluk ibunya, begitu
erat dan enggan untuk segera
melepaskannya. Dia tak mengatakan apa pun karena dia takut tidak dapat menahan
tangisannya di depan sang ibu. Yah, walau pun air mata ibunya sudah sangat
deras mengalir di pipinya.
Jisoo beralih memeluk Hyori dan Luhan yang ikut mengantarkannya. Setelah
itu dia pun membalikkan tubuhnya meninggalkan deretan orang-orang tercintanya.
Melangkahkan kakinya menuju pintu masuk penerbangan luar negeri dan enggan
membalikkan tubuhnya lagi. Dia takut orang-orang itu dapat melihat
kesedihannya, atau bahkan air mata yang sudah penuh mengalir di pipinya.
“Kyungsoo-ya ... maafkan aku
meninggalkanmu seperti ini. Aku tidak cukup kuat untuk menerima semua kenyataan
ini. Aku akan sangat merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak di
sampingmu. Saranghae ....” Gumam gadis itu begitu pelan dengan air mata
yang sudah sukses membasahi wajahnya.
Jisoo benar-benar sudah menghilang di balik pintu masuk penerbangan,
kemudian seluruh orang yang mengantarnya pun ikut berbalik menuju pintu keluar
bandara.
Sementara di rumah keluarga Song, Kyungsoo kembali ke sana. Mencari
keberadaan Jisoo di rumah itu. Semua orang yang masih menghuni rumah itu,
-pembantu keluarga Song- sudah memberitahunya jika Jisoo sudah tak lagi berada
di sana, tapi Kyungsoo tetap bersikeras untuk mencarinya sendiri. Membuktikan
kebenaran ucapan mereka dengan mata kepalanya sendiri. Hingga akhirnya
kenyataan pahit itu seakan menyayat hatinya. Jisoo benar-benar sudah tidak di
sana lagi.
“Ahjumma aku mohon, sekali ini
saja aku mohon ... katakan dimana Jisoo-ku berada? Beritahu aku kemana dia
pergi.” Rintih Kyungsoo kepada salah satu pembantu rumah tangga keluarga Song.
Tapi pembantu itu tetap bungkam dan tak mau mengatakan apa pun. Yah, mereka
memang sengaja di suruh untuk menutup mulut mereka rapat-rapat tentang
keberadaan Jisoo. Mereka hanya megatakan jika Jisoo telah pergi dari rumah itu
dan untuk sementara waktu tidak akan kembali ke sana.
Pria itu nampak sangat frustasi dengan semua akibat dari perbuatannya. Dia
lalu berjalan keluar dari rumah besar itu dan menghampiri mobilnya yang
terparkir tepat di depan sana. Tinggal beberapa langkah dia hendak menggapai
pintu mobilnya, suara Joongki tiba-tiba menghentikannya.
“Aku rasa setelah ini kau tidak perlu lagi datang kemari Kyungsoo-ya. Kau tidak akan menemukan Jisoo walau
pun kau mencarinya ke setiap sudut di rumah ini. Bahkan di seluruh penjuru
negara ini pun kau tidak akan dapat menemukannya. Dia sudah meninggalkan Korea
beberapa jam yang lalu.”
“APA?” pekik Kyungsoo penuh dengan keterkejutan.
“Dia berkata sangat mencintaimu dan masih sangat mencintaimu. Dia bahkan
memintaku untuk tak melakukan apa pun terhadapmu, dia tidak ingin kau sakit
sedikit pun. Apa kau tahu bagaimana rasanya aku ingin memukulmu sekarang
melihatnya seperti itu?”
“Pukul saja Hyung, pukul saja!
Aku bahkan ingin membuat diriku sendiri mati jika mengingat semua sakit yang
aku beri untuknya. Bunuh aku untuk menebus semua kesalahanku,” rintih Kyungsoo.
“Kau pikir dengan begitu dia akan
bahagia? Sudah kukatakan dia begitu mencintaimu apa kau masih tidak juga
mengerti?”
“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa seperti ini. Aku
tidak bisa tanpanya seperti ini.”
“Jika waktu kau bisa, kenapa sekarang kau berkata tidak bisa? Bukankah itu
cukup mudah bagimu untuk mencari penggantinya?” Tanya Joongki begitu sinis.
“Hyung, kau tidak tahu bagaimana
keadaanku waktu itu. Semua yang terjadi di luar nalarku. Aku benar-benar tidak
berniat untuk menyakitinya seperti ini. Tapi gadis itu terus berada di
sekitarku,”
“Apa maksudmu gadis selingkuhanmu itu? Kau ingin menyalahkannya atas semua
yang terjadi? Begitu?” Joongki memotong ucapan Kyungsoo yang belum sempat
tertuntaskan.
“Hyung ....”
“Sudahlah Soo-ya ... lebih baik
kau pergi dari sini. Jangan memancing emosiku. Aku tidak ingin mengingkari
janjiku kepadanya.”
“Tapi Hyung ... setidaknya
beritahu aku kemana dia pergi.”
“Apa kau bodoh? Itu sama saja dengan aku menyuruhmu untuk datang
membunuhnya. Apa kau masih tidak mengerti juga?”
“Hyung ....”
“Pergilah dan jangan memperburuk keadaan. Jika kau seperti ini, tidak hanya
hubunganmu dengan Jisoo yang rusak, tapi kau juga dapat merusak hubungan antara
keluarga kita. Bahkan mungkin akan memutus hubungan bisnis antara dua
perusahaan karena aku benar-benar akan membunuhmu. Kau mengerti?” Desis Joongki
kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. “Ah ... benar, jangan
datang lagi ke sini. Karena kau tidak akan mendapatkan informasi apa pun
tentang keberadaan Jisoo. Hiduplah seperti yang kau inginkan dan
bersenang-senanglah ....” Lanjut Joongki kemudian melanjutkan langkah kakinya
dan menutup pintu rumahnya kasar, hingga menimbulkan sebuah dentuman yang
memekik telinga.
Semenjak saat itu Kyungsoo memutuskan untuk keluar dari perusahaan milik
keluarga Jisoo dan kembali bekerja di perusahaannya sendiri. Yah, perusahaan
milik keluarganya yang terletak di Busan. Dia memutuskan untuk kembali tinggal
bersama orang tuanya untuk waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya, mungkin
hingga Jisoo kembali ke Korea, atau mungkin dia juga tidak akan pernah lagi
kembali ke Seoul. Memang pada awalnya Kyungsoo memutuskan untuk pindah ke Seoul
dan bekerja di perusahaan milik keluarga Song semata-mata hanya karena Jisoo.
Tapi pada akhirnya dia juga yang membuatnya menjadi seperti itu. Menghilangkan
kepercayaan orang lain akan dirinya, terlebih itu adalah kekasihnya sendiri.
Membuat seseorang yang begitu dicintainya itu menghilang dari sisinya. Dia
bahkan membuat sebuah rasa sakit yang sangat mendalam di hati gadisnya itu. Di
hati seseorang yang begitu dicintainya dan sangat mencintainya. Hidupnya bahkan
sudah tidak lagi berjalan seperti dulu, karena yang ada di pikirannya hanyalah
kekasihnya. Dia sangat merindukannya sekarang, bahkan semua kesalahannya tidak
dapat ia tebus dengan apa pun. Dia sangat menderita dan terus hidup dalam
penyesalan yang tanpa ujung.
END.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar