Jumat, 06 Maret 2015

Unfaithful


Title : Unfaithful
Writer  : Candle Light
Rate : PG-15
Main Cast : Song Ji-Soo (OC) | Do Kyung Soo
Other Cast : Lee Hyun Bi (OC) | Kim Hyori (OC) | EXO Member | Song Joongki |
Genre : Fluff | Hurt
Release Date : February 08, 2015.
Length : Series | 2Soo Story



====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1223
Songpa-gu,
서울특별시 South Korea
January 23, 2015.
07.00 KST.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi gadis itu masih setia bergulung di bawah selimut biru bermotive Frozen-nya. Bahkan suara dering alarm yang berbunyi selama satu jam penuh tak mampu membuatnya keluar dari alam mimpinya. Entahlah ... dia benar-benar tidur atau sedang latihan mati. Bagaimana bisa ada seorang gadis sepertinya di dunia ini? Ya Tuhan ....


Tiba-tiba saja sebuah percikan kecil yang terasa dingin menyentuh kulit wajahnya. Tentu saja, sedang ada seseorang yang berusaha membangunkannya sekarang.


“Hei!! Sleeping Beauty! Apa kau tidak akan bangun, hah?” Decak Hyori seraya memercikkan air tepat di atas wajah Jisoo.


Jisoo merasakan sapuan kecil air itu di wajahnya. Akhirnya gadis itu pun membuka matanya dan tersenyum cantik ke arah Hyori yang berada di hadapannya itu. “Hyori-ya ... Annyeong ....” sapanya dengan wajah innocentnya.

“Ya Tuhan ... apa kau tidak tahu ini jam berapa? Kenapa kau masih bermalasan seperti ini?”

Jisoo memicingkan matanya, “Wae? Bukankah ini hari sabtu? Dan aku bebas melakukan apa pun hari ini, termasuk tidur sepuasku.”

Hyori mendengus kesal, “Apa kau mengalami amnesia? Ini masih hari jum’at dan kita ada meeting pukul delapan pagi.”

“Hyori-ya ... jangan membodohiku, ini sudah hari sabtu!”


Hyori kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dan menekan ikon kalender, menunjukkannya tepat di hadapan wajah Ji-Soo. Jisoo membelalakkan matanya sempurna, dia bahkan belum sepenuhnya menyatukan nyawa dan raganya dalam satu tempat.


“AAAH ... eotttokhae?”

“Apa yang bagaimana? Kenapa kau tidak segera bangun dan membersihkan tubuhmu?”

“Ah ... kau benar!” Jisoo kemudian turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi.


Gadis itu benar-benar sangat menyusahkan. Bagaimana dia bahkan bisa lupa hari seperti itu? Apa yang ada di otaknya hanyalah tidur dan makan? Ya Tuhan ....


=======


“Hyori-ya ... kenapa kau datang kemari?” Tanya Jisoo ketika baru saja keluar dari kamar mandi dan membuka lemarinya, mengambil setelen yang akan dikenakannya untuk kerja.

“Apa tidak boleh?” jawab Hyori datar.

“Tidak ... bukan seperti itu, tapi ini cukup pagi untukmu datang kemari.”

“Apa kau bahkan tidak bisa mengiranya?”

“Apa?”

“Aku datang kemari untuk membangunkanmu, bodoh!”

“Hei! Jangan memanggil aku bodoh! Aku bahkan lebih pintar darimu!” decak Jisoo sebal.

Dalam sekejap Hyori bungkam. Memang benar, walau pun Jisoo terlihat seperti gadis bodoh, tapi dia cukup pintar dalam semua mata pelajarannya, kecuali bahasa mancanegara. Dia bahkan meraih penghargaan sebagai salah satu dari sepuluh lulusan siswa terbaik di universitas tempatnya menimba ilmu. Tentu saja, ayahnya adalah seorang direktur perusahaan besar yang terkenal kecerdasaannya dalam berbisnis. Demikian pun juga dengan kakaknya, Song Joong Ki. Dan ibunya adalah seorang wanita yang juga memiliki pendidikan yang tidak bisa dipandang remeh. Beliau bahkan menyelesaikan program study S1-nya hanya dalam waktu tiga tahun. Jadi tidak heran jika gadis aneh itu menuruni kecerdasan keluarganya.

“Lalu selain membangunkanku, apa kau tidak memiliki tujuan lain?” tanya Jisoo kemudian.

“Tidak!”

“Benarkah? Woah ... aku sangat terharu dengan perhatianmu! Kau memang teman terbaikku!”

“Hentikan ocehan tidak masuk akalmu itu! Jika bukan karena mata bulat itu, aku tidak akan datang ke sini sepagi ini.”

“Namanya Kyungsoo!”

“Aku tahu!”

“Kenapa dia menyuruhmu datang kemari?”

“Sudah kukatakan untuk membangunkanmu!”

“Ash ... kenapa dia tidak datang sendiri membangunkanku? Omo ... tidak! Dia tidak akan keluar negeri lagi ‘kan?” Tanya Jisoo lalu bergegas mencari ponselnya. “Dimana ponselku? Hei! Dimana ponselku?” Gadis itu bertanya dengan sedikit berteriak. Itu benar-benar sangat berisik.

Sekali lagi Hyori mendengus kesal melihat tingkah sahabatnya itu. “Hei! Kenapa kau tidak hanya mengganti pakaianmu dengan cepat? Kyungsoo tidak akan pergi kemana pun! Dia memintaku membangunkanmu karena dia harus menyiapkan acara meeting pagi ini.”

Ji-Soo membalikkan tubuhnya kemudian berjalan ke arah Hyori. “Kau ... tidak sedang membohongiku ‘kan?” Tanya Jisoo mendekatkan wajahnya pada wajah Hyori. Berusaha menemukan kebohongan di balik manik mata itu.

Hyori mendorong kening Jisoo dengan telunjuknya. “Tidak, cantik! Kau bisa memastikannya ketika di kantor nanti! Maka dari itu cepat selesaikan dandananmu! Aku tidak ingin gajiku di potong karena terlambat menunggumu!”

“Ah ... Arraseo!” ujar Jisoo.

=======

Taesan Corp.
#505 Seoco Town Trapalace,
1327 Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 23, 2015
11:00 KST.


Terlihat seluruh pegawai baru saja keluar dari ruang meeting. Mereka semua bergegas menuju ruang kerjanya masing-masing. Tapi tidak dengan Jisoo yang masih setia duduk pada kursinya tanpa bergeming sedikit pun. Melihat seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya begitu sibuk dengan seluruh dokumen hasil meeting pagi ini.


“Lihatlah ... betapa baiknya dia sebagai seorang suami.” Lirih Jisoo kemudian terkekeh geli dengan perkataannya sendiri.

“Apa kau tidak akan kembali ke ruanganmu?” Tanya Kyungsoo menyadarkan lamunan Jisoo.

“Ah ... tentu!” Jawab Jisoo kemudian berlari menghampiri Kyungsoo. Mereka pun melangkahkan kakinya bersama keluar dari ruang meeting. “Kyungsoo-ya ....” panggil Jisoo.

“Umh ... ada apa?”

“Bisakah besok kita pergi jalan-jalan? Aku ingin pergi berkencan denganmu.”

“Besok?”

“Uhm ....” Jisoo mengangguk.

“Baiklah ... ayo kita pergi besok!”


=========


Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu,
서울특별시 South Korea
January 24, 2014.
08:00 KST


Jisoo berjalan keluar dari pintu apartementnya dan melangkahkan kakinya menuju apartement Kyungsoo. Pakaiannya sudah rapi dengan blazer merah selututnya dan shall putih yang menutupi lehernya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai dengan tas selempang kecil yang memiliki warna senada dengan shall-nya.


Jisoo memasukkan kode password apartement Kyungsoo hingga menimbulkan bunyi ‘klik’ dan apartement itu pun terbuka. Gadis itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan langsung menuju kamar milik Kyungsoo.


“Apa kau sudah siap?” Tanya Jisoo saat melihat Kyungsoo telah berada di depan kaca rias membenarkan dasinya. “Hei! Kenapa kau berpakaian serapi ini? Kita bukan akan pergi bekerja!”

“Ah ... aku lupa mengatakannya, maaf sayang! Sepertinya kita harus membatalkan kencan hari ini. Ada urusan mendadak di kantor dan aku harus ke sana sekarang juga.”

Mwo?”

“Aku benar-benar minta maaf, kita ganti saja besok, bagaimana?” Tanya Kyungsoo kemudian mengecup kening Jisoo dan berjalan melewati gadisnya itu. Mengambil file-file pekerjaan yang sudah ia siapkan di atas ranjangnya.


Jisoo membelalakkan matanya terkejut mendengar penuturan Kyungsoo baru saja. Sudah pasti dia akan merasa sangat kecewa. Dia bahkan sudah berdandan begitu cantik hari ini. Dan tanpa diduga Kyungsoo membatalkan acara mereka begitu saja. Tapi apa boleh buat? Ini tentang pekerjaan, Jisoo tahu jika Kyungsoo orang yang begitu bertanggung jawab akan pekerjaannya. Tentu saja gadis itu hanya akan merelakannya walau pun hatinya masih belum ikhlas. Toh sekali pun Jisoo merengek untuk tetap melanjutkan acara mereka, Kyungsoo tidak akan mungkin merubah pikirannya. Apalagi jika itu benar-benar urusan yang sangat penting.


Jisoo mendesah kecewa, “Baiklah … besok saja jika seperti itu, aku akan pergi mengunjungi ibu hari ini.” Jawab Jisoo kemudian melangkahkan kakinya berjalan keluar dari kamar Kyungsoo.

Baru beberapa langkah gadis itu meninggalkan kamar Kyungsoo, dirasakannya tangan seseorang menahan pergelangan tangannya. “Apa lagi?” Tanya Jisoo tanpa membalikkan tubuhnya.

“Apa kau marah?” tanya Kyungsoo.

Jisoo membalikkan tubuhnya kemudian tersenyum, “Tidak, besok saja.” Jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.


Cup


Pria itu mengecup singkat bibir merah Jisoo lalu berkata, “Jangan menangis di luar sana, kau mengerti?”

Jisoo memicingkan matanya, “Aku tidak akan menangis, Ahjussi! Kau tenang saja.” Jawab gadis itu kemudian terkekeh sendiri dengan ucapannya baru saja.

Kyungsoo lalu mengusap puncak kepalanya pelan, “Baiklah … ayo ….” ajak Kyungsoo.

“Umm … kemana?”

“Aku akan mengantarkanmu pulang.”

Jisoo menggeleng cepat, “Aku bawa mobilku sendiri!”

“Kau yakin?”

“Uhm … aku akan membelikan ibu bunga tulip kesayangannya. Jadi aku bawa mobil sendiri saja, bukankah kau berkata harus segera pergi ke kantor?”


Kyungsoo mengangguk lalu menggandeng tangan Jisoo keluar apartementnya menuju area parkir mobil di lantai dasar gedung apartement itu.


=======

Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
1201
Songpa-gu,
서울특별시 South Korea
January 24, 2014.
19:00 KST

“Sayang kau dimana?” Tanya Jisoo kepada seseorang yang berada di telephone-nya.

[Aku masih di kantor, kenapa?]

“Pantas saja aku mencarimu keseluruh ruangan ini tidak ada.”

[Apa kau sedang berada di apartementku?]

“Uhm … apa aku harus menyusulmu ke kantor?”

[Tidak perlu, aku akan pulang setelah ini.]

“Baiklah … aku akan menunggumu di sini.”

[Uhm ….]

Tut


Jisoo mengakhiri panggilannya dan bergegas menuju ruang tengah apartement Kyungsoo. Seperti kebiasaannya sebelumnya, dia hanya akan tiduran di sofa sambil menonton televisi. Namun tanpa sadar Jisoo memejamkan matanya di sana. Tertidur hingga pagi menyambutnya. Lalu bagaimana dengan Kyungsoo? Pria itu bahkan tidak pulang ke apartemennya semalam penuh. Dia masih berada di kantornya dan menyelesaikan laporan pajak yang membuat kepalanya benar-benar ingin pecah. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba pemerintah perpajakan mengirimkan surat pemberitahuan bahwa ada beberapa data yang tidak sesuai dengan yang dilaporkan.


Jisoo membuka matanya dan menemui sang mentari telah bersinar terang di balik tirai ruangan itu. Dilihatnya jam tangan yang masih melingkar pada pergelangan tangan kanannya. “Mwo? Jam sepuluh?” Jisoo membelalakkan matanya terkejut. Gadis itu beranjak dari tidurnya mencari sang pemilik apartement yang tak juga ditemuinya. “Apa dia tidak pulang semalam?” tanyanya lirih.


Jisoo kemudian kembali berjalan ke ruang tengah. Diambilnya ponsel miliknya yang ia letakkan di atas meja semalam. Menekan beberapa nomor kemudian menempelkan benda persegi itu di telinganya.


“Kyungsoo-ya … kau tidak pulang semalam?”

[Ah … maafkan aku Cheonsa, aku tidak sempat mengabarimu. Pekerjaanku masih belum selesai bahkan sampai sekarang.]

“Apa kau ingin aku membantumu?”

[Tidak, tidak perlu … aku bisa sendiri!]

“Benarkah?”

[Uhm … kau istirahat saja hari ini, oke?]

“Kencan kita?”

[Tidak apa-apa ‘kan jika harus menundanya lagi? Aku benar-benar tidak bisa melakukannya sekarang.]”

“Baiklah ….”


Jisoo menurunkan ponselnya dan bergegas menuju apartementnya sendiri. Dia bermaksud untuk menyusul Kyungsoo ke kantornya meski pun Kyungsoo melarangnya tadi.


=====
Taesan Corp.
#505 Seoco Town Trapalace,
1327 Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 25, 2015
11:30 KST.


“Kyungsoo-ya ....Teriak gadis itu berlari mendekati meja kerja kekasihnya.

“Kau datang? Bukankah aku sudah mengatakan tidak perlu?”

“Apa kau tahu jika aku tidak bisa tidur tanpa melihatmu sehari saja?” Lagi-lagi gadis itu terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Apa kau sudah makan?” tanyanya kemudian.

“Aku tidak bisa memikirkan makanan untuk saat ini,” Sahut pria itu lalu kembali fokus pada komputer dan seluruh pekerjaan di depannya.

“Lihatlah ... betapa mengenaskan sekali nasib kekasihku.” Cicit Jisoo kemudian kembali berlalu dari ruang kerja Kyungsoo. Gadis itu bermaksud untuk membeli makanan untuk ia makan bersama sang kekasih.


-o-


12:15

“Tada!! Ayo kita makan!” Ajak Jisoo dengan dua buah bungkusan plastik di tangannya.
“Kau makanlah dulu,” jawab Kyungsoo tanpa mengalihkan tatapannya bahkan untuk sekedar melihat usaha kekasihnya.

Sekali lagi Jisoo mendesah kesal melihat Kyungsoo seperti itu. “Pekerjaan itu akan membunuhmu jika seperti ini.” Ucap Jisoo kemudian melangkahkan kakinya mendekati meja kerja Kyungsoo. Jisoo mulai menata makan siang mereka di meja kerja Kyungsoo. Setelah semuanya selesai, gadis itu hanya berdiam diri dan tidak segera memakan makanannya. Dia menunggu Kyungsoo untuk memakannya bersama. Namun hingga satu jam berlalu, Kyungsoo tak juga mengalihkan pandangannya dari seluruh pekerjaannya. Bahkan dia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan semua makanan yang terhidang di hadapannya itu.

Jisoo memangku wajah dengan kedua tangannya. Menatap pria yang begitu dicintainya itu iba. “Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.” Batinnya kemudian mulai menyumpit makan siangnya.

“Aaaa ....” Perintah Jisoo mengarahkan bulgogi yang disumpitnya baru saja ke mulut Kyungsoo.

“Aku masih tidak lapar, sayang!”

“Aaaa ....” Perintah Jisoo lagi tidak menghiraukan ucapan Kyungsoo baru saja. Dengan terpaksa pria di depannya itu akhirnya membuka mulut dan memakan makanan yang disuapkan Jisoo untuknya. “Aku tidak akan memintamu untuk berhenti bekerja, karena itu adalah hal yang mustahil. Jadi, hanya makan saja selama aku mau menyuapimu, kau mengerti?” tanya Jisoo.

Kyungsoo lalu menghentikan pekerjaannya dan mengarahkan pandangannya menatap gadis yang sedang duduk di depannya itu. Menyelesaikan kunyahannya kemudian menelannya. “Woah ... bagaiman kau bisa menjadi sedewasa ini sekarang, eoh?” Tanya Kyungsoo mengacak pelan rambut Jisoo.

“Diamlah ... apa kau pikir aku hanya akan diam saja melihatmu seperti ini? Aaaa ....” Jisoo kembali memasukkan daging sapi panggang yang sebelumnya telah ia celupkan ke dalam saus sedap manis ciri khas makanan bulgogi.


=========


Gangnam-Gu - Seoul, South Korea
[Rumah keluarga Song]
January 25, 2015
18:30 KST.


Appa ....” teriak Jisoo begitu memasuki ruang kerja Ayahnya.

“Ah ... Jisoo-ya ... kemarilah, Ayah sangat merindukanmu!” perintah tuan Song.

Jisoo kemudian berlari mendekati sang Ayah, memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. Itu terlihat seperti ... anak TK yang sedang bergelayut manja untuk minta dibelikan mainan. Ya Tuhan ... dia benar-benar melupakan umurnya. Jisoo kemudian melepaskan pelukannya dan beralih memijat pundak sang Ayah.

“Ah ... sepertinya aku harus melakukan sesuatu setelah ini.” Cicit tuan Song ketika merasakan telapak tangan putrinya mulai memijatnya pelan.

“Woah ... lihatlah ... presdir memang sangat jenius.” Decak Jisoo sambil terkekeh pelan.

“Katakan saja, apa yang harus Ayah lakukan kali ini untukmu, hemh? Tapi ... jangan meminta untuk keluar negeri atau sejenisnya! Kau tahu jika Ayah tidak akan pernah mengabulkan hal itu?”

“Tidak Ayah, bukan itu, Ayah tenang saja.”

“Lalu?”

“Emh ... bolehkah ... bolehkan ....”

“Kenapa kau menjadi kagok begitu? Katakan saja,”

“Bisakah Ayah memberikan Kyungsoo seorang asisten pribadi?” Gadis itu bahkan berbicara dengan begitu cepat tanpa jeda sedikit pun. Seperti seseorang yang sedang dikejar anjing galak dan tidak ingin berhenti karena takut diterkam.

“APA?”

“Aku mohon Ayah ... karena semua pekerjaan itu, aku kehilangan beberapa waktuku untuk bersamanya. Dia bahkan melupakan makan dan tidurnya. Apa Ayah ingin memiliki calon menantu yang kesehatannya memburuk karena terus bekerja seperti itu?”

“Tapi Jisoo-ya ... dia hanya kepala manager keuangan. Akan aneh rasanya jika Ayah harus memberikannya seorang asisten sementara kepala manager bagian yang lain tidak.” Jelas tuan Song kepada putrinya.

“Aku mohon Ayah ... apa gunanya aku tinggal di apartement itu jika dia jarang pulang seperti sekarang. Dan apa gunanya juga aku bekerja di kantor Ayah jika pada akhirnya dia mengacuhkanku seperti itu, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya?”

Mendengar permintaan putrinya yang seperti itu, tuan Song hanya dapat menghembuskan napasnya kasar. Bagaimana tidak? Dia harus bersikap sedikit tidak adil kepada pegawainya yang lain hanya karena sang putri. Tapi, jika menolaknya, itu pun tidak mungkin, mengingat jika pria separuh baya itu begitu menyayangi putri satu-satunya. Lagi pula permintaannya kali ini begitu masuk akal dan tak membahayakannya. Itulah yang ada dalam pikiran tuan Song kali ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Jisoo tidak menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi asisten pribadi Kyungsoo? Bukankah dengan begitu dia akan selalu melihatnya dan mereka akan terus bersama-sama? Tentu saja itu tidak akan terjadi. Jisoo membenci segala hal yang berhubungan dengan keuangan. Meski pun gadis itu begitu menyukai matematika, tapi pekerjaan yang paling dibencinya adalah akuntan. Atau segala jenis pekerjaan yang bertugas membukukan keuangan.


“Baiklah ... Ayah akan memikirkannya nanti.”

“Sekarang Ayah!”

“Hey ... Song Ji Soo!”

Jebal ....” gadis itu mulai merengek.


Lagi-lagi tuan Song hanya bisa meng-iyakan kemauan putrinya. Beliau pun akhirnya memanggil asistennya, untuk mencarikan seseorang yang pantas untuk dijadikan asisten pribadi seperti yang diminta Jisoo.

“Aku mencintaimu, Ayah!” Gadis itu kemudian memeluk pria paruh baya itu erat.


=======


Taesan Corp.
#505 Seoco Town Trapalace,
1327 Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
January 26, 2015
12:00 KST.


Kyungsoo berjalan dengan langkah cepat menuju sebuah ruangan yang tidak hanya dihuni oleh satu orang seperti ruangannya. Langkahnya terhenti tepat pada sebuah meja yang entah kemana pemiliknya pergi.


Hyung .... apa yang kau lakukan di sini?” suara Sehun menyapanya.

“Jisoo ... Eodiga?

Nuna? Aku melihatnya pergi keluar bersama Hyori Nuna baru saja.”

“Kemana?”

“Entahlah.” Sehun mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.

“Ah ... baiklah, terima kasih Sehun-ah.” Kyungsoo kemudian berlalu keluar dari ruangan itu seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.

“Kau dimana?”

[Di atap bersama Hyori,]

“Tunggu aku di sana.”

[Uhm ....]


=======

“Hyori-ya, bisakah kau meninggalkan kami berdua? Aku ingin berbicara dengannya.” Pinta Kyungsoo yang kemudian dibalas anggukan kepala Hyori.


Beberapa saat setelah Hyori menghilang di balik pintu atap gedung itu, Kyungsoo pun mulai berbicara dengan kekasihnya itu.


“Ada apa? Kenapa terlihat seperti sangat serius?” tanya Jisoo.

“Apa kau meminta presdir untuk memberiku asisten pribadi?”

“Eoh, apa dia sudah mulai bekerja hari ini? Baguslah ....”

“Apa yang kau pikirkan dengan meminta presdir memberiku seorang asisten? Apa kau pikir aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku sendiri?” Tanya Kyungsoo yang dibalas dengan gelengan kepala Jisoo. “Lalu apa? Apa kau ingin mempermalukanku di hadapan karyawan lainnya?”

Sekali lagi Jisoo hanya menggelengkan kepalanya. “Aku hanya tidak tega melihatmu begitu menderita dengan semua pekerjaan itu. Aku juga merasa sedikit tersiksa ketika terus tidak bisa melihatmu karena kau begitu sibuk. Apa kau tidak tahu itu?”

“Jisoo-ya ... kau tahu ‘kan jika aku hanya kepala manager keuangan? Apa pantas aku mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu sementara karyawan yang lain tidak? Kau tidak tahu bagaimana karyawan yang lain terus berbicara tentangku hari ini? Aku sangat malu dengan semua itu.”

Jisoo kemudian mengangkat tangannya dan meletakkannya di telinga Kyungsoo. Menutupnya rapat-rapat kemudian berkata, “Jangan dengarkan mereka, hanya tutup saja seperti ini. Terus bekerjalah seperti tidak sedang terjadi apa-apa, kau mengerti?”

Kyungsoo kemudian menurunkan tangan Jisoo dari telinganya, “Ini berbeda sayang, aku berbeda denganmu, aku tidak bisa sepertimu yang tidak akan mengabaikan semua hal itu. Kau tahu ‘kan?”

“Tapi Soo-ya ... aku juga tidak bisa jika terus berjauhan denganmu seperti sekarang, kau tahu jika aku begitu tersiksa dengan semua itu?”

“Ini hanya sementara, ini tak ‘kan lama. Ketika semua pekerjaan ini selesai, lalu kita bisa kembali seperti dulu.”

“Jika begitu, biarkan saja dia bekerja sementara waktu hingga semua laporan pajak itu selesai. Setelah semuanya selesai, aku akan meminta Ayah untuk tak mempekerjakannya lagi, ya?”


Kyungsoo mendengus sedikit kesal mendengar semua perkataan Jisoo yang sangat keras kepala itu. Mau tidak mau, dia pun akhirnya setuju dengan semua hal yang dikatakan Jisoo.


========


Sudah lebih dari dua minggu laporan pajak itu belum juga mendapat titik terang untuk terselesaikan. Hubungan antara mereka berdua perlahan merenggang. Meski pun Kyungsoo telah memiliki asisten pribadi, dia tetap saja masih sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dia bahkan sangat jarang sekali pulang jika tidak untuk mengambil pakaian ganti. Bertemu dengan Jisoo pun itu bisa dihitung berapa kali seminggu, walau pun mereka berada dalam satu perusahaan. Mirisnya lagi, walau pun mereka telah bertemu, mereka hampir tidak pernah menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk bersama. Akhir-akhir ini Kyungsoo benar-benar sangat sibuk. Dia harus keluar masuk kantor pajak untuk melakukan revisi berulang kali dengan ditemani asistennya.


Ini benar-benar menjadi sangat buruk untuk hubungan mereka berdua. Untunglah Jisoo dapat mengerti hal itu. Gadis itu menghilangkan kebosanannya dengan pergi keluar bersama teman-temannya. Berusaha bersenang-senang bersama mereka. Yah, walau pun hatinya sangat menginginkan moment-moment manis seperti yang dirasakannya dulu bersama sang kekasih terjadi lagi. Hanya lewat telepone yang terjadi tidak lebih dari dua kali dalam sehari dia masih bisa bernapas lega dengan itu. Setidaknya, dia masih bisa mendengarkan suara sang kekasih dari sana.


=======

Pagi ini, Jisoo terlihat sedang sibuk dengan pekerjaan di mejanya. Dia bahkan sudah benar-benar bisa beradaptasi dengan keadaan itu. Hingga suatu saat, Baekyun datang menghubunginya.


[Jisoo-ya ... bisakah aku bertemu denganmu hari ini?] Tanya Baekhyun dari seberang telepone.

“Eoh, ada apa, Sunbae? Apa ada sesuatu yang penting hingga kau menghubungiku seperti ini?” tanya Jisoo.

[Aku rasa, kita sebaiknya berbicara langsung.]

“Baiklah, dimana kita akan bertemu, Sunbae?”

[Nanti, setelah makan siang, di restauran Flower, dekat tempat kerjamu. Bagaimana?”

“Baiklah, Sunbae. Nanti ketika istirahat aku akan menemuimu di sana. Kita juga bisa sekalian makan siang bersama.”

[Uhm ... aku tutup dulu telepone-nya.]

“Oke, sampai jumpa nanti siang.”


Tut


Jisoo mengakhiri panggilannya kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda itu. Yah, Baekhyun adalah kakak kelas Jisoo ketika mereka berada pada tingkat perguruan tinggi. Mereka memang begitu dekat semenjak mereka masih kecil. Bahkan mereka juga berada dalam satu universitas yang sama. Selain karena jurusan mereka yang sama, perusahaan keluarga Baekhyun adalah salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan keluarga Jisoo. Dan mereka tidak jarang ikut dalam pertemuan-pertemuan antar relasi perusahaan. Itulah yang membuat mereka begitu dekat hingga sekarang, walau pun mereka sangat jarang bertemu beberapa tahun terakhir ini. Karena Baekhyun harus mengambil alih perusahaan ayahnya dan itu membuatnya benar-benar sangat sibuk.


-o-


Waktu istirahat tiba. Jisoo hendak pergi ke tempat yang telah disepakatinya untuk bertemu Baekhyun. Dia pun keluar dari kantor dan menuju area parkir. Dilihatnya sang kekasih baru saja tiba di sana dan memarkirkan mobilnya kemudian turun. Jisoo berjalan mendekati Kyungsoo, tapi baru beberapa langkah kakinya menapak, gadis itu menghentikan langkahnya ketika melihat kekasihnya itu membukakan pintu mobilnya untuk asisten pribadinya.


Sempat ada pikiran bodoh yang melintasi otaknya, tapi Jisoo langsung menepisnya jauh-jauh. Karena Kyungsoo memang tipikal orang yang sangat ramah dan perhatian terhadap semua orang. Gadis itu pun melanjutkan langkah kakinya mendekati Kyungsoo.


“Kyungsoo-ya ...” Panggil Jisoo dengan sedikit berlari ke arah Kyungsoo.

“Jisoo-ya ....” Sebuah senyuman terlukis di wajah tampan Kyungsoo. Pria itu kemudian meminta asistennya untuk masuk terlebih dahulu meninggalkan mereka berdua.


Kyungsoo lalu melebarkan lengannya ketika Jisoo semakin dekat ke arahnya. Pria itu lalu mendekap gadisnya itu erat seraya menciumi puncak kepalanya.


“Apa kau begitu merindukanku hingga menungguku di sini?” tanya Kyungsoo.

“Aku memang merindukanmu, tapi aku di sini tidak menunggumu.”

“Benarkah?”

“Uhm ... aku ada janji makan siang di luar dengan teman lamaku, ayo kita pergi makan siang bersama,” ajak Jisoo.

“Woah ... bukankah itu tawaran yang sangat bagus? Tapi sayang sekali, aku tidak bisa, sayang. Masih banyak yang harus kukerjakan, lagi pula aku sudah makan siang tadi sepulang dari kantor pajak.”

“Benarkah? Woah ... aku benar-benar kehilangan waktu berhargaku bersamamu.” Keluh Jisoo dengan wajah memelasnya.


Kyungsoo kemudian kembali memeluknya dan mengecup singkat bibir gadis itu, memintanya untuk lebih bersabar hingga seluruh pekerjaannya terselesaikan dengan baik. Jisoo pun mengangguk dan melepaskan pelukannya dari sang kekasih.


“Aku harus segera pergi, seseorang menungguku,” ungkap Jisoo.

“Baiklah ... kau hati-hati di jalan, mengerti?” saran Kyungsoo.


Jisoo pun menganggukkan kepalanya kemudian segera berlalu menuju mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu.


-o-

Jisoo tiba di restauran dan segera masuk ke dalam sana. Dilihatnya Baekhyun sudah menunggunya pada sebuah meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Gadis itu lalu menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati Baekhyun. Dia pun mendudukkan dirinya pada kursi yang tersedia.


“Kau sudah lama, Sunbae? Maaf membuatmu menunggu,” pinta Jisoo.

“Tidak, aku juga baru saja sampai. Kau ingin makan apa?”

“Apa saja, asalkan dapat membuatku merasa kenyang.”

“Woah ... nafsu makanmu sepertinya tidak berkurang sedikit pun. Masih begitu lahap, haha ....” Sindir Baekhyun kemudian memanggil seorang waiters untuk memesan makanan.

“Tentu saja, aku bahkan memanfaatkan hidupku sebaik-baiknya untuk menikmati semua jenis makanan yang ada. Haha ....” Balas Jisoo dengan tawa renyahnya. “Tapi, ada apa Sunbae ingin bertemu denganku seperti ini?”

“Apa aku tidak boleh bertemu dengan kerabat lama?”

“Tidak, bukan seperti itu, tapi sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin Sunbae bicarakan denganku. Ada masalah apa hingga Sunbae harus repot-repot mengajakku bertemu langsung seperti ini?”

“Apa kau masih bersama Kyungsoo?” tanya Baekhyun.

“Yah, aku masih bersamanya dan aku tidak ingin berpisah dengannya. Memangnya kenapa?”

“Bagaimana hubungan kalian akhir-akhir ini?”

“Hubungan kami? Baik-baik saja, memangnya kenapa?”

“Kau yakin?” Tanya Baekyun penuh penekanan pada suaranya.

“Uhm ... memangnya ada apa? Sunbae bertanya seperti ini membuatku sangat penasaran dengan apa yang akan Sunbae katakan.”

“Aku tanya sekali lagi, apa kau yakin hubungan kalian baik-baik saja?”

“Tentu saja, bahkan sebelum pergi kemari tadi aku bertemu dengannya di tempat parkir.” Jisoo sejenak menyudahi kata-katanya. “Memang akhir-akhir ini kami jarang bersama, karena dia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya apa yang ingin Sunbae katakan?”

“Aku melihatnya bersama gadis lain kemarin.”

“Ah ... itu asistennya Sunbae. Aku yang meminta ayah untuk memberinya asisten agar dapat membantu pekerjaannya.”

“Kau yakin hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan?” tanya Baekhyun meyakinkan.

Sunbae, sebenarnya apa maksudmu? Jangan berbelit-belit seperti ini. Aku tidak mengerti.”

“Jisoo-ya ... hubungan mereka tidak terlihat seperti manager dan asistennya, lebih dari itu. Aku sering melihat mereka makan bersama dan berpegangan tangan. Itu benar-benar aneh menurutku.”

“Hey! Apa kau datang kemari hanya untuk memfitnah kekasihku? Aku menghargaimu sebagai kakak kelasku dan juga kerabat kerja ayahku. Tapi jangan mengatakan hal yang buruk tentangnya seperti ini. Kau kira aku percaya? Kyungsoo tidak akan pernah melakukan hal itu. Dia sangat mencintaiku. Jika mereka makan bersama, itu wajar karena mereka sering pergi keluar kantor untuk  menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan untuk pegangan tangan, mungkin saja itu tidak sengaja atau mereka saling membantu untuk membawa sesuatu. Jadi hentikan semua omong kosong ini.”

“Jisoo-ya ... apa kau kira aku berbohong? Aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku. Mereka memang ada apa-apa, percayalah. Aku mengatakan ini, karena aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku. Sungguh ....”

“Hentikan Sunbae! Hentikan! Jika kau datang menemuiku karena untuk mengatakan semua ini, percuma saja. Aku tidak akan mempercayainya. Aku lebih percaya kekasihku, aku yakin dia tidak akan melakukan hal itu di belakangku. Aku permisi, tidak ada gunanya aku di sini.”

“Hey, Song Jisoo! Jisoo-ya ....


Namun gadis itu tetap melangkahkan kakinya pergi meninggalkan restauran itu tanpa memedulikan panggilan Baekhyun. Dia benar-benar tidak dapat menerima semua hal yang dikatakan Baekhyun kepadanya baru saja. Jisoo lalu segera memasuki mobinya dan melajukannya untuk kembali ke kantornya.


Yah, gadis itu memang begitu percaya kepada sang kekasih. Dia sangat yakin jika Kyungsoo begitu mencintainya dan tak mungkin mengkhianatinya. Tapi di belakang itu, semua keyakinannya sia-sia. Karena pada kenyataannya semua yang di katakan Baekhyun padanya adalah benar. Kyungsoo memang tidak sebaik seperti yang Jisoo katakan. Memang Kyungsoo begitu mencintainya, tapi selama beberapa minggu mereka tidak bersama, itu membuat hubungan mereka benar-benar merenggang. Ditambah lagi dengan kehadiran seorang gadis lain yang selalu ada di sisi Kyungsoo, itu membuatnya begitu nyaman, bahkan walau pun tanpa Jisoo di sampingnya. Kenyamanan itu perlahan membuatnya sedikit demi sedikit mengabaikan gadisnya itu. Dia perlahan mulai menyukai asistennya dan benar saja, mereka sering pergi keluar bersama, bergandengan tangan, makan malam, bahkan tidak jarang pergi berkencan dengan menggunakan alasan pekerjaan. Kyungsoo-ya ... kau benar-benar sangat keterlaluan. Apa kau tidak tahu jika ini benar-benar akan menyakiti hatinya? Gadis itu bahkan sangat mencintaimu, Jisoo sangat mempercayaimu seratus persen tanpa ragu.


Hari kembali berlalu, hubungan mereka tetap sama tanpa perubahan. Jisoo masih sangat sulit untuk mengajak Kyungsoo pergi berkencan atau sekedar makan bersamanya. Ditambah lagi dengan Kyungsoo yang sangat jarang pulang ke apartemennya, yang membuat Jisoo memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya karena merasa sangat kesepian sendiri di apartement itu.


Suatu hari, Tao datang kepadanya dengan tergesa-gesa.


“Hey, Song Jisoo!” panggil Tao.

“Eoh, ada apa tuan Huang?”

“Jangan memanggilku seperti itu!”

“Hehe, iya ... ada apa Tao-ya?

“Apa kau sudah tahu itu?”

“Maksudmu?”

“Tentang hubungan Kyungsoo Hyung dengan asistennya, apa kau sudah tahu?”

“Hey! Berhenti mengatakan omong kosong seperti itu. Mereka tidak ada hubungan spesial apa pun. Kenapa kau bahkan tertular seperti mereka? Bukankah kau mengenal Kyungsoo begitu lama? Tidakkah kau berpikir bahwa dia pria yang sangat setia dan tidak akan mengkhianatiku?”

“Tapi aku mendengar semua orang membicarakannya Jisoo-ya ... semua orang sudah tahu itu.”

“Tao-ya ... jika kau hanya mendengarnya, aku juga mendengarnya. Apa kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri? Tidak kan? Kau hanya mendengar dari mulut orang lain. Bisa saja mereka mengatakan itu karena iri dengan Kyungsoo. Bukankah hanya Kyungsoo satu-satunya manager yang memiliki asisten di perusahaan ini? Mereka hanya iri kepadanya, percayalah ....”


Tao mendengus kesal mendengar perkataan Jisoo baru saja. Dia memang tidak melihat mereka melakukan hal aneh di depan matanya, tapi mendengar semua orang berbicara seperti itu beserta Kyungsoo yang terlihat begitu dekat dengan asistennya, Tao berpikir itu mungkin saja terjadi. Tapi harus bagaimana lagi? Jisoo benar-benar keras kepala dan tidak mau mempercayai siapa pun yang berbicara buruk tentang kekasihnya. Bahkan walau pun itu Hyori, sahabat yang begitu dekat dengannya dan sangat dipercayainya. Tapi kali ini, semua yang dikatakan Hyori pun seperti angin lalu yang masuk kemudian keluar lagi dari telinganya. Jisoo tetap tidak mempercayainya dan kokoh dengan pendirian beserta keyakinannya semu-nya.


Tidak berhenti sampai di situ. Hyori tetap berusaha untuk mengumpulkan bukti agar Jisoo mempercayai ucapannya. Hyori bahkan meminta Luhan, kekasihnya untuk membantunya. Mengungkapkan kebenaran tentang Kyungsoo kepada sahabatnya itu. Hingga tibalah saatnya ketika bukti itu datang. Hyori mengajak Jisoo pergi keluar dengan alasan dia sedang  ingin melepaskan pikiran suntuknya. Jisoo pun menyetujuinya dan mereka pun bergegas untuk menuju sebuah tempat yang telah diberitahukan Luhan kepada Hyori tadi.


“Hyori-ya ... kenapa kau mengajakku kemari? Bukankah kau bilang ingin bersenang-senang? Kenapa malah ke tempat ini?” tanya Jisoo.

“Ikut saja, jangan banyak bertanya. Nanti kau akan tahu sendiri.” Ungkap Hyori seraya terus memegang pergelangan tangan Jisoo. Membawanya berjalan dengan sedikit berlari agar segera sampai.

“Kau akan membawaku kemana? Ini apartemen siapa?” Jisoo bertanya lagi namun kali ini Hyori tak menjawabnya.


Luhan sudah menunggunya di depan sebuah pintu dengan menggenggam sebuah kunci apartemen di tangannya. Yah, kunci apartemen milik Hyun Bi yang sekarang sedang dihuni oleh dua orang di dalamnya. Kalian tahu bagaimana cara Luhan untuk mendapatkannya? Tentu saja dengan pikiran cerdiknya. Bukankah dia benar-benar cerdas dalam urusan seperti ini? Luhan mengambilnya dari dalam tas Hyun Bi ketika gadis itu masuk ke dalam toilet. Oh tidak, Luhan sangat berani memasuki toilet perempuan itu hanya untuk menyadarkan Jisoo. Benar-benar nekat. Apa dia tidak takut di panggil mesum atau bahkan dipukuli karena hal itu? Entahlah ... Luhan tidak berpikiri ke sana. Di pikirannya hanyalah bagaimana agar bisa mendapatkan kunci apartemen itu tanpa ketahuan. Dan untunglah dia berhasil.


Hyun Bi bahkan tidak menyadari jika kunci apartemennya menghilang, karena dia hampir tidak pernah lagi menggunakannya. Dia sudah sangat menghafal passwordnya jadi dia tidak membutuhkan kunci itu lagi.


Beberapa saat kemudian Jisoo dan Hyori sampai di depan pintu apartemen itu, dimana Luhan menunggu mereka. Tanpa basa basi Luhan langsung membukanya dan Hyori langsung menyeret Jisoo masuk ke dalam sana. Benar saja semua yang diperkirakan Luhan jika Kyungsoo dan asistennya itu ada di dalam sana. Kali ini, dengan mata kepalanya sendiri, Jisoo dapat melihat sang kekasih sedang bermesraan dengan selingkuhannya di depan matanya.


Kyungsoo-ya ... ige mwo?” Dengan wajah yang perlahan memucat, Jisoo berusaha untuk tetap menata hatinya dan menahan dirinya agar tidak ambruk di sana.

“Jisoo-ya ... ba ... bagaimana bisa?”


Bruakkk


Itu suara hantaman tangan Luhan yang membuat Kyungsoo jatuh tersungkur di lantai.


“Kau berengsek!!” Luhan kembali memukul wajah Kyungsoo.

Oppa hentikah! Jangan memukulnya seperti itu, nanti dia bisa terluka.” Pinta Jisoo tapi Luhan tak menggubrisnya dan tetap memukuli Kyungsoo.

Oppa! Sudah aku bilang hentikan! Jangan membuatnya terluka seperti itu, OPPA! HENTIKAN!!” Teriak Jisoo yang membuat Luhan menahan pukulannya.


Jisoo menatap wajah Kyungsoo nanar. Gadis itu tidak menangis walau pun wajahnya benar-benar memucat. Entahlah, apa yang sedang dirasakannya sekarang. Dia bahkan masih memikirkan kekasihnya itu yang sudah jelas-jelas mengkhianatinya. Jisoo-ya ... sebegitu besarkah cintamu untuk pria itu hingga kau menjadi seperti ini? Apa kau bahkan tidak dapat merasakan sakit karena terlalu mencintainya?


Jisoo kemudian berajalan mendekati Kyungsoo yang masih merintih kesakitan karena pukulan Luhan. Mengusap lembut darah yang keluar dari sudut bibir pria itu. Menangkup wajah luka kekasihnya kemudian mengecup bibir Kyungsoo. Untuk beberapa saat dia menahannya dalam posisi itu. Entahlah apa yang sedang berada dalam pikirannya, apa dia benar-benar tidak merasakan sakit? Ya Tuhan ... Jisoo-ya ... malang sekali nasibmu.


Semua yang ada dalam ruangan itu tercengang kaget, tidak percaya melihat apa yang dilakukan Jisoo sekarang. Ingin rasanya Hyori menyeret gadis itu dan memakinya habis-habisan karena sudah sangat bodoh melakukan hal itu. Tetap mencintai pria yang bahkan sudah jelas-jelas mengkhianatinya di depan matanya sendiri. Tapi, Hyori tak dapat melakukannya karena Luhan menahan tangannya kuat.


Beberapa saat kemudian, Jisoo melepaskan tautan bibirnya. Gadis itu beranjak berdiri kemudian meninggalkan ruangan itu tanpa berkata apa pun. Mempercepat langkah kakinya dengan berlari untuk segera sampai di mobilnya. Air mata itu, sudah tidak tahan ingin keluar dan jatuh dari pelupuk matanya. Hyori dan Luhan yang melihat itu segera berlari mengejarnya namun mobil Jisoo lebih cepat meninggalkan mereka. Luhan dan Hyori terus mengejarnya, tapi gadis itu benar-benar sudah sangat gila melajukan mobilnya dengan begitu cepat dan membuat mereka kehilangan jejaknya.


Jisoo menghentikan mobilnya di suatu tempat, menjerit keras di sana. Bahkan tubuhnya seperti tak merasakan dingin sedikit pun walau pun angin malam kota Seoul seakan menusuk tulangnya. Dia benar-benar terlihat sangat menderita dengan semua itu. Jisoo kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu, pulang kembali ke rumahnya.


Setibanya di rumah, Jisoo melihat kakaknya berdiri di ruang tamu rumahnya. Song Joong Ki yang melihat wajah adiknya begitu buruk seperti itu berjalan mendekati gadis itu. Memeluknya erat tanpa menanyakan apa yang sedang terjadi. Tapi, memang Joongki sudah tahu semua ceritanya karena Hyori menghubunginya dan memberitahunya tadi.


Jisoo mendekap tubuh kakaknya itu erat, menyembunyikan wajah penuh deritanya di bawah ceruk leher Joongki. Isakan tangisnya bahkan masih terdengar begitu jelas di sana. Ibu dan ayahnya yang baru saja pulang dari makan malam bersama  dengan client perusahaan, terlihat sangat kaget melihat keadaan putrinya seperti itu. Mereka hendak bertanya apa yang sedang terjadi, namun Joongki buru-buru meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan kepada kedua orang tuanya itu agar tidak mengatakan apa pun. Mereka pun mengangguk mengerti, kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan kedua anaknya itu di ruang tamu rumah besar mereka. Sementara tuan Song ingin sekali memeluk putrinya itu, tapi kali ini ia harus mengalah kepada putranya karena melihat Joongki yang lebih tahu masalah adiknya.


Perlahan isakan tangis itu terhenti bersama dengan tubuh Jisoo yang melemas dan tak sadarkan diri dalam pelukan kakaknya. Suhu tubuhnya mulai terasa panas ketika Joongki menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.


Joongki segera meminta pelayan di rumahnya untuk membawakannya baskom berisi air, dengan handuk bersih untuk mengkompres tubuh Jisoo agar demamnya turun. Joongki sangat mengerti dengan apa yang sedang dirasakan adiknya itu. Beberapa saat kemudian kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar Jisoo untuk melihat keadaan putrinya.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia menjadi seperti ini?” Tanya wanita separuh baya yang tak lain adalah ibu mereka berdua.

Eomonim tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja.” Ungkap Joongki berusaha menenangkan ibunya.

“Tidakkah sebaiknya kita membawanya rumah sakit?” Tanya tuan Song.

“Tidak perlu Ayah, biar aku yang merawatnya sendiri. Dia hanya demam, nanti juga akan membaik setelah meminum obat penurun panasnya.”


Tuan Song mengangguk mengerti kemudian mengajak istrinya keluar dari sana. Membiarkan putri mereka beristirahat.


“Ayah ....” Suara Joongki kembali menghentikan langkah kedua orang tuanya. “Jangan melakukan apa pun terhadapanya. Kita tunggu hingga Jisoo sadar dan bertanya apa yang diinginkannya,” jelas Joongki. Tuan Song mengangguk mengerti kemudian kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Jisoo.


Yah, sebenarnya mereka sudah dapat menebaknya, kenapa Jisoo menjadi seperti itu. Tentu saja, semua pasti ada hubungannya dengan kekasihnya. Mengingat putrinya itu begitu mencintai sang kekasih.


Hari berganti. Pagi itu Jisoo membuka kedua matanya dan mendapati sang kakak tertidur di sampingnya. “Oppa ....” panggilnya kemudian.

Joongki kemudian ikut membuka matanya dan tersenyum kepada adiknya itu. Memeriksa kening Jisoo untuk memastikan demamnya sudah turun atau belum. “Kau masih panas, apa kita perlu pergi ke dokter?” tanya Joongki.

Jisoo menggelengkan kepalanya cepat, “Tidak perlu Oppa, aku akan baik-baik saja.”

Joongki mengangguk, “Apa kau ingin makan bubur?” tanyanya.

Sekali lagi Jisoo menggelengkan kepalanya. “Oppa ... bisakah kau meminta Ayah untuk mengirimku keluar negeri? Aku ingin melanjutkan kuliahku. Kemana saja, selama itu tidak di Korea.”

Joongki terdiam mendengar permintaan adiknya itu. “Jisoo-ya ... kau tahu jika Ayah tidak akan pernah melakukan hal itu? Kau lupa kejadian sebelumnya?” Joongki bertanya.

Jisoo menggelengkan kepalanya cepat. “Aku tahu Oppa, aku ingat itu. Aku tahu Ayah begitu mengkhawatirkanku, tapi aku mohon Oppa ... bantulah aku untuk berbicara dengannya. Aku tidak ingin berada di Korea untuk sementara waktu. Biarkan aku menata hatiku. Jika Ayah benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu denganku, Ayah bisa menyewa seseorang untuk menjagaku. Aku berjanji tidak akan membuat ulah yang dapat membuatnya khawatir, sungguh.” Pinta Jisoo dengan wajah memelasnya. Matanya bahkan masih bengkak karena tangisannya semalam.

Joongki kemudian mengusap puncak kepala Jisoo. “Baiklah ... Oppa akan mencoba berbicara dengan Ayah.” Jisoo menganggukkan kepalanya mengerti.


========

“Jisoo-ya ... kau yakin dengan keputusanmu ini?” Tanya Hyori ketika membantu Jisoo mengepaki barang-barangnya.

Jisoo mengangguk mantap. “Kau tahu jika aku begitu menyukainya? Aku masih belum bisa menerima semuanya sekarang. Seseorang yang begitu aku percaya. Aku bahkan masih sangat mencintainya. Terlalu menyakitkan bahkan hanya sekedar untuk melihat wajahnya, aku rasa aku benar-benar akan gila jika terus berada di sini.”

“Lalu apa ini artinya hubungan kalian berakhir?” tanya Hyori lagi.

Jisoo menggelengkan kepalanya. Air matanya kembali terjatuh membasahi pipinya yang sedikit terlihat tirus. “Aku bahkan masih belum yakin jika aku bisa melakukan ini Hyori-ya ... aku begitu mencintainya, tapi di sini masih terasa sangat sakit. Ketika kemarin dia datang kemari mencariku, aku bahkan masih ingin berlari dan memeluknya, tapi aku tidak bisa. Semua ingatan itu cukup menyakitkan untukku.” Jelas Jisoo dengan tangisannya yang benar-benar telah pecah. Hyori kemudian memeluk sahabatnya itu, membiarkan Jisoo menangis sesenggukan dalam pelukannya.

“Apa tidak lebih baik aku saja yang menemanimu di sana?” Tanya Hyori ketika Jisoo sudah menghentikan tangisannya.

Jisoo menggelengkan kepalanya. “Kau memiliki keluarga di sini, kau juga memiliki Luhan Oppa yang akan sangat membutuhkanmu. Aku tidak akan kembali ke Korea untuk waktu yang cepat, mungkin hingga study S2-ku selesai di sana. Jadi tetaplah di sini, aku tidak ingin menyusahkanmu.”


Hyori mengangguk mengerti, kemudian membantu Jisoo membawa kopernya keluar dari sana. mengantarkan sahabatnya itu ke bandara bersama dengan seluruh keluarga Jisoo. Gadis itu bahkan masih belum terlihat membaik, tapi dia bersikeras untuk tetap pergi. Semua orang sudah menunggunya di luar sana, kakak, ayah dan ibunya. Mereka sudah bersiap-siap untuk pergi mengatarkan putrinya ke bandara.


“Kau hati-hati, Eun Hye akan menjemputmu di bandara ketika kau tiba di sana. Jangan pergi kemana pun tanpa seijinnya, kau mengerti?” saran Joongki.

Arraseo Oppa ... aku akan menuruti semua hal yang dikatakan kekasihmu itu.” Jisoo mencoba tersenyum ceria di hadapan semua orang, menyembunyikan lukanya seorang diri dan tak membiarkan siapa pun mengetahuinya.

Jisoo kemudian berjalan mendekati sang ayah dan memeluknya. “Aku akan sangat merindukan Ayah, bagaimana ini? Aku mungkin akan mati jika terlalu lama tidak dapat melihat wajah pria tua ini,” tutur Jisoo.

Aigoo-ya ... apa ayah benar-benar setua itu? Haha ... Ayah akan mengunjungimu setiap bulan, kau tidak perlu khawatir, kau mengerti?” Tuan Song sedikit mengajak canda putrinya untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


Jisoo menganggukkan kepalanya kemudian melangkahkan kakinya memeluk ibunya, begitu erat dan enggan untuk segera melepaskannya. Dia tak mengatakan apa pun karena dia takut tidak dapat menahan tangisannya di depan sang ibu. Yah, walau pun air mata ibunya sudah sangat deras mengalir di pipinya.


Jisoo beralih memeluk Hyori dan Luhan yang ikut mengantarkannya. Setelah itu dia pun membalikkan tubuhnya meninggalkan deretan orang-orang tercintanya. Melangkahkan kakinya menuju pintu masuk penerbangan luar negeri dan enggan membalikkan tubuhnya lagi. Dia takut orang-orang itu dapat melihat kesedihannya, atau bahkan air mata yang sudah penuh mengalir di pipinya.


Kyungsoo-ya ... maafkan aku meninggalkanmu seperti ini. Aku tidak cukup kuat untuk menerima semua kenyataan ini. Aku akan sangat merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik selama aku tidak di sampingmu. Saranghae ....” Gumam gadis itu begitu pelan dengan air mata yang sudah sukses membasahi wajahnya.


Jisoo benar-benar sudah menghilang di balik pintu masuk penerbangan, kemudian seluruh orang yang mengantarnya pun ikut berbalik menuju pintu keluar bandara.


Sementara di rumah keluarga Song, Kyungsoo kembali ke sana. Mencari keberadaan Jisoo di rumah itu. Semua orang yang masih menghuni rumah itu, -pembantu keluarga Song- sudah memberitahunya jika Jisoo sudah tak lagi berada di sana, tapi Kyungsoo tetap bersikeras untuk mencarinya sendiri. Membuktikan kebenaran ucapan mereka dengan mata kepalanya sendiri. Hingga akhirnya kenyataan pahit itu seakan menyayat hatinya. Jisoo benar-benar sudah tidak di sana lagi.


Ahjumma aku mohon, sekali ini saja aku mohon ... katakan dimana Jisoo-ku berada? Beritahu aku kemana dia pergi.” Rintih Kyungsoo kepada salah satu pembantu rumah tangga keluarga Song. Tapi pembantu itu tetap bungkam dan tak mau mengatakan apa pun. Yah, mereka memang sengaja di suruh untuk menutup mulut mereka rapat-rapat tentang keberadaan Jisoo. Mereka hanya megatakan jika Jisoo telah pergi dari rumah itu dan untuk sementara waktu tidak akan kembali ke sana.


Pria itu nampak sangat frustasi dengan semua akibat dari perbuatannya. Dia lalu berjalan keluar dari rumah besar itu dan menghampiri mobilnya yang terparkir tepat di depan sana. Tinggal beberapa langkah dia hendak menggapai pintu mobilnya, suara Joongki tiba-tiba menghentikannya.


“Aku rasa setelah ini kau tidak perlu lagi datang kemari Kyungsoo-ya. Kau tidak akan menemukan Jisoo walau pun kau mencarinya ke setiap sudut di rumah ini. Bahkan di seluruh penjuru negara ini pun kau tidak akan dapat menemukannya. Dia sudah meninggalkan Korea beberapa jam yang lalu.”

“APA?” pekik Kyungsoo penuh dengan keterkejutan.

“Dia berkata sangat mencintaimu dan masih sangat mencintaimu. Dia bahkan memintaku untuk tak melakukan apa pun terhadapmu, dia tidak ingin kau sakit sedikit pun. Apa kau tahu bagaimana rasanya aku ingin memukulmu sekarang melihatnya seperti itu?”

“Pukul saja Hyung, pukul saja! Aku bahkan ingin membuat diriku sendiri mati jika mengingat semua sakit yang aku beri untuknya. Bunuh aku untuk menebus semua kesalahanku,” rintih Kyungsoo.

“Kau pikir dengan  begitu dia akan bahagia? Sudah kukatakan dia begitu mencintaimu apa kau masih tidak juga mengerti?”

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa tanpanya seperti ini.”

“Jika waktu kau bisa, kenapa sekarang kau berkata tidak bisa? Bukankah itu cukup mudah bagimu untuk mencari penggantinya?” Tanya Joongki begitu sinis.

Hyung, kau tidak tahu bagaimana keadaanku waktu itu. Semua yang terjadi di luar nalarku. Aku benar-benar tidak berniat untuk menyakitinya seperti ini. Tapi gadis itu terus berada di sekitarku,”

“Apa maksudmu gadis selingkuhanmu itu? Kau ingin menyalahkannya atas semua yang terjadi? Begitu?” Joongki memotong ucapan Kyungsoo yang belum sempat tertuntaskan.

Hyung ....”

“Sudahlah Soo-ya ... lebih baik kau pergi dari sini. Jangan memancing emosiku. Aku tidak ingin mengingkari janjiku kepadanya.”

“Tapi Hyung ... setidaknya beritahu aku kemana dia pergi.”

“Apa kau bodoh? Itu sama saja dengan aku menyuruhmu untuk datang membunuhnya. Apa kau masih tidak mengerti juga?”

Hyung ....

“Pergilah dan jangan memperburuk keadaan. Jika kau seperti ini, tidak hanya hubunganmu dengan Jisoo yang rusak, tapi kau juga dapat merusak hubungan antara keluarga kita. Bahkan mungkin akan memutus hubungan bisnis antara dua perusahaan karena aku benar-benar akan membunuhmu. Kau mengerti?” Desis Joongki kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya. “Ah ... benar, jangan datang lagi ke sini. Karena kau tidak akan mendapatkan informasi apa pun tentang keberadaan Jisoo. Hiduplah seperti yang kau inginkan dan bersenang-senanglah ....” Lanjut Joongki kemudian melanjutkan langkah kakinya dan menutup pintu rumahnya kasar, hingga menimbulkan sebuah dentuman yang memekik telinga.


Semenjak saat itu Kyungsoo memutuskan untuk keluar dari perusahaan milik keluarga Jisoo dan kembali bekerja di perusahaannya sendiri. Yah, perusahaan milik keluarganya yang terletak di Busan. Dia memutuskan untuk kembali tinggal bersama orang tuanya untuk waktu yang tidak bisa ditentukan lamanya, mungkin hingga Jisoo kembali ke Korea, atau mungkin dia juga tidak akan pernah lagi kembali ke Seoul. Memang pada awalnya Kyungsoo memutuskan untuk pindah ke Seoul dan bekerja di perusahaan milik keluarga Song semata-mata hanya karena Jisoo. Tapi pada akhirnya dia juga yang membuatnya menjadi seperti itu. Menghilangkan kepercayaan orang lain akan dirinya, terlebih itu adalah kekasihnya sendiri. Membuat seseorang yang begitu dicintainya itu menghilang dari sisinya. Dia bahkan membuat sebuah rasa sakit yang sangat mendalam di hati gadisnya itu. Di hati seseorang yang begitu dicintainya dan sangat mencintainya. Hidupnya bahkan sudah tidak lagi berjalan seperti dulu, karena yang ada di pikirannya hanyalah kekasihnya. Dia sangat merindukannya sekarang, bahkan semua kesalahannya tidak dapat ia tebus dengan apa pun. Dia sangat menderita dan terus hidup dalam penyesalan yang tanpa ujung.


END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar