Kamis, 25 Desember 2014

Sepucuk Surat Kematian

Title : Sepucuk Surat Kematian
Writer  : Candle Light
Rate : General
Main Casts:
  • Do Kyungsoo (yeoja)
  • Byun Baekhyun (yeoja)
Support Casts:
  • Kim joongin (namja)
  • Other
Genre : Sad, friendship, School Life, etc
Duration : 4.018 words
Length : Oneshoot

======

Semilir angin lembut menyapu wajah cantiknya, rambut panjangnya yang terurai indah ikut melayang – layang tertiup angin di pagi itu. Hari ini benar – benar cerah. Kicauan burung diranting – ranting pohon seakan ikut bernyanyi membuat suasana pagi ini benar – benar menyegarkan. Gadis cantik berambut coklat itu telah sekian lama termenung di depan jendela kamarnya.
“Kyungsoo ya ... kau sudah bangun ?” terdengar suara wanita separuh baya memanggil namanya.
“ne... eomma ... waeyo ?”
“apakah kau sudah meminum obatmu ?”
“ne.. tadi ketika aku bangun aku langsung meminumnya. Apa eomma tidak pergi mengajar hari ini ?”
“seharusnya memang begitu tapi tidakkah lebih baik jika eomma mengambil cuti hari ini?”
“cuti? Wae ?”
“bukankah hari ini kesehatanmu sedang memburuk ? eomma ingin menemanimu seharian dirumah.”
“tidak perlu eomma, nanti sepulang sekolah Baek akan kesini untuk mengunjungiku. Dia bilang dia juga akan menginap disini malam ini.”
“benarkah ? Baekhyun akan menginap sini malam ini ? tapi... apa kau sungguh tak apa jika eomma tinggal sendiri ?”
“ne eomma... bukankah disini juga ada ajumma yang akan merawat dan menemaiku ? eomma pergi saja, mereka juga membutuhkanmu” *mereka = mahasiswa
“arraseo... kalau begitu eomma akan pergi ke kampus, kau baik – baik dirumah. Arraci ?”
“ne eomma.. hati – hati dijalan.”
Setelah mencium pipi anaknya. Ny. Do pun pergi meninggalkan rumahnya. Dia adalah seorang profesor disebuah universitas ilmu komputer di korea. Dia seorang ibu tunggal yang ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun setelah melahirkan Kyungsoo. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun ketika hendak pergi kerumah sakit untuk melakukan operasi terhadap pasiennya.
Yah... ayah Kyungsoo adalah seorang dokter spesialis kanker disebuah rumah sakit ternama di Seoul. Namun karena nasib tragis yang menimpa ayahnya, Kyungsoo harus hidup tanpa kasih sayang seorang ayah.
Kyungsoo dikenal sebagai seorang gadis yang periang, penuh semangat dan gigih. Dia juga dikenal sebagai seorang gadis yang baik hati dan ramah. Meskipun dia terlahir dari keluarga kaya itu tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang sombong, bahkan tidak jarang dia pergi kesekolah dengan bis umum meskipun iya telah difasilitasi mobil dan supir pribadi oleh eommanya. Dan karena kepribadiannya ini ia bisa memiliki banyak teman dimanapun ia berada.
Namun ketika Tuhan menciptakan seseorang dengan segala kelebihannya, Tuhan juga akan melengkapi orang tersebut dengan beberapa kekurangan. Ya, hal ini juga terjadi pada Kyungsoo. Dibalik semua yang ia miliki Tuhan juga memberinya sebuah penyakit kronis yang kapan saja bisa membunuhnya. Tapi hal ini tidak membuat Kyungsoo sedikitpun patah semangat, ia tetap menjalani hari – harinya seperti kebanyakan orang lainnya. Semangatnya untuk tetap hidup begitu kuat, bahkan lebih kuat dari orang yang benar – benar sehat. Dia tak pernah mengeluh sedikitpun tentang penyakitnya, meski sering kali penyakitnya ini membuatnya menjadi orang yang sangat menyedihkan.
Jantung bocor, ya.. itu adalah nama penyakit yang dideritanya. Penyakitnya baru terdeteksi ketika iya berumur 10 tahun. Dan hanya bisa disembuhkan dengan operasi cangkok jantung. namun sampai detik ini dia belum mendapatkan donor jantung yang cocok untuknya. Karena terlalu lama menunggu donor jantung yang cocok dengannya, hal ini membuat paru – parunya membengkak karena darah yang dipompa oleh jantung tidak bisa sepenuhnya mengalir keseluruh tubuh, melainkan menggenang disekitar paru – parunya. Dan ini membuat kesehatannya benar – benar menurun akhir – akhir ini, ia lebih sering susah untuk bernafas. Karena paru – paru yang membengkak ini pula ia harus segera mendapatkan donor paru – paru, karena paru – parunya hampir tak berfungsi dengan baik.
***
tingtong... tingtong....
terdengar seseorang memencet bel pintu rumah Kyungsoo.
“ajumma... ini Baekhyun... dapatkah kau membukakan pintu untukku”
*Baekhyun pun masuk dan langsung menuju ke kamar Kyungsoo.
“apa kau merasa lebih baik hari ini Kyungsoo-ya ?” sapa Baekhyun
“yah... seperti yang kau lihat. Apa kau datang kesini dengan tangan kosong Hyun-ah ? tidak kah kau membawakanku buku yang dapat aku baca ?”
“tentu saja... aku sudah meminjamnya dari perpustakaan tadi.” Baekhyun mengeluarkan buku yang ia sebutkan dari dalam tasnya. “igo...”
“emh... apa ini buku yang bagus ?”
“molla... aku belum membacanya, tapi melihat judulnya, kupikir isinya akan bagus”
“*Anda pasti bisa, bila anda pikir anda bisa.* judulnya cukup baik Hyun-ah... semoga isinya pun begitu”.
“ne... aku sengaja meminjam buku motivasi ini, kurasa itu akan lebih baik untukmu dari pada kau hanya membaca novel. Apa kau suka ?”
“ne, johahaeyo”
“baguslah...”
“apa kau sudah makan Hyun-ah ?”
“aku bahkan tidak membawa bekal makan siang hari ini.”
“benarkan ? kalau begitu aku akan meminta ajumma memasakkan makanan untukmu, kau ingin makan apa Hyun-ah ?”
“apapun itu selama bisa membuatku kenyang.”
“arraseo”
***
Hari ini kesehatan Kyungsoo lumayan membaik, ia meminta kepada eommanya agar menginjinkannya pergi kesekolah, karena sudah 3 hari ini ia absen dari kelasnya. Awalnya eommanya masih belum menginjinkannya untuk pergi kesekolah, namun karena Kyungsoo terus memaksa eommanya untuk mengijinkannya, akhirnya Ny. Do pun mengabulkan permintaan Kyungsoo.
***
“Kyungsoo-ya..”
panggil seorang anak laki – laki yang berlari mengejarnya. Kyungsoo pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
“ne.. Museun irisSeo Jongin-ah ?”
“anio.. hanya saja... gwaenchanayo ?”
“ne... gwaenchanha.. waeyo ?”
“aku dengar kesehatanmu memburuk beberapa hari ini, apa kau sungguh baik – baik saja sekarang ?”
“as you see Joongin-ah... nan... jeongmal – jeongmal – jeongmal gwaenchanha..”
“arraseo... aku senang mendengarnya. Berikan tas mu padaku”
“waeyo ?”
“aku akan membawakannya untukmu”
“dwaesseo.. aku bisa membawanya sendiri”
“gwaenchanha... sini biar aku yang membawanya”
“baiklah... jika kau memaksa, igo..”
***
Saat bel pulang berbunyi bekhyun menghampiri Kyungsoo untuk mengajaknya pulang.
“apa kau sudah selesai Kyungsoo-ya ?”
“ne... aku baru saja selesai merapikan buku – bukuku”
“adakah sesuatu yang sulit kau kerjakan hari ini ?”
“anio... aku rasa semuanya berjalan lancar”
“arraso... tidak heran jika kau mampu mengerjakan semuanya meskipun kau telah absen dari kelas ini selama beberapa hari, kau memang seorang jenius”.
“haruskah aku membelikanmu es krim Hyun-ah?”
 “waeyo ?”
“bukankah kau memujiku untuk ini ?”
“ya... ! aku benar – benar mengakui kecerdasanmu, bukan untuk mendapatkan es krim darimu”
“jeongmal ? bukankah kau begitu menyukai es krim Hyun-ah ?”
“ne... tapi...”
“kajja... aku akan mentraktirmu hari ini.”
“sirheo... aku tidak mau kau membelikanku es krim hanya karena aku memujimu tadi, aku bukan lah seorang teman yang mengharapkan imbalan”.
“arra... tapi aku benar – benar ingin mentraktirmu hari ini, kau tak mau ?”
“jinjja ? kau benar – benar akan mentraktirku hari ini ? tapi... waeyo ?”
“aku hanya ingin makan es krim bersamamu Hyun-ah... bukan kah sudah lama kita tidak pernah makan es krim bersama ?”
“ne... tapi... bukankah kesehatanmu baru membaik Kyungsoo-ya ? bagaimana jika nanti kesehatanmu kembali memburuk ?
“aku sudah baik – baik saja sekarang Hyu-ah… sungguh…”
Sambil berputar – putar membalikkan badannya, Kyungsoo berusaha meyakinkan Baekhyun.
“arraseo... kajja...”
***
Di tengah perjalanan pulang dari rumah es krim Kyungsoo tiba – tiba merasa pusing, penglihatannya perlahan kabur dan...
Brukkkk...
Iya pun terjatuh menggeletak di tanah. Seluruh tubuhnya membiru, dan suhu tubuhnya benar – benar sangat dingin. Baekhyun bingung, iya pun segera memanggil ahjussi supir pribadi Kyungsoo yang berdiri di seberang jalan.
“ahjussi... ahjusii... Kyungsoo terjatuh” teriak Baekhyun histeris.
Mereka pun langsung membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Baekhyun benar – benar merasa bersalah karena telah menuruti permintaan Kyungsoo yang mengajaknya kerumah es krim. Dia terus menangis tanpa henti, sementara menunggu Ny. Do datang.
“Hyun-ah... apa yang terjadi pada Kyungsoo ?”
“joesong-hamnida eomeoni... jika saja dia tidak mentraktirku makan es krim, mungkin kejadian ini takkan pernah terjadi.”
“gwaenchana Hyun-ah... ini bukan salahmu, aku tau ini akan terjadi ketika dia terus memaksaku menginjinkannya untuk pergi kesekolah, gwaenchana..”
Sambil mengelus kepala Baekhyun Ny. Do berusaha untuk menenangkannya.
“lalu... bagaimana keadaanya sekarang Hyun-ah ?”
“dokter sedang memerikasanya eomeoni.. sudah lebih dari sejam mereka didalam sana, namun masih tak ada kabar”.
“baiklah... kita tunggu sampai mereka keluar, sudah.. usap air matamu, Kyungsoo takkan menyukainya”.
“ne eomeoni”
***
Selama dua jam mereka menunggu di depan ruang UGD, namun dokter belum juga keluar untuk memberitahu keadaan Kyungsoo. Sepertinya keadaannya kali ini lebih parah dari ketika penyakitnya kambuh beberapa hari yang lalu. Ny. Do berusaha untuk tetap tegar walau sebenarnya ia telah mengetahui jika umur anaknya mungkin takkan lama lagi. Dokter – dokter yang pernah menangani Kyungsoo semuanya telah angkat tangan terhadap penyakitnya ini. Namun karena tak ingin membuat anaknya berkecil hati dan patah semangat, Ny. Do selalu berusaha menutupinya dari Kyungsoo, dia tetap bersikap seperti tak terjadi apa – apa, seperti semuanya baik – baik saja, meski kenyataannya tak begitu. Ny. Do benar – benar telah menyerah dengan takdir Tuhan, dia telah menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Andai saja dia bisa memilih, dia ingin dia lah yang menderita penyakit ini, bukan putri yang sangat ia cintai. Bahkan diumur Kyungsoo yang baru menginjak 17 tahun, dia benar – benar tidak rela jika harus kehilangan anak semata wayangnya. Dia telah berusaha semampunya untuk menyembuhkan Kyungsoo, bahkan dokter spesialis penyakit dalam diseluruh penjuru dunia telah ia hubungi, namun tetap saja hasilnya nol. Teman – teman suaminya juga telah berusaha sekuat mereka untuk mencarikan donor jantung dan paru – paru untuk Kyungsoo, namun sampai saat ini mereka belum juga menemukannya.
Beberapa saat kemudian dokter yang menangani Kyungsoo keluar dari ruang UGD.
“Dokter bagaimana keadaan putriku ? apakah dia sudah sadar ?”
“dia masih tertidur, karena kami menyuntikkannya obat penghilang rasa sakit. Ny. Do tidakkah lebih baik kita membicarakan ini di ruanganku ?”
“baiklah Dokter...”
“Dokter... apakah aku bisa melihat keadaan Kyungsoo sekarang ?” ucap Baekhyun
“kau boleh masuk, tapi ingat jangan membuatnya terbangun biarkan dia beristirahat”.
“ne Dokter”
***
“Ny. Do apakah kau belum juga mendapat kabar tentang donor yang cocok untuk Kyungsoo ?”
“belum Dok... apakah keadaannya benar – benar sudah sampai pada titik ini ?”
“itu lah yang aku khawatirkan Ny. Do, jika kita tidak segera mendapakan donor itu, aku takut Kyungsoo tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”
“lalu apa yang harus kita lakukan saat ini dok ? tidak bisakah aku mendonorkan jantung dan paru – paruku untuknya ?”
“sudah berapa kali aku katakan ? jika pendonor haruslah orang yang sudah meninggal. Jika kau menukarkan nyawamu untuknya, apa kau pikir dia bisa hidup bahagia ? apa kau pikir dia akan baik – baik saja ? tidak kah dia merasa bersalah seumur hidupnya ? apakah kau juga akan setega itu membiarkannya hidup sebatang kara didunia ini ?”
*Ny. Do terdiam lalu menangis,
“apa salah ku dimasa lalu ? sehingga Tuhan menghukum anakku dengan penyakit ini ?”
“kau harus tabah Ny. Do dan perlahan belajar untuk mengikhlaskannya, bagaimanapun juga ini adalah takdir yang Tuhan tuliskan untuknya. Dan tak ada satupun dari kita yang bisa menghindarinya”.
***
Beberapa hari setelah Kyungsoo masuk rumah sakit, Kyungsoo memaksa eommanya untuk membawanya pulang. Dia begitu bosan untuk terus berada di rumah sakit. Dia berkata dia merindukan kamarnya. Dia ingin segera pulang dan duduk didepan jendela seperti yang biasa ia lakukan. Ny. Do tak pernah bisa menolak permintaan putrinya, akhirnya dia pun mengabulkannya dan membawa Kyungsoo pulang.
Baekhyun yang masih merasa bersalah terus saja berada disamping Kyungsoo, bahkan dia telah meminta ijin eomma-nya untuk menginap di rumah Kyungsoo selama beberapa hari. Dia terus berada disamping Kyungsoo, mengikuti kemanapun Kyungsoo pergi.
“Hyun-ah... tidak kah kau merasa lelah mengikutiku ? tidakkah kau bosan dengan ku ? pulanglah... eommamu pasti merindukanmu. Sudah beberapa hari ini kau tak pulang kerumah”.
“shirheo... aku ingin berada disampingmu Kyungsoo-ya.. apa kau tidak menyukainya ?”
“bukan aku tidak menyukainya Hyun-ah... tapi sikapmu ini benar – benar berlebihan. Aku sudah tak apa, aku benar – benar telah membaik, kau pulanglah dulu, kasihan eomma-mu dia pasti sangat merindukanmu.”
“tapi...”
“sudahlah... aku benar – benar sudah membaik, jika nanti kau ingin melihatku, datanglah lagi kesini, aku takkan melarangmu, tapi sekarang pulanglah dulu.”
“arraseo... aku akan pulang hari ini, tapi besok aku akan kembali kesini lagi.”
“datanglah kapanpun kau mau, rumah ini akan selalu terbuka untukmu, bahkan meskipun aku telah tiada nanti, kau tetaplah bagian dari keluargaku.”
“apa yang kau bicarakan ? tiada ? kau akan pergi kemana ? apa kau akan meninggalkanku ?
andwae... kita sudah berjanji akan selalu bersama, tumbuh besar bersama, dewasa bersama, kau tidak boleh meninggalkanku, arra ?”
“arraseo... pulanglah...”
“aku akan pulang, tapi kau harus berjanji, kau tak akan pergi kemanapun tanpa seijinku, mengerti ?
“ne... pulanglah...”
Baekhyunpun meninggalkan Kyungsoo dan pulang kerumahnya.
Malam itu setelah baekhyun meninggalkannya, kyungsoo kembali termenung di depan jendela kamarnya. Dia menatap kelangit dengan tatapan yang begitu tajam. Tak lama kemudian iya mengambil notebooknya yang berada diatas meja belajarnya. Ia melihat kembali photo – photo masalalunya bersama eomma dan teman – temannya, terutama baekhyun. Sesekali ia tersenyum kecil saat memandangi photo – photo itu.
***
Keesokan harinya, ketika Ny. Do masuk kekamar kyungsoo untuk memeriksa keadaanya, dia menemukan putrinya tergeletak dilantai. Dengan suhu tubuh dibawah 0 derajat dan warna kulit yang membiru. Ny. Do langsung membawanya kerumah sakit. Ny. Do juga menghubungi Baekhyun dan memberitahu tentang keadaan Kyungsoo. Tak lama setelah itu Baekhyun datang menemuinya.
*warna kulit yang membiru dikarnakan kulit tersebut kekurangan oksigen, karna darah yang mengandung oksigen tidak bisa sampai pada seluruh tubuh, dan hanya menggenang disekitar paru – paru.
*
“apa yang terjadi eomeoni ? bagaimana dengan Kyungsoo ?”
“kita tunggu saja sampai dokter keluar dari ruang operasi Hyun-ah...”
Sesaat kemudian dokter yang menangani Kyungsoo keluar dari ruang operasi.
“Dokter.... bagaimana putriku ?”
“kau benar – benar harus merelakannya sekarang Ny. Do, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkata lain”.
“andwae....” *terdengar jeritan suara Baekhyun.
*Baekhyun pun berlari memasuki ruang operasi.
“Kyungsoo ya.. bangunlah... buka matamu... bukankah kau telah berjanji tidak akan pergi tanpa seijinku ? Kyungsoo ya... bangunlah... aku mohon... bukankah kau seorang gadis yang kuat ? bukankah kau bilang takkan pernah menyerah pada penyakitmu hingga kau mendapatkan donor jantung yang cocok ? kyungsoo ya... aku mohon bangunlah... bangunlah... bukankah kau sudah berjanji akan selalu menghapus air mataku ketika aku menangis ? bangunlah dan hapus air mataku... aku mohon Kyungsoo ya... bangunlah...”
Ny. Do yang awalnya menangis kemudia berjalan kearah Baekhyun dan memeluknya.
“eomeoni... bukankah Kyungsoo sedang bercanda ? katakan padanya, aku tidak menyukainya. Suruh dia untu k segera membuka matanya, dia tidak  mau mendengarkanku ketika aku memintanya untuk membuka mata eomeoni.. aku mohon.. suruh dia untuk membuka matanya” *pinta Baekyun  sambi menangis dipelukan Ny. Do
“tenanglah Baekhyun-ah... tenanglah... ikhlaskan Kyungsoo... biarkan dia pergi dengan tenang.. siapapun takkan rela kehilangannya, tapi ini sudah menjadi takdir Tuhan kita harus bisa merelakannya. Dia tidak akan suka jika kau seperti ini.”
10 juni 2014 Kyungsoo dimakankan tepat disamping makam ayahnya.
***
...
...
...
...
...
...
...
*5  tahun kemudian
Hari ini Baekhyun merasa sangat merindukan sahabatnya, iapun membuka halaman website milik Kyungsoo untuk membaca beberapa artikel yang pernah ditulis oleh sahabatnya. Diantara artikel – artikel yang ditulis oleh Kyungsoo, Baekhyun menemukan sebuah artikel yang membuatnya meneteskan air mata saat membacanya.
 “ya.. ini adalah harapanku yang aku tulis lima tahun yang lalu., bukankah aku adalah seseorang yang hebat ? aku bisa bertahan melawan penyakitku dan hidup bahagia seperti sekarang. Tidakkah seharusnya kalian semua memujiku ? aku benar – benar merasa beruntung memiliki orang – orang yang begitu menyayangiku seperti kalian.
Saat aku menulis artikel ini aku merasa begitu sesak disini (dada) namun aku tetap bertahan dan berusaha untuk bangun kemudian menulisnya. Aku tidak ingin terlihat seperti orang sakit yang menyedihkan, aku selalu berusaha untuk sembuh dan melawan penyakitku. Aku tidak ingin penyakitku membuatku berhenti bermimpi atau mematahkan semangatku. Dan kalian seharusnya lebih bersemangat untuk hidup dari pada aku, karna dunia ini begitu indah, bukankah begitu ?
5 tahun dari sekarang ketika aku sudah benar – benar sembuh dari penyakitku, orang pertama yang ingin aku temui adalah eomma... aku ingin memeluknya sekali lagi dan menciumnya, aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Lalu setelah itu aku akan berlari kerumah sahabat tercintaku, Byun Baekhyun. Dia adalah orang kedua yang begitu aku sayangi didunia ini. Mereka adalah orang – orang yang memberiku motivasi untuk terus hidup dan berusaha untuk sembuh.”
23 Desember 2011
***
Ditengah – tengah tangisannya yang menjadi – jadi, baekhyun teringat akan email yang bisa dikirim secara otomatis yang pernah dijelaskan kyungsoo padanya. Email itu akan terkirim sesuai dengan waktu pengiriman yang dijadwalkan. Baekhyun pun membuka email pribadi miliknya dan ternyata benar, ada pesan yang iya terima dari Kyungsoo beberapa hari yang lalu.
***
“Hyun-ah... bagaimana kabarmu hari ini ? aku merindukan tangisanmu, apa kau sudah berhenti mengangis sekarang ? Hyun-ah... aku juga merindukan candamu, tidakkah kau juga begitu ? sudah lima belas tahun ini kita hidup bersama, tidakkah kau merasa bosan denganku ? Hyun-ah.. apa kau ingat ketika pertama kali kita bertemu ? saat itu kita masih berumur 7 tahun, aku melihatmu menangis didepan gerbang, lalu eomma ku menghampirimu dan menanyakan apa yang terjadi, kau bilang kau menangis karena kau begitu menginginkan es krim namun kau tak bisa membelinya, karena kau kehilangan uangmu. Sungguh kau benar – benar lucu saat itu.
Hyun-ah... Aku juga ingat saat kita masih duduk dibangku sekolah dasar, kau menangis hanya karena kau lupa membawa buku PR mu, lalu aku memberikan buku PR punyaku padamu hingga kau berhenti menangis. Namun ketika aku mendapat hukuman karna itu, kau kembali menangis dan meminta seonsaengnim untuk melepas hukumanku. Kau memang benar – benar gadis yang cengeng.
Hyun-ah...apa kau juga masih ingat saat kita membuat janji untuk selalu bersama, tumbuh dewasa bersama, bukankah aku telah menepati janjiku slama ini ? aku benar – benar bersyukur mempunyai sahabat sepertimu. Ah majja... apa kau sudah punya kekasih sekarang ? kapan kau akan membawanya padaku ? bukankah kau sudah berjanji saat kau memiliki seorang kekasih kau akan mengenalkannya padaku ?.
Hyun-ah... aku menyayangimu, aku berharap kau pun juga begitu. Tetaplah menjadi sahabat terbaikku hingga Tuhan memisahkan kita dengan takdirNya. Hyun-ah ... jangan menangis lagi, aku tidak ingin kau meneteskan air matamu begitu sering, bahkan meskipun itu untukku, aku tidak menyukainya, arraseo ? Jadilah lebih kuat dari sekarang, jangan cengeng. Hiduplah lebih baik mulai hari ini.”
27 mei 2012
***
Lalu Baekhyun menelp. Ny. Do dan memberitahunya agar memeriksa emailnya. Karna dia yakin Kyungsoo juga akan mengirimkan email untuk eommanya. Dan Baekhyun pun benar, Kyungsoo juga menulis email yang ia kirimkan kepada eommanya sama seperti yang ia kirimkan kepada baekhyun.
***
“Eomma.. apakah kau sudah hidup bahagia selama ini ? apakah aku begitu merepotkanmu ? mianhae eomma... aku berjanji takkan menyusahkanmu lagi setelah ini. Eomma ... saranghae... aku begitu mencintaimu, terima kasih atas semua kasih sayang dan perhatian yang kau berikan untukku. Terimakasih telah melahirkanku kedunia ini, aku benar – benar bahagia telah terlahir sebagai putrimu.
Eomma... jangan hanya memikirkan keadaanku, eomma juga harus memikirkan kesehatan eomma... sesekali pergilah kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatan eomma, aku tidak mau eomma jatuh sakit karena terlalu sering memikirkanku dan mengabaikan kesehatan eomma sendiri. Eomma… kau juga harus pergi kesalon untuk menata rambutmu... lakukan juga perawatan wajah, bukankah eommaku ini adalah wanita yang cantik ? jangan membuat mahasiswamu merasa bosan ketika pelajaran hanya karena profesornya telah menua dan keriput, arraseo eomma ?
Nae... Do Kyungsoo akan selalu mencintaimu hingga kapanpun. Saranghae eomma...”
27 mei 2012
***
 Email ini ditulis olehnya (Kyungsoo) saat dia terus yakin akan harapannya untuk bisa sembuh, untuk tetap hidup. Dia mengatur pengiriman email ini, agar terkirim dalam jangka waktu 7 tahun setelah iya menulisnya.
Namun ketika keadaannya berangsur memburuk, tepat sehari sebelum kematiannya, iya menulis email keduanya yang ia krimkan kepada eomma dan sahabatnya. Dia juga mengatur pengiriman email ini secara otomatis.
***
“Saat kalian membaca email ini, mungkin aku sudah berada disisi Tuhan. Aku harap kalian hidup bahagia meskipun tanpa aku. Maafkan aku jika selama ini aku telah banyak menyusahkan kalian, tapi ketahuilah... jika aku sangat mencintai kalian. Aku benar – benar besyukur karna Tuhan telah mengirimkan orang – orang seperti kalian kedalam hidupku. Mianhae... karna aku tak bisa membalas sedikitpun kebaikan atau kasih sayang yang telah kalian berikan untukku, namun aku berjanji jika di kehidupan selanjutnya Tuhan masih menakdirkanku untuk hidup bersama – sama dengan kalian, aku akan berusaha semampuku untuk selalu membuat kalian tersenyum. Dan memberikan semua yang aku miliki untuk kalian.
Hari ini adalah malam ketika aku meminta sahabat tercintaku untuk pulang kerumahnya, aku tidak ingin ia melihat keadaanku yang seperti sekarang. Walau sebenarnya aku sangat – sangat membutuhkannya, aku ingin dia selalu berada disisiku. Namun aku tidak bisa melihat dia menangis didepanku lagi, sungguh... aku benar – benar tidak sanggup jika harus melihat dia meneteskan air matanya karnaku untuk kesekian kalinya.
Hari ini, aku melihat warna kulitku perlahan membiru, aku merasa dingin disekujur tubuhku. Aku ingin pergi kekamar eomma... aku ingin dia memelukku agar aku bisa merasa sedikit lebih hangat, namun... kuurungkan niatku. Aku tak ingin membangunkannya dan membuatnya khawatir ditengah malam yang sudah selarut ini. Dia juga perlu istirahat karna seharian telah bekerja dan merawatku, aku tidak ingin menyusahkannya lebih banyak lagi. Aku kembali terdiam dan duduk di depan jendela, aku melihat langit begitu cerah malam ini, semua yang ada disana, seakan tersenyum kepadaku. Aku melihat ada sebuah lubang yang begitu terang terbuka lebar, didalamnya aku melihat appa merentangkan kedua tangannya. Aku berfikir mungkin malam ini akan menjadi yang terakhir untukku didunia ini. Lalu... aku teringat akan janjiku kepada sahabatku, bahwa aku takkan pernah pergi tanpa seijinnya. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku berjalan menuju meja belajarku dan menghidupkan komputerku ku. Wallpapernya masih sama belum berubah sedikitpun. Aku melihat senyuman sahabatku yang begitu hangat, dia benar – benar terlihat sangat bahagia. Lalu kulanjutkan dengan membuka album photo masalaluku, aku benar – benar merasa bahagia saat melihat photo – photo mereka dengan senyum ceria tanpa beban.
***
Eomma... saat kau membaca ini, seharusnya kau sudah membaca emailku yang sebelumnya. Apa kau sudah mengerjakan apa yang aku pinta ? apakah kau sudah pergi kesalon ? apakah kau sudah terlihat cantik sekarang ? aku berharap begitu eomma... aku harap kau hidup bahagia meskipun  tanpaku. Eomma... mianhae...  karna telah begitu sering menyusahkanmu, karna telah begitu sering membuatmu sedih dan khawatir, maafkan aku... karna selalu menyita waktu berhargamu hanya untuk merawatku. maafkan aku...  karna tak bisa menemanimu menua, maafkan aku...  karna telah mengingkari janjiku untuk tetap hidup dan tak menyerah pada penyakitku. Eomma.. berjanjilah... mulai saat ini, setelah eomma membaca emailku ini, eomma akan selalu tersenyum dan berlajar melupakanku seperti eomma belajar melupakan appa. Aku tak ingin melihat eomma terus bersedih karnaku. Aku ingin melihat eomma tersenyum seperti saat eomma belum tau tentang penyakitku. Saat itu eomma benar – benar sangat cantik, dan aku merindukan senyuman itu eomma.
Eomma... jadilah wanita yang kuat, berjanjilah jika eomma benar – benar akan hidup lebih baik dari sekarang. Jaga kesehatan eomma... karna jika eomma sakit tak akan ada yang merawat eomma. Mianhae eomma... karna telah meninggalkanmu dan membuatmu hidup sendirian seperti ini. Saranghae eomma... :*
***
Baekhyun – ah… Apakah kau sekarang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang benar – benar cantik ? apakah kau sekarang hidup dengan bahagia ? apakah kau sudah berhenti menjadi seorang gadis yang cengeng ? aku harap begitu.
Hyun-ah... mianhae.. karna telah mengingkari janji yang sudah kita buat bersama. Mianhae ... karna selalu membuatmu meneteskan air mata karnaku. Mianhae... karna aku selalu menyusahkanmu setiap saat.
Hyun-ah... hari ini ketika aku menulis email ini, aku sudah menyelesaikan membaca buku yang telah kau pinjamkan untukku waktu itu, dan isi buku itu benar – benar bagus. Bahkan jauh lebih bagus dari yang aku perkirakan. semua yang ada didalamnya benar – benar membuatku ingin hidup lebih lama lagi, aku ingin melakukan semua yang ditulis oleh pengarangnya. Motivasi yang diberikan benar – benar bisa membuat seseorang yang membacanya kembali memiliki harapan. Nan...  jeongmal – jeongmal johahae... gomawo... telah meminjamkanku buku yang benar – benar bagus. Tapi maafkan aku... jika buku itu tak bisa membuatku bertahan lebih lama lagi. Aku benar – benar sudah lelah Hyun-ah... aku bahkan tidak bisa menyicipi masakan eommaku karna terlalu sering meminum obat yang begitu pait. Semua yang aku makan terasa sama, Aku bosan dengan obat – obat itu, mereka sama sekali tak membantuku. Aku tetap seperti ini tanpa ada sedikitpun kemajuan. Hyun-ah... aku benar – benar harus meninggalkanmu sekarang. Mungkin Tuhan sudah benar – benar merindukanku sampai aku harus menemui-Nya secepat mungkin.  Hyun-ah… mianhae... karna sudah meninggalkanmu... mianhae... karna sudah pergi tanpa seijinmu. Aku berharap setelah kau membaca email ini kelak, kau akan mengerti maksudku.
Hyun-ah.. aku menitipkan eommaku padamu, sesekali datanglah kerumah, temui dia, bahkan aku akan lebih senang jika kau mau lebih sering menemaninya. Dia sekarang sudah benar – benar kesepian karna aku sudah tak lagi disisinya. Aku berharap kau mau mengabulkan permintaan ku yang satu ini.
Hyun-ah.. aku tau kau mungkin akan menangis ketika membaca email ini, tapi aku mohon setelah ini, kau harus selalu tersenyum dan bahagia. Hiduplah dengan baik, carilah sahabat – sahabat yang lain yang mampu menghiburmu, bukan sepertiku yang selalu menyusahkanmu. Jadilah gadis yang lebih kuat, jangan cengeng lagi. Baekhyun-ah... mianhae.. Aku benar – benar harus pergi, maafkan aku... jebal mianhae...
***
Nae... Do Kyungsoo akan selalu mencintai kalian sampai kapanpun. Hiduplah lebih baik dari serkarang, eomma ... Hyun-ah ... saranghae...

9  juni 2014



NB : ini FF pertama yang pernah aku buat, jadi harap di maklumi jika banyak terdapat typo di mana-mana.
aku sengaja tidak mengedit ulang tulisan ini, karna aku ingin tahu seberapa jauh metamorfose ku dari awal menulis hingga sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar