Title : Sepucuk Surat Kematian
Writer : Candle Light
Rate : General
Main Casts:
- Do Kyungsoo (yeoja)
- Byun Baekhyun (yeoja)
Support Casts:
Genre : Sad, friendship, School Life, etc
Duration : 4.018 words
Length : Oneshoot
======
Semilir angin
lembut menyapu wajah cantiknya, rambut panjangnya yang terurai indah ikut
melayang – layang tertiup angin di pagi itu. Hari ini benar – benar cerah.
Kicauan burung diranting – ranting pohon seakan ikut bernyanyi membuat suasana
pagi ini benar – benar menyegarkan. Gadis cantik berambut coklat itu telah
sekian lama termenung di depan jendela kamarnya.
“Kyungsoo ya ...
kau sudah bangun ?” terdengar suara wanita separuh baya memanggil namanya.
“ne... eomma ...
waeyo ?”
“apakah kau
sudah meminum obatmu ?”
“ne.. tadi
ketika aku bangun aku langsung meminumnya. Apa eomma tidak pergi mengajar hari
ini ?”
“seharusnya
memang begitu tapi tidakkah lebih baik jika eomma mengambil cuti hari ini?”
“cuti? Wae ?”
“bukankah hari
ini kesehatanmu sedang memburuk ? eomma ingin menemanimu seharian dirumah.”
“tidak perlu
eomma, nanti sepulang sekolah Baek akan kesini untuk mengunjungiku. Dia bilang
dia juga akan menginap disini malam ini.”
“benarkah ?
Baekhyun akan menginap sini malam ini ? tapi... apa kau sungguh tak apa jika
eomma tinggal sendiri ?”
“ne eomma...
bukankah disini juga ada ajumma yang akan merawat dan menemaiku ? eomma pergi
saja, mereka juga membutuhkanmu” *mereka = mahasiswa
“arraseo...
kalau begitu eomma akan pergi ke kampus, kau baik – baik dirumah. Arraci ?”
“ne eomma.. hati
– hati dijalan.”
Setelah mencium
pipi anaknya. Ny. Do pun pergi meninggalkan rumahnya. Dia adalah seorang
profesor disebuah universitas ilmu komputer di korea. Dia seorang ibu tunggal
yang ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun setelah melahirkan Kyungsoo.
Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun ketika hendak pergi kerumah
sakit untuk melakukan operasi terhadap pasiennya.
Yah... ayah Kyungsoo
adalah seorang dokter spesialis kanker disebuah rumah sakit ternama di Seoul.
Namun karena nasib tragis yang menimpa ayahnya, Kyungsoo harus hidup tanpa
kasih sayang seorang ayah.
Kyungsoo dikenal
sebagai seorang gadis yang periang, penuh semangat dan gigih. Dia juga dikenal
sebagai seorang gadis yang baik hati dan ramah. Meskipun dia terlahir dari
keluarga kaya itu tidak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang sombong, bahkan
tidak jarang dia pergi kesekolah dengan bis umum meskipun iya telah
difasilitasi mobil dan supir pribadi oleh eommanya. Dan karena kepribadiannya
ini ia bisa memiliki banyak teman dimanapun ia berada.
Namun ketika
Tuhan menciptakan seseorang dengan segala kelebihannya, Tuhan juga akan
melengkapi orang tersebut dengan beberapa kekurangan. Ya, hal ini juga terjadi
pada Kyungsoo. Dibalik semua yang ia miliki Tuhan juga memberinya sebuah
penyakit kronis yang kapan saja bisa membunuhnya. Tapi hal ini tidak membuat Kyungsoo
sedikitpun patah semangat, ia tetap menjalani hari – harinya seperti kebanyakan
orang lainnya. Semangatnya untuk tetap hidup begitu kuat, bahkan lebih kuat
dari orang yang benar – benar sehat. Dia tak pernah mengeluh sedikitpun tentang
penyakitnya, meski sering kali penyakitnya ini membuatnya menjadi orang yang
sangat menyedihkan.
Jantung bocor,
ya.. itu adalah nama penyakit yang dideritanya. Penyakitnya baru terdeteksi
ketika iya berumur 10 tahun. Dan hanya bisa disembuhkan dengan operasi cangkok
jantung. namun sampai detik ini dia belum mendapatkan donor jantung yang cocok untuknya.
Karena terlalu lama menunggu donor jantung yang cocok dengannya, hal ini
membuat paru – parunya membengkak karena darah yang dipompa oleh jantung tidak
bisa sepenuhnya mengalir keseluruh tubuh, melainkan menggenang disekitar paru –
parunya. Dan ini membuat kesehatannya benar – benar menurun akhir – akhir ini,
ia lebih sering susah untuk bernafas. Karena paru – paru yang membengkak ini
pula ia harus segera mendapatkan donor paru – paru, karena paru – parunya
hampir tak berfungsi dengan baik.
***
tingtong... tingtong....
terdengar
seseorang memencet bel pintu rumah Kyungsoo.
“ajumma... ini Baekhyun...
dapatkah kau membukakan pintu untukku”
*Baekhyun pun
masuk dan langsung menuju ke kamar Kyungsoo.
“apa kau merasa
lebih baik hari ini Kyungsoo-ya ?” sapa Baekhyun
“yah... seperti
yang kau lihat. Apa kau datang kesini dengan tangan kosong Hyun-ah ? tidak kah
kau membawakanku buku yang dapat aku baca ?”
“tentu saja...
aku sudah meminjamnya dari perpustakaan tadi.” Baekhyun mengeluarkan buku yang
ia sebutkan dari dalam tasnya. “igo...”
“emh... apa ini
buku yang bagus ?”
“molla... aku
belum membacanya, tapi melihat judulnya, kupikir isinya akan bagus”
“*Anda pasti bisa, bila anda pikir anda bisa.*
judulnya cukup baik Hyun-ah... semoga isinya pun begitu”.
“ne... aku
sengaja meminjam buku motivasi ini, kurasa itu akan lebih baik untukmu dari
pada kau hanya membaca novel. Apa kau suka ?”
“ne, johahaeyo”
“baguslah...”
“apa kau sudah
makan Hyun-ah ?”
“aku bahkan
tidak membawa bekal makan siang hari ini.”
“benarkan ?
kalau begitu aku akan meminta ajumma memasakkan makanan untukmu, kau ingin
makan apa Hyun-ah ?”
“apapun itu
selama bisa membuatku kenyang.”
“arraseo”
***
Hari ini
kesehatan Kyungsoo lumayan membaik, ia meminta kepada eommanya agar
menginjinkannya pergi kesekolah, karena sudah 3 hari ini ia absen dari
kelasnya. Awalnya eommanya masih belum menginjinkannya untuk pergi kesekolah,
namun karena Kyungsoo terus memaksa eommanya untuk mengijinkannya, akhirnya Ny.
Do pun mengabulkan permintaan Kyungsoo.
***
“Kyungsoo-ya..”
panggil seorang
anak laki – laki yang berlari mengejarnya. Kyungsoo pun menghentikan langkahnya
dan membalikkan badannya.
“ne.. Museun irisSeo Jongin-ah ?”
“anio.. hanya saja... gwaenchanayo ?”
“ne... gwaenchanha.. waeyo ?”
“aku dengar kesehatanmu memburuk
beberapa hari ini, apa kau sungguh baik – baik saja sekarang ?”
“as you see Joongin-ah... nan...
jeongmal – jeongmal – jeongmal gwaenchanha..”
“arraseo... aku senang mendengarnya.
Berikan tas mu padaku”
“waeyo ?”
“aku akan membawakannya untukmu”
“dwaesseo.. aku bisa membawanya sendiri”
“gwaenchanha... sini biar aku yang
membawanya”
“baiklah... jika kau memaksa, igo..”
***
Saat bel pulang berbunyi bekhyun
menghampiri Kyungsoo untuk mengajaknya pulang.
“apa kau sudah selesai Kyungsoo-ya ?”
“ne... aku baru saja selesai merapikan
buku – bukuku”
“adakah sesuatu yang sulit kau kerjakan
hari ini ?”
“anio... aku rasa semuanya berjalan
lancar”
“arraso... tidak heran jika kau mampu
mengerjakan semuanya meskipun kau telah absen dari kelas ini selama beberapa
hari, kau memang seorang jenius”.
“haruskah aku membelikanmu es krim Hyun-ah?”
“waeyo
?”
“bukankah kau memujiku untuk ini ?”
“ya... ! aku benar – benar mengakui
kecerdasanmu, bukan untuk mendapatkan es krim darimu”
“jeongmal ? bukankah kau begitu menyukai
es krim Hyun-ah ?”
“ne... tapi...”
“kajja... aku akan mentraktirmu hari
ini.”
“sirheo... aku tidak mau kau
membelikanku es krim hanya karena aku memujimu tadi, aku bukan lah seorang
teman yang mengharapkan imbalan”.
“arra... tapi aku benar – benar ingin mentraktirmu
hari ini, kau tak mau ?”
“jinjja ? kau benar – benar akan
mentraktirku hari ini ? tapi... waeyo ?”
“aku hanya ingin makan es krim bersamamu
Hyun-ah... bukan kah sudah lama kita tidak pernah makan es krim bersama ?”
“ne... tapi... bukankah kesehatanmu baru
membaik Kyungsoo-ya ? bagaimana jika nanti kesehatanmu kembali memburuk ?
“aku sudah baik – baik saja sekarang
Hyu-ah… sungguh…”
Sambil berputar – putar membalikkan
badannya, Kyungsoo berusaha meyakinkan Baekhyun.
“arraseo... kajja...”
***
Di tengah perjalanan pulang dari rumah
es krim Kyungsoo tiba – tiba merasa pusing, penglihatannya perlahan kabur
dan...
…
…
…
…
Brukkkk...
Iya pun terjatuh menggeletak di tanah.
Seluruh tubuhnya membiru, dan suhu tubuhnya benar – benar sangat dingin. Baekhyun
bingung, iya pun segera memanggil ahjussi supir pribadi Kyungsoo yang berdiri
di seberang jalan.
“ahjussi... ahjusii... Kyungsoo
terjatuh” teriak Baekhyun histeris.
Mereka pun langsung membawa Kyungsoo ke rumah
sakit. Baekhyun benar – benar merasa bersalah karena telah menuruti permintaan Kyungsoo
yang mengajaknya kerumah es krim. Dia terus menangis tanpa henti, sementara
menunggu Ny. Do datang.
“Hyun-ah... apa yang terjadi pada Kyungsoo
?”
“joesong-hamnida eomeoni... jika saja dia
tidak mentraktirku makan es krim, mungkin kejadian ini takkan pernah terjadi.”
“gwaenchana Hyun-ah... ini bukan
salahmu, aku tau ini akan terjadi ketika dia terus memaksaku menginjinkannya
untuk pergi kesekolah, gwaenchana..”
Sambil mengelus kepala Baekhyun Ny. Do
berusaha untuk menenangkannya.
“lalu... bagaimana keadaanya sekarang Hyun-ah
?”
“dokter sedang memerikasanya eomeoni..
sudah lebih dari sejam mereka didalam sana, namun masih tak ada kabar”.
“baiklah... kita tunggu sampai mereka
keluar, sudah.. usap air matamu, Kyungsoo takkan menyukainya”.
“ne eomeoni”
***
Selama dua jam mereka menunggu di depan
ruang UGD, namun dokter belum juga keluar untuk memberitahu keadaan Kyungsoo.
Sepertinya keadaannya kali ini lebih parah dari ketika penyakitnya kambuh
beberapa hari yang lalu. Ny. Do berusaha untuk tetap tegar walau sebenarnya ia telah
mengetahui jika umur anaknya mungkin takkan lama lagi. Dokter – dokter yang
pernah menangani Kyungsoo semuanya telah angkat tangan terhadap penyakitnya
ini. Namun karena tak ingin membuat anaknya berkecil hati dan patah semangat,
Ny. Do selalu berusaha menutupinya dari Kyungsoo, dia tetap bersikap seperti
tak terjadi apa – apa, seperti semuanya baik – baik saja, meski kenyataannya
tak begitu. Ny. Do benar – benar telah menyerah dengan takdir Tuhan, dia telah
menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Andai saja dia bisa memilih, dia ingin dia
lah yang menderita penyakit ini, bukan putri yang sangat ia cintai. Bahkan
diumur Kyungsoo yang baru menginjak 17 tahun, dia benar – benar tidak rela jika
harus kehilangan anak semata wayangnya. Dia telah berusaha semampunya untuk
menyembuhkan Kyungsoo, bahkan dokter spesialis penyakit dalam diseluruh penjuru
dunia telah ia hubungi, namun tetap saja hasilnya nol. Teman – teman suaminya
juga telah berusaha sekuat mereka untuk mencarikan donor jantung dan paru –
paru untuk Kyungsoo, namun sampai saat ini mereka belum juga menemukannya.
Beberapa saat kemudian dokter yang
menangani Kyungsoo keluar dari ruang UGD.
“Dokter bagaimana keadaan putriku ?
apakah dia sudah sadar ?”
“dia masih tertidur, karena kami
menyuntikkannya obat penghilang rasa sakit. Ny. Do tidakkah lebih baik kita
membicarakan ini di ruanganku ?”
“baiklah Dokter...”
“Dokter... apakah aku bisa melihat
keadaan Kyungsoo sekarang ?” ucap Baekhyun
“kau boleh masuk, tapi ingat jangan
membuatnya terbangun biarkan dia beristirahat”.
“ne Dokter”
***
“Ny. Do apakah kau belum juga mendapat
kabar tentang donor yang cocok untuk Kyungsoo ?”
“belum Dok... apakah keadaannya benar –
benar sudah sampai pada titik ini ?”
“itu lah yang aku khawatirkan Ny. Do,
jika kita tidak segera mendapakan donor itu, aku takut Kyungsoo tidak bisa
bertahan lebih lama lagi.”
“lalu apa yang harus kita lakukan saat
ini dok ? tidak bisakah aku mendonorkan jantung dan paru – paruku untuknya ?”
“sudah berapa kali aku katakan ? jika
pendonor haruslah orang yang sudah meninggal. Jika kau menukarkan nyawamu
untuknya, apa kau pikir dia bisa hidup bahagia ? apa kau pikir dia akan baik –
baik saja ? tidak kah dia merasa bersalah seumur hidupnya ? apakah kau juga
akan setega itu membiarkannya hidup sebatang kara didunia ini ?”
*Ny. Do terdiam lalu menangis,
“apa salah ku dimasa lalu ? sehingga
Tuhan menghukum anakku dengan penyakit ini ?”
“kau harus tabah Ny. Do dan perlahan belajar
untuk mengikhlaskannya, bagaimanapun juga ini adalah takdir yang Tuhan tuliskan
untuknya. Dan tak ada satupun dari kita yang bisa menghindarinya”.
***
Beberapa hari setelah Kyungsoo masuk
rumah sakit, Kyungsoo memaksa eommanya untuk membawanya pulang. Dia begitu
bosan untuk terus berada di rumah sakit. Dia berkata dia merindukan kamarnya.
Dia ingin segera pulang dan duduk didepan jendela seperti yang biasa ia
lakukan. Ny. Do tak pernah bisa menolak permintaan putrinya, akhirnya dia pun
mengabulkannya dan membawa Kyungsoo pulang.
Baekhyun yang masih merasa bersalah
terus saja berada disamping Kyungsoo, bahkan dia telah meminta ijin eomma-nya
untuk menginap di rumah Kyungsoo selama beberapa hari. Dia terus berada
disamping Kyungsoo, mengikuti kemanapun Kyungsoo pergi.
“Hyun-ah... tidak kah kau merasa lelah
mengikutiku ? tidakkah kau bosan dengan ku ? pulanglah... eommamu pasti
merindukanmu. Sudah beberapa hari ini kau tak pulang kerumah”.
“shirheo... aku ingin berada disampingmu
Kyungsoo-ya.. apa kau tidak menyukainya ?”
“bukan aku tidak menyukainya Hyun-ah...
tapi sikapmu ini benar – benar berlebihan. Aku sudah tak apa, aku benar – benar
telah membaik, kau pulanglah dulu, kasihan eomma-mu dia pasti sangat
merindukanmu.”
“tapi...”
“sudahlah... aku benar – benar sudah
membaik, jika nanti kau ingin melihatku, datanglah lagi kesini, aku takkan
melarangmu, tapi sekarang pulanglah dulu.”
“arraseo... aku akan pulang hari ini,
tapi besok aku akan kembali kesini lagi.”
“datanglah kapanpun kau mau, rumah ini
akan selalu terbuka untukmu, bahkan meskipun aku telah tiada nanti, kau
tetaplah bagian dari keluargaku.”
“apa yang kau bicarakan ? tiada ? kau
akan pergi kemana ? apa kau akan meninggalkanku ?
andwae... kita sudah berjanji akan selalu bersama, tumbuh besar bersama, dewasa bersama, kau tidak boleh meninggalkanku, arra ?”
andwae... kita sudah berjanji akan selalu bersama, tumbuh besar bersama, dewasa bersama, kau tidak boleh meninggalkanku, arra ?”
“arraseo... pulanglah...”
“aku akan pulang, tapi kau harus
berjanji, kau tak akan pergi kemanapun tanpa seijinku, mengerti ?
“ne... pulanglah...”
Baekhyunpun meninggalkan Kyungsoo dan
pulang kerumahnya.
Malam itu setelah baekhyun
meninggalkannya, kyungsoo kembali termenung di depan jendela kamarnya. Dia
menatap kelangit dengan tatapan yang begitu tajam. Tak lama kemudian iya
mengambil notebooknya yang berada diatas meja belajarnya. Ia melihat kembali
photo – photo masalalunya bersama eomma dan teman – temannya, terutama baekhyun.
Sesekali ia tersenyum kecil saat memandangi photo – photo itu.
***
Keesokan harinya, ketika Ny. Do masuk
kekamar kyungsoo untuk memeriksa keadaanya, dia menemukan putrinya tergeletak
dilantai. Dengan suhu tubuh dibawah 0 derajat dan warna kulit yang membiru. Ny.
Do langsung membawanya kerumah sakit. Ny. Do juga menghubungi Baekhyun dan
memberitahu tentang keadaan Kyungsoo. Tak lama setelah itu Baekhyun datang
menemuinya.
*warna
kulit yang membiru dikarnakan kulit tersebut kekurangan oksigen, karna darah
yang mengandung oksigen tidak bisa sampai pada seluruh tubuh, dan hanya
menggenang disekitar paru – paru.
*
“apa yang terjadi eomeoni ? bagaimana
dengan Kyungsoo ?”
“kita tunggu saja sampai dokter keluar
dari ruang operasi Hyun-ah...”
Sesaat kemudian dokter yang menangani Kyungsoo
keluar dari ruang operasi.
“Dokter.... bagaimana putriku ?”
“kau benar – benar harus merelakannya sekarang
Ny. Do, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkata lain”.
“andwae....” *terdengar jeritan suara Baekhyun.
*Baekhyun pun berlari memasuki ruang
operasi.
“Kyungsoo ya.. bangunlah... buka
matamu... bukankah kau telah berjanji tidak akan pergi tanpa seijinku ? Kyungsoo
ya... bangunlah... aku mohon... bukankah kau seorang gadis yang kuat ? bukankah
kau bilang takkan pernah menyerah pada penyakitmu hingga kau mendapatkan donor
jantung yang cocok ? kyungsoo ya... aku mohon bangunlah... bangunlah...
bukankah kau sudah berjanji akan selalu menghapus air mataku ketika aku
menangis ? bangunlah dan hapus air mataku... aku mohon Kyungsoo ya...
bangunlah...”
Ny. Do yang awalnya menangis kemudia
berjalan kearah Baekhyun dan memeluknya.
“eomeoni... bukankah Kyungsoo sedang
bercanda ? katakan padanya, aku tidak menyukainya. Suruh dia untu k segera
membuka matanya, dia tidak mau
mendengarkanku ketika aku memintanya untuk membuka mata eomeoni.. aku mohon..
suruh dia untuk membuka matanya” *pinta Baekyun
sambi menangis dipelukan Ny. Do
“tenanglah Baekhyun-ah... tenanglah...
ikhlaskan Kyungsoo... biarkan dia pergi dengan tenang.. siapapun takkan rela
kehilangannya, tapi ini sudah menjadi takdir Tuhan kita harus bisa
merelakannya. Dia tidak akan suka jika kau seperti ini.”
10 juni 2014 Kyungsoo dimakankan tepat
disamping makam ayahnya.
***
...
...
...
...
...
...
...
*5
tahun kemudian
Hari ini Baekhyun merasa sangat
merindukan sahabatnya, iapun membuka halaman website milik Kyungsoo untuk
membaca beberapa artikel yang pernah ditulis oleh sahabatnya. Diantara artikel
– artikel yang ditulis oleh Kyungsoo, Baekhyun menemukan sebuah artikel yang
membuatnya meneteskan air mata saat membacanya.
“ya.. ini adalah harapanku yang aku tulis lima
tahun yang lalu., bukankah aku adalah seseorang yang hebat ? aku bisa bertahan
melawan penyakitku dan hidup bahagia seperti sekarang. Tidakkah seharusnya
kalian semua memujiku ? aku benar – benar merasa beruntung memiliki orang –
orang yang begitu menyayangiku seperti kalian.
Saat
aku menulis artikel ini aku merasa begitu sesak disini (dada) namun aku tetap
bertahan dan berusaha untuk bangun kemudian menulisnya. Aku tidak ingin
terlihat seperti orang sakit yang menyedihkan, aku selalu berusaha untuk sembuh
dan melawan penyakitku. Aku tidak ingin penyakitku membuatku berhenti bermimpi
atau mematahkan semangatku. Dan kalian seharusnya lebih bersemangat untuk hidup
dari pada aku, karna dunia ini begitu indah, bukankah begitu ?
5
tahun dari sekarang ketika aku sudah benar – benar sembuh dari penyakitku,
orang pertama yang ingin aku temui adalah eomma... aku ingin memeluknya sekali
lagi dan menciumnya, aku ingin mengatakan banyak hal padanya. Lalu setelah itu
aku akan berlari kerumah sahabat tercintaku, Byun Baekhyun. Dia adalah orang
kedua yang begitu aku sayangi didunia ini. Mereka adalah orang – orang yang
memberiku motivasi untuk terus hidup dan berusaha untuk sembuh.”
23
Desember 2011
***
Ditengah – tengah tangisannya yang
menjadi – jadi, baekhyun teringat akan email yang bisa dikirim secara otomatis
yang pernah dijelaskan kyungsoo padanya. Email itu akan terkirim sesuai dengan
waktu pengiriman yang dijadwalkan. Baekhyun pun membuka email pribadi miliknya
dan ternyata benar, ada pesan yang iya terima dari Kyungsoo beberapa hari yang
lalu.
***
“Hyun-ah...
bagaimana kabarmu hari ini ? aku merindukan tangisanmu, apa kau sudah berhenti
mengangis sekarang ? Hyun-ah... aku juga merindukan candamu, tidakkah kau juga
begitu ? sudah lima belas tahun ini kita hidup bersama, tidakkah kau merasa
bosan denganku ? Hyun-ah.. apa kau ingat ketika pertama kali kita bertemu ?
saat itu kita masih berumur 7 tahun, aku melihatmu menangis didepan gerbang,
lalu eomma ku menghampirimu dan menanyakan apa yang terjadi, kau bilang kau
menangis karena kau begitu menginginkan es krim namun kau tak bisa membelinya,
karena kau kehilangan uangmu. Sungguh kau benar – benar lucu saat itu.
Hyun-ah...
Aku juga ingat saat kita masih duduk dibangku sekolah dasar, kau menangis hanya
karena kau lupa membawa buku PR mu, lalu aku memberikan buku PR punyaku padamu
hingga kau berhenti menangis. Namun ketika aku mendapat hukuman karna itu, kau
kembali menangis dan meminta seonsaengnim untuk melepas hukumanku. Kau memang
benar – benar gadis yang cengeng.
Hyun-ah...apa
kau juga masih ingat saat kita membuat janji untuk selalu bersama, tumbuh
dewasa bersama, bukankah aku telah menepati janjiku slama ini ? aku benar –
benar bersyukur mempunyai sahabat sepertimu. Ah majja... apa kau sudah punya
kekasih sekarang ? kapan kau akan membawanya padaku ? bukankah kau sudah
berjanji saat kau memiliki seorang kekasih kau akan mengenalkannya padaku ?.
Hyun-ah...
aku menyayangimu, aku berharap kau pun juga begitu. Tetaplah menjadi sahabat
terbaikku hingga Tuhan memisahkan kita dengan takdirNya. Hyun-ah ... jangan
menangis lagi, aku tidak ingin kau meneteskan air matamu begitu sering, bahkan
meskipun itu untukku, aku tidak menyukainya, arraseo ? Jadilah lebih kuat dari
sekarang, jangan cengeng. Hiduplah lebih baik mulai hari ini.”
27 mei 2012
***
Lalu Baekhyun menelp. Ny. Do dan
memberitahunya agar memeriksa emailnya. Karna dia yakin Kyungsoo juga akan
mengirimkan email untuk eommanya. Dan Baekhyun pun benar, Kyungsoo juga menulis
email yang ia kirimkan kepada eommanya sama seperti yang ia kirimkan kepada
baekhyun.
***
“Eomma..
apakah kau sudah hidup bahagia selama ini ? apakah aku begitu merepotkanmu ?
mianhae eomma... aku berjanji takkan menyusahkanmu lagi setelah ini. Eomma ...
saranghae... aku begitu mencintaimu, terima kasih atas semua kasih sayang dan
perhatian yang kau berikan untukku. Terimakasih telah melahirkanku kedunia ini,
aku benar – benar bahagia telah terlahir sebagai putrimu.
Eomma...
jangan hanya memikirkan keadaanku, eomma juga harus memikirkan kesehatan
eomma... sesekali pergilah kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatan eomma,
aku tidak mau eomma jatuh sakit karena terlalu sering memikirkanku dan
mengabaikan kesehatan eomma sendiri. Eomma… kau juga harus pergi kesalon untuk
menata rambutmu... lakukan juga perawatan wajah, bukankah eommaku ini adalah
wanita yang cantik ? jangan membuat mahasiswamu merasa bosan ketika pelajaran
hanya karena profesornya telah menua dan keriput, arraseo eomma ?
Nae...
Do Kyungsoo akan selalu mencintaimu hingga kapanpun. Saranghae eomma...”
27 mei 2012
***
Email ini ditulis olehnya (Kyungsoo) saat dia
terus yakin akan harapannya untuk bisa sembuh, untuk tetap hidup. Dia mengatur
pengiriman email ini, agar terkirim dalam jangka waktu 7 tahun setelah iya
menulisnya.
Namun ketika keadaannya berangsur
memburuk, tepat sehari sebelum kematiannya, iya menulis email keduanya yang ia
krimkan kepada eomma dan sahabatnya. Dia juga mengatur pengiriman email ini
secara otomatis.
***
“Saat
kalian membaca email ini, mungkin aku sudah berada disisi Tuhan. Aku harap
kalian hidup bahagia meskipun tanpa aku. Maafkan aku jika selama ini aku telah
banyak menyusahkan kalian, tapi ketahuilah... jika aku sangat mencintai kalian.
Aku benar – benar besyukur karna Tuhan telah mengirimkan orang – orang seperti
kalian kedalam hidupku. Mianhae... karna aku tak bisa membalas sedikitpun
kebaikan atau kasih sayang yang telah kalian berikan untukku, namun aku
berjanji jika di kehidupan selanjutnya Tuhan masih menakdirkanku untuk hidup
bersama – sama dengan kalian, aku akan berusaha semampuku untuk selalu membuat
kalian tersenyum. Dan memberikan semua yang aku miliki untuk kalian.
Hari
ini adalah malam ketika aku meminta sahabat tercintaku untuk pulang kerumahnya,
aku tidak ingin ia melihat keadaanku yang seperti sekarang. Walau sebenarnya
aku sangat – sangat membutuhkannya, aku ingin dia selalu berada disisiku. Namun
aku tidak bisa melihat dia menangis didepanku lagi, sungguh... aku benar –
benar tidak sanggup jika harus melihat dia meneteskan air matanya karnaku untuk
kesekian kalinya.
Hari
ini, aku melihat warna kulitku perlahan membiru, aku merasa dingin disekujur
tubuhku. Aku ingin pergi kekamar eomma... aku ingin dia memelukku agar aku bisa
merasa sedikit lebih hangat, namun... kuurungkan niatku. Aku tak ingin
membangunkannya dan membuatnya khawatir ditengah malam yang sudah selarut ini.
Dia juga perlu istirahat karna seharian telah bekerja dan merawatku, aku tidak
ingin menyusahkannya lebih banyak lagi. Aku kembali terdiam dan duduk di depan
jendela, aku melihat langit begitu cerah malam ini, semua yang ada disana,
seakan tersenyum kepadaku. Aku melihat ada sebuah lubang yang begitu terang
terbuka lebar, didalamnya aku melihat appa merentangkan kedua tangannya. Aku
berfikir mungkin malam ini akan menjadi yang terakhir untukku didunia ini.
Lalu... aku teringat akan janjiku kepada sahabatku, bahwa aku takkan pernah
pergi tanpa seijinnya. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku berjalan menuju
meja belajarku dan menghidupkan komputerku ku. Wallpapernya masih sama belum
berubah sedikitpun. Aku melihat senyuman sahabatku yang begitu hangat, dia
benar – benar terlihat sangat bahagia. Lalu kulanjutkan dengan membuka album
photo masalaluku, aku benar – benar merasa bahagia saat melihat photo – photo
mereka dengan senyum ceria tanpa beban.
***
Eomma...
saat kau membaca ini, seharusnya kau sudah membaca emailku yang sebelumnya. Apa
kau sudah mengerjakan apa yang aku pinta ? apakah kau sudah pergi kesalon ?
apakah kau sudah terlihat cantik sekarang ? aku berharap begitu eomma... aku
harap kau hidup bahagia meskipun tanpaku. Eomma... mianhae... karna telah begitu sering menyusahkanmu,
karna telah begitu sering membuatmu sedih dan khawatir, maafkan aku... karna
selalu menyita waktu berhargamu hanya untuk merawatku. maafkan aku... karna tak bisa menemanimu menua, maafkan
aku... karna telah mengingkari janjiku
untuk tetap hidup dan tak menyerah pada penyakitku. Eomma.. berjanjilah...
mulai saat ini, setelah eomma membaca emailku ini, eomma akan selalu tersenyum
dan berlajar melupakanku seperti eomma belajar melupakan appa. Aku tak ingin
melihat eomma terus bersedih karnaku. Aku ingin melihat eomma tersenyum seperti
saat eomma belum tau tentang penyakitku. Saat itu eomma benar – benar sangat
cantik, dan aku merindukan senyuman itu eomma.
Eomma...
jadilah wanita yang kuat, berjanjilah jika eomma benar – benar akan hidup lebih
baik dari sekarang. Jaga kesehatan eomma... karna jika eomma sakit tak akan ada
yang merawat eomma. Mianhae eomma... karna telah meninggalkanmu dan membuatmu
hidup sendirian seperti ini. Saranghae eomma... :*
***
Baekhyun
– ah… Apakah kau sekarang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang benar – benar
cantik ? apakah kau sekarang hidup dengan bahagia ? apakah kau sudah berhenti
menjadi seorang gadis yang cengeng ? aku harap begitu.
Hyun-ah...
mianhae.. karna telah mengingkari janji yang sudah kita buat bersama. Mianhae
... karna selalu membuatmu meneteskan air mata karnaku. Mianhae... karna aku
selalu menyusahkanmu setiap saat.
Hyun-ah...
hari ini ketika aku menulis email ini, aku sudah menyelesaikan membaca buku
yang telah kau pinjamkan untukku waktu itu, dan isi buku itu benar – benar
bagus. Bahkan jauh lebih bagus dari yang aku perkirakan. semua yang ada
didalamnya benar – benar membuatku ingin hidup lebih lama lagi, aku ingin
melakukan semua yang ditulis oleh pengarangnya. Motivasi yang diberikan benar –
benar bisa membuat seseorang yang membacanya kembali memiliki harapan. Nan... jeongmal – jeongmal johahae... gomawo...
telah meminjamkanku buku yang benar – benar bagus. Tapi maafkan aku... jika
buku itu tak bisa membuatku bertahan lebih lama lagi. Aku benar – benar sudah
lelah Hyun-ah... aku bahkan tidak bisa menyicipi masakan eommaku karna terlalu
sering meminum obat yang begitu pait. Semua yang aku makan terasa sama, Aku
bosan dengan obat – obat itu, mereka sama sekali tak membantuku. Aku tetap
seperti ini tanpa ada sedikitpun kemajuan. Hyun-ah... aku benar – benar harus
meninggalkanmu sekarang. Mungkin Tuhan sudah benar – benar merindukanku sampai
aku harus menemui-Nya secepat mungkin. Hyun-ah…
mianhae... karna sudah meninggalkanmu... mianhae... karna sudah pergi tanpa
seijinmu. Aku berharap setelah kau membaca email ini kelak, kau akan mengerti
maksudku.
Hyun-ah..
aku menitipkan eommaku padamu, sesekali datanglah kerumah, temui dia, bahkan
aku akan lebih senang jika kau mau lebih sering menemaninya. Dia sekarang sudah
benar – benar kesepian karna aku sudah tak lagi disisinya. Aku berharap kau mau
mengabulkan permintaan ku yang satu ini.
Hyun-ah..
aku tau kau mungkin akan menangis ketika membaca email ini, tapi aku mohon
setelah ini, kau harus selalu tersenyum dan bahagia. Hiduplah dengan baik,
carilah sahabat – sahabat yang lain yang mampu menghiburmu, bukan sepertiku
yang selalu menyusahkanmu. Jadilah gadis yang lebih kuat, jangan cengeng lagi.
Baekhyun-ah... mianhae.. Aku benar – benar harus pergi, maafkan aku... jebal
mianhae...
***
Nae...
Do Kyungsoo akan selalu mencintai kalian sampai kapanpun. Hiduplah lebih baik
dari serkarang, eomma ... Hyun-ah ... saranghae...
9
juni 2014
NB : ini FF pertama yang pernah aku buat, jadi harap di maklumi jika banyak terdapat typo di mana-mana.
aku sengaja tidak mengedit ulang tulisan ini, karna aku ingin tahu seberapa jauh metamorfose ku dari awal menulis hingga sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar