Writer : Candle Light
Rate : PG-13
Main Cast :
Song Ji-Soo (OC) | Do Kyung Soo
Other Cast :
Kim Hyori (OC) | EXO Member | Song Joongki | Lee
Ji-Eun (IU) |
Duration : 3.085 words
Release Date
: December 24, 2014. 15.00
WIB.
Length : Oneshoot
=====
Olympic Park Apartement
424 Olympic-ro
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
December 23, 2014.
06.00 KST
Songpa-gu, 서울특별시 South Korea
December 23, 2014.
06.00 KST
Desember ...
ini adalah bulan di mana salju akan turun dengan sangat lebatnya. Musim paling
dingin dalam setahun yang terjadi hanya dari bulan ini hingga Februari.
Sebagian orang akan menyambutnya dengan sangat antusias. Melakukan hal-hal yang
tidak bisa mereka lakukan pada musim yang lain kecuali musim ini. Tapi sebagian
yang lain akan mengeluh dan terus mengeluh karna suhu dingin yang berada di
bawah titik beku es–minus delapan derajat celcius (-8⁰)-itu yang membuat tulang
mereka seakan ikut membeku.
Gadis itu
masih bersembunyi di balik selimut tebal dengan motive kartun frozen
kesayangannya. Menenggelamkan tubuhnya semakin dalam dan tak membiarkan udara
dingin mengacaukan tidur nyenyaknya. Oh Tuhan ... jam berapa ini? Bukankah dia
ada meeting dengan atasannya jam 09.00 nanti? Apa dia melupakan itu? Ini akan
menjadi kabar buruk jika dia tidak segera bangun dan bergegas untuk menyiapkan
dirinya.
*
Someone call the doctor nal butjapgo
malhaejwo
Sarangeun gyeolguk jungdok overdose
Sigani jinalsurok tongjedo himdeureojyeo
Jeomjeom gipsugi ppajyeoganda
Oh too much neoya your love igeon overdose
Too much neoya your love igeon overdose
*
Potongan lagu
itu terdengar begitu nyaring dan sukses membuatnya keluar dari alam mimpi.
“Aish... kenapa
handphone ini selalu saja berisik di saat mataku benar-benar masih sangat
mengantuk?” Ucapnya dari balik selimut dengan posisi yang masih sama.
Lalu
perlahan jari-jari lentiknya menampakkan wujud dari balik selimut frozen
berwarna biru itu. Meraba-raba, menjelajah sekitar kasur tempat tidurnya untuk
mencari sesuatu yang membuatnya terbangun dari alam bawah sadarnya. Ponsel yang
baru saja diomelinya.
Tut
Jari-jari
lentik itu bermain di atas layar datar iPhone berwarna putih lalu menggeser
tepat pada logo berwarna hijau yang membuat potongan lagu tadi otomatis
berhenti dan berganti menjadi suara seseorang yang sedang berbicara dari
seberang.
[Saengil chukha hamnida ...
Saengil
chukha hamnida ...
Saranghae uri Cheonsa ...
Saengil chukha hamnida ...]
Nyanyian
ulang tahun itu berhasil membuat matanya benar-benar terbuka lebar.
“Eomma ...”
Ucap gadis itu manja setelah nyanyian ulang tahun itu berhenti.
“Selamat
ulang tahun sayang ... apa kau tidak akan pulang? Eomma akan memasakkan sup
rumput laut yang sangat lezat untukmu. Jadi mampirlah ke mari setelah kau
pulang kerja, nde?”
“Uhm ...
tentu saja, aku akan pulang ke rumah hari ini.”
“Baiklah ...
Eomma akan menunggumu dan memasakkan makanan kesukaanmu.”
“Nde Eomma.”
-o-
Gadis itu
lalu menutup telephonenya dan menyingkap selimut tebalnya, bergegas menuju
kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru beberapa langkah gadis itu menjauh
dari ranjang tempat tidurnya, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada
sebuah pesan masuk.
[Saengil Chukhae Ji-Soo~ya ... lihatlah ...
aku membuatkan ini untukmu hingga larut malam. Aku harap kau menyukainya]
Ponsel
pintar itu menampilkan sebuah pesan singkat beserta photo yang disertakan oleh
pengirimnya. Sebuah photo yang menampakkan sketsa wajah seseorang yang
dipanggil Ji-Soo dengan seorang laki-laki tampan di sampingnya. Keduanya
terlihat sangat bahagia dengan tulisan ‘Happy Birthday’ di bawahnya.
“HyoRi~ya
... kau adalah orang pertama sebelum Eomma yang mengingat hari ini.” Lirihnya
pelan lalu kembali meletakkan ponsel pintarnya di atas nakas samping tempat
tidunya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandinya.
Bukankah
yang pertama mengucapkan adalah ibunya? Lalu mengapa Ji-Soo mengatakan jika
Hyori adalah yang pertama juga? Bukankah seharusnya dia berkata Hyori adalah
orang kedua setelah ibunya? Apa dia salah menyebutkannya? Tidak. Tentu saja
tidak. Waktu yang tertera pada pesan yang diterimanya baru saja menunjukkan
pukul 00.01 am. Itu artinya pesan itu sudah di terimanya sekitar enam jam yang
lalu. Tapi karna sifat kebonya yang tidur layaknya orang mati-yang tidak akan mendengar
apapun kecuali suara yang benar-benar memecah kelelapannya-membuatnya tidak
tahu jika ada pesan masuk pada ponsel pintarnya.
=======
Ji-Soo kembali
memeriksa ponsel yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur setelah
keluar dari kamar mandi. Berharap ada satu orang lagi yang mengingat hari ini dan
akan memberinya ucapan selamat ulang tahun sebelum didahului oleh orang lain.
Yah, dia berpikir semua teman-teman satu ruangan kantornya akan mengucapkan
selamat ulang tahun untuknya hari ini. Menyiapkan sebuah kejutan, kue ulang
tahun atau bahkan sebuah hadiah yang biasa akan diterima oleh seseorang yang
sedang berulang tahun.
“Tch ... apa
dia melupakannya lagi?” Ucapnya lalu kembali meletakkan ponselnya pada tempat
semula ketika tidak ada satupun pesan atau pemberitahuan panggilan tak terjawab
yang tampil di layar ponselnya.
====
Taesan Corp.
#505 Seoco Town Trapalace,
1327 Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
08.00 KST
#505 Seoco Town Trapalace,
1327 Seocho-Dong Seocho-Gu Seoul, South Korea.
08.00 KST
Ji-Soo
memasuki loby kantor tempatnya bekerja setelah sebelumnya meminta seseorang
yang berdiri di samping pintu loby untuk memarkirkan mobilnya ke area parkir lantai dasar gedung. Lalu
berjalan lurus menuju pintu lift yang akan membawanya ke ruangan di mana dia
dan beberapa karyawan yang lainnya menerima tugas di sana.
“Apa semua
orang juga melupakan hari ini? Apa hanya teman-teman di SNS ku yang mengingat
ulang tahunku?” Ucap Ji-Soo seraya terus melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja kerjanya. Dia terus
mengerucutkan bibirnya saat melihat semua teman seruangannya seakan acuh dan
tak peduli dengan apapun yang terjadi pada hari ini.
*
Someone call the doctor nal butjapgo
malhaejwo
Sarangeun gyeolguk jungdok overdose ...
*
Tut ...
[Yeoboseyo?]
Suara itu
mengakhiri bunyi bising yang membuat orang-orang di sekitarnya menggelengkan
kepala mereka. Bagaimana tidak? Di dalam ruangan kerja yang seharusnya sunyi
dan tenang baru saja di ributkan oleh suara nada dering yang seketika membuyarkan
pikiran orang-orang yang mendengarnya.
‘Aish ...
gadis ini benar-benar merusak pikiranku pagi-pagi.’ Bisik seseorang dengan
lingkaran hitam di sekitar bola matanya seraya melemparkan bulpoin yang
dipegangnya tadi sembarang. Huang Zitao. Salah satu karyawan yang satu ruangan
dengannya.
“Hei!! Song
Ji-Soo!! Bisakah kau tidak menggunakan nada dering sebising itu di dalam
ruangan?” Teriak Zitao karna baru saja ia kehilangan ide emasnya untuk tema
produk bulan depan.
Ji-Soo hanya
meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Tao kemudian berlalu keluar
ruangan dengan ponsel yang masih setia menempel di telinganya.
“Minseok
Oppa ... bisakah kau mengulang kata-katamu baru saja? Seseorang yang sangat
berisik membuat pendengaranku tiba-tiba menjadi tuli.” Ucap Ji-Soo pada
seseorang yang sedang berbicara dengannya di telephone. Kim Minseok.
“Apa baru
saja dia mengatakan aku siberisik itu?” Gumam Tao dengan mata yang masih
menatap marah ke arah Ji-Soo yang sudah berlalu dari pandangannya.
-o-
08.45 KST.
Ji-Soo
memasukkan beberapa file penting ke dalam map berwarna biru. Lalu meraih buku
agenda beserta bulpoin hitam yang berada di laci meja kerjanya.
“Kka ...”
Ajak Ji-Soo pada seseorang yang berada di samping kiri meja kerjanya yang masih
sibuk dengan komputer di hadapannya. Kim Jong In.
“Kau pergilah
dulu, aku akan menyusul setelah ini.” Ucap Jongin dengan mata masih berfokus
pada komputer di depannya.
“Apa terjadi
sesuatu? Apa kau butuh bantuan?”
“Tidak, terima
kasih. Aku hanya perlu mencetak ulang beberapa
berkas penting, setelah itu aku akan menyusulmu. Kau pergilah dulu.” Jelas
Jongin yang dibalas anggukan oleh Ji-Soo.
Ji-Soo pun
berlalu menuju ruang meeting yang telah ditentukan pagi ini. Beberapa orang
sudah berkumpul di sana dan menunggu kehadiran CEO yang akan memimpin pertemuan
pagi ini beserta beberapa karyawan yang masih belum mengisi tempat duduk yang
sudah disediakan.
“Nuna ...
Ji-Eun eodiga?” Tanya seorang laki-laki yang duduk di sebelah kanan Ji-Soo. Oh
Sehun.
“Ji-Eun-ah?
Dia berkata akan pergi ke toilet sebentar. Kau tau kan jika dia selalu merasa
gugup seperti itu sebelum
meeting dimulai. Entahlah apa yang dia takutkan.” Jawab Ji-Soo panjang lebar.
“Ah ... Arraseo.”
Ucap Sehun lalu kembali menatap layar tablet yang berada di depannya.
“Sehun-ah ...
apa Kyungsoo tidak masuk hari ini? Dia tidak menghubungiku sama sekali sejak
tadi pagi.” Tanya Ji-Soo sambil berbisik ke arah Sehun.
“Kyungsoo Hyung? Bukankah dia pergi bersama Mr.
Nicolas tadi pagi?” Ucap
Sehun dengan mata
yang masih menatap layar tablet yang
berada di depannya.
“Apa kau
tahu ke mana
mereka akan pergi?” Tanya
Ji-Soo mulai mengintrogasi.
“Molla ...” Jawab Sehun seraya mengangkat pundaknya,
mengisyaratkan kalau dia tidak tahu. “Kau tanya saja pada manager Park,
dia pasti tahu.”Lanjut Sehun
kemudian.
“Aih ... aku
sangat malas berbicara dengan orang itu. Lalu bagaimana dengan meeting hari
ini? Apa boleh dia tidak ikut?” Tanya Ji-Soo lagi.
“Dia tidak
punya andil apapun dalam meeting hari ini, apa kau tidak tahu?” Jelas Sehun.
Ji-Soo
menggelengkan kepalanya. “Kenapa dia tidak punya andil?”
“Nuna ...
kenapa kau cerewet sekali? Kau sangat berisik dan mengganggu konsentrasiku saja.” Ucap Sehun
seraya mengerucutkan bibirnya.
“Aku ‘kan
hanya bertanya sedikit, kenapa kau mengataiku seperti itu?” Balas Ji-Soo kesal lalu
kembali memfokuskan dirinya pada beberapa file di depannya. Membaca kembali
point-point apa saja yang akan disampaikannya nanti kepada peserta meeting hari
ini. Dan hal-hal
apa saja yang akan dibahas oleh peserta lainnya.
-o-
13.35 KST
“Heol ...
apa mereka semua benar-benar lupa tentang hari ini? Apa mereka semua
benar-benar melupakanku?” Keluh Ji-Soo dalam pikirannya setelah sekian lama
menunggu ucapan selamat ulang tahun atau
kejutan lainnya dari teman-teman dekatnya yang lain.
“Apa benar
hanya Eomma dan Hyori yang peduli denganku? Apa benar hanya mereka yang dapat
mengingat hari ulang tahunku? Menjengkelkan sekali.” Ucapnya lagi karna hingga
jam makan siang berlalu masih tidak ada satu orang pun yang memberinya ucapan
selamat ulang tahun di kantor itu. Termasuk
kekasihnya. Do Kyungsoo. Yang hilang entah ke mana.
“Heol ...
Kyungsoo~ya .... eodiga? Apa kau benar-benar tidak ingin menyapa kekasihmu hari
ini? Apa kau
benar-benar melupakanku?” Gumamnya
lagi seraya menjatuhkan kepalanya di atas meja depan komputernya.
“Hei!! Song
Ji-Soo ... apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain tidur?” Ucap
seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu. Zang Yixing.
Yixing
adalah kepala devisi yang mengatur dan memantau setiap gerak gerik karyawan
yang berada di bawahnya. Salah satunya adalah Ji-Soo.
“Yixing Ge ... aku tidak sedang tidur. Apa kau
melihatku memejamkan mata, eoh?” Ucap
Ji-Soo setengah kesal. Yah, dia memang sedang kesal karena semua orang
melupakan ulang tahunnya hari ini.
“Lalu apa
yang kau lakukan dengan meletakkan kepalamu seperti itu?” Tanya Yixing seraya
menunjuk ke arah meja bekas kepala Ji-Soo bertumpu.
“Diamlah Ge
... kau jangan membuat moodku semakin buruk hari ini. Kau berisik dan sangat
cerewet sekali.” Ucap Ji-Soo lalu kembali memposisikan kepalanya seperti tadi.
Tapi
bagaimana dia bisa tidak hormat seperti itu kepada atasannya? Ya Tuhan ...
gadis ini benar-benar menganggap kantor ini adalah miliknya. Tidak ... tidak
... dia tidak menganggap kantor ini adalah miliknya, karna dia memang
pemiliknya. Tapi meskipun dia adalah anak CEO, kakak dan ayahnya tidak akan menyukainya jika dia bersikap
seperti ini kepada karyawan yang lain. Walaupun Yixing adalah saudara
sepupunya. Ayolah ...
ini bukan di rumah atau restoran dan tempat-tempat lain yang bebas melakukan
apapun. Ini adalah kantor, tempatnya bekerja. Mana sikap profesionalmu Song
Ji-Soo? Apa kau ingin gajimu dipotong lagi untuk kesekian kalinya? Ingat
baik-baik ucapan terakhir kali ayahmu ketika kau membuat kesalahan tempo hari
yang lalu.
“Hei!! Song
Ji-Soo jaga sikapmu!” Teriak seseorang yang baru saja tiba di ruangan itu. Song
Joong Ki.
“Aish ...
Hei! Oppa! Kau sama saja dengan yang lain! Menyebalkan!” Ucap Ji-Soo dengan
perasaan yang sudah benar-benar sangat kesal saat ini.
Bahkan kakak
satu-satunya juga melupakan hari ini. Tidak memberinya hadian atau sebatas
ucapan selamat ulang tahun dan malah mengomelinya seperti ini. Benar-benar
menjengkelkan! Itulah yang ada dalam pikiran Ji-Soo sepanjang hari.
“Gunakan
bahasa formalmu! Apa kau pikir kita sedang berada di rumah? Ini di kantor! Apa
kau lupa jika aku adalah atasanmu? Apa aku harus meminta CEO untuk memindahkanmu ke BAGIAN PRODUKSI? Agar kau benar-benar bisa belajar dari nol
serta memperbaiki sikapmu itu?” Ucap Joongki disertai penekanan pada kata
‘bagian produksi’ yang menjadi jurus andalannya agar Ji-Soo tidak banyak berulah.
“Aish ... Ye ... Sajangnim ...” Jawaban itulah yang akan selalu keluar dari bibir Ji-Soo ketika
mendengar kata ‘Bagian Produksi’ yang membuatnya bergidik
ngeri. Peringatan
terakhir dari ayahnya jika dia masih tidak bisa merubah sikap dan terus membuat
kesalahan.
-o-
17.00 KST
“Woah ...
orang-orang ini benar-benar menyebalkan ... apa mereka menungguku untuk
mengatakan bahwa aku sedang berulang tahun hari ini baru mereka akan memberiku
ucapan selamat, hadiah dan
yang lainnya?” Keluh
Ji-Soo seraya memasuki lift menuju tempat parkir mobil yang berada pada dasar
gedung kantornya.
Selama
berada dalam lift Ji-Soo terus saja mengomel tanpa henti. Bagaimana tidak?
Kekasihnya yang sangat ia cintai juga melupakan hari bersejarah ini. Hari di
mana Tuhan menunjukkan dunia kepadanya. Hari di mana untuk pertama kalinya
sebuah udara memasuki lubang hidungnya dan masuk ke dalam paru-parunya. Dia
benar-benar merasa sangat kecewa. Bagaimana bisa seseorang yang selalu berkata
mencintainya menghilang begitu saja? Tanpa kabar seperti ditelan
bumi.
Tung ...
Suara itu
berbunyi bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Ji-Soo berjalan keluar dari
lift seraya terus mengerucutkan bibirnya. Tak henti mengatakan bahwa dia tidak
akan berbicara dengan kekasihnya itu selama seminggu ke depan. Namun langkahnya
terhenti ketika lampu area parkir mati begitu saja dan menjadi sangat gelap.
Hanya ada beberapa berkas cahaya yang terpancar dari pintu keluar lift yang
tidak bisa membuat area itu menjadi terang.
Hanya bayangan seseorang yang terlihat tanpa bisa melihat dengan jelas wajah
mereka.
“Wae Geure?
Hei ... apa ada orang di sana?” Teriaknya dalam kegelapan.
Lalu
tiba-tiba air dingin mengalir dari ujung rambutnya, melewati celah-celah
pakaiannya dan masuk menyentuh kulit mulusnya. Bersamaan dengan seseorang yang
merebut tas yang dibawanya.
“Hei!! Siapa
yang berani melakukan hal ini kepadaku? Apa kalian tidak tahu jika aku adalah
anak CEO? Apa kalian ingin kehilangan pekerjaan hah?” Teriak Ji-Soo dengan
bentakan khasnya.
“Bukankah
seseorang yang sedang berulang tahun tidak boleh marah menerima kejutan seperti
ini?” Ucap seseorang yang entah dari mana datangnya, namun cukup jelas
terdengar di telinga Ji-Soo.
“Yifan-Ge?
Apa kau yang merencanakan semua ini?” Tanya Ji-Soo dalam pandangannya yang masih
gelap tanpa penerangan yang cukup.
Namun
beberapa saat dia menunggu tak juga terdengar jawaban akan pertanyaannya.
“Hei! Aku
tau tidak hanya Yifan-Ge yang terlibat di sini. Apa kalian benar-benar ingin
kehilangan pekerjaan, eoh?” ucapnya lagi dengan nada tinggi.
“Bisakah kau
memecat mereka? Lakukanlah jika kau bisa, lalu aku akan benar-benar mengirimmu
ke ‘Bagian Produksi’!”
“Hei!! Oppa!
Kau juga terlibat hal kekanak-kanakan seperti ini?”
Hening
Tak ada lagi
suara yang muncul.
“Hei!! Apa
kalian sudah gila, eoh? Setelah mengabaikanku sepanjang hari lalu kalian
melakukan hal ini padaku?” Teriak Ji-Soo dengan suaranya yang mulai bergetar
karna kedinginan.
Tak ... tak ... tak ...
Suara
langkah kaki seseorang terdengar mendekatinya. Semakin dekat dan dekat.
“Dari mana
saja kau seharian ini?” Tanya Ji-Soo ketika seseorang yang masih tidak dapat
dilihatnya itu memakaikan sebuah jaket membungkus tubuh kecilnya agar tidak kedinginan.
Dia tahu
jika orang di hadapannya ini adalah kekasihnya. Do Kyungsoo. Bahkan hanya dari
mencium aroma tubuhnya Ji-Soo tak perlu bertanya dia siapa.
“Apa kau
menungguku?” Jawab Kyungsoo seraya masih membenahkan jaket yang dipakaikannya
di tubuh Ji-Soo.
“Nappeun!”
Ucap Ji-Soo.
“Aku
merindukanmu.” Ucap Kyungsoo lembut.
“Bohong!”
Kyungsoo
lalu menangkup wajah Ji-Soo dengan kedua tangannya.
“Apa kau
benar-benar marah?” Ucap Kyunsoo lirih.
“Apa kau
sejahat ini sekarang? Bagaimana bisa kau menghilang begitu saja tanpa memberiku
kabar sedikitpun? Apa kau tidak ingat akan hari ini? Apa kau sudah mulai
melupakanku? Apa kau sudah tak mencin ...”
Cup
Ucapan itu
terpotong ketika sesuatu yang kenyal membungkam mulut Ji-Soo hingga
membuatnya berhenti berbicara dan mengeluh. Ya, mereka sedang berciuman. Tidak,
maksudku Kyungsoo sedang mencium Ji-Soo secara tiba-tiba sekarang. Ji-Soo
terdiam seketika. Lalu perlahan menyatukan sepasang kelopak matanya. Merasakan
sensasi hangat yang mengalir melalui bibirnya. Dan seketika terlepas ketika
suara nyanyian selamat ulang tahun terdengar beserta sebuah kue ulang tahun
dengan lilin berbentuk angka 21 di atasnya berjalan
mendekati mereka.
Saengil chukha hamnida..
Saengil chukha hamnida...
Saranghae Song Ji-Soo...
Saengil chukha hamnida...
“Mwoya? Apa
ini yang kalian rencanakan seharian ini? Mendiamiku dan selalu mengomel bahkan
marah ketika aku mengajak bicara?” Tanya Ji-Soo di tengah-tengah nyanyian
mereka.
“Bukankah
ini sebuah kejutan di hari yang berharga? Apa kau tidak menyukainya?” Ucap
Kyungsoo seraya merangkul erat kekasihnya itu.
“Apa semua
ini rencanamu? Termasuk dengan sikap mereka seharian ini?”
Tanya Ji-Soo mengintrogasi.
Kyungsoo hanya
tersenyum dengan membentuk-heart shape lips-nya.
“Apa kau
tidak ingin meniup lilinnya? Apa kau ingin kami terus bernyanyi tanpa henti
seperti ini?” Ucap Ji-Eun kemudian.
Ji-Soo
hendak meniup lilin-lilin itu, lalu tiba-tiba seseorang menghentikan
langkahnya.
“Hei bocah
... berdo’a lah dulu ... katakan permohonanmu dalam hati.” Ucap seseorang yang
berdiri tak jauh darinya. Lu Han.
“Sssshhhh
... tidak bisakah kau berhenti memanggilku bocah ‘Prety Man’?” Desis Ji-Soo membalas perkataan Luhan.
“Hei!! Kau
menyebutku apa?” Teriak Luhan yang dibalas jitakan Jun Myeon untuk menghentikan
perdebatan mereka.
“Diamlah...
apa kau tidak bisa membiarkannya menikmati hari bahagianya tanpa perdebatan?”
Ucap Jun Myeon yang hanya di balas senyuman polos Luhan.
Ji-Soo
menyatukan telapak tangannya, kemudian memejamkan matanya. Mengatakan permohonannya
dalam hati lalu bersiap meniup lilin-lilin itu.
Fuuuu ...
Lilin itu mati
bersamaan dengan lampu area parkir yang kembali menyala.
Bbbrrrrr....
Tubuh Ji-Soo
kembali bermandikan air dingin yang ditumpahkan oleh Chanyeol dan Baekhyun
tepat di atas kepalanya. Lalu mereka berdua bersorak bahagia.
“Hei!! Apa
kalian tidak tahu jika ini sangat dingin?” Teriak Ji-Soo yang hanya dibalas
oleh suara cekikikan mereka berdua.
“Apa aku
harus mengeluarkan apiku untuk membuatmu merasa hangat cerewet?” Canda Chanyeol yang hanya dibalas desisan
kasar Ji-Soo.
“Kalian
keterlaluan.” Ucap Kyungsoo seraya hendak merangkul tubuh Ji-Soo. Namun Ji-Soo
menghindarinya.
“Wae? Kenapa
kau tidak mau aku merangkulmu? Apa kau juga marah padaku? Sungguh ... yang ini
di luar rencanaku.” Ucap Kyungsoo berusaha menjelaskan sesuatu.
“Tidak ...
bukan itu ... tapi jika kau merangkulku kau akan ikut basah dan kedinginan.”
Ucap Ji-Soo yang dibalas senyuman manis Kyungsoo.
“Kemarilah
... aku tidak peduli jika itu dingin, kita akan merasakannya bersama.” Ucap
Kyungsoo seraya menarik tangan Ji-Soo dan memeluknya erat.
“Geure...
karena kalian berkata untuk merasakannya bersama, maka kami kabulkan.” Ucap
Chanyeol dan Baekhyun seraya menyiramkan kembali air yang baru saja mereka
ambil ke arah Kyungsoo dan Ji-Soo.
“Heol ...
KALIAN!!! AKU AKAN MEMBALAS KALIAN!! LIHAT SAJA NANTI!” Teriak Ji-Soo yang
membuat seluruh orang yang berada di sekitarnya seketika menutup telinga mereka
rapat-rapat.
“Woah ... Bahkan
dalam keadaan kedinginan pun ... suaramu
masih sangat power full. Daebak!!” Ucap Chen yang diikuti suara tawa yang
lainnya.
Mereka semua
tertawa dengan sangat lepas di tengah area parkir yang sengaja di kosongkan dan
hanya tersisa mobil milik Ji-Soo yang satu-satunya berada di sana. Semua orang
menikmatinya. Jika bukan hari ini kapan lagi mereka bisa membuat anak CEO
begitu sengsara dengan persetujuan atasan mereka? Tentu saja mereka sangat
senang.
Song Ji-Soo
yang manja, malang sekali nasibmu hari ini. Tapi, bukankah ini yang kau inginkan?
Hadiah ulang tahunmu ke 21. Kau
mendapatkan hal yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi berhentilah
mengeluh ketika mereka lupa memberimu ucapan selamat ulang tahun dari pada kau
harus merasakan hal ini lagi.
Bagaimana
rasanya mandi air es ketika suhu udara berada di bawah nol derajat celcius? Aku
harap kau tidak mengalami cerita yang
sama seperti yang terjadi pada Ana, adik Elsa yang membeku menjadi es pada
menit-menit terakhir film itu. Tapi tentu saja, seperti pada film Frozen. Kehangatan
cinta akan membuat es yang beku itu mencair. Kehangatan cinta mereka akan
membuatmu tidak merasa dingin, tapi malah sebaliknya.
END.
Covernya
abstrak yah? :D
Ini adalah
gambar yang dikirimkan Hyori untukku


Tidak ada komentar:
Posting Komentar